AKTIVITAS MASYARAKAT SUNDA DI GOLODOG IMAH PANGGUNG

Oleh :
Lina Herlinawati
(BPNB Jawa Barat)

Masyarakat Sunda memiliki rumah tradisional yang dinamakan imah panggung ‘rumah panggung’. Keberadaannya di kota dengan arsitektur tradisional Sunda dapat dikatakan sudah jarang kita temukan. Lain halnya dengan di pedesaan, di sana masih banyak kita temukan, terutama di lingkungan masyarakat petani.

Kata panggung berasal dari kata pang dan agung. Pang adalah kata imbuhan depan yang mempunyai arti paling, sementara agung mempunyai arti tinggi atau atas. Imah panggung adalah bangunan rumah yang memiliki lantai di atas tanah, jadi berarsitektur rumah yang memiliki kolong di bawah lantai – sekitar 40 hingga 60 cm tingginya, dengan menggunakan pondasi umpak atau beberapa sebutan lainnya yaitu wadasan, titinggi, dan tatapakan. Dalam pandangan Orang Sunda, imah merupakan lambang wanita, karena seluruh aktivitas di dalamnya dilakukan oleh wanita.

Struktur dan konstruksi imah panggung tampak ringan dan sederhana, karena jika kita amati bahan-bahan yang dipakai seluruhnya berasal dari alam sekitar, bahkan dibuat sendiri. Pondasi umpak-nya dari batu belah yang langsung diambil dari sungai, bukit, atau gunung; pangadeg ‘dinding imah’ terbuat dari bilik bambu yang dianyam atau papan kayu; lantai dari talupuh atau palupuh, yaitu bambu yang dirajang (dibelah-belah) atau dari papan; atap rangkanya dari bambu campur kayu serta penutupnya dari hateup kiray ‘atap nipah’ dan injuk ‘ijuk’.

Walau terlihat ringan dan sederhana, tetapi bangunan imah panggung tetap kuat dan kokoh. Terbukti rumah-rumah Sunda berarsitektur tradisional di kampung-kampung adat, seperti di Kampung Baduy, Naga, Kasepuhan Ciptagelar, dan Dukuh, setiap terjadi gempa bumi, rumah-rumah di daerah tersebut kokoh, tidak ada yang roboh. Dapat dikatakan Tatar Sunda memang rawan gempa, salah satunya karena ia berada pada sesar/patahan yang tersebar seperti Sesar Baribis, Sesar Lembang dan lainnya, serta dikelilingi banyak gunung berapi, yang salah satunya memiliki potensi timbulkan gempa tektonik.

Tujuan dibentuknya imah panggung bagi masyarakat Sunda adalah agar kolong yang terdapat pada rumah tersebut dapat digunakan sebagai penanggulangan gempa bumi dan banjir. Adapun bentuk panggung mempunyai fungsi teknik dan simbolik. Imah panggung secara teknis tidak mengganggu wilayah resapan air. Kemudian adanya kolong pun berfungsi sebagai media pengkondisian ruang dengan mengalirnya udara secara silang baik untuk kehangatan pada malam hari dan kesejukan pada siang hari. Selain itu kolong rumah dibuat sedemikian rupa agar dapat menyimpan persediaan kayu bakar, bahkan ada yang dibuat menjadi paranje ‘’kandang’ tempat peliharaan ayam, penyimpanan alat-alat pertanian seperti pacul ‘cangkul’, wuluku ‘bajak’, garu, dan lain sebagainya.

Imah Panggung
(Sumber: ciburuan.wordpress.com)

Sementara itu fungsi simbolik imah panggung, masyarakat Sunda percaya bahwa dunia terbagi menjadi tiga yaitu buana larang (handap), buana panca tengah (tengah-tengah), dan buana nyungcung (luhur). Secara simbolik memberikan pengertian pada bagian handap ‘bawah’, tengah, dan luhur ‘atas’. Dunia tengah merupakan pusat alam semesta dan manusia menempatkan diri sebagai pusat alam semesta, karena itulah tempat tinggal manusia harus terletak di tengah-tengah, tidak ke dunia bawah (bumi) dan tidak ke dunia atas (langit).

Setiap bangunan imah panggung memiliki tangga untuk naik turun pada waktu masuk-keluar rumah. Tangga tersebut dinamakan golodog atau babancik/papangge, terbuat dari kayu atau kebanyakan dari bambu gelondongan. Ada yang mengkonotasikan golodog untuk imah panggung, sedangkan babancik merujuk ke rumah tembok, walaupun di berbagai tempat kedua istilah itu sering dipertukarkan.

Golodog Imah Panggung
(Sumber: Sundanese Architecture)

Sarana yang senantiasa disediakan oleh pemilik rumah di atas golodog adalah lodong bambu berisikan air, terutama pada musim hujan. Jadi sebelum masuk rumah, orang-orang akan mencuci kaki yang berlumpur di atas golodog. Demikian pula bila memakai alas kaki seperti gamparan, bakiak, tarumpah atau alas kaki lain, maka mereka menanggalkannya dulu di golodog sebelum masuk rumah.

Golodog demikian lekat dalam kehidupan keseharian masyarakat Sunda di desa, kala mereka berada di rumah. Berbagai aktivitas banyak dilakukan anggota keluarga di golodog, terutama para ibu dan anak-anak. Akan halnya bapak-bapak biasanya dari golodog hanya akan menabur biji jagung, bangsal ‘gabah’ atau beunyeur ‘melukut’ kepada ayam peliharaannya. Selanjutnya golodog banyak digunakan para ibu dan anak-anak.

Anak-anak tampak ceria ketika berada di golodog. Mereka duduk dengan kaki berjuntai sambil kakawihan ‘mendendangkan kawih’. Demikian pula dengan anak-anak remajanya yang mulai beger ‘akil baliq’ manakala duduk-duduk di sana dan terpincut oleh teman setetangga dan sepermainannya yang juga kala itu sedang duduk-duduk di golodog rumah di seberangnya.

Lain halnya dengan para ibunya. Manakala aktivitas di dapur rumahnya masing-masing telah selesai, para bapaknya telah pergi bekerja seperti ke sawah, kebun, anak-anak pergi sekolah, dan lain-lain, beberapa dari mereka sering duduk-duduk di golodog. Berbagai kegiatan sering dilakukan di sana. Mereka mengobrol di golodog masing-masing dengan posisi rumahnya yang berdekatan atau berhadapan. Sesuai dengan pola pemukiman mereka yang membentuk deretan rumah yang berhimpitan dua baris dan saling berhadapan, terpisah oleh satu pelataran yang berfungsi sebagai jalan. Dan salah satu kegiatan yang kerap dilakukan mereka adalah mencari kutu rambut anggota keluarganya, saudara atau anak-anaknya.

Pandu Randea dalam tulisannya yang berjudul “’Mencari Kutu, Tradisi Kuno yang Masih Asyik Sampai Kini” menyebutkan bahwa, dari fenomena mencari kutu, tradisi tersebut banyak manfaatnya dan membuktikan adanya simbiosis mutualisma yang dapat dikaitkan dengan aspek, psikologis, ideologi, sosial, budaya dan politik.

Mencari kutu secara psikologis menimbulkan kenikmatan bagi si pencari kutu dan si pemilik kutu, keduanya sebagai subjek dan objek, aktif dan pasif. Disebutkannya bahwa gerakan tangan pencari kutu terasa membuai, menenangkan dan membuat ngantuk bagi si pemilik kutu. Sementara bagi pencari kutu sendiri, pengerahan konsentrasi, kejelian, dan keterampilan jari jemari saat nyaliksik ‘mencari kutu dengan cara meraba-raba sepanjang rambut’ akan menimbulkan kenikmatan tiada tara ketika berhasil menangkap kutu atau lisa ‘telur kutu’ dan kuar ‘anak kutu’. Puncak kepuasan itu adalah kegemasan yang diungkapkankan dengan tindakan nindes ‘menggencet dengan kuku jari tangan’ si kutu atau digigit tanpa ampun. Suara ‘peletuk’ sebagai tanda pecahnya tubuh kutu adalah momen sakral, puncak kenikmatan bagi kedua belah pihak.

Sementara dari sisi sosial, momen mencari kutu seperti yang dilakukan ibu-ibu di atas membuka ruang percakapan dengan berbagai tema. Mulai dari peristiwa keseharian, gosip, naiknya harga-harga, jodoh dan asmara, hingga curhat rahasia pribadi, yang disampaikan sabulang bentor ‘ngobrol ngalor ngidul’ dan penuh canda. Kegiatan tersebut juga menjadi upaya alami dalam menjalin kedekatan sesama keluarga dan tetangga, pelepas lelah setelah bekerja. Tidak hanya itu, bagi seorang ibu yang mencari kutu di kepala anaknya adalah momentum untuk berkomunikasi, mengungkapkan kasih sayang, menyampaikan nasihat bijak dan petuah agama secara sederhana.

Tradisi mencari kutu rambut pada masyarakat suku Sunda dengan istilah nyiaran kutu, terjadi pula pada masyarakat suku-suku lainnya di Nusantara, seperti di Jawa dengan istilah golek tumo/dhidhis/petan, di Madura dengan istilah nyellek koto, di Maros – Bugis/ Makasar dengan istilah sikutui, di Aceh, Padang, Bali, dan sebagainya.

Relief pada Candi Surowono, yang menunjukkan kegiatan menangkap kutu
(Sumber : jernih.co)

Hal yang menarik pula, bahwa kegiatan komunal yang tersebar luas tersebut terdapat sumber klasiknya berupa visualisasi pada sebuah pilaster teras Candi Surowono, di Desa Canggu Kecamatan Pare Kabupaten Kediri. Candi tersebut merupakan pendharmaan bagi Bhre Wengker yang mangkat pada tahun 1388 Masehi. Hal itu semua dipaparkan oleh M. Dwi Cahyono dalam tulisannya berjudul Tradisi “Dhidhis (Petan)” di Kalangan Rayat Kecil.

Pada salah satu reliefnya tampak pahatan yang menggambarkan dua orang desa sedang mencari kutu di bawah pohon rindang. Visualisasi dari dua orang tersebut digambarkan dalam perupaan panakawan atau punakawan di wayang kulit. Adegan yang ditampilkan menampakkan seseorang tengah mencari kutu di kepala kawannya dengan menggunakan semacam tongkat kecil berujung runcing untuk menyingkap helai-helai rambut agar memudahkan menemukan si kutu. Sedangkan tangan lainnya bersiaga-siaga menangkap si kutu bila terlihat. Uniknya sosok dalam relief tersebut menunjukkan dua orang pria, gambaran punakawan.

Candi Surowono di Dusun Surowono, Desa Canggu Kecamatan Badas Kabupaten Kediri
(Sumber: m.tribunnews.com)

M. Dwi Cahyono menginterpretasikan hal tersebut sebagai penegasan dan sekaligus sindiran bahwa walau mencari kutu lazim dilakukan oleh kaum hawa, namun kala itu lelaki yang berambut panjang dan kurang bersih dalam hal perawatan rambut, tidak terelakkan dari serangan kutu rambut. M. Dwi Cahyono menyatakan pula bahwa relief tersebut mendokumentasikan kehidupan nyata rakyat kecil di pedesaan, terutama tradisi mencari kutu. Batur Candi Surowono memang memuat panil-panil relief yang menggambarkan realitas kehidupan pedesaan di sekitar candi ini, tak terkecuali dalam mata pencaharian lokal, seperti memancing ikan, memancing katak (kodok ijo), menjerat anak babi (genjik), menyumpit burung, dan sebagainya.

Hasil rekonstruksi bagian dasar Candi Surawana atau Surowono
(Sumber: id.wikipedia.org)

Aktivitas lain yang kerap dilakukan masyarakat desa di golodog adalah ketika ada anggota masyarakat yang melangsungkan pernikahan adat Sunda. Beberapa acara dalam proses pernikahan adat Sunda, yaitu saweran dan nincak endog dilakukan di golodog. Pada acara saweran, tukang nyawer akan berada di golodog ketika menebarkan beras dicampur irisan koneng ‘kunir’ dan kepingan uang logam recehan (uang kecil) ke atas payung sepasang mempelai yang berdiri di halaman sebelum dipersilakan masuk rumah.

Selanjutnya di golodog pula mempelai laki-laki dicuci kakinya oleh mempelai perempuan dengan air dari kendi setelah ia menginjak telur dan elekan ketika upacara nyawer selesai. Di situ pula ia kelak setelah menjadi ayah akan menabur biji jagung, bangsal ‘gabah’ atau beunyeur ‘melukut’ kepada ayam peliharaannya.

Dari uraian singkat di atas terlihat bahwa dalam arsitektur tradisional Sunda, pembuatan struktur dan konstruksi imah panggung di pedesaan terdapat proses penggunaan material bangunan, yang dimulai dari mengambil, mengawetkan, mengolah sampai dengan menggunakannya. Seluruh material bangunan berasal dari alam dan proses pengolahannya dilakukan secara tradisional (manual). Arsitektur tradisional Sunda merupakan mahakarya warisan budaya leluhur yang menyimpan berbagai pesan hubungan manusia dengan alam.

Kemudian golodog yang merupakan bagian dari imah panggung begitu lekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sunda di pedesaan. Anggota keluarga mereka secara tidak langsung terjalin kedekatannya melalui aktivitas yang dilakukan di golodog, begitu pula dengan para tetangga dekat mereka.

Sumber:

  • Salura. P. (2015). Sundanese Architecture. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
  • https://dearchitectblog.wordpress.com/2016/12/21/arsitektur-sunda/
  • https://www.tribunnews.com/regional/2017/07/07/mengintip-candi-surowono-kediri-warisan-kerajaan-majapahit
  • http://jernih.co/moron/mencari-kutu-tradisi-kuno-yang-masih-asyik-sampai-kini/
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Suhunan_Sunda
  • https://www.arahproperti.com/index.php/arsitektur/read/229/konsep_imah_panggung__yang_anti_banjir_

TINGGALKAN KOMENTAR