Janger Kedaton Sumerta dan Pegok Sesetan, Keberadaan Tari Janger di Banjar

0
2101

1. Sejarah Tari Janger Kedaton Sumerta

Keberadaan Tari Janger di Banjar Kedaton Sumerta berawal dari munculnya ucapan kata “Akulah Ibu janger” sekitar tahun 1906 ketika terucap dari seorang lelaki pengembala sapi di Sawah Sungiang dekat dengan Pura Sawan Agung dalam kondisi trance bernama I Gusti Ketut Sangging dengan lengkapnya “Akulah Ibu janger, datanglah kamu memohon taksu ke Pura Dalem Batubolong, di Desa Canggu!”. Peristiwa itu menjadi perbincangan para pengembala, menyebar dengan cepat ketelinga masyarakat, hingga dibicarakan di rumah-rumah mereka tentang kejadian tersebut, sampai menjadi topik obrolan di Banjar Kedaton Sumerta. Kejadian di Pura Sawan Agung tersebut menjadi embriyo kesenian janger yang lahir dari kebudayaan agraris masyarakat. Setelah peristiwa itu terjadi seperti biasa para lelaki pengembala sapi yang selalu berkumpul di pinggir kali di bawah pohon dengan kebiasan melantunkan nyanyian-nyanyian pendek kemudian berkembang, mereka menyanyi saling bersahutan satu dengan yang lainnya, dengan riang gembira, hingga pada akhirnya bersepakat untuk mewujudkan sebuah kesenian yaitu tari janger.

I Gusti Ketut Raweg, secara suka rela memberikan ruang kreatif bagi para pengembala dan masyarakat lainnya yang telah bersepakat untuk membentuk sebuah kesenian janger. Di belakang jeroan (rumah) I Gusti Ketut Raweg materi tentang janger di bahas dan mulai diwujudkan, dari belakang jeroan kemudian pindah ke halaman jeroan. Serupa rahim, jeroan I Gusti Ketut Raweg menjadi tumbuh kembang janin kesenian janger, selama kegiatan berlangsung sebagian besar kegiatan janger dibiayai sekaligus ditangani oleh I Gusti Ketut Raweg. Dalam perkembangannya, didatangkanlah pelatih dari daerah Belaluan Denpasar bernama I Koncong sebagai pembina tari dan Made Madeg dari Banjar Lebah sebagai pembina tabuh (musik pengiring tradisional), para peserta janger menunjukan kesungguhan mereka dengan mendatangkan pembina tersebut hingga secara formal perkumpulan organisasi tradisional kesenian janger berdiri di bawah pimpinan I Gusti Ketut Raweg.

Tahun 1929 tersiar berita bahwa Cokorda Agung Sukawati dari Ubud mengikut sertakan Janger Kedaton dalam pementasan di Pasar Gambir, Batavia. Tentu saja sebuah kabar yang sangat menggembirakan bagi masyarakat Kedaton-Sumerta yang memiliki komunitas kesenian janger, dan rombongan Janger Kedaton benar-benar berangkat ke Batavia di pimpin oleh Cokorda, pementasan dilangsungkan pada tanggal 28 Agustus 1929. Sekembalinya dari pementasan di Pasar Gambir, Batavia Janger Kedaton menjadi semakin dikenal dan semakin sering melakukan pentas keliling. Kepercayaan kelompok kesenian Janger Kedaton terhadap taksu janger semakin tebal, mereka percaya dengan ketekunan berlatih, mengembangkan kemampuan masing-masing personil dalam hal gerak tari juga pengembangan lirik-lirik syair janger akan berjalan beriringan dengan hadir dan menguatnya taksu janger di dalam jiwa mereka. Secara bersamaan pula muncul keinginan untuk menguatkan simbol taksu janger ke dalam wujud rupa yang dapat dirasakan dengan pengindraan fisik. Oleh sebabnya visualisasi taksu janger tersebut direalisasikan dengan nunas taru (memohon kayu) untuk dijadikan topeng berwujud rangda dengan gelar nama Ratu Gede Gombrang Selem dengan juru pundutnya adalah Anak Agung Made Oka Kerug. Dengan adanya visualisasi taksu janger berupa tapel rangda Ratu Gede Gombrang Selem pertunjukan Janger Kedaton menjadi semakin banyak mendapat undangan pentas, penontonnya bukan saja masyarakat Bali akan tetapi para wisatawan yang berkunjung ke Bali di tahun 1930an.

