Rumah Kebangsaan: Dalem Jayadipuran Periode 1900 – 2014

0
2099
Buku Rumah Kebangsaan: Dalem Jayadipuran Periode 1900 - 2014

Rumah Kebangsaan: Dalem Jayadipuran Periode 1900 – 2014

 

Oleh :

Darto Harnoko

Sri Retna Astuti

Nurdiyanto

 

Penelitian ini menekankan peran Dalem Jayadipuran periode 1900 – 2014 terutama yang berkaitan dengan kegiatan – kegiatan yang diselenggarakan di Dalem Jayadipuran. Penelitian ini menggunakan pendekatan sejarah. Penelitian ini melihat seberapa jauh Dalem Jayadipuran akan menjadi bermakna dan dapat berkisah tentang masa lampaunya? Sudah barang tentu keterlibatan penghuninya perlu dijelaskan dan aktifitas apa yang dijalankan terutama pada periode tersebut diatas.

Dalem Jayadipuran menjadi terkenal karena didiami oleh bangsawan kraton yang bernama KRT. Jayadipura. Ia dikenal sebagai arsitek bangunan dan seniman serba bisa. Oleh karena itu, dalam penelitian ini ingin melihat sampai seberapa jauh peranan KRT. Jayadipura pada anak jamannya dikenal sebagai pelaku dan penggerak budaya sekaligus tokoh gerakan kebangsaan. Selain itu juga ingin melihat bagaimana pergaulannya dengan tokoh – tokoh kebangsaan sehingga dalem tersebut menjadi pusat aktifitas bertemunya para tokoh gerakan kebangsaan. Aktifitas apa yang dijalankan sehingga Dalem Jayadipuran pada periode tersebut diatas sudah nampak wajah dekolonisasi atau dengan kata lain mengapa Dalem Jayadipuran dipakai untuk kegiatan – kegiatan yang memiliki nafas ke-Indonesiaan. Oleh karena itu perlu juga diungkapkan bagaimana kondisi Dalem Jayadipuran, pemikiran KRT Jayadipura serta pengabdiannya kaitannya dengan gerakan kebangsaan. Selain itu juga dilihat peristiwa – peristiwa apa yang memayungi Dalem Jayadipuran sehingga setiap aktifitas kegiatan yang diselenggarakan di Dalem Jayadipuran memiliki nafas ke-Indonesiaan.

Dalem Jayadipuran sebagai salah satu dalem pangeran di wilayah kraton Yogyakarta ini ternyata sangat berbeda dengan dalemdalem pangeran lain yang ada di Yogyakarta. Hal ini bisa dilihat dari bentuk bangunannya maupun peran dari dalem tersebut. Bila dilihat dari bentuk bangunannya Dalem Jayadipuran dapat dikatakan bukan sebagai bangunan rumah tradisional yang asli. Oleh pemiliknya sudah dimasuki unsur-unsur bangunan Eropa, meskipun hanya sebagian saja, namun begitu bentuk bangunan rumah jawa tradisional masih terlihat kental di dalamnya.

Hal ini tidak lepas dari penghuni atau pemilik dari dalem ini yang dikenal sebagai seorang arsitek dan seniman. Selain itu peran dari Dalem Jayadipuran juga sangat berbeda dengan dalemdalem lainnya yang biasanya hanya digunakan untuk kegiatan budaya. Dalem Jayadipuran selain berperan untuk pengembangan budaya ternyata pemilik dalem ini juga menyediakan tempat untuk kegiatan yang berkaitan dengan gerakan kebangsaan. Mengapa? Karena KRT Jayadipura merupakan salah seorang tokoh bangsawan yang mempunyai pikiran maju dan orientasi pemikirannya menginginkan bangsa Indonesia lepas dari belenggu kolonial. Oleh karena itulah KRT Jayadipura sangat dekat dengan tokoh-tokoh bangsawan yang sudah mengenyam pendidikan dan berpikiran maju, seperti Suwardi Suryaningrat, Suryapranata, Wahidin Sudirohusodo, Rajiman Widyodiningrat serta tokoh-tokoh nasionalis dalam oganisasi wanita.

