Makam Sunan Drajat, Lamongan

0
997

Makam Sunan Drajat terletak di Dusun Drajat, Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Secara Geografis, Sebelah Utara berbatasan dengan Jalan setapak dan rumah penduduk, Sebelah Timur berbatasan dengan Lahan Parkir, sebelah Selatan dan Barat berbatasan dengan Jalan dan Rumah Penduduk. Secara Astronomi, letak Makam Sunan Drajat terletak pada titik koordinat, pada 6°53’04.0” LS dan 112°23’21.5” BT dengan ketinggian + 23 meter di atas permukaan laut dan orientasi bangunan makm menghadap ke Selatan. Terdapat 1 (satu) Juru Pelihara yang ditugaskan oleh BPCB Mojokerto untuk menjaga situs.

Sunan Drajat dikenal pula dengan nama Raden Qosim, merupakan putera dari Sunan Prapen dari perkawinannya dengan Nyai Ageng Manila. Beliau menyebarkan agama Islam di desa Banjaragung, Paciran, Lamongan. Dari Banjaranyar beliau melanjutkan perjalanan ke arah Selatan di sebuah perkampungan bernama Desa Jelak yang masih menganut agama Hindu-Budha. Di desa ini Sunan Drajat mendirikan mushollah untuk berjamaah dan mengajarkan agama Islam kepada santrinya. Peristiwa ini berlangsung pada tahun 1481 M. Seyahun kemudian beliau membuka daerah baru di sebuah bukit yang masih berupa hutan belantara yang dinakaman Desa Drajat. Bermula dari sanalah beliau mendapat gelar Sunan Drajat. Disamping itu beliau mempunyai gelar yang lain yaitu pada tahun 1984 M Raden Patah dari Demak memberikan gelar Sunan Mayang Madu sekaligus pemberian tanah perdikan. Dalam menyiarkan agama Islam, beliau sangat terkenal dengan rasa sosial, kesejahteraan umum guna mengatasi kesengsaraan umat. Beliau sangat memperhatikan nasib para fakir miskin, yatim piatu dan orang-orang terlantar. Beliau memelopori orang-orang kaya dan para bangsawan untuk mengeluarkan infak, shodaqoh, dan zakat sesuai dengan tuntunan ajaran agama islam. Dalam mengajarkan ajarannya beliau menciptakan kata-kata mutiara, yakni; “Menehon manangan marang wong kang keluwen”, “Menehono ngiyup marang wong kang kaudanan”, “Menehono busono marang kang wudo”. Artinya “Berikanlah makan kepada orang yang kelaparan”, “Berikanlah makan kepada orang yang kelaparan”, “Berikanlah keteduhan kepada orang yang kehujanan”, “Berikanlah busana kepada orang yang telanjang”.

Dalam mengajarkan agama Islam Sunan Menggunakan media kesenian. Beliau menciptakan tembang Pangkur, sedangkan alat musik yang digunakan berupa gamelan yang bernama Singo Mengkok yang sekarang dsimpan di Museum Sunan Drajat.(un)