Toleransi Cina Benteng di Tangerang

Oleh:
Ani Rostiyati
(BPNB Jabar)

Cina Benteng merupakan bentuk masyarakat hasil dari perpaduan dua kebudayaan, yakni etnis Tionghoa dan pribumi. Mereka banyak melakukan pernikahan campuran (amalgansi) sehingga terjadi pembauran. Ciri-ciri fisik mereka tidak seperti orang Cina umumnya, warnanya agak gelap dan matanya tidak terlalu sipit. Mereka sudah menyatu dengan masyarakat pribumi, kadang sulit dibedakan apabila dilihat sepintas.
Menurut seorang informan, bapak Oe Tjin Eng (tokoh Cina Benteng), pada dasarnya hubungan antara masyarakat Cina Benteng dan masyarakat pribumi cukup harmonis, mereka saling menghargai dan menghormati. Hasil kajian di Kampung Kalipasir, Kelurahan Sukasari kota Tangerang, mengungkap hal tersebut. Masyarakat Sukasari cukup berbaur dan saling menghargai dengan masyarakat Cina Benteng.
Seorang tokoh agama (rohaniawan) bernama Koh Rudi Gunawijaya mengatakan toleransi agama dan etnis di Tangerang sangat baik, ini terlihat dari beberapa kegiatan seperti pada hari Jumsih (Jumat bersih) dan hari besar Kemerdekaan RI, warga Cina Benteng dan masyarakat melakukan gotong royong dan kerja bakti.
Pada saat festival Cisadane dan perayaan Peh Cun, pesta lomba perahu naga dan kuliner Tangerang, hampir semua masyarakat datang dan ikut berpartisipasi mensukseskan perayaan tersebut. Adanya pertunjukkan Barongsay di sekolah negeri maupun swasta di hari besar agama atau hari-hari penting. Barongsay menjadi daya tarik sendiri karena melibatkan bukan saja orang Cina Benteng tapi juga warga setempat, beberapa remaja karang taruna dilatih, bahkan yang berjilbab juga ikut anggota barongsay.
Mereka sebulan sekali melakukan latihan untuk pertunjukkan barongsay yang sering tampil di berbagai acara. Terdapat pula Pubi, yakni pusat perkumpulan Barongsay Indonesia yang anggotanya bisa siapa saja, baik warga Cina maupun pribumi. Bahkan, kesenian barongsay sudah diajarkan di sekolah yakni SMAN 1 dan 2 Tangerang, artinya kesenian ini sudah diakui dan menjadi ikon kota Tangerang. Selain seni barongsay, ada juga Liong, bedanya kalau Liong pemainnya 9 orang tapi barongsai pemainnya 2 orang.
Demikian pula, dalam acara pernikahan orang Cina Benteng dan warga Tangerang selalu menampilkan seni cokek dan gambang kromong. Di sini ada kolaborasi kesenian etnik Cina dan Betawi, seperti gambang kromong, tanjidor, dan cokek. Alat musik yang digunakan salah satunya adalah tehyan dari Cina dan pemain cokek terdiri dari masyarakat Sukasari dan warga Cina Benteng.
Adanya kegiatan Forum Kerukunan Umat Beragama yang disingkat FKUB yang didirikan sejak tahun 2006, makin memperat hubungan warga Cina Benteng dan warga pribumi setempat (Kelurahan Sukapura). Forum ini bergerak dibidang sosial seperti membantu jika ada bencana alam, memberi bantuan pada warga yang kurang mampu, menyelenggarakan kegiatan bersama pada hari-hari penting seperti Agustusan, gotong royong dan lain sebagainya. Bidang olah raga, terdapat fusu yakni penca silat Cina yang juga diikuti dan digemari oleh warga Sukasari, untuk kesehatan dan bela diri. Tiap hari Jumat semua warga melakukan senam Fusu di lapangan olah raga. Kegiatan kesehatan lain juga dilakukan di kelenteng Cina Benteng yakni melakukan donor darah tiap bulan dengan mendatangkan dokter untuk tes kesehatan gula darah, tensi, dan konsul jika sakit. Warga Sukasari dan warga Cina Benteng datang memeriksa kesehatannya.
Kelenteng bagi warga Cina Benteng memiliki 3 fungsi yakni agama, ibadah, dan kemasyarakatan yakni tempat untuk beramal dan memiliki aspek seni budaya. Secara rutin juga melaksanakan program pemerintah seperti posyandu dan para kader terdiri dari warga Cina Benteng dan warga Sukasari yang melayani penimbangan balita dan kesehatan lansia. Selain itu mereka juga melaksanakan kegiatan sosial jika ada bencana alam dan banjir dengan membuka dapur umum dan membagikan obat, seperti bencana banjir yang terjadi di Cileduk dan Priuk.
Demikian pula pada saat upacara kemerdekaan RI, warga Cina Benteng ikut upacara di tiap RW di Kelurahan Sukasari dan berbaur dengan masyarakat dalam perayaan Agustusan seperti makan kerupuk, main bola, dan permainan lain. Pada hari raya Idul Fitri mereka juga ikut halal bihalal, meskipun masih ada batas secara akidah yang dilarang misalnya tidak boleh masuk masjid. Sebaiknya, warga muslim pada saat Natal mereka juga memberi ucapan selamat. Hampir setiap tahun, pada perayaan hari raya Waisak dan perayaan besar lainnya di Vihara Boen tek Bio, umat Budha dan pengurus Masjid Jami Kalipasir bergantian menjaga keamanan dan membatu kelancaran arus lalu lintas.
Implementasi dari toleransi umat beragama sudah ada sejak dulu. Hal ini terlihat nyata dari bangunan bersejarah di Kampung Kalipasir, Kelurahan Sukasari, Kota Tangerang. Bangunan itu berupa masjid bernama Masjid Jami Kalipasir yang berdekatan dengan Vihara Boen Tek Bio. Masjid ini sejak dulu dikelola turun temurun oleh keturunan Tumenggung Pamit Widjaya, mulai dari anak, cucu sampai keturunan selanjutnya.
Bukan hanya muslim yang membangun masjid tersebut, ada andil dari orang Cina di sekitar lingkungan tersebut. Itu bisa dilihat dari menaranya yang mirip dengan Pagoda di Tiongkok, bangunan khas Cina. Di dalamnya juga ada kubah kecil dengan ukiran mirip bunga teratai khas bangsa Cina. Masjid Kalipasir sendiri berada di pinggir Jalan Kalipasir Indah, diapit oleh pemukiman padat penduduk, tidak jauh dari Masjid Agung Al-Ittihad Pasar Lama. Masjid Jami Kalipasir berbentuk persegi, dengan menara yang berada di sisi timur masjid. Bangunan tersebut memberi contoh kepada kita agar saling menghargai keyakinan. Semenjak dibangun sampai sekarang, masyarakat di sekitar kedua bangunan tersebut tidak pernah bertikai karena masalah keyakinan. Malah mereka saling melindungi pada saat mereka merayakan hari besar.
Demikianlah, toleransi yang terlihat dari kegiatan kesenian, keagamaan, sosial, pendidikan, kemasyarakatan yang dilakukan warga Cina Benteng dengan warga pribumi, masyarakat Sukasari di Tangerang.

TINGGALKAN KOMENTAR