Legong Binoh, Sudah 100 tahun lebih Tari Lengong di Banjar

0
1517

1. Sejarah Tari Legong Binoh

Sekiranya sudah 100 tahun lebih Tari Legong di Banjar Binoh Kaja berkembang terus mengalir deras lalu  surut  dalam  pasangnya   zaman. Penjaga tradisi  di Binoh  toh tak pernah  khawatir suatu saat mata  air itu akan keruh.  Sampai kini  di Binoh orang masih bisa suntuk menyaksikan gemulai indah tari Lenggong Kuntul atau Goak Macok yang menawan itu. Generasi kini tetap bisa mendengar indahnya gambelan  Smara Pagulingan yang  mempesona itu. Binoh membuat  orang turut  tergetar, bahwa musiklah yang tak bisa dibunuh waktu. Musiklah yang mengingatkan orang pada semangat zaman.

Seratus tahun silam,  Binoh tak cuma hamparan sawah hijau penuh semak belukar. Sebelum  Palegongan  Smara Pagulingan ini berkembang tahun 1910. Binoh terlebih awal menjadi pusat pengembangan  tari dan tabuh. Sebelumnya telah  berkembang  gambuh dan gambang, memang. Namun zaman seperti menghendaki lain, entah kenapa gambuh di Binoh denyutnya tak lagi kencang, tersendat-sendat, patah dan terputus-putus, lalu mati suri. Mungkin karena tokoh-tokoh gambuh di sana sudah  meninggal, hingga  sangat sulit melakukan regenerasi. Walau begitu tak berarti spirit  gambuh itu hilang.

Binoh tahun 1910 sampai periode 1925, beralih ke  gambelan  panyalonarangan. Kemudian setelah beberapa tungguh barungan itu ditambah lalu menjadi gambelan   palegongan Smara Pagulingan. Beberapa tungguh perangkat gambelan itu mulanya  dibeli dari Desa Prerenan  Kuta. Yang aneh, Binoh tak  mengembangkan  barungan  saih pitu –  seperti  kebanyakan   gambelan Smara Pagulingan  di tempat lain. Barungan yang berkembang di sini adalah saih lima (nada lima). Mungkin karena mulanya berangkat dari instrumen babarongan.

Stilisasi bisa saja sama di semua tempat, tapi di Binoh agaknya sudah menjadi sedikit  khas. Smara Pagulingan dan Palegongan di Binoh  punya karakter  sedikit berbeda dengan Palegongan di Ubud, Batuan, atau Saba, mungkin juga di tempat lain.  Simaklah  tabuh pengrangrang-nya, betapa menyentuh dan halusnya, memang. Di samping karena kwalitas bahan gemelan dan larasnya bagus. Dulu orang menabuh gambelan dengan kedalaman rasa hati. Di sana kemampuan teknik sudah menjadi sesuatu yang supra matematis. Orang tidak belajar  berdasarkan not-not nada, sebagaimana kini terjadi dalam pembelajaran musik Bali. Tampak mekanis, memang. Di Barat pembelajaran jenis sudah kian ditinggalkan, para komponis Barat kini tengah bergairah menengok pembelajaran ala Bali. “Dulu  kedalaman rasa hatilah yang menentukan. “Pidan pangrasa punika banget ngranayang encep, drika rasane dalem kapanggih,” ujar Pekak Ketut Kejung bersemangat.

Di masa awal pengembanganya, Smara Pagulingan dan Palegongan, Binoh memang menjadi sebuah perguruan. Sejumlah guru besar  tabuh dan tari  sengaja didatangkan  di Binoh. Menyebut nama Ida Bagus Bode, I Wayan Lotering, I Wayang Kale, I Gusti Putu Made Geria, I Gde Geruh orang akan menjadi keder mendengar nama Binoh mana kala ada babarungan (festival). Tokoh-tokoh inilah yang pada mulanya membangun, menghidupkan Pelegongan – Smara Pagulingan Binoh.

 

2. Bentuk Pertunjukan Tari Legong Binoh

Pada dasarnya, tari Legong terdiri dari tiga tahapan/bagian yang meliputi: Pangawit (pembukaan) biasanya terdiri dari melodi pembuka dimainkan penabuh yang kemudian dilanjutkan dengan papeson, di mana penari mulai keluar ke tengah kalangan. Biasanya pada bagian ini belum ada kisah atau  lakon yang ditampilkan. Selanjutnya disusul bagian pangawak, bagian pokok yang terdiri atas beberapa sub-bagian seperti igel pangawak, berisikan sajian tarian murni yang diiringi gending pengawak. Selanjutnya pangecet, bagian tari yang bersuasana ceria, diiringi musik yang lebih bergairah. Selama pangawak dan pangecet, sajian ini sepenuhnya berisikan gerak-gerak abstrak atau ekpresif. Setelah pangecet, ada jenis tari Legong yang menampilakan batel maya, dirangkai dengan pangrarang. Keduanya merupakan sebuah prolog dari sebuah kisah yang akan ditammpilkan.

