Sekilas tentang Beluk Saman

0
1037

Seni Beuluk Saman merupakan perpaduan antara seni beuluk dan Saman. Oeh karena itu, nama kesenian ini terkadang disebut sebagai beuluk saman ataupun saman beuluk. Dua buah seni yang berbeda namun dipadukan sehingga tercipta sebuah seni religius perpaduan antara unsur agama dan seni tradisi.
Kesenian saman berarti delapan yang pada awalnya merupakan tarian terdiri atas delapan orang penari. Saman merupakan sebuah seni yang mirip dengan orang saat sedang berzikir, sedangkan saman itu sendiri merupakan sebuah nama, yaitu Syeh Saman yang bersal dari Aceh. Nama dan olah seni tersebut kemudian disebut juga dengan istilah zikir saman. Atau, dapat juga disebut juga dzikir maulid karena diadakannya, disenandungkannya syair-syair yang mengandung asma Allah SWT.
Dzikir saman Aceh merupakan sebuah seni dengan unsur gerak dinamis dan berulang-ulang serta ritme gerakan tangan yang sangat cepat. Kebanyakan seni ini dilakukan dengan pola sejajar.

Berbeda halnya dengan zikir saman Aceh, Seni saman di Banten dilakukan dengan posisi melingkar atau sejajar serta saling berhadapan. Selanjutnya, dilakukan tahap asrokal yang menonjolkan lengkingan vokal yang sangat tinggi (beuluk). Pada sesi ini, waditra yang digunakan berupa hihid “kipas” yang terbuat dari kulit kerbau. Pemain mengikuti irama beuluk berjoged dan ini merupakan acara hiburan.
Pengertian Beuluk Beuluk berasal dari kata: – Ba dan aluk- Ba artinya besar- aluk artinya gorowok Atau dengan kata lain aluk itu merupakan pemberitahuan kepada tetangga sekitarnya (Atik, 1996 : 31). Dalam kenyataannya beuluk merupakan sajian sekar berirama bebas. Beuluk merupakan seni tradisional yang erat hubungannya kesusastraan wawacan yang menggunakan aturan pupuh. Oleh karena itu, dalam pementasan, seni Beuluk tidak begitu mengandalkan instrumen musik.

Di lihat kajian historis sosiologis, beuluk terlahir di wilayah Jawa Barat (sebelum Banten berpisah menjadi Provinsi) dan banyak dipentaskan oleh masyarakat peladang. Jarak antara satu komunitas masyarakat peladang yang saling berjauhan karena dipisahkan oleh hutan belantara membuat seni beuluk pada waktu itu lebih diarahkan pada fungsi komunikasi. Hal tersebut dicirikan dengan lantunan nyanyian beuluk yang menggunakan nada berfrekuensi tinggi (Meluk) sehingga terdengar oleh komunitas peladang lainnya yang berjarak cukup jauh. Nada yang tinggi tersebut menjadi sebuah keunikan tersendiri pada seni beuluk. Masalahnya, tidak sembarang orang yang mampu memainkan atau menyanyikan lagu dengan frekuensi tinggi. Di Provinsi Banten, Seni Beuluk banyak ditemukan di wilayah Pandeglang dan Serang.
Pada mulanya seni beuluk berfungsi hanya sekedar untuk menghibur dan sebagai alat komunikasi tetapi sesuai perkembangan jaman dan kebutuhan masyarakat, beuluk lebih digunakan dalam kegiatan yang bersifat religius, sosial dan rekreatif. Beberapa kegiatan tersebut di antaranya 40 hari syukuran bayi, Pernikahan, dan khitanan.
Pemain Seni Beuluk berjumlah paling sedikit 4 orang dan paling banyak berjumlah 12 – 13 orang. Mereka wajib mengisi pakem seni beuluk yang berjumlah 4 peran, yaitu

  • Tukang ngilo, berperan membaca wawacan syair demi syair dalam tempo sedang serta artikulasi yang jelas
  • Tukang ngajual, berperan mengulangi syair wawacan yang dibacakan oleh tukang ngilo.
  • Tukang meuli, berperan melanjutkan syair wawacan yang dibacakan tukang ngajual dengan tambahan ornamen-ornamen.
  • Tukang naeken, berperan melanjutkan syair wawacan yang dibacakan oleh tukang meuli, dengan improvisasi suara yang melengking dan meliuk-liuk disertai ornamen yang diungkap serta artikulasi syair yang disajikan oleh tukang meuli.

Mereka melakukan pentas dengan durasi waktu yang cukup panjang, yaitu pukul 19:30 sampai subuh. Busana yang dikenakan terdiri dari Ikat kepala, Baju kampret, Sarung batik, dan Celana pangsi
Meskipun terdengar seperti sedang menyanyi, ternyata beuluk tidak dikategorikan sebagai “nembang”. Beuluk tidak menembangkan atau menyanyikan syair yang digunakan, tetapi hanya membaca dengan memainkan tinggi rendahnya frekuensi suara. Syair yang biasa dilantunkan dalam pementasan seni beuluk biasanya berasal dari naskah-naskah yang bersumber dari cerita babad (wawacan). Oleh karena itu, dalam pementasan kesenian ini tidak terlepas dari berbagai aturan pupuh mulai dari: kinanti, sinom, asmarandana dan dangdang gula. Pada awalnya, wawacan yang digunakan dalam seni beuluk antara lain: Angling Darma, Arjuna Sisprabu, Dewi Maya, Damar Wulan, Dewaruci, Sangkuriang, Ogin, Ali Muhtar dan Sulanjana, dan lain-lain. Digabungkannya seni beuluk dengan seni saman, maka wawacan tersebut diganti dengan syair-syair yang mengandung asma Allah SWT.

Sumber:
H. Sukmawijaya, 2018. “Eksistensi dan Regenerasi Kesenian Tradisional: Kesenian Beuluk dan Saman”, makalah dipaparkan dalam kegiatan Workshop Kesenian Tradisional tanggal 29 Oktober 2018 di Kabupaten Lebak yang diselenggarakan oleh BPNB Jabar.

TINGGALKAN KOMENTAR