Gong Si Bolong
Oleh:
Irvan Setiawan
(BPNB Provinsi Jawa Barat)

Kong Jayadi melakukan ritual dengan memberi minyak sekaligus perawatan Gong Si Bolong
Sumber:
cdn1-production-images-kly.akamaized.net

Gong Si Bolong adalah seni gamelan khas Kota Depok yang digunakan untuk mengiringi beberapa pertunjukan kesenian tradisional, di antaranya: jaipong, wayang kulit Betawi, dan tari tayub. Jenis iringan musik gamelan Gong Si Bolong mengacu pada seni gamelan ajeng. Namun demikian, ada kekhasan antara musik gamelan Gong Si Bolong dengan seni gamelan ajeng. Iit Septyaningsih (2014) menyebutkan bahwa seni gamelan Gong Si Bolong merupakan perpaduan antara musik Gamelan Betawi, perpaduan dari Gamelan Sunda, Melayu dan Cina.
Nama Gong Si Bolong sering diidentikkan dengan unsur mistis yang mengarah pada sosok astral yang dianggap mampu mengabulkan permohonan atau permintaan seseorang. Sepertihalnya dengan benda yang dianggap “sakti” lainnya, Gong Si Bolong merupakan salah satu instrumen alat musik berbentuk Gong namun di bagian tengah tidak ada pencon atau benjolan, alias berlubang atau dalam bahasa Betawi disebut “bolong”. Maka dari itu, benda tersebut dinamakan Gong Si Bolong.
Ada beberapa versi yang mengarah pada unsur mistis mengenai kemunculan Gong Si Bolong. Salah satu versi seperti dinyatakan oleh Ramdhani (2016: 34) bahwa Gong Si Bolong ditemukan oleh Jimin pada sekitar tahun 1750 M (sumber lain menyebut angka tahun 1648) saat mencari sumber suara gamelan yang terdengar di malam hari. Sumber suara tersebut ternyata berasal dari seperangkat alat gamelan lengkap dengan gendang dan Gong yang berlubang (diameter 10 cm) pada bagian tengahnya. Tiga buah instrumen yang dibawa oleh Jimin, yaitu Gong, Gendang, dan Bende. Gendang dan Bende tidak memiliki keanehan dari segi bentuk. Penerus/pemegang/pewaris Gong Si Bolong setelah Jimin adalah : Sanim; Galuh/Jerah; Saning; Nyai Asem; H. Bahrudin (Bagol); Kamsa S. Atmaja; Buang Jayadi. Pewaris terakhir, Buang Jayadi merawat Gong Si Bolong sejak tahun 2011 hingga sekarang (Ramdhani, 2016: 39-40).
Adapun unsur seni yang mulai dimainkan dengan menggunakan waditra Gong Si Bolong dilakukan sejak kepewarisan Galuh/Jerah, yaitu dengan memainkan musik gamelan ajeng. Saning yang merupakan anak dari Galuh/Jerah kemudian mengembangkan musik Gong Si Bolong sebagai pengiring Tari Tayub dan Tari Jaipong. Rating pertunjukan Gong Si Bolong mencapai puncak saat kepewarisan Nyai Asem. Masyarakat kala itu sangat menyukai alunan musik yang dimainkan oleh seperangkat instrumen Gong Si Bolong. Yang menarik, suara yang dihasilkan tiga waditra temuan tersebut sangat nyaring sehingga mampu terdengar hingga ke kampung sebelah. Keunikan waditra tersebut membuat masyarakat menyebutnya dengan istilah “si gledek”.
Sepeninggalnya Nyai Asem, musik Golong Si Bolong mulai meredup. Pewaris selanjutnya, yaitu H. Bahrudin, berupaya berinovasi dengan memadukan musik Gong Si Bolong untuk mengiringi Wayang Kulit Betawi dan Jaipong. Namun hal tersebut tidak cukup untuk menaikkan rating musik Gong Si Bolong. Setelah vakum beberapa lama, Kamsa S. Atmaja mencoba mengangkat lagi pamor musik Gong Si Bolong. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan cara bergabung dengan Dewan Kesenian Depok pada tanggal 18 April 2000. Alhasil, pamor musik Gong Si Bolong mulai naik. Banyak warga atau instansi yang memesan pertunjukkan Gong Si Bolong. Saat ini, pewaris musik Gong Si Bolong adalah Buang Jayadi setelah Kamsa S. Atmaja menyerahkannya pada tahun 2011 (Ramdhani, 2016: 41-42).

Regenerasi
Proses perekrutan anggota musik Gong Si Bolong dilakukan dilakukan secara kekeluargaan. Anggota baru akan diterima apabila memiliki solidaritas tinggi dan mampu memainkan lebih dari satu waditra. Musik Gong Si Bolong terdiri dari beberapa waditra, yaitu: satu set gendang; dua set saron; satu set keromong; satu set kedemung; satu set kenong; satu terompet; satu set gong; rebab; dan gambang.

Peralatan dan pemain Gong Si Bolong
Sumber:
cdn0-production-images-kly.akamaized.net

Anggota Gong Si Bolong terbagi dalam dua kelompok berdasarkan gender, yaitu laki-laki dan perempuan. Laki-laki. Berperan sebagai pemain instrumen atau nayaga, sedangkan perempuan mengambil peran sebagai penari nayuban dan sinden (Ramdhani, 2016: 44). Selain regenerasi, kebertahanan musik Gong Si Bolong juga ditunjang oleh kemampuan untuk melakukan inovasi yang menjadi kunci keberhasilan musik Gong Si Bolong hingga dapat bertahan sampai saat ini. Selain itu, Pemerintah Kota Depok melalui dinas terkait juga turut membantu untuk mengangkat kembali salah satu aset warisan budaya takbenda ini Kota Depok. Tugu Gong Si Bolong adalah salah satu bukti dari upaya Pemerintah Kota Depok tersebut.

Sumber Tulisan:

  • Ramdhani, Wahyu, 2016. “Strategi Survival Komunitas Seni Tradisional di Era Modernisasi (Studi Kasus Komunitas Gong Si Bolong di Kota Depok)”, Skripsi, Program Sosiologi, Jakarta: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
  • Iit Septyaningsih, 2014. “Warga Depok Tampilkan Kesenian Gong Si Bolong”, dalam www.republika.co.id selasa 19 Agustus 2014
  • Arny Christika Putri, 2017. “STORY Pudarnya Kesenian Gong Si Bolong Asal Depok”, dalam www.liputan6.com 4 Februari 2017

TINGGALKAN KOMENTAR