Setelahnya bagian pangipuk (adegan cumbu rayu) dan atau pesiat (pertempuran). Sesuai kebutuhan lakon, ada dua jenis Legong yang mengawali Pesiat dengan angkat-angkatan (persiapan) perjalanan menuju medan perang, atau menyela pesiat dengan tetangisan, adegan isak tangis. Adegan terakhir adalah pakaad, ini bagian tersingkat dalam struktur tari Legong. Pada bagian ini para penari melakukan tarian penutup dengan suasana yang netral.

Legong Binoh memiliki style yang berbeda dengan gaya Legong lain di Bali, misalnya style Legong Saba, style Legong Pelihatan, style Legong Denpasar dan lain-lainnya. Menurut I Wayan Sinti (pembina seumur hidup Legong Binoh) memiliki style tersendiri. Alasannya, para guru dan pembina di Binoh kebanyakan dari Denpasar dan Badung yang cikal-bakalnya diajarkan Mpu Legong I Wayan Lotring. Dalam penerapannya mungkin saja para muridnya memodifikasi bagian-bagian gerak tertentu. Jadi bentuk dasarnya sama sebagaimana dikembangkan guru legong pendahulu.

Mengenai vokal atau gending, ini bukanlah suatu keharusan. Namun di Binoh tarian Legong kerap menghadirkan gending untuk menambah tegangan suasana, baik dalam adegan pesiat atau atetangisan (sedih). Walau tidak semua jenis Legong menyertakan gending. Vokal atau gending dalam Palegongan umum disebut panandak, gending-gendingnya disebut sendon atau sasendonan, biasanya diambil dari kutipan-kutipan kakawin dan kidung berbahasa kawi.

 

3. Fungsi Tari Legong Binoh

Istilah Legong sebagai tarian persembahan bisa dibaca dalam lontar Catur Muni-Muni. Dalam lontar ini disebutkan empat jenis gamelam. Pertama, Gambelan Smara Aturu, lazim disebut Gambelan Smara Pagulingan. Menurut teks, gambelan ini diturunkan dari alam Bhatara Indra dengan gending Pagambuhan untuk mengiringi tarian Barong Singa. Kedua, Gambelan Smara Patangian, atau disebut juga Smara Awungu, diturunkan dari alam Bhatara Yama (Yama Loka) dengan gending pasesendon digunakan untuk mengiringi Legong Kraton. Ketiga, Gambelan Smara Palinggihan, atau Smara Alungguh diturunkan dari alam Bhatara Kuwera (Kuweraloka) dengan gending Pakakintungan, dipakai mengiringi Barong Ket.

Keempat jenis gambelan yang diturunkan para dewa ini, wajib mengiringi berbagai jenis upacara, meliputi; upacara dewa yadnya, upacara persembahan kepada dewa-dewa dan Tuhan Pencipta Alam Semesta. Upacara manusa yadnya, upacara untuk keselamatan kodrati manusia serta upacara-upacara besar lainnya di Bali. Hal tersebut dapat diketahui bahwa Tari Legong Binoh sangat disakralkan dengan selalu diupacarai setiap 6 bulan sekali bertepatan dengan hari saniscara (sabtu) Wuku Wayang (Tempek Wayang). Selain itu Tari Legong Binoh sering dipentaskan pada pura-pura di lingkungan Desa Binoh setiap dilaksanakannya upacara piodalan.

4. Makna dan Nilai Legong Binoh

Legong menunjukkan dualitas dari hidup itu sendiri. Masyarakat Binoh menamai dualitas itu sebagai rwa bhineda, energi yang selalu berkontraksi hingga melahirkan kehidupan, misalnya: laki-perempuan, kiri-kanan, langit-bumi, api-air, dan lain sebagainya. Rwa bhineda dalam tari Legong bisa dilihat dari agem tari. Ada dua agem yang berlawanan, dimana peran dan posisinya sama-sama penting. Agem dimaksud adalah; agem kiri dan agem kanan. Sledet (tatapan cepat)  kiri dan sledet kanan, begitu juga gerak-gerak tari lainnya. Dari sisi harmoni atau keseimbangan, tari Legong memberikan kita gambaran bahwa harmoni adalah cita-cita dasar dari semuak kesenian di Bali. Harmoni itu bisa berwujud dalam tiga marka, yakni: satyam (kebenaran), siwam (kesucian), dan sundaram (keindahan). Dalam tarian Legong, keseimbangan itu bisa dilihat dari struktur tarinya. Apa yang kemudian disebut sebagai keseimbangan tri angga, menunjujukkan struktur yang jelas dalam tari Legong. Keparipurnaan tari legong, bisa dilihat dari keseimbangan kepala, badan, dan kaki. Dan dalam bagian-bagian papeson pagelarannya pun menunjukkan hirarki yang stabil, mulai dari pangawit (permulaan), pangawak( bagian tengah), serta pangecet (bagian akhir).

Keterangan

Tahun :2019

Nomor Registrasi :201901004

Nama Karya Budaya :Legong Binoh

Provinsi :Bali

Domain :Seni Pertunjukan

Sumber: Website Warisan Budaya Takbenda