Jurnal Jantra, Volume 9, No. 2, Desember 2014

0
2780

Jantra-2-2014

Jurnal Jantra, Volume 9, No. 2, Desember 2014

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas perkenanNya Jantra Volume 9, No. 2, Desember 2014 dapat hadir kembali di hadapan pembaca. Edisi Jantra kali ini memuat 9 (sembilan) artikel di bawah tema “Wayang: Media Pembangunan Karakter Bangsa” ini dipandang penting karena Indonesia memiliki aneka budaya yang tercermin pada pertunjukan wayang di berbagai daerah.

Adapun ke sembilan artikel ini masing-masing yaitu: 1). “Ajaran Moral Resi Bisma dalam Pewayangan,” yang ditulis oleh Ferdi Arifin, menguraikan ajaran nilai-nilai moralitas yang muncul dalam karakter Bisma, yang bisa dijadikan sebagai cerminan bagi masyarakat dalam membentuk sebuah karakter yang unggul untuk bangsa dan negara; 2). “Wayang Hip-Hop: Hibriditas sebagai Media Konstruksi Masyarakat Urban,” yang ditulis oleh Michael HB Raditya menguraikan tentang ‘Wayang Hip Hop’ yang merupakan terobosan agar wayang tetap dapat bertahan dan beradaptasi dengan kebudayaan baru, ‘Wayang Hip Hop’ merupakan solusi dalam membentuk karakter kolektif masyarakat di dunia yang serba modern; 3). “Budaya Wayang: Kelestarian dan Tantangannya ke Depan,” yang ditulis oleh Noor Sulistyobudi menyampaikan bahwa terdapat kandungan nilai serta kemanfaatan wayang dalam kehidupan masyarakat. Nilai-nilai luhur yang dijadikan contoh adalah nilai kepahlawanan, kejuangan, dan keperwiraan. Seni pewayangan perlu diusahakan kelestarian, tantangan-tantangan yang dihadapi pada setiap zamannya, dan seni pewayangan harus dicari cara-cara pewarisannya; 4). “Arjuna: Ksatria Lemah Lembut tetapi Tegas,” yang ditulis oleh Sri Retna Astuti, menguraikan tokoh Arjuna, salah satu ksatria Pandawa yang mempunyai karakter yang baik yang masih relevan bila diterapkan dalam perilaku kita. Dari tokoh ini bisa menjadi teladan dalam pembentukan karakter, yang dirasa agak memudar; 5). “Keteladanan Tokoh Bima,” yang ditulis oleh Samrotul Ilmi Albiladiyah menguraikan tokoh Bima, ksatria Pandawa yang digambarkan gagah berani, jujur, berhati bersih, bertekad kuat dalam mencapai cita-citanya. Pertunjukan wayang dapat dianggap sebagai sarana yang tepat untuk

membangun karakter; 6). “Pendidikan Karakter: Menafsir Nasionalisme dalam Wayang,” yang ditulis oleh Mikka Wildha Nurrochsyam membahas sikap-sikap yang terkait dengan nasionalisme dari tiga tokoh wayang, yakni Karna, Kumbakarna dan Sumantri; 7). “Seni Pedalangan sebagai Media Pengembangan Pembudayaan Nilai-nilai Pendidikan Karakter Bangsa,” yang ditulis oleh Sutiyono menguraikan bahwa di dalam pertunjukan seni pedalangan terdapat nilai-nilai pendidikan karakter bangsa. Nilai-nilai ini diungkap dalam satu lakon dalam seni pedalangan, yaitu Sumantri Ngenger; 8). “Pendidikan Karakter dalam Pertunjukan Dalang Jemblung: Kajian Peran dan Fungsi Kesenian Dalang Jemblung pada Masyarakat Banyumas Jawa Tengah,” yang ditulis oleh Siti Dloyana Kusumah menguraikan bahwa dengan melihat dan menyimak penampilan kesenian Dalang Jemblung, dapat dikatakan bahwa sesungguhnya peran yang dimainkan oleh setiap dalang merupakan ungkapan keinginan untuk menciptakan tatanan kehidupan yang baik, bermoral dan berkepribadian Indonesia, yang kini erat kaitannya dengan pendidikan karakter; 9). “Serat Darmasarana sebagai Sumber Pembentukan Karakter Bangsa,” yang ditulis oleh Anung Tedjowirawan menguraikan bahwa karakter Parikesit serta ajaran Panca Pratama, Panca Guna dan Sama-béda-dana-dhendha di dalam Serat Darmasarana dapat dijadikan salah satu sumber bagi pembentukan karakter bangsa, terutama bagi pemimpin negara dan abdi negara.

Dewan Redaksi mengucapkan terima kasih kepada para mitra bestari yang telah bekerja keras membantu dalam penyempurnaan tulisan dari para penulis naskah sehingga jantra edisi kali ini bisa terbit. Selamat membaca.

Redaksi Jantra

Selengkapnya download file pdf : Jantra_Vol._9_No._2_Desember_2014