 

2. Sejarah Tari Janger Pegok Sesetan

Tari Janger di Banjar Pegok diperkirakan telah ada sekitar tahun 1936 dan terus berkembang hingga saat ini. Awalnya tari janger ini hanya kegiatan dari sekaa main layang-layangan di sawah ketika beristirahat, mereka berkumpul sambil bernyanyi dan bermain pantun. Aktifitas ini merupakan ide awal pertunjukan janger, namun ketika itu penarinya hanya kaum pemuda saja, setelah itu baru dikembangkan dengan menambah penari wanita. Penari laki-laki disebut kecak, dan penari wanita disebut janger. Jadi dapat dikatakan bahwa tari Janger Pegok ini merupakan sebuah karya kolektif dari masyarakat Banjar Pegok ketika itu, maka tidak ada satu nama yang muncul sebagai pencipta dari tari Janger Pegok ini. Disakralkannya tari janger ini disebabkan adanya pawisik yang diterima salah satu warga Banjar Pegok yang mengalami trance ketika piodalan di Pura Kesuma Sari. Tidak diketahui secara pasti bagaimana isi dari pawisik tersebut, karena tidak ada dokumen tertulis hingga kini. Inti dari pawisik tersebut adalah sesuunan di Pura Kesuma Sari menginginkan kesenian janger selalu dipentaskan. Sehingga jadilah tari Janger Pegok disakralkan hingga saat ini. Selain itu masyarakat Banjar Pegok memiliki Pelelawatan Rangda yang berasal dari Pura Dalem Perancak di Desa Canggu, Kabupaten Badung. Gelungan janger dibuat dari sisa kayu yang digunakan untuk membuat tapel Rangda (Ratu Ayu Luhuring Kesuma Sari). Maka dari itu taksu janger juga berasal dari Pura Dalem Perancak, sehingga di beberapa kesempatan sekaa Janger Pegok ngayah menari ketika berlangsung piodalan/pujawali di Pura Dalem Perancak.

Taksu Janger di Banjar Pegok memang benar-benar ada dan sakral. Penulis sendiri sempat melihat secara langsung kejadian yang dialami salah satu pragina kecak bernama I Nyoman Buda Wiana yang sekarang ikut melatih tari janger, khususnya melatih gerak penari kecak. Ketika itu sekaa janger sedang melakukan latihan namun bertempat di gedung Taman Kanak-Kanak Kesuma Sari, karena di balai banjar sedang dilakukan latihan baleganjur dan arja. Sebelumnya penari janger, kecak, dan pelatihnya Pande Doddy Rhoanta sudah melakukan persembahyangan di Pura Kesuma Sari, namun sekaa arja dan muda-mudi lainnya yang melakukan kegiatan latihan di balai banjar malam itu tidak mebanten dan hanya beberapa saja yang sembahyang di Pura Kesuma Sari. Saat itu suasana latihan di balai banjar sangat riuh. Tiba-tiba saja I Nyoman Buda Wiana mengalami trance, langsung saja dibawa ke dalam pura oleh muda-mudi yang meiihat. Ia sadarkan diri ketika dibunyikannya instrumen tawa-tawa yang merupakan instrumen gambelan iringan tari Janger, setelah itu muda-mudi baik yang belum dan sudah melakukan persembahyangan kembali sembahyang bersama di Pura Kesuma Sari.

Ni Wayan Kondri sendiri juga sempat mengalami kejadian aneh. Ketika masih remaja dan menjadi penari janger, beliau mengalami sakit sehingga sulit untuk berjalan. Keinginan yang kuat dan niat yang tulus untuk ngayah janger dan datang ke balai banjar untuk latihan seketika membuat beliau sembuh dan sakitnya ketika sampai di balai banjar. Maka dari itu hingga saat ini pementasan tari Janger Pegok mengutamakan niat dan keinginan yang tulus untuk ngayah, persoalan mengenai kemampuan menari atau menyanyi dapat dilatih pada proses latihan yang rutin.

 

3. Bentuk Pertunjukan Tari Janger Kedaton Sumerta dan Pegok Sesetan

Apabila ditilik dari pementasan tahun 2009 maka sangat jelas dapat dilihat struktur pementasan tari Janger Kedaton Sumerta sudah berkembang terutama dari struktur pertunjukan. Olah vokal dan tari tentu saja menjadi bagian utama, yang banyak berkembang adalah ragam formasi antara penari kecak dan janger. Jumlah penari janger 14 orang dan kecak 14 orang, jumlah ini tidaklah harus berjumlah demikian tergantung dari konteks acara dengan catatan para laki-laki dan perempuan jumlahnya harus sama. Dalam papeson di awali dengan tabuh pembuka yang dimainkan oleh penabuh gambelan gong kebyar dengan imbuhan gender rambat. Setelah selesai gending pembuka mulailah janger bersiap-siap di dalam rangki yang tertutupi langse, bersamaan gending tabuh gambelan di tabuh kemudian langse dibuka maka terlihatlah janger dalam formasi awal ngagem sambil bernyanyi hingga selesai papeson. Pada bagian pengawak beberapa formasi dibentuk dengan tetap bergerak dan bernyanyi saling bersahutan antara janger dengan kecak, dibagian panyuud mereka melakukan formasi terakhir, dalam proses penyuud inilah terjadi trance oleh beberapa penari.

