You are currently viewing Kosmologi Pemukiman Masyarakat Kampung Wana di Lampung Timur

Kosmologi Pemukiman Masyarakat Kampung Wana di Lampung Timur

Kosmologi Pemukiman Masyarakat Kampung Wana di Lampung Timur

Oleh
Ani Rostiyati
(BPNB Jabar)

Pola pemukiman masyarakat Kampung Wana merupakan bagian dari alam makrokosmos. Jika diibaratkan mesjid, sesat (tempat musyawarah adat), dan surau (tempat mengaji) adalah tempat suci (sakral), maka rumah hunian berada di luar wilayah tersebut (profan). Namun, baik mesjid, surau, sesat, dan rumah hunian adalah termasuk dalam alam mikrosmos, sedangkan makam, kandang ternak, sumber air, dan ladang atau hutan merupakan alam makrokosmos. Jika dibuat bagan sebagai berikut ;

Dari pola spasial yang tergambar pada gambar di atas dapat ditarik makna bahwasanya masyarakat Kampung Wana memiliki keterikatan yang erat dengan makrokosmos yang berada di sekeliling mereka. Jika dijabarkan lebih lanjut melalui periode tindakan, masyarakat Kampung Wana terikat dengan sumber air secara intensif atau setiap waktu tanpa mengenal musim, karenanya lingkungan permukimannya berada di dekat sumber air. Lahan kebun memiliki periode penggunaan yang tidak setiap waktu. Meskipun pola hidup masyarakat Kampung Wana adalah berladang/berkebun, namun tidak setiap hari mereka mendapatkan hasilnya. Lahan ladang dan kebun memiliki waktu panen tertentu atau periodik, karenanya masyarakat Kampung Wana memiliki pemikiran yang efisien yaitu menciptakan ladang yang berlokasi tidak terlalu dekat dengan lingkungan permukimanya.

Hutan merupakan bagian luar jika ditinjau dari permukiman Kampung Wana. Untuk aspek penggunaannya, tidak setiap waktu masyarakat Kampung Wana menggunakan hasil hutan, baik untuk bahan bakar maupun bahan pembangun rumah. Dalam hal ketersediaan kayu bakar, terdapat waktu-waktu tertentu untuk menebang pohon dan mengumpulkan batang atau ranting kayu yang akan digunakan sebagai kayu bakar. Tidak setiap hari masyarakat Kampung Wana pergi ke hutan untuk mendapatkan kayu bakar atau bahan dasar pembangun rumah. Masyarakat Kampung Wana hanya sekali saja memanfaatkan hutan untuk mendapatkan bahan dasar pembangun rumah, yaitu pada saat mendirikan rumah. Adapun untuk mendapatkan bahan-bahan kayu, sesekali mereka harus ke hutan untuk mendapatkan bahan kayu sebagai pengganti kayu yang telah lapuk atau rusak di dalam rumah mereka. Intensitas yang rendah dalam pemanfaatan hasil hutan, maka hutan berada agak jauh dari lingkungan permukiman mereka.

Masyarakat Kampung Wana memiliki struktur berpikir yang bersifat nir sadar dan nir nyata yang mengkonsepsikan kosmologi dalam budayanya. Kosmologi ini merupakan ide-ide atau gagasan bahwa diri mereka sebagai mikro kosmos sangat berkaitan dengan lingkungannya sebagai makrokosmos. Keterkaitan diri dengan lingkungan, berada dalam ranah subsconciuos yang tidak dapat dilihat dan juga sangat mungkin tidak dapat diucapkan oleh masyarakat setempat, atau seolah-olah terjadi dengan begitu saja (taken for granted). Hal tersebut dapat terjadi karena masyarakat Kampung Wana telah menjalani kehidupannya secara turun temurun.

Leave a Reply