Raharyadi Wijayakusumah, Pelukis Kaca dari Cirebon

0
112

Raharyadi Wijayakusumah, Pelukis Kaca dari Cirebon

Oleh:
Ria Andayani, S.
(BPNB Jabar)

Raharyadi Wijayakusumah
Sumber Foto: Dok. BPNB Jabar

Raden (Elang) Raharyadi Wijayakusumah, yang biasa disapa Yadi, lahir 12 Februari 1978 di Kota Cirebon. Dia menempuh pendidikan formal di SD Pengampon 5 Cirebon, lulus tahun 1990; di SMPN 7 Cirebon, lulus tahun 1993; dan di SMAN 5, lulus tahun 1996; dan di Tuparev Computer Kota Cirebon, lulus Diploma 1 Komputer Desain Grafis. Raharyadi adalah putra keempat dari lima bersaudara hasil pernikahan dari Ibu Chaeriyah dan Pangeran Umbara Wijayakusumah.
Semasa hidupnya, Pangeran Umbara merupakan pelaku seni dan budaya seangkatan dengan Hasan Nawi. Pangeran Umbara adalah sosok yang ahli dalam bidang ukiran, lukis kaca, dan tembaga. Raharyadi menempati rumah di Jl. Gunung Merbabu D-19 No. 170 RT 03/RW 09 Kel. Larangan Kec. Harjamukti, tepatnya di belakang Masjid Sang Ciptarasa Kota Cirebon. Kurniasih dinikahi tahun 2007, putra dua putra dan putri . Pada 2005 s.d. 2012, Raharyadi bekerja sebagai honorer staf tata usaha di SMK Maritim Cirebon. Selanjutnya dari 2012 s.d 2013 ia menjadi staf tata usaha di SD Penggung Utara. Karena kesibukan dia dalam berkesenian, akhirnya dia berhenti sebagai tenaga Tata Usaha dan fokus di bidang kesenian.

Lukisan Bambang Sumantri
(Karya Suharyadi ketika duduk di kelas 3 SD)
Sumber Foto: Dok. BPNB Jabar

Sejak usia 9 tahun, Yadi yang masih duduk di kelas 3 sekolah dasar sudah belajar melukis kaca atas bimbingan ayahnya. Tiga bersaudara putra dari Pangeran Umbara Wijayakusumah tersebut ketiga-tiganya terjun di dunia seni walaupun satu sama lain keahliannya berbeda. Kakaknya lebih menekuni tari topeng, adiknya mendalami pencak silat dan mendapat meraih juara nasional, sedangkan Yadi sendiri lebih menekuni lukis kaca.
Lukisan kaca identik dengan Kota Cirebon, sebab produk-produk lukisan kaca hanya ada di Kota Cirebon. Menurut penuturan Sultan Sepuh IV PRA Arief Natadiningrat, bahwa awal masuknya lukisan kaca ke Cirebon dibawakan oleh Putri Ong Tien Nio dan rombongannya ketika berkunjung ke Pelabuhan Muara Jati. Putri Ong Tien Nio datang ke Keraton Cirebon dengan membawa banyak hadiah seperti cermin, kaca, dan keramik (Nina, 2012: 6). Putri Ong Tien Nio kemudian menikah dengan Sunan Gunung Jati. Sejak itulah lukisan kaca berkembang di lingkungan keraton. Lukisan kaca yang awalnya ada di lingkungan keraton, kemudian berkembang ke lingkungan peguron dan ke tengah masyarakat.
Lukisan kaca yang awalnya muncul di lingkungan keraton, sampai saat ini pun sebagian masyarakat yang masih punya hubungan dengan keraton masih menekuni lukisan kaca. Raharyadi Wijayakusumah misalnya. Ketika usia 9 tahun, ia selalu mendampingi ayahnya melukis kaca, meskipun waktu untuk menyelesaikan lukis kaca tersebut harus sampai larut malam. Melihat anaknya yang selalu mendampingi ayahnya hingga larut malam tersebut, ayahnya memberikan kaca ukuran kecil dan menyuruh Yadi untuk melukis apa saja. Yadi kemudian melukis dengan hasil karyanya sendiri yaitu Bambang Sumantri. Lukisan pertama sebagai hasil karyanya.
Sewaktu ia duduk di kelas IV SD, ia mengikuti lomba lukis dan meraih juara 1. Kejuaraan tersebut merupakan lomba lukis pertama kali yang diikuti Yadi. Entah itu tahun berapa, Yadi sendiri lupa, namun yang ia ingat, ia pernah mengikuti lomba lukis berikutnya. Hasil lomba lukis yang kedua ia simpan, akan tetapi pada lomba lukis yang ketiga, hasilnya dibeli oleh Menteri Kehakiman RI waktu itu Ismail Saleh. Semenjak itulah para pejabat pemerintah lainnya ikut memesan lukis kaca kepada Yadi, misalnya Harmoko, Pangdam Jaya Safri Samsudin, dan pejabat berikutnya yaitu Jokowi.
Melukis kaca yang dilakukan secara otodidak tersebut terus digeluti Yadi, sehingga melukis kaca dapat menjadi daya tarik baginya. Adapun bahan yang diperlukan berupa kaca dengan cat. Cara melukisnya menggunakan teknik melukis terbalik. Kaca bagian depan memperlihatkan detail-detail lukisan yang indah. Sedangkan kaca bagian belakang merupakan tempat menggoreskan kuas yang sudah dibubuhi cat.
Gaya yang ada pada lukisan kaca terdapat dua macam yaitu gaya klasik dan gaya modern. Untuk melukis kaca gaya klasik, dia hanya menggunakan cat dan kuas. Adapun untuk lukisan kaca gaya modern, selain memakai cat dan kuas juga menggunakan semprotan, pylox, air brush, dan lem. Motif klasik masih sederhana dan mempertahankan bentuk aslinya. Misalnya kaligrafi, batik khas Cirebon, dan wayang Cirebon, yang semuanya itu masih terpaku pada pakem. Adapun motif modern objek lukisannya cenderung bebas.
Adapun tema lukisan kaca yang diusung oleh Yadi adalah tema klasik seperti cerita Babad Alas Amer dan Baratayudha. Pada tahun 2010, selain melukis dengan tema wayang, ia juga mengambil tema-tema batik. Jadi ada setting cerita di balik lukisannya. Caranya di sket dulu (sulit) dan ada yang dilukis langsung (mudah). Untuk ukuran 1 m x 70 paling lama memakan waktu satu minggu dan pemesan datang dari Jakarta dan Bandung.
Sejumlah pameran yang pernah diikuti antara lain pameran tunggal lukisan kaca di kantor pos Bandung, jln. Banda Bandung (1997), pameran di Pekan Raya Jakarta (2013), dan pameran di Gasibu Bandung dan Jakarta Convention Centre (2015). Penghargaan pun pernah dia terima, yakni pada 14 Maret 2015 dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Pemprov Jawa Barat atas peran serta Yadi sebagai wirausaha baru di sektor Energi dan Sumber Daya Mineral pada acara Gelar Wirausaha Baru.

TINGGALKAN KOMENTAR