Jenis Gending (nyanyian) Tari Janger Kedaton Sumerta adalah Gending ring Rangki, Gending Pengaksama, Gending Papeson, Gending Sembahyang, Gending Tambur, Gending Yening Yukti, Gending Nenun, Gending Nebuk, Gending Keluarga Berencana, Gending Dayung, dan Gending Pakaad. Sedangkan jenis Gending (nyanyian) Tari Janger Pegok Sesetan adalah Gending Singgih Ratu, Gending Saking Suarga, Gending Sinampura, Gending Kliki Gading, Gending ring Darmasbha, Gending Kacang Diwang, Gending Suling Cenik, Gending Menawi Sele, Gending Tetamburan, Gending Bli Bagus, Gending Pesta Seni, dan Gending Adi Ayu.

 

4. Fungsi Tari Janger Kedaton Sumerta dan Pegok Sesetan

– Fungsi Hiburan sebagai ungkapan rasa syukur dan berbagi kebahagiaan sesama penduduk dalam budaya agraris, dalam fungsi hiburan yang meluas seiring berubahnya masyarakat perdesaan menjadi masyarakat perkotaan maka Janger Kedaton Sumerta berfungsi menghibur masyarakat luas dan manca negara.

– Fungsi Ritual terjadi dari permohonan taksu di periode awal berdirinya janger di lingkungan Banjar Kedaton Sumerta. kemudian perpindahannya dari Jeroan I Gusti Ketut Raweg ke Pura Luhuran Bingin menjadikan janger tidak hanya menghibur akan tetapi memiliki fungsi ritual bagi masyarakat Banjar Kedaton Sumerta, sehingga dalam pementasannya harus melalui ritual-ritual tertentu.

– Sebagai Presentasi Estetis bahwa Janger Kedaton telah di tata sedemikian rupa melalui akidah-akidah estetik sehingga senantiasa diminati oleh penonton. Sebagai penyampai pesan dalam fungsinya adalah janger sebagai media penyampai informasi melalui pertunjukannya yang diselipkan dalam lirik-lirik lagu yang adaptif, oleh sebab itu di dalam liriknya selalu dimasukan jargon-jargon tertentu dari momentum atau konteks janger dipentaskan.

– Janger yang ada di Banjar Pegok Sesetan, selain berfungsi sebagai tari hiburan juga sebagai tari ritual yang disakralkan. Tari Janger Pegok dipentaskan setiap nutug ketelun purnamaning kapat (tiga hari setelah hari bulan purnama di bulan September-Oktober). Bulan purnama kapat merupakan hari piodalan  di Pura Kesuma Sari Banjar Pegok.

5. Makna dan Nilai Tari Janger Kedaton Sumerta dan Pegok Sesetan

– Sebagai Presentasi Estetis bahwa Janger Kedaton telah di tata sedemikian rupa melalui akidah-akidah estetik sehingga senantiasa diminati oleh penonton. Sebagai penyampai pesan dalam fungsinya adalah janger sebagai media penyampai informasi melalui pertunjukannya yang diselipkan dalam lirik-lirik lagu yang adaptif, oleh sebab itu di dalam liriknya selalu dimasukan jargon-jargon tertentu dari momentum atau konteks janger dipentaskan.

– Janger yang ada di Banjar Pegok Sesetan, selain berfungsi sebagai tari hiburan juga sebagai tari ritual yang disakralkan. Tari Janger Pegok dipentaskan setiap nutug ketelun purnamaning kapat (tiga hari setelah hari bulan purnama di bulan September-Oktober). Bulan purnama kapat merupakan hari piodalan  di Pura Kesuma Sari Banjar Pegok.

Keterangan

Tahun :2019

Nomor Registrasi :201901005

Nama Karya Budaya :Janger Kedaton Sumerta dan Pegak Sesetan

Provinsi :Bali

Domain :Seni Pertunjukan

Sumber: Website Warisan Budaya Takbenda