Dinamika Kampung Kota Prawirotaman Dalam Perspektif Sejarah Dan Budaya

0
4619
Buku Dinamika Kampung Kota Prawirotaman Dalam Perspektif Sejarah Dan Budaya

Dinamika Kampung Kota Prawirotaman Dalam Perspektif Sejarah Dan Budaya

Oleh :

Sumintarsih

Ambar Adrianto

 

Kota Yogyakarta keberadaannya terkait dengan Keraton Yogyakarta yang bermula diawali oleh perjanjian Giyanti. Perjanjian Giyanti telah melahirkan dua kota/nagari Kasultanan dan Kasunanan. Dua nagari ini terus berkembang dan penguasa wilayah kemudian membangun kampung-kanpung di sekitar kraton dan dalam perjalanan waktu berkembang menembus ke luar wilayah kraton. Wilayah di luar kraton ini semakin berkembang dan terbuka untuk dimasuki arus pendatang dari berbagai daerah. Akhirnya Kota Yogyakarta dipenuhi oleh wilayah-wilayah permukiman yang beragam.

Keberadaan kampung-kampung yang berada dalam lingkaran kraton yang nama-nama kampung tersebut berkait dengan peran dan tugas penghuninya terhadap kraton, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perkembangan kota Yogyakarta, diantaranya kampung prajurit kraton yang disebut Kampung Wirobrajan, Jagakaryan, Mantrijeron, Prawirataman, dan seterusnya yang memberikan warna kepada Kota Yogyakarta sebagai kota budaya.

Wajah kota Yogyakarta terbentuk dan diwarnai oleh perjalanan sejarah, dari kraton, Belanda, Jepang, Inggris, Cina, Arab, yang dulu pernah menguasai kota Yogyakarta. Jejaknya bisa dilihat dari bangunan-bangunan di kota sebagai penanda simbol kota: Tugu, Loji Besar, Loji Kecil, Kantor Pos, Gedung BNI, Pasar Beringharjo, Malioboro. Wajah kampung yang beragam, yang bertebaran di Kota Yogyakarta merupakan pendukung dan penguat wajah Kota Yogyakarta.

Satu diantara kampung-kampung di perkotaan Yogyakarta adalah Kampung Prawirotaman yang muncul dari abdi dalem prajurit keraton Prawirotomo. Dari prajurit Prawirotama telah muncul para pewarisnya yang menghuni Kampung Prawirataman, yang mempertahankan eksistensinya sebagai pewaris Trah Prawiratama. Tiga trah Prawiratama yakni Werdayaprawira, Suroprawira, Mangunprawira, inilah yang mendominasi kegiatan warga Prawirataman.

Dinamika Kampung Prawirataman dimulai dari aktivitasnya sebagai kampung batik yang kemudian menjadi trademarknya Kampung Prawirotaman. Label tersebut kemudian meredup karena faktor dicabutnya subsidi mori dari pemerintah, bergesernya busana tradisional Jawa ke busana modern, dan serbuan batik printing. Meredupnya batik cap yang kemudian colaps, telah merubah secara total kehidupan warga pengusaha batik dan warga lainnya yang hidupnya bergantung dari batik. Hilangnya batik dari kehidupan trah Prawirotama telah hilang pula simbol penanda Kampung Prawirataman sebagai kampung batik.

Perubahan dari kampung batik menjadi bisnis “kos-kosan”/”pondokan”, kemudian berdagang telor, dan terakhir menekuni bisnis penginapan, merupakan perubahan total kehidupan trah Prawirotama. Perubahan total menjadi bisnis penginapan telah menghilangkan modal budaya yang dimiliki Kampung Prawirotaman. Sebuah penanda kampung kota (Prawirotaman) telah hilang. Rumah-rumah batik khas rumah jawa telah berganti dengan bangunan-bangunan modern. Tidak hanya itu tradisi yang dulu dimiliki warga di kampung tersebut saling kumpul, bergotong royong, dan ber-ekspresi dalam kesenian dan kegiatan lainnya sudah tidak dilakukan lagi.

Dinamika sistem pengelolaan kampung dari RK ke RW tidak menunjukkan suatu perubahan yang khusus. Fenomena ini terjadi dan dirasakan oleh semua kampung di perkotaan Yogyakarta. Hanya saja mungkin dulu ada kekhasan yang dimiliki sebuah kampung ketika masih RK kemudian menjadi RW telah hilang jejaknya.

Dalam struktur sosial masyarakat Prawirotaman, hubungan juragan, dengan pekerjanya ada jarak sosial yang cukup tajam. Pemanggilan dengan istilah ‘juragan’ ‘mas rara’ di era kampung batik, menunjukkan hal itu. Setelah berubah ke kampung turis panggilan itu hilang dengan sendirinya. Namun demikian gap tetap ada tetapi tidak begitu tampak. Berkembangnya penginapan di kampung tersebut telah membuat sejengkal tanah dimanfatkan untuk berbagai keperluan, dan harga tanah melambung. Kondisi ini menyebabkan banyak lahan, rumah, berpindah tangan. Implikasinya banyak pendatang masuk ke Kampung Prawirataman, dan hotel-hotel dengan fasilitas lebih baik bermunculan di kampung ini. Melihat kondisi ini tanpa ada rambu-rambu dari pemerintah untuk memberikan perlindungan pada masyarakat tersebut maka warga asli akan semakin terpenggirkan.

Tidak bisa dipungkiri memang dengan menjamurnya penginapan akan menjamur pula usaha lain yang mengikutinya. Secara ekonomi kesempatan warga menjadi semakin terbuka untuk mendapatkan pekerjaan atau mendapatkan tambahan penghasilan. Namun perlu dipikirkan dan dipertimbangkan akan sesuatu yang hilang yaitu akar, cikal bakal, sejarah yang menjadikan lahirnya Kampung Prawirataman.

Kampung Prawirotaman sebagai kampung turis sekarang ini tidak memiliki modal budaya lagi setelah kerajinan batik hilang dari Kampung Prawirotaman. Kampung yang dulu memiliki kesenian, sekarang tidak memiliki lagi. Sampai sekarang tampaknya belum ada langkah-langkah warga Kampung Prawirotaman untuk menggali unsur-unsur budaya lokal setempat sebagai identitas Kampung Prawirataman. Sehubungan dengan itu: (1) Perlu ada penguatan unsur budaya lokal yang dimiliki Kampung Prawirotaman. Unsur budaya lokal ini menjadi modal untuk memberikan nilai plus Kampung Prawirotaman sebagai penyangga Kota Yogyakarta; (2) Para pelaku ekonomi (pemilik hotel lokal) perlu membentuk organisasi sebagai wadah kebersamaan dan bekerjasama dengan masyarakat untuk eksistensi Kampung Prawirotaman sebagai kampung turis; (3) Pemerintah perlu ada perhatian terhadap kampung turis Prawirotaman mengingat kampung ini punya peran yang tidak kecil sebagai pendukung dan penguatan Kota Yogyakarta.

Selengkapnya: Dinamika Kampung Kota Prawirotaman Dalam Perspektif Sejarah Dan Budaya, Oleh: Sumintarsih, dkk., Cetakan I (x + 148 hlm; 17 x 24 cm), Diterbitkan Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta, Tahun 2014.

unduh buku digital