Merawat “Si Cantik” Candi Sari

Juru pelihara dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta membersihkan bagian atap Candi Sari (Foto: Dok. BPCB DIY 2021)

     Paras cantik harus dirawat dengan baik, agar tidak lekas memudar. Begitu pula dengan Candi Candi Sari yang berada di Dusun Bendan, Desa Tirtomartani, Kalasan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi berusia lebih dari satu milenium dan memiliki ornamen begitu indah ini, kecantikannya digerus beberapa faktor antara lain  terpapar kotoran, ditumbuhi lumut dan algae, serta tumbuhan liar lainnya. Jika semua parasit itu tidak lekas dibersihkan, kecantikan Candi Sari akan terancam.

     Tumbuhnya lumut dan algae pada permukaan batu-batu candi disebabkan karena lingkungan lembap dan kurang mendapat cahaya matahari. Jika pertumbuhannya dibiarkan, maka dapat merusak batu-batu candi. Oleh karena itu, tumbuhan pengganggu tersebut perlu dihilangkan guna menjaga kelestarian candi.

     Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta selaku unit pelaksana teknis dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang bertanggung jawab melestarikan cagar budaya di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, rutin membersihkan Candi Sari setiap tahun. Pada 15 s.d. 22 Februari 2021, sembilan orang juru pelihara dari BPCB DIY melakukan pembersihan mekanis kering pada bagian tubuh dan atap candi yang dibangun sekitar abad 8 Masehi ini.

Kondisi Candi Sari sebelum dibersihkan. (Foto: Dok. BPCB DIY 2021)

     Pembersihan mekanis kering bertujuan untuk membersihkan candi dari kotoran dan tumbuhan pengganggu yang dapat mengancam kelestariannya. Pembersihan ini dilakukan dengan menggunakan alat sederhana berupa sikat ijuk dan sapu lidi.

     Juru pelihara menaiki tangga yang disandarkan ke candi untuk bisa mencapai ke bagian tubuh dan atap candi. Tidak lupa, setiap juru pelihara memakai helm untuk menjaga keselamatan diri. Mereka juga menambatkan tali pada batu bagian atap candi, sebagai pegangan pada saat membersihkan bagian dinding candi yang sulit dijangkau.

Pembersihan Candi Sari. (Foto: Dok. BPCB DIY 2021)

     Sikat ijuk dan sapu lidi menjadi “senjata utama” juru pelihara dalam membersihkan candi. Sikat ijuk digunakan untuk membersihkan kotoran dan lumut yang menempel pada permukaan batu-batu candi. Untuk menjangkau batu-batu yang letaknya jauh dari jangkauan tangan, juru pelihara mengikat sikat ijuknya pada ujung tongkat sehingga menjadi sikat ijuk yang bertangkai panjang. Sedangkan sapu lidi digunakan untuk menghilangkan kotoran yang terperangkap di bagian sela atau celah batu-batu candi. Pembersihan tumbuhan liar lainnya yang letaknya tidak  sulit dan mudah dijangkau cukup dilakukan dengan mencabutnya menggunakan tangan.

Setelah dibersihkan Candi Sari tampak “cantik” kembali. (Foto: Dok. BPCB DIY 2021)

     Pembersihan Candi Sari mesti dilakukan secara berkelanjutan. Tujuannya agar candi yang dahulu berfungsi sebagai wihara bagi para pendeta Buddha (biksu) ini terjaga kelestariannya. Dan yang tidak kalah penting, tentu saja untuk merawat “kecantikannya”. Sesuai dengan nama candi yang memiliki keindahan ornamen dan arsitektur ini, yakni “Sari” berarti cantik atau elok…

Teks: Ferry Ardiyanto – BPCB DIY

Foto: Totok Yhuni L. – Dok. BPCB DIY. 2021

Tinggalkan balasan