Politik etis yang salah satunya adalah emplementasi dalam bidang pendidikan, telah menjadi bibit lahirnya “hasrat kemajuan” dan kesadaran sebagai bangsa yang bebas dari penjajahan. Pendidikan telah melahirkan bibit generasi muda yang menyadari pentingnya mengatur diri sendiri, pentingnya menyadarkan masyarakat pribumi tentang identitasnya. Sekat -sekat kultural nampak dileburkan untuk memupuk kesatuan, sekat-sekat kedaerahan dicairkan untuk mencapai tujuan bersama, kemajuan dan kebangkitan Hindia (Indonesia). Suasana ini menjadi pelecut lahirnya semangat kebangsaan.

Munculnya sekolah-sekolah di Hindia Belanda telah mendorong adanya hasrat untuk menuntut ilmu dari kalangan bumi putera. Akibat dari kemajuan pendidikan ini maka banyak pula dari kangan bumi putera yang mengambil peran sebagai pegawai di berbagai kantor milik pemerintah kolonial, selain sebagai guru, dan berbagai pekerjaan lainnya. Hal ini telah mendorong munculnya kelompok priyayi baru yaitu kelompok masyarakat baru yang diperoleh karena mendapat peran baru sebagai kalangan terpelajar. Kaum terpelajar inilah yang telah memunculkan pergerakan kebangsaan. Kaum pelajar ini menjadi semakin memahami tentang anggapan-anggapan lama mengenai kesukuan, perbedaan-perbedaan yang diperbesar oleh penjajah dalam rangka politik devide et impera.

Kondisi ini meningkatkan kesadaran munculnya bibit solidaritas nasional seperti mulai lenyapnya secara lambat laun batas-batas kesukuan, terutama ketika mulai berinteraksi satu sama lain, karena mereka tinggal dalam satu asrama yang membawa pada rasa senasib dan sepenanggungan. Proses kebangsaan semakin tidak tertahankan dengan menyaksikan adanya pratik-praktik tidak wajar dan melanggar peri kemanusiaan serta keadilan yang dilakukan pemerintah kolonial terhadap rakyat terjajahnya. Hal ini menumbuhkan rasa ketidak puasan para pemuda pelajar terhadap keadaan masyarakat koloni dimana mereka hidup. Kesadaran terhadap lingkungan disekelilingnya mendorong para pemuda pelajar bertindak untuk mengangkat derajat bangsanya dan melepaskan mereka dari belenggu penjajahan Belanda. Sebagai alat perjuangan mereka mendirikan organisasi modern yang sekaligus dapat menjadi tempat mereka melatih diri sebagai pemimpin.

Dengan semakin meresapnya paham kebangsaan, maka organisasi-organisasi kedaerahan seperti Jong Java, Jong Islamieten Bond mengubah arah organisasinya. Perkumpulan itu berubah haluan untuk memajukan rasa persatuan para anggota dengan semua golongan bangsa Indonesia dan bekerja sama dengan perkumpulan-perkumpulan pemuda Indonesia lainnya serta ikut dalam menyebarkan dan memperkuat faham keindonesiaan. RT Djaksodipuro yang kemudian berganti nama RT Wongsonegoro dalam pidatonya juga menyatakan bahwa Jong Java tidak hanya membangun jawa raya tetapi juga mengarah pada Indonesia merdeka.

Perubahan pandangan dikalangan Jong Java telah membawa perkumpulan ini pada dilema fusi atau federasi. Dalam kongresnya pada Desember 1927 masalah fusi dan federasi belum bisa terjawab, meskipun dorongan untuk Indonesia merdeka semakin kuat. Rasa satu tanah air, satu bangsa dikalangan kaum muda menyebabkan neraca pertimbangan menyebelah ke fusi. Dalam kongres Jong Java 31 Desember 1928 di Dalem Jayadipuran, Jong Java menetapkan untuk berfusi dan menyatakan sudah datang masanya untuk membuktikan dengan tindakan nyata bahawa perkumpulannya dapat mengorbankan dirinya. Adanya kontak dengan organisasi pemuda dari daerah lain, akhirnya pada kongres keempat Jong Java diputuskan untuk mengadakan federasi dengan Jong Sumatranen Bond dan JongJong lainnya. Selain itu dalam kongres-kongres selanjutnya Jong Java telah memutuskan agar bahasa melayu lebih banyak dipergunakan dalam Jong Java. Putusan ini sangat penting karena akan menjadi jembatan dalam kongres pemuda berikutnya. Dalam kongres Jong Java kesembilan diputuskan untuk mengganti perkataan inlandsch dengan perkataan Indonesisch (Indonesia). Di Dalem Jayadipuran pertemuan-pertemuan para tokoh pada masa itu sudah Nampak mengarah ke arah persatuan.

Dalam perkebangan politik yang semakin kondusif di Dalem Jayadipuran kaum pergerakan bangga berlabuh dalam suasana keindonesiaan. Berbagai gerakan pemuda yang semula masih bersifat kedaerahan mendambakan persatuan Indonesia, bahkan kemudian berubah menjadi simbol kehidupan yang terus digelorakan dan diperjuangkan. Organisasi pergerakan nasional merupakan wadah bagi kaum intelektual yang disatu pihak telah mengalami alienasi sosiokultural dan dipihak lain memerlukan ceruk sosial baru untuk mewadahi arena bergerak dan forum komunikasi politik. Ide nasionalisme menstransenden etnosentrisme, primodialisme, komunalisme diganti dengan solidaritas nasional.

Setelah sumpah pemuda didengungkan pada bulan Oktober 1928 ini menghantarkan organisasi perempuan dalam suatu kongres perempuan Indonesia yang pertama bertempat di Dalem Jayadipuran Yogyakarta. Kongres ini diselenggarakan tanggal 22 – 25 Desember 1928 yang diprakarsai 7 (tujuh) organisasi wanita, yaitu Wanita Utomo, Wanita Taman Siswo, Wanita Katholik, Jong Java bagian wanita, Aisyiyah, Jong Islamieten Bond bagian wanita, putri Indonesia. Kongres ini bertujuan mempersatukan cita-cita dan usaha untuk memajukan wanita Indonesia dan mengadakan gabungan antar perkumpulan wanita. Kongres ini dihadiri 30 organisasi wanita dari seluruh Jawa maupun kepulauan lain sehingga pesertanya yang hadir berjumlah sekitar 700 orang.

Kongres ini dapat dikatakan merupakan lembaan sejarah baru bagi pergerakan wanita Indonesia, dimana organisasi wanita mewujudkan kerja sama untuk kemajuan wanita khususnya dan masyarakat pada umumnya. Ciri utama kesatuan pergerakan wanita Indonesia pada masa itu ialah berasaskan kebangsaan dan mejadi bagian dari pergerakan kebangsaan Indonesia.

Gagasan keindonesiaan semakin nampak mewarnai Dalem Jayadipuran sekitar tahun 1930an. Pada tahun-tahun tersebut di Dalem Jayadipuran diselenggarakan peleburan-peleburan cabang organisasi pemuda dan kemudian diakhiri dengan Kongres Serikat Pemuda III yang mengarah pada persatuan untuk mencapai kemerdekaan.

Selanjutnya pada masa pendudukan Jepang, Dalem Jayadipuran dipakai untuk kegiatan pelatihan guru-guru yang berupa indoktrinasi untuk kepentingan Jepang. Selain itu juga dipakai untuk kegiatan baris-berbaris dan secara totaliter seluruh rakyat digalang dalam kekompakan melawan sekutu. Kemudian pada masa perang kemerdekaan kedua Dalem Jayadipuran dipakai tempat persembunyian gerilyawan TNI dalam rangka strategi perang gerilya. Setelah Indonesia merdeka dalam perkembangannya digunakan untuk kantor yang mengarah pada pembangunan bangsa. Beberapa diantaranya adalah untuk kantor pemberantasan penyakit framboesia dan kantor yang bergerak dalam bidang penelitian sejarah dan budaya termasuk pengkajian kebudayaan Jawa yang dikenal dengan Javanologi. Selanjutnya dalam perkembangannya dipakai sebagai kantor Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional yang kemudian berubah namanya menjadi Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Demikianlah kegiatan-kegiatan organisasi kebangsaan yang dilaksanakan di Dalem Jayadipuran sejak masa kolonial sudah tampak tokoh-tokoh pemikir kebangsaan mengarah pada dekolonisasi sehingga Dalem Jayadipuran dapat dikatakan sebagai rumah kebangsaan.

Selengkapnya:   Rumah Kebangsaan: Dalem Jayadipuran Periode 1900 – 2014, Oleh: Darto Harnoko, dkk., Cetakan I (x + 126 hlm; 17 x 24 cm), Diterbitkan Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta, Tahun 2014.

unduh buku digital