Pakar Sejarah Aceh dan Indonesia Modern, Anthony Reid

0
1477

Penerima Anugerah Kebudayaan Kategori Perorangan Asing 2016. Anthony Reid adalah salah satu indonesianis asal Selandia Baru. Karya-karyanya banyak berkaitan dengan sejarah Aceh, terutama sejak berdirinya Kesultanan Aceh. Reid juga cukup intens mendalami sejarah tentang Sulawesi Selatan, serta sejarah modern Hindia Belanda/Indonesia pada abad ke-20. Ia juga dikenal sebagai pakar sejarah Asia Tenggara. Perkenalannya dengan Asia (Tenggara) diawali pada tahun 1952. Ketika itu ia ikut ayahnya yang bertugas sebagai diplomat di Jakarta. Pengalaman ini membuat dirinya ingin keluar dari belenggu “British” yang sangat kental mewarnai Selandia Baru dan Australia saat itu.

new-picture-1Ketertarikan akan sejarah Indonesia semakin menguat ketika Reid menyelesaikan studi doktoral di Universitas Cambridge dengan topik disertasi tentang perjuangan Aceh melawan kolonialisme Belanda. Hasil penelitiannya itu kini banyak dijadikan bahan acuan dunia terkait dengan studi tentang Aceh dan Indonesia. Kariernya pun semakin berkembang dan kian dikenal luas setelah Reid menyelesaikan program doktoralnya. Reid kemudian banyak meneliti tentang sejarah modern, nasionalisme, minoritas, sosial, ekonomi, dan sejarah agama di Sumatera. Reid juga menulis keterkaitan sejarah dan catatan bencana alam di Indonesia.

Reid mengajar di Universitas Malaya sejak 1965. Kemudian ia pindah mengajar di Universitas Negeri Australia (Australian National University, ANU) dengan keahlian kajian Asia Tenggara. Pada tahun 1978, ia mengambil cuti dan bepergian ke Belanda, Inggris, dan Perancis. Hasilnya adalah seri buku Southeast Asia in the Age of Commerce (dua edisi) yang menjadi rujukan penting dalam kajian sejarah Asia Tenggara.

new-picture-3new-picture-4Pada tahun 1998, bersama-sama dengan ilmuwan-ilmuwan Eropa, ia menyelenggarakan Konvensi Internasional Sarjana Asia (International Convention of Asia Scholars, ICAS) di Leiden, Belanda, sebagai wadah para peneliti dan peminat kajian Asia bertemu. Konvensi kedua ICAS diadakan di Berlin, Jerman, dan selanjutnya selalu diadakan di salah satu kota di Asia. Sebagai penggagas, ia beranggapan bahwa “tempat untuk mengkaji Asia adalah di Asia”. Ia meninggalkan ANU pada tahun 1999 dan mendirikan Pusat Kajian Asia Tenggara (Center of Southeast Asian Studies) di University of California, Los Angeles (UCLA), AS, sekaligus menjadi profesor di sana. Saat bertugas di UCLA ia membantu merintis program dukungan dari Ford Foundation untuk membiayai penelitian-penelitian keasiaan.

Sejak tahun 2002 Reid menjadi Direktur Asia Research Institute (ARI) di Universitas Kebangsaan Singapura (NUS). Pada tahun yang sama ia mendapat Fukuoka Asian Cultural Prize atas jasa-jasanya dalam membantu saling pengertian dan kerja sama di Asia. “Saya merasa beruntung sekali dan merasa sangat terhormat. Saya sangat berterima kasih kepada Pemerintah Indonesia karena membuka pintu yang luas kepada seluruh dunia. Ini merupakan salah satu peristiwa yang terpenting dalam perjalanan karier saya,” demikian kesan Anthony Reid terhadap pemberian penghargaan ini.

Reid menilai telah terjadi kemajuan intelektual yang besar pada generasi muda Indonesia yang dapat membawa Indonesia menjadi lebih baik di masa mendatang. “Saya mengamati kualitas dan kemampuan peneliti muda Indonesia dalam bidang sejarah, politik, dan sosial. Dan, saya melihat kemajuan yang signifikan dalam hal ini,” ujarnya.

new-picture-2BIODATA ANTHONY REID

Lahir: Selandia Baru, 1939

PENDIDIKAN

Ph.D. (History) Cambridge

M.A. (History) Victoria University of Wellington

B.A. (History and Economics) Victoria University of Wellington

FAHA (Fellow of the Australian Academy of the Humanities)

Corresponding FRHS (Fellow of the Royal Historical Society)

Corresponding Fellow of the British Academy

KARIER

Professor and Research Leader, Asia Research Institute, National University of Singapore, 2007-2009

Founding Director, Asia Research Institute, National University of Singapore, 2002 – 2007

Professor of History and founding Director of the Center for Southeast Asian Studies, University of California, Los Angeles, 1999 – 2002

Professor, Southeast Asian History, Research School of Pacific & Asian Studies, ANU, 1989 – 1999

(Senior) Fellow in Southeast Asian History, Research School of Pacific Studies, ANU, 1970 – 1989

Lecturer in History, University of Malaya, 1965 – 1970

PENGHARGAAN

Fukuoka Prize for Asian Culture (Academic), 2002

The Life Achievement Award of the Association of Asian Studies, 2011

KARYA

Reid, A 2016, ‘Two hitherto unknown Indonesian tsunamis of the seventeenth century: Probabilities and context‘, Journal of Southeast Asian Studies, vol. 47, no. 1, pp. 88-108.

Reid, A 2015, A History of Southeast Asia: Critical Crossroads, Wiley Blackwell, Chichester, UK.

Reid, A 2014, ‘Turkey as Aceh’s Alternative Imperium’, Archipel, vol. 87, pp. 81-102.

Reid, A 2014, ‘Indonesian manuscripts in the Vatican Library’, Southeast Asia Library Group Newsletter, vol. 46, pp. 51-60.

Reid, A, ed., 2012, Indonesia Rising: The Repositioning of Asia’s Third Giant, Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS), Singapore.

Reid, A 2010, Imperial Alchemy: Nationalism and Political Identity in Southeast Asia, Cambridge University Press, Cambridge.

Reid, A 2010, To Nation by Revolution: Indonesia in the 20th Century, NUS Press – National University of Singapore, Singapore.

Reid, A 2009, ‘Indonesia, Aceh and the Modern Nation-State’, in Minako Sakai, Glenn Banks and J H Walker (ed.), The Politics of the Periphery in Indonesia, National University of Singapore, Singapore, pp. 84-100.

Reid, A, ed., 2009, Asian Ethnicity, 10:3.

Reid A & Gilsenan, M ed. 2008. Islamic Legitimacy in a Plural Asia. Abingdon: Routledge.

Reid, A, ed. 2006. Verandah of Violence: The Historical Background of the Aceh Problem. Singapore/Seattle: Singapore University Press/University of Washington Press,

Reid, A 2005, An Indonesia Frontier: Acehnese & Other Histories of Sumatra, Singapore University Press, Singapore.

 

TINGGALKAN KOMENTAR