Kegiatan Pemetaan Selokan Mataram Tahap I

Kegiatan Pemetaan Selokan Mataram  (Foto: Dok. BPCB DIY 2021)

     Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Daerah istimewa Yogyakarta (BPCB DIY) dalam mengemban tugas pelestarian cagar budaya menjalankan beberapa fungsi, salah satunya yaitu melaksanakan pendokumentasian cagar budaya. Pada tahun ini BPCB DIY berencana melakukan kegiatan pemetaan Selokan Mataram sebanyak tiga tahap. Kegiatan Pemetaan Selokan Mataram Tahap I sudah dilaksanakan pada 18 s.d. 26 Februari 2021,  dengan sasaran Selokan Mataram di Sungai Opak hingga Jalan Lingkar luar (Ring Road) sisi timur.

     Kegiatan ini dilaksanakan dengan maksud mendokumentasikan Selokan Mataram dan situs bersejarah lain yang ada di sekitarnya dalam bentuk peta. Tujuannya untuk mengetahui perubahan yang mungkin terjadi di masa mendatang, terutama yang berkaitan dengan pembangunan yang terjadi di sekitar Selokan Mataram.

     Selokan Mataram adalah sebuah kanal yang menghubungkan antara Sungai Progo di bagian barat dengan Sungai Opak yang ada di bagian timur wilayah Yogyakarta. Kanal ini mulai dibangun pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana VIII. Kanal ini dibuat untuk mengairi lahan perkebunan tebu yang banyak dibuka di wilayah Yogyakarta. Setidaknya tercatat 17 pabrik gula yang dibangun di wilayah sekitar Kasultanan Yogyakarta.

Situasi Selokan Mataram di Dusun Temanggal ,Desa Purwormartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman (Foto: Dok. BPCB DIY 2021)

     Pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1909 membangun kanal atau saluran pengairan yang dikenal dengan selokan Van Der Wijck dan Bendungan Karang Talun. Bangunan untuk pengairan ini mengairi area pertanian, khsususnya perkebunan tebu untuk beberapa wilayah di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul.

     Setelah era Sri Sultan Hamengku Buwana VIII berakhir, berganti dengan era kekuasaan Sri Sultan Hamengku Buwana IX. Keberpihakan dan perhatian Sri Sultan Hamengku Buwana IX pada rakyat kecil sangat terasa. Hal tersebut terlihat jelas saat zaman Penjajahan Jepang. Jepang mengeluarkan kebijakan kerja paksa bagi warga di bekas jajahan Belanda, yang dikenal dengan romusha.

     Tenaga-tenaga romusha dikirim ke berbagai daerah di Nusantara bahkan ke luar negeri. Pekerja-pekerja romusha dipekerjakan di berbagai proyek pembangunan jalan, pertanian dan perkebunan. Hal tersebut juga bertujuan untuk memperkuat kedudukan Jepang di daerah jajahannya agar dapat memenangkan perang.

     Melihat kondisi ini, Sultan berinisiatif untuk menyelamatkan rakyatnya dari romusha. Sultan Hamengku Buwana IX mengusulkan pada Jepang agar romusha yang berasal dari Yogyakarta dapat bekerja di daerah Yogyakarta sendiri. Beliau menyampaikan bahwa Yogyakarta adalah daerah yang kering. Hasil bumi yang dijadikan andalan hanyalah singkong yang diolah menjadi gaplek. Salah satu usulan berharga beliau adalah usulan proyek pembangunan saluran irigasi yang menghubungkan Sungai Progo dan Sungai Opak.

     Melalui pengaruhnya yang kuat, Sri Sultan Hamengku Buwana IX menyampaikan kepada Jepang tentang keadaan wilayah Yogyakarta dengan menyebutkan bahwa kondisi penduduk dan areal pertaniannya sangat memprihatinkan karena masalah pengairan. Diharapkan dengan keberadaan sarana pengairan yang memadai akan diperoleh hasil pertanian yang baik sehingga dapat memberikan kontribusi positif bagi Jepang.

     Diplomasi Sri Sultan Hamengku Buwana IX menemui hasil positif. Jepang menyetujui pembangunan kanal untuk sarana pengairan yang pada zaman kolonial Jepang dikenal dengan nama Kanal Yoshiro, dan kini dikenal dengan nama Selokan Mataram. Hal ini dapat mengurangi penderitaan dan korban jiwa pada para pekerja romusha dan memberi manfaat untuk wilayah Yogyakarta, khususnya di bidang pertanian.

     Selokan Mataram kemudian dibangun tahun 1944, sepanjang 30,8 km dari Ancol hingga Kalasan serta mengairi areal pertanian seluas 15.734 ha, pada waktu itu. Renovasi yang pernah dilakukan, pertama tahun 1950, dan tahun 1980 oleh Departemen Pekerjaan Umum yaitu memperbaiki talud selokan di bagian hulu sepanjang 10 km. Beberapa perbaikan lainnya dilakukan juga pada sekitar tahun 2008-an.

Penggunaan pesawat nirawak (Foto: Dok. BPCB DIY.2021)

     Kegiatan Pemetaan Selokan Mataram Tahap I ini dilakukan oleh tim BPCB DIY yang terdiri dari delapan orang personel dari bidang teknis pemetaan, arkeologi, dan sejarah. Metode yang digunakan ialah metode pengukuran terestrial dibantu dengan interpretasi  foto udara, yakni dengan melaku kan pengukuran menggunakan alat berupa TS (total station), teodolith, GPS (Global Positioning System),  dan pesawat nirawak (drone mapping). Hasil data yang didapat, kemudian diolah dengan software. Data yang dihasilkan berupa peta tematik kawasan cagar budaya Selokan Mataram.

Tinggalkan balasan