Maminteh Sabalun Anyuik, Malantai Sabalun Lapuak, Ingek-Ingek Sabalun Kanai

0
544

Oleh: Undri

Mengawali tahun 2020 sampai saat ini, kita dikejutkan dengan virus jenis baru yang disebut Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Virus tersebut telah menyebabkan jatuhnya korban jiwa,  terinfeksi masih dalam pengawasan dan perawatan intensif. Penyebaran virus corona berkembang pesat dan membuat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengimbau negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, untuk harus selalu waspada. Sifat kewaspadaan yang harus kita utamakanberhati-hati dan berjaga-jaga; bersiap siaga. Di ungkapkan-maminteh sabalun anyuik, malantai sabalun lapuak, ingek-ingek sabalun kanai (memintas sebelum hanyut, dibuat lantai baru sebelum lapuk, siaga sebelum kena bahaya).

Tuntutan untuk selalu hati-hati dan waspada dalam hidup ini kita tumbuh kembangkan. Apakah itu terhadap bahaya dari alam ataupun ancaman dari lawan. Selain itu kita juga perlu waspada terhadap akibat dari tindakan-tindakan yang akan membahayakan hidup kita. Jadi sebelum sebuah keputusan diambil perlu dipertimbangkan akibatnya. Sifat waspada dan siaga termasuk sifat yang dianjurkan adat Minangkabau, diungkapkan- maminteh sabalun anyuik (memintas sebelum hanyut), malantai sabalun lapuak (dibuat lantai baru sebelum lapuk), ingek-ingek sabalun kanai (siaga sebelum kena (bahaya), sio-sio nagari kalah (sia-sia negeri akan kalah), sio-sio utang tumbuah (sia-sia hutang timbul), siang dicaliak-caliak (siang dilihat-lihat (waspada), malam didanga-danga (malam didengar-dengar)

Kewaspadaan dan kesiapan, kok tagak maninjau jarak, kok duduak marauik ranjau (kalau berdiri meninjau jarak, kalau duduk meraut ranjau), ingek-ingek sabalun kanai, sadio payuang sabalun hujan (ingat sebelum kena, sedia payung sebelum hujan), ingek-ingek nan diateh, nan dibawah kok maimpok (ingat yang diatas, tapi jangan lengah yang dibawah akan menimpa), tirih kok datang dari lantai, galodo kok datang dari ilia (tiris mungkin datang dari lantai, air bah mungkin dari hilir).

Dalam pepatah diatas terlihat bagaimana kewaspadaan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan mencontohkan kepada seseorang yang sedang berdiri atau duduk sendirian harus tetap siaga, jangan membuang waktu sia-sia. Sebab waktu itu sangat berharga. Kalau berdiri dilapangan atau dimedan yang terbuka maka pandanglah jauh kedepan, amati alam sekeliling, ambil manfaat untuk meninjau jarak dan mengawasi keadaan dan situasi, tapi kalau duduk sendirian gunakanlah waktu untuk menyiapkan diri. Siap siaga dengan kewaspadaan itulah kuncinya.

Diwaktu hujan bahaya ketirisan biasanya datang dari atap, tetapi jangan lupa bahwa kebocoran mungkin saja datang dari lantai atau bawah. Galodo atau air bah biasanya datang dari hulu, tetapi orang Minangkabau harus tetap waspada bahwa galodo itu mungkin saja datangnya dari hilir. Begitulah irama hidup yang diajarkan untuk mengingatkan kepada kita sifat kehati-hatian dan kewaspadaan.

Tidak itu saja –baban sakiro tasandang dek bahu, manjujuang sakiro tapikua dek kapalo (beban sekira tersandang oleh bahu, menjunjung sekira terpikul oleh kepala)- seumpama orang membawa sesuatu beban itu ada yang ringan dan cukup dijinjing saja dan ada pula yang berat. Bila berat biasanya beban itu ada yang disandang dibahu atau menjunjung di atas kepala. Daya dan kekuatan manusia tentu terbatas, adakalanya tidak mampu bahu menyandang atau kepala tidak sanggup menjunjung beban tersebut, maka kepada yang membawa beban berat itu diingatkan jangan sampai runtuh bahu menyandang dan jangan sampai sulah (botak) kepala menjunjungnya. Begitulah kita dianjurkan dalam adat Minangkabau. Dalam hal ini, kita juga tetap waspada juga.

Begitu juga dengan  sifat kehati-hatian dalam hidup, perlu kita pikirkan sebelum melakukan suatu pekerjaan baik dan buruknya. Jangan melakukan sesuatu kalau mencelakakan diri, keluarga kita pula, dan lakukan bila bermanfaat buat diri, keluarga dan orang banyak.

Kewaspadaan terhadap sesuatu hal yang harus kita lakukan dalam hidup ini, agar kita tidak terjerumus kepada hal-hal yang tidak kita inginkan. Gunakan akal sehat kita untuk melakukan sesuatu. Hilangkan sifat egois, mau menang sendiri saja. Kita harus patuh dan taat terhadap aturan yang ada. Bila semua itu kita lakukan maka dalam hidup kita ini akan bahagia. Bahagia dengan diri kita dan bahagia dengan orang lain.  Terkadang dengan sifat egois kita sendiri, kita tidak membuat orang lain jadi celaka dibuatnya. Hindarilah sifat yang seperti itu kedepannya, agar diri kita, keluarga dan masyarakat lainnya bisa hidup dengan tenang. Jadi  sifat  berhati-hati dan berjaga-jaga; bersiap siaga terhadap kondisi apa saja seperti halnya atas penyebaran virus Covid 19 merupakan sebuah keharusan. Sembari berdoa kepada Allah SWT agar kita semua terhindar dari penyakit tersebut. Serta taat dan patuh atas putusan pemerintah dan ulama terhadap kebijakan yang akan diambil dalam penyebaran penyakit tersebut kedepannya. Mudah-mudahan. (Undri)

Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Singgalang Kolom Kurenah pada Minggu, 5 April 2020

TINGGALKAN KOMENTAR