HASSAN SHADILY Penyusun Kamus Indonesia-Inggris dan Inggris-Indonesia

0
3163

Hassan Shadily bersama John M. Echols telah melakukan pekerjaan yang luar biasa dan bermanfaat bagi banyak orang dengan menyusun Kamus Inggris-Indonesia dan Kamus Indonesia Inggris. Apa jadinya nasib pelajar dana mahasiswa yang mau belajar bahasa Inggris yang ada di negeri ini bila kamus seperti itu tidak pernah disusun dan kemudian diterbitkan. Maka pada 2014 ini Presiden RI menganugerahi Tanda Kehormatan berupa Satyalancana Kebudayaan untuk Hassan Shadily.
Salah satu buku yang sangat populer di Indonesia adalah Kamus Inggris Indonesia dan Kamus Indonesia Inggris karya Hassan Shadily dan John M Echols itu. Hampir tidak ada pelajar atau mahasiswa Indonesia yang tidak menggunakan kamus tersebut. Bahkan anak sekolah dasar juga, karena pelajaran bahasa Inggris sudah pula diberikan di SD.
Semenjak diterbitkan pertama kali pada 1976 oleh PT Gramedia Pustaka Utama, kamus tersebut sudah berkala-kali mengalami cetak ulang. Pelan tapi pasti, kamus itu menggeser Kamus Oxford yang sudah lebih dulu dipakai. Apa yang unggul dari kamus ini?
Dalam kata pengantarnya, Hassan dan Echols menulis, Kamus Inggris-Indonesia merupakan usaha pendaftaran yang luas yang bertujuan mencakup sebagian besar kata dan ungkapan Inggris yang paling umum dipakai di Amerika dengan menyertakan ejaan dan lafal Amerikanya serta padanan Indonesianya. Walaupun kamus itu terutama disiapkan untuk orang Indonesia, berbagai upaya juga diusahakan agar buku ini dapat bermanfaat untuk penutur bahasa Inggris yang ingin mencari padanan Indonesia bagi kata atau ungkapan Inggris.
Hassan dan Echols menulis, “Kami sadar akan risiko yang kami hadapi dengan menyajikan kalimat dan ungkapan Inggris sebagai penjelas di samping padanan Indonesianya yang bersangkutan. Walau begitu, kami merasa bahwa dengan cara itu leksikografi Indonesia dapat dikembangkan lebih lanjut.”
Menjadi ahli perkamusan dan leksikografi Indonesia mungkin bukan cita-cita Hassan Shadily. Setelah mendapatkan pendidikan pada zaman Belanda tahun 1941, pekerjaan sebagai pamong praja di Sumenep, Madura, sudah menunggunya. Namun, perubahan situasi mendadak terjadi. Jepang menaklukkan Hindia Belanda dan menjadi penguasa baru. Hassan terpilih sebagai pelajar Indonesia yang berhak meneruskan studi di Jepang bersama sejumlah pemuda. Ia sempat belajar di Tokyo International School (1944) dan Military Academy Tokyo Japan (1945).
Ia belum sempat menamatkan pendidikan saat Jepang ditaklukkan oleh tentara Sekutu pada Perang Dunia II. Lantas ia melamar bekerja sebagai juru bahasa bagi tentara pendudukan Sekutu. Namun, pekerjaan itu hanya dilakoninya selama dua tahun. Pada tahun 1947, Hassan kembali ke Indonesia yang saat itu sudah merdeka.
Di Indonesia ia sempat berpindah kerja beberapa kali. Mula-mula menjadi guru bahasa Inggris, lalu menjadi pegawai bank, dan terakhir menjadi pegawai di Departemen Luar Negeri. Ia kembali berkesempatan melanjutkan pendidikan di Cornell University setelah mendapat beasiswa dari USIS.
Di sini ia berkenalan dengan Prof. Dr. John M. Echols, seorang ahli linguistik dan sastra Asia Tenggara di Cornell. Bersama-sama keduanya kemudian menyusun Kamus Inggris Indonesia dan Kamus Indonesia Inggris. Di luar dugaan keduanya, kamus itu ternyata laris manis sehingga dicetak berkala-kali sampai sekarang. Kemudian ia menyusun Ensiklopedi Indonesia dalam 7 jilid dengan jumlah keseluruhan 3.500 halaman (1980) bekerja sama dengan Penerbit Buku Ichtiar Baruvan Hoeve dan Elsevier Publishing Projects. Ia menjadi pemimpin redaksi saat menyusun ensiklopedi tersebut.