Studi kelayakan di Situs Pura Batur Kelembang

0
448

Latar Belakang

Potensi prasejarah yang dimiliki Pulau Bali telah menarik perhatian para peneliti dan pemerhati prasejarah untuk melakukan penelitian. Secara umum sejarah penelitian di pulau ini langsung memasuki tahap penelitian sistematis yang mencakup periode akhir abad XIX sampai dengan masa kemerdekaan dan berlanjut pada tahap  penelitian multi-disipliner. Tahap awal penelitian di daerah Bali dimulai dengan ditemukannya beberapa buah sarkofagus yang sudah tidak lengkap lagi, karena telah dirusak oleh penduduk setempat yang tidak mengetahui makna benda yang dianggapnya aneh. Adapun temuan sarkofagus itu antara lain ditemukan di Tanggahan Peken, Susut (Bangli), Manuaba (Gianyar), Petang (Badung), Beng dan Ked (Gianyar) (Sutaba,2001 :77). Berdasarkan atas    temuan-temuan sarkofagus tersebut, Soejono berhasil menyusun klasifikasi tipologis sarkofagus Bali menjadi tiga  tipe, yaitu sarkofagus yang berukuran kecil, madia dan sarkofagus yang  berukuran besar. Pola hias kedok muka telah dipahatkan pada tonjolan beberapa buah sarkofagus tertentu. Tonjolan-tonjolan yang berupa kedok muka ini berfungsi magis simbolis sebagai lambang yang dipandang mempunyai kekuatan gaib yang mampu melindungi arwah orang yang telah meninggal, yang dikuburkan dalam sarkofagus tersebut.

Selain temuan yang berupa sarkofagus, tinggalan megalitik lain yang ditemukan di Pulau Bali adalah berupa menhir, altar batu, tahta batu, dolmen, batu saji, punden berundak, lesung batu dan onggokan batu.

Maksud Dan Tujuan

Studi kelayakan di Pura Batur Kelembang dimaksudkan dan bertujuan untuk mengumpulkan dan mengolah  data cagar budaya dalam rangka menetapkan kelayakan pemugaran melalui penilaian atas data arkeologis, historis, dan teknis.

Metode

Untuk mencapai hasil sesuai dengan maksud dan tujuan kegiatan, harus memenuhi  kaedah-kaedah metodelogi yang lazim digunakan dalam penelitian. Hal ini dimaksudkan agar pelaksanaan kegiatan lebih berbobot dan memiliki nilai ilmiah. Adapun metode yang digunakan adalah sebagai berikut :

  1. Kepustakaan merupakan salah satu acuan dalam pelaksanaan kegiatan studi teknis dengan menelaah hasil-hasil penelitian terdahulu yang  dipublikasikan. Selain itu studi pustaka merupakan metode untuk mendapatkan sumber-sumber data yang terkait dengan obyek yang akan dilaksanakan studi. 
  2. Observasi adalah teknik pengumpulan data dengan cara mengamati langsung obyek yang akan diteliti untuk mengetahui kondisi benda yang sebenarnya.
  3. Wawancara adalah tehnik pengumpulan data dengan mengadakan tanya jawab secara langsung dengan tokoh masyarakat, aparat desa, atau orang-orang yang mengetahui informasi tentang cagar budaya/situs. Wawancara dilakukan dalam kegiatan ini dengan metode tanpa struktur.

Letak dan Lingkungan

  • Kondisi Geografis

Secara administratif Pura Batur Kelembang Kaja terletak di wilayah Dusun Kelembang, Desa Rejasa, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan Bali. Sedangkan secara astronomis terletak pada koordinat (UTM) 0292119 ; 9065763 dengan ketinggian mencapai 344 meter diatas permukaan laut. Batas-batas wilayah yang telah disepakati membatasi Desa Rejasa adalah Sebelah utara : Desa Tegalinggah, Sebelah selatan : Desa Tegal Tunjung, Sebelah timur : Desa Jegu, dan Sebelah barat : Desa Pesagi.

Desa Rejasa merupakan daerah lereng pegunungan, relatif dekat dengan Gunung Batukaru, sehingga memiliki kontur wilayah yang berbukit. Desa Rejasa memiliki luas wilayah 359,77 Ha, dengan kawasan pertanian yang memiliki luasan paling luas mencapai 211 Ha, dan perkantoran pemerintah adalah wilayah dengan luasan yang paling kecil.

Pura Batur Kelembang Kaja dapat dicapai dengan sangat mudah baik dengan sepeda motor maupun dengan kendaraan beroda empat. Apabila perjalanan dilakukan dari Kota Tabanan, maka jalur arah utara menuju ke wilayah Jatiluwih yang dapat diikuti. Kemudian sampai di pertigaan Desa Buruan ambil jalur ke kiri menuju Desa Penatahan. Di wilayah Penatahan gunakan jalur yang ke selatan (kiri) untuk mencapai Desa Tegalinggah, kemudian ambil jalur ke kanan dan ikuti jalur tersebut sampai di Dusun Kelembang.  Pura Batur Kelembang Kaja terletak di bagian paling utara dari wilayah desa. 

  • Kondisi Geomorfologis

Desa Rejasa berada pada daerah perbukitan dengan kemiringan lereng rata-rata 15%. Pola aliran sungai yang berkembang di wilayah ini, seperti halnya hampir sebagian besar wilayah tengah Pulau Bali adalah subpararel, dengan wilayah sungai yang sangat curam. Tanah di wilayah ini memiliki tekstur halus-sedang dengan warna coklat tua. Batuan dasar di wilayah ini merupakan hasil aktivitas gunung api Batukaru dengan komposisi breksi gunungapi, lava dan tuff yang terbentuk pada kala Holosen. Proses geomorfologi yang terjadi di wilayah ini sebagian besar merupakan proses erosi, trasnportasi dan sedikit pengendapan. Penggunaan lahan yang nampak di wilayah ini adalah sebagai perswahan, tegalan, dan permukiman.

  • Iklim

Desa Rejasa memiliki iklim yang tidak jauh berbeda dengan  desa lainnya di wilayah Tabanan yaitu 2 musim : Musim Kemarau dan Musim Hujan, dengan suhu rata-rata 21˚ sampai dengan 27˚ Celcius. Curah Hujan berkisar 253 mm, dengan jumlah bulan hujan 4 bulan.

  • Orbitasi

Jarak tempuh dari Desa Rejasa ke wilayah lain yang merupakan pusat Kecamatan  mencapai 9 Km dengan waktu tempuh mempergunakan kendaraan bermotor mencapai 15 menit. Sedangkan jarak menuju pusat Kabupaten mencapai 17 Km dengan waktu tempuh 30 meneit, dan jarak dengan ibu Kota Propinsi mencapai 39 Km dengan waktu tempuh mencapai 1,5 jam. Ditunjang dengan prasarana jalan yang cukup baik sehingga masyarakat Desa Rejasa tidak kesulitan untuk beraktifitas.

  • Kondisi Kependudukan

Berdasarkan data Monografi Desa Rejasa Tahun 2013, jumlah penduduk Desa Rejasa mencapai 1.626 jiwa. Dengan melihat luas wilayah yang mencapai 359,77 Ha, maka kepadatan penduduk Desa Rejasa mencapai rata-rata 5 jiwa/Ha. Untuk sumber pendapatan masyarakat Desa Rejasa sebagian besar berasal dari sektor pertanian, sedangkan untuk sektor lainnya adalah : jasa, perdagangan, peternakan dan industri rumah tangga.

Struktur Pura Batur Kelembang

Pura Batur Kalembang

Umumnya halaman atau mandala pura terbagi menjadi tiga bagian, yaitu jaba sisi (nista mandala), jaba tengah (madya mandala) dan jeroan (utama mandala). Pembagian atas tiga halaman ini didasari atas konsep Triloka. Jaba sisi (nista mandala) dilukiskan sebagai Bhurloka yang dihubungkan dengan alamnya bhuta dan kala. Jaba tengah (madya mandala) dihubungkan dengan Bwahloka yang berkaitan dengan alam manusia dan jeroan (utama mandala) dihubungkan Swahloka yang berkaitan dengan alam para dewa beserta roh suci para leluhur (Rata, 1985:15). Intisari dari konsep ini adalah adanya perbedaan kesucian dari masing-masing halaman  pura tersebut. Jeroan (utama mandala) lebih suci dari jaba tengah (madya mandala) dan jaba tengah (madya mandala) ini memiliki tingkat kesucian yang lebih tinggi dari jaba sisi (nista mandala). Berdasarkan anggapan tersebut maka pada umumnya jeroan (utama mandala) memiliki posisi yang lebih tinggi dari jaba tangah (madya mandala) dan jaba sisi (nista mandala). Untuk meniggikan jeroan (utama mandala) dari halaman  yang lainnya dipergunakan undakan. Pembagian halaman  pura ini mengingatkan kita akan bangunan teras berundak yang merupakan bangunan pemujaan pada masa prasejarah. Ditambah lagi dengan adanya orientasi ke arah gunung semakin menegaskan akan hal ini. Sehingga secara umum konsepsi punden berundak adalah merupakan konsepsi dasar arsitektural dari bangunan pura-pura yang ada di Bali (Rata, 1979 :16).

Pembagian halaman pura yang memanjang ke belakang, dengan halaman yang posisinya terletak paling belakang merupakan halaman  paling suci mengingatkan pada pembagian stuktur  halaman Candi Penataran yang ada di Jawa Timur. Halaman Candi Penataran juga terbagi menjadi tiga halaman, yang memanjang dari barat laut ke tenggara dan halaman terakhir dimana terletak candi induk  merupakan bangunan yang paling suci. Dalam Lontar Kusumadewa disebutkan bahwa sistem pendirian pura-pura  adalah serupa dengan sistem pendirian bangunan candi-candi di Majapahit. Bahkan di daerah Trowulan didapatkan relief yang serupa dengan bentuk  pura-pura maupun bentuk bangunan meru.

Pembagian halamanpura selain terdiri dari tiga halaman, juga ada pura yang memiliki dua halaman. Goris dalam tulisannya yang berjudul Bali Atlas Kebudayaan menyebutkan bahwa pembagian halaman pura yang terdiri dari dua bagian ini mempunyai hubungan atau kaitan dengan dua hal yang berbeda (rwa bhineda), seperti dunia atas berlawanan dengan dunia bawah, gunung berlawan dengan laut dan yang lainnya (Goris, t.t. : 36). Pendapat mengenai pembagian halaman pura yang menyerupai dengan pendapat Goris juga diungkapkan oleh