Peranan Pengobat Tradisional di Desa Giri Jaya Sukabumi

0
385

Peranan Pengobat Tradisional di Desa Giri Jaya Sukabumi

Oleh:
Ani Rostiyati
(BPNB Jabar)

Di Desa Giri Jaya Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat terdapat beberapa pengobat tradisional yang biasa disebut dengan dukun, diantaranya dukun mantra, dukun pijat, paraji (dukun bayi), dan dukun tulang. Dukun mantra secara khusus untuk menolong dan menyembuhkan orang sakit “tidak biasa”, terkena gangguan gaib. Menurut masyarakat Giri Jaya termasuk klasifikasi sakit tidak biasa adalah sakit yang disebut kapasarumahan, karena gangguan mahluk halus yang dianggap sebagai penunggu tempat-tempat tertentu. Di Desa Giri Jaya, biasanya tempat gawat (angker) dimana orang sering terkena gangguan gaib atau kesurupan adalah perempatan jalan, di hutan, dan beberapa pohon. Menurut dukun mantra, mahluk halus yang mengganggu itu tinggal dan diam dalam tubuh orang yang bersangkutan. Dengan dialog antara dukun mantra dan mahluk halus dapat diperoleh cara untuk membebaskan orang dari gangguan gaib atau mahluk halus. Berdasarkan dialog tersebut syarat pun ditentukan untuk menyembuhkan orang yang kesurupan, sesuai dengan permintaan mahluk tersebut.

Di Desa Giri Jaya juga terdapat dukun pijat atau dukun tulang yang menurut istilah setempat disebut dengan tukang omehan patah tulang. Sesuai dengan namanya, dukun tulang ini mempunyai kemampuan menolong orang yang sakit karena kesalahan otot atau urat. Mulai dari yang ringan seperti penat atau lelah, keseleo (salah urat), sampai patah tulang. Seperti dukun pada umumnya, dukun tulang juga memiliki “kekuatan” dan kemampuan khusus untuk melakukan pengobatan kepada pasien. Pengetahuan mereka untuk menyembuhkan orang yang patah tulang disertai kekuatan-kekuatan tertentu yang mereka peroleh dengan cara belajar atau melalui cara-cara spiritual.

Dukun lainnya yang dikenal oleh masyarakat Giri Jaya adalah dukun bayi atau paraji. Sesuai dengan sebutannya, dukun bayi ini mempunyai kemampuan dan keahlian khusus untuk menolong wanita yang akan melahirkan bayi. Seorang dukun bayi tidak saja berperan membantu atau menolong wanita yang akan melahirkan bayi.  Dukun bayi juga berperan sebagai penasihat pada wanita hamil pertama sampai saatnya melahirkan. Nasihat yang diberikan diantaranya memberikan petunjuk kepada ibu hamil agar menjaga dan merawat kehamilanya dengan cara meminum jamu khusus. Dalam penyelenggaraan upacara dan selamatan yang berkenaan dengan kehamilan, dukun bayi ikut pula memberikan petunjuk tentang pelaksanaan upacara, seperti upacara tujuh bulan bayi dalam kandungan dan saat bayi berusia satu bulan.

Peran dukun bayi tidak berhenti pada saat kelahiran. Setelah bayi lahir, dukun bayi juga masih berperan terutama dalam pengobatan dan perawatan ibu dan bayi yang baru dilahirkan. Untuk wanita yang baru saja melahirkan dibuatkan ramuan jamu untuk memulihkan kesehatannya. Dukun bayi juga ahli dalam memijat bayi yang biasanya dilakukan selama 49 hari.

Masyarakat Giri Jaya mendefinisikan dukun bayi tidak hanya sebatas pada pengobatan bayi semata. Mereka juga menganggap dukun bayi mampu mengobati anak-anak terutama anak dibawah usia lima tahun atau balita. Pada umumnya sakit yang menyerang anak-anak adalah sakit cacingan, cacar air, panas, batuk, mencret, dan tampeg.

Dukun bayi yang terdapat di Desa Giri Jaya pada umumnya perempuan. Meskipun ada bidan, tapi paraji atau dukun bayi masih sering digunakan jasanya. Alat-alat yang digunakan pun cukup sederhana yakni benang untuk mengikat tali pusar, spiritus agar tidak terasa sakit, pisau dan gunting untuk alat memotong pusar, baskom tempat air hangat, perban untuk pembalut, dan obat luka agar steril untuk menutup luka. Proses persalinan biasanya dilakukan di rumah pasien, dengan biaya persalinan cukup murah atau semampunya.

Pengobat yang berikut adalah dukun khitan atau dalam istilah setempat disebut bengkong yakni orang yang membantu anak dikhitan. Rata-rata anak yang dikhitan di Desa Giri Jaya berusia 7-10 tahun. Ada 2 dukun khitan atau Bengkong yang cukup dikenal masyarakat Giri Jaya. Cara dan alat untuk mengkhitan juga masih sederhana, yakni dipotong langsung dengan pisau dan diberi minyak klentik (minyak kelapa) asli. Kemampuan bengkong ini tidak lagi diragukan, meskipun dengan cara sederhana.

Seorang dukun juga harus mematuhi pantangan atau larangan yang kalau dilanggar bisa melunturkan ilmu yang diperoleh. Pantangan tidak boleh dilanggar supaya kekuatan dan kemampuannya tidak hilang. Biasanya pantangan ini diperoleh dari petunjuk yang diterima dari guru atau orang tuanya saat melakukan olah batin atau mendapat wangsit. Sebagai contoh, seorang bengkong tidak boleh menceritakan rapal pengobatan pada orang lain agar ilmunya tidak hilang. Dukun mantra yang mengobati orang kesurupan pada tiap malam Jumat kliwon harus berpuasa dan mengurangi tidur agar kesaktiannya tetap bahkan terus bertambah. Seorang dukun tulang (omehan patah tulang) juga dilarang makan yang dibungkus dengan daun yang disemat lidi. Pantangan ini diperkuat dengan laku yang dia peroleh dari suara-suara gaib maupun dari guru atau orang tua untuk membersihkan jasmani dan rohani mereka sebagai dukun atau pengobat tradisional.

Demikianlah sekelumit peranan pengobat tradisional yang ada di wilayah Desa Giri Jaya. Status sebagai dukun diperoleh setelah melalui proses tertentu antara lain melalui keturunan, wangsit, mimpi, atau semedi, puasa, prihatin dan sebagainya. Dalam praktiknya, para dukun seperti dukun mantra, bengkong (dukun khitan), dukun bayi (paraji), dukun tulang (omehan patah tulang), dan dukun pijat memiliki berbagai pantangan yang harus dipatuhi untuk menjaga agar kekuatannya tidak hilang.