Cerita di Candi Jago (Arjunawiwaha)

0
2359

Relief cerita ini dipahatkan pada kaki III, mulai dari sudut barat daya hingga sudut barat laut (secara prasawya)

Cerita ini diawali ketika Niwatakawaca seorang raksasa mengadakan persiapan untuk menyerang dan menghancurkan surga, kerajaan Dewa Indra. Berhubung raksasa itu tidak dapat dikalahkan baik oelh seorang dewa maupun seorang raksasa, maka Dewa Indra memutuskan untuk meminta bantuan dari seorang manusia. Pilihan jatuh kepada Arjuna yang sedang bertapa di Gunung Indrakila.

Sebelum Arjuna melaksanakan tugasnya, ia terlebih dahulu harus diuji ketabahannya dalam melakukan yoga, sehingga bantuannya sungguh membawa hasil seperti yang diharapkan. Ujian pertama datang dari dewi-dewi kahyangan, diantaranya Tilottama dan Suprabha, yang diperintahkan untuk mengunjungi dan merayu Arjuna yang sedang bertapa. Tetapi usaha ini sia-sia dan para dewi tersebut akhirnya kembali ke surga. Para dewa bersuka cita karena kesaktian Arjuna tetapi satu hal yang masih mereka sangsikan, apakah Arjuna melakukan yoga hanya untuk kepentingan pribadi semata-mata dan mengabaikan keselamatan orang lain. Untuk itu Dewa Indra turun sendiri ke dunia dan mengunjungi pertapaan Arjuna dengan menyamar sebagai orang tua bijak. Arjuna menyambutnya dengan penuh hormat, dan terjadilah dialog penuh nasehat yang menguraikan tentang kekuasaan dan kebahagiaan dalam makna yang sejati. Arjuna memahami dan menegaskan maksud serta tujuannya melakukan tapa brata, yaitu memenuhi kewajibannya selaku seorang ksatria serta membantu Yudhistira kakaknya untuk merebut kembali kerajaannya demi kesejahteraan dunia. Dewa Indra merasa puas dan mengungkapkan siapa dia sebenarnya serta meramalkan bahwa Siwa akan berkenan kepada Arjuna.

Sementara itu raja para raksasa telah mendengar berita apa yag terjadi di Gunung Indrakila. Ia mengutus seorang raksasa bernama mūka untuk membunuh raja. Mūka merubah wujud menjadi seekor babi hutan dan mengacaukan hutan-hutan disekitarnya. Arjuna terkejut dengan kekacauan tersebut dan lkeluar dari gua sambil mengangkat senjatanya. Pada saat yang sama, Dewa Siwa yang telah mendengar bagaimana Arjuna melakukan yoga dengan baik sekali, tiba dengan wujud seorang pemburu dari suku terasing yaitu orang-orang Kirata. Bersamaan, masing-masing melepaskan anak panah dan mengenai babi hutan tersebut hingga tewas. Kedua anak panah ternyata telah bersatu dan terjadilah perdebatan antara Arjuna dan orang Kirata itu, siapa yang telah menewaskan babi hutan tersebut. Perselisihan memuncak dan terjadilah perkelahian di antara keduanya. Arjuna yang hampir kalah memegangi kaki lawannya, tetapi pada saat itu wujud si pemburu lenyap dan berubah menjadi Siwa kembali. Mengetahui hal ini Arjuna langsung menyembahnya dan kemudian Siwa memberi Arjuna sebuah panah sakti bernama Pasupati.

Ketika Arjuna tengah memperbincangkan apakah sebaiknya ia kembali ke sanak saudaranya datanglah dua apsara (makluk setengah dewa setengah manusia), membawa sepucuk surat dari Indra, ia minta agar Arjuna bersedia menghadap, membantu para dewa dalam rencana mereka untuk membunuh Niwatakawaca. Arjuna setuju dan dengan memakai kemeja ajaib dan sepasang sandal yang dibawa oleh kedua apsara, mereka terbang ke surga, tempat kediaman Indra. Dewa Indra menerangkan keadaan yang tidak dapat menguntungkan bagi para dewa akibat niat jahat Niwatakawaca. Raksasa ini hanya dapat dibinasakan oleh seorang manusia, tetapi untuk membinasakannya terlebih dahulu harus mengetahui kelemahannya. Bersama Dewi Suprabha, Arjuna turun ke dunia menuju istana Niwatakawaca. Lewat bidadari Suprabha ini akhirnya Arjuna tahu kelemahan Niwatakawaca, yaitu terletak pada ujung lidahnya.

Setelah Arjuna mengetahui hal itu, ia mulai menghancurkan gapura istana Niwatakawaca. Niwatakawaca terkejut dan marah setelah tahu bahwa ia telah tertipu. Kemudian ia memerintahkan pasukannya agar menyerang para dewa. Terjadilah pertempuran sengit antara pasukan para dewa dan pasukan raksasa, dan Niwatakawaca terjun ke medan pertempuran, menceraiberaikan barisan para dewa yang dengan rasa malu terpaksa mundur. Arjuna yang ikut bertempur berusaha menarik perhatian Niwatakawaca. Ia berpura-pura ikut terhanyut oleh barisan yang lari terbirit-birit tetapi busur telah disiapkan. Ketika raja para raksasa itu mulai mengejarnya sambil berteriak-teriak dengan amarahnya, Arjuna menarik busurnya dan anak panah melesat masuk ke mulut Niwatakawaca serta menembus ujung lidahnya. Niwatakawaca jatuh tersungkur dan mati. Para raksasa melarikan diri atau dibunuh dan kemenangan menjadi mlik dewa. Mereka kembali ke surga dengan suka cita.

Kini Arjuna menerima penghargaan atas bantuannya. Selama tujuh hari di surga (tujuh bulan di bumi) ia akan bersemayam bagaikan seorang raja di atas tahta Dewa Indra. Setelah itu menyusullah upacara pernikahan sampai tujuh kali dengan ketujuh bidadari surga. Ketika tujuh bulan telah lewat Arjuna mohon diri kepada Indra, ia diantar kembali ke bumi oleh Matali dengan sebuah kereta surga. Cerita ini diakhiri dengan ratapan para bidadari yang ditinggalkan di surga. (Lap.Pendokumentasian Relief Candi Jago, 2007)

Menggambarkan raksasa bernama Mukha yang menyamar menjadi seekor babi hutan dan merusak hutan tempat Arjuna bertapa.
Arjuna dan Siwa menyamar menjadi pemburu dari Kirata, saling berhadapan membawa busur, memperdebatkan panah siapa yang telah mengenai tubuh babi hutan.
Arjuna berlutut menyembah orang Kirata yang telah menjelma menjadi Dewa Siwa kembali.
Arjuna dan dua pengundangnya terbang ke istana Indra menggunakan selendang yang dipakai sebagai parasut.
Sebuah rumah beratap limasan dengan dua dewi berdiri di kanan kirinya.

 

Dua wanita berjalan beriringan.
Empat orang tokoh, tiga diantaranya punakawan sedang satunya tidak jelas karena rusak. Di belakang punakawan terdapat Arjuna yang hanya tinggal kakinya saja. Di sisi kanan relief terdapat dua tokoh, satu berwajah raksasa sedang yang lain rusak.
Sepuluh orang menghadap Bhatara Guru dalam posisi berdiri, Bhatara Guru digambarkan duduk bersila dalam sebuah rumah pendopo.
Menggambarkan dua orang tokoh, seorang berdiri bersurban dan tubuhnya dikelilingi pancaran sinar, sebelah kanan seorang resi dalam posisi berdiri, berkepala enam, berjenggot dan berkumis tebal.