Generasi Cinta Budaya (2)

0
5721
Generasi Cinta Budaya (2)
Lomba Pidato Bahasa Jawa

 

 

 

BPNB DIY, Oktober 2018 – Hari kedua penampilan para generasi cinta budaya peserta Lomba Pidato Berbahasa Jawa 2018 Untuk Siswa SMP/Sederajat se-D.I. Yogyakarta digelar kembali di pendopo Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) D.I. Yogyakarta (Dalem Jayadipuran), yang dimulai pada pukul 08.30 WIB, rabu pagi ini, 10 Oktober 2018. Siswa/siswi tingkat pertama berjumlah 40 anak tampil pada hari ini dihadapan dewan juri serta para peserta lomba tersebut di atas.

Semua peserta tampil menggunakan baju daerah/tradisional Jawa, di mana ini juga merupakan salah satu syarat/ketentuan lomba, yang bertujuan untuk membiasakan generasi muda dalam menggunakan baju daerah/tradisional , khususnya baju daerah/tradisional Jawa, agar mereka makin mengenal dan bangga saat menggunakannya, sehingga kelak baju daerah/tradisional dapat tetap lestari sepanjang masa. Hal ini sesuai pula dengan salah satu tugas dan fungsi BPNB D.I Yogyakarta dalam hal pelestarian nilai budaya. Mereka terlihat anggun dan gagah dengan pakaian daerah/tradisional yang dikenakannya, seakan membawa imaji menuju nuansa Jawa di zaman dahulu kala.

Satu-persatu peserta tampil unjuk kebolehannya berpidato menggunakan bahasa Jawa. Dengan gerak-gerik khas anak-anak yang menuju dewasa, kadang maju dan tampil dengan malu-malu, namun tak sedikit pula yang memiliki kepercayaan diri tinggi, maenyajikan sesorah-nya (pidatonya) dengan fasih dan bersemangat. Seluruh tema yang dibawakan memiliki pesan-pesan yang ingin mereka sampaikan di akhir sesorah, dan hampir semua berpantun pula dalam bahasa Jawa sebagai penutup sesorah mereka, mengajak para penonton untuk tertarik mendengarkan permainan kata dan rima serta arti yang terkandung, dengan logat mereka masing-masing, memberikan warna menarik di semua penampilan mereka, baik hari pertama kemarin maupun di hari ini.

Melihat semangat siswa/siswi para generasi muda pencinta budaya di rangkaian Lomba Pidato Berbahasa Jawa ini, menunjukkan masih adanya antusiasme di kalangan generasi muda. Hal ini harus selalu didukung dan difasilitasi, agar budaya-budaya Indonesia, dalam hal ini khususnya bahasa Jawa, dapat lestari dan dapat kembali dibudayakan penggunaannya di kalangan generasi muda, sehingga nilai-nilai yang ada di dalamnya seperti etika dan kesantunan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dengan harapan dapat membentuk karakter diri generasi muda menjadi lebih baik.

Mari bersama kita lestarikan bahasa daerah, dalam hal ini khususnya bahasa Jawa, agar kita sadar, bahwa sejak dahulu kala bangsa kita khususnya masyarakat Jawa, telah memiliki budaya luhur. Di mana mereka telah memiliki maksud dan tujuan saat bertutur/berbahasa, tiap pribadi telah berusaha untuk menciptakan suasana percakapan yang pas dan nyaman. Terhadap orang yang harus dihormati, penutur bisa mengungkapkan maksud dengan penuh rasa hormat, dengan ragam bahasa krama (halus) atau kramainggil (sangat halus). Terhadap mitra tutur yang sudah akrab, penutur bisa mengungkapkan maksud dengan penuh keakraban, dengan ragam bahasa ngoko (standar). Hal ini menunjukkan bahwa sejak dulu bangsa kita telah memiliki arah dan tujuan yang baik (beretika tinggi, kesantunan yang baik, menghargai dan menghormati orang/pihak lain), bahkan di dalam berbahasa sekalipun.
Language is the road map of a culture. It tells you where its people come from and where they are going.”  — Rita Mae Brown.

#strategikebudayaan
#pemajuankebudayaan
#budayasaya
Lestari Budayaku Lestari Negeriku,
Salam Budaya ??
(bpw)