RADEN MAS PIRNGADIE, PENCATAT SENI KERAJINAN RAKYAT

0
2108

Raden Mas Pirngadie atau lebih dikenal sebagai RM Pirngadie (1875- 1936), kelahiran Banyumas, Jawa Tengah adalah satu dari tiga pelukis pelanjut tradisi berkesenian Raden Saleh yang dibesarkan pada mazhab Hindia Molek atau Mooi Indie.
Dua pelukis lainnya, yaitu Abdullah berkiprah di Bandung sementara Wakidi di Padang. Meskipun satu dengan lainnya tinggal dan menetap saling berjauhan, masing-masing tetap berkarya. Pirngadie sendiri tinggal dan menetap di Jakarta. Karya lukis mereka cenderung natural dengan objek lukisan berupa pemandangan alam.
Dalam perkembangannya, khususnya dalam melukis pemandangan alam, Pirngadie memang tidak seproduktif Abdullah dan Wakidi. Hal ini karena Pirngadie tengah memusatkan perhatiannya pada bidang yang membutuhkan tingkat teknik tersendiri. Sebagai seorang penggambar draf atau ilustrator, Pirngadie memiliki kemampuan teknik yang tinggi, benar-benar terampil dan akurat.
Itu diakui oleh koleganya, J.E. Jasper, yang mengungkapkan bahwa Pirngadie dapat menunjukkan warna yang tegas untuk menggambarkan langit Indonesia yang biru, tembus cahaya dan kaya dengan mega-mega yang lembut. Di samping itu dalam karya-karya aquarel-nya sering ada kesan sesuatu yang halus dengan kesan imajinasi yang kuat seperti dalam mimpi. Dari ilustrasi tentang dataran yang sepi, gunung-gunung yang diam, dapat mengungkapkan perasaannya yang dalam.
Pirngadie menguasai teknik-teknik melukis Barat. Ia memproduksi pemandangan-pemandangan alam serta membuat lukisan-lukisan tentang kehidupan rakyat. Teknik dan keterampilan Pirngadie yang keturunan bangsawan ini diperoleh karena pengetahuan, wawasan, dan pengalaman bergaul dengan kalangan bangsawan, dan orang-orang Belanda yang berada di Indonesia. Di antara mereka adalah pelukis Du Chattel yang melatih pemuda Indonesia muda ini melukis dengan cat air. Kesamaan karyanya sering mengingatkan pada karya gurunya.
Sebagai penggambar draf atau ilustrator, Pirngadie bekerja cukup lama pada The Royal Batavian Society for Arts dan Dinas Arkeologi untuk membuat gambar-gambar rekonstruksi yang tepat dari reruntuhan monumen-monumen. Bersama J.E. Jasper seorang peneliti bangsa Belanda, berkeliling ke pelosok daerah di Indonesia, mencatat tentang seni kerajinan rakyat yang ada pada waktu itu dan membuatkan ilustrasi.
Hasil dari itu semua berupa monograf besar tentang seni rupa dan kriya Indonesia yang disusun dalam lima jilid, berjudul De Inlandsche Kunst Nijverheid In Ned. Indie’s’ Graven Hage. Jilid pertama tentang anyaman (1912). Jilid kedua tentang tenunan (1912). Jilid ketiga tentang batik (1916). Jilid keempat tentang emas dan perak (1927). Jilid kelima tentang logam lain selain emas dan perak (1930).
Upaya meneruskan tradisi berkeseniannya, Pirngadie sempat melatih beberapa pelukis muda Indonesia, di antaranya adalah Sudjojono dan Suromo.