MAKEPUNG: WBTB DARI JEMBRANA

0
3443

Jembrana – Terkait dengan serangkaian proses penggalian kembali data warisan budaya tak benda (WBTB) makepung yang sedang dilakukan oleh Tim Peneliti dari Puslitbang Kebudayaan, Senin (22/6) dengan didampingi oleh para peneliti dari BPNB Bali, NTB, NTT melakukan kunjungan ke Kabupaten Jembrana.

DSC_0812
FGD Dengan Dengan Sejumlah Pejabat DIKPORAPARBUD

Kedatangan Tim Puslitbang Kebudayaan yang diketuai oleh Damarjati Kun Marjanto ini disambut baik oleh pemda setempat. Bertempat di ruang rapat Dinas Pendidikan Pemuda Olahraga Pariwisata dan Budaya (DIKPORAPARBUD) Kabupaten Jembrana, tim ini melakukan focus group discussion (FGD) dengan beberapa pejabat diantaranya I Nyoman Partika (Kabid Pariwisata), Agung Mahadikara (Kabid Kebudayaan) dan Sutardi (Kasi Pengembangan dan Pelestarian Seni Budaya).

Makepung sendiri merupakan sebuah tradisi khas Kabupaten Jembrana. Sejak bulan desember tahun 2013 lalu telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) Indonesia. Sedikit memiliki kemiripin dengan karapan sapi yang ada di Madura, hanya saja hewan yang digunakan adalah kerbau bukan sapi. Tidak hanya itu, lintasan yang digunakan pun berbeda. Jika karapan sapi dilakukan di tanah lapang, sedangkan untuk makepung memiliki lintasan tersendiri yang dikenal dengan “jalan usaha tani” yang memiliki panjang lintasan sekitar 2 Km.

DSC_0818
Jalan Usaha Tani Sebagai Sirkuit Khusus Untuk Makepung

Tradisi makepung sendiri biasanya dilaksanakan mulai bulan juli minggu kedua hingga bulan november minggu pertama. Kerbau yang digunakan dalam perlombaan makepung adalah kerbau jantan yang khusus dipersiapkan untuk makepung.  Kerbau jantan hitam disebut dengan kebo, sedangkan kerbau jantan putih (bule) disebut dengan misa. Kerbau-kerbau ini tidak hanya berasal dari Bali saja, tetapi dari luar Bali juga. Seperti dari Jawa dan Sulawesi. Kerbau yang khusus untuk makepung ini sudah dilatih sejak umur 2 tahun.

DSC_0829
Kebo Dan Misa, Kerbau Pemula Yang Digunakan Untuk Makepung
Page 1
Perlengkapan Pendukung Dalam Makepung. Dari Pojok Kiri Atas: Cikar, Pemukul Paku dan Aksesoris Kerbau

Adapun perlengkapan pendukung yang digunakan untuk makepung diantaranya cikar, alat pemukul kerbau yang berisi paku serta aksesoris lain. Cikar ini nantinya sebagai tempat si tukang lempang (joki) dalam mengendalikan kerbau. Pemukul yang berisi paku digunakan untuk memukul kerbau agar ia terpacu lebih cepat dalam berlari. Pemukul yang dilengkapi dengan paku ini dimaksudkan agar ketika dipukul darah kerbau keluar sehingga kulit kerbau tidak mengeras dan lebam. Luka yang membekas pada kulit kerbau karena pukulan tersebut nantinya dapat disembuhkan dengan obat tradisional. Sedangkan aksesoris lain ini biasanya digunakan untuk menghias kerbau yang digunakan dalam makepung.

Tidak hanya sebagai budaya yang diwariskan secara turun temurun, makepung secara tidak langsung telah mendatangkan manfaat ekonomi. Baik untuk pelaku dari makepung sendiri maupun masyarakat tempat diadakannya lomba makepung. Kerbau makepung jelas memiliki harga jual yan tinggi. Terlebih jika kerbau tersebut pernah menjadi juara. Untuk kerbau makepung memiliki harga jual sekitar 60 juta per kerbau. Sedangkan kerbau biasa hanya memiliki harga jual sekitar 4 juta. Sedangkan manfaat untuk masyarakat lokal tempat diselenggarakannya makepung yaitu membuat perputaran ekonomi di daerah tersebut semakin hidup. (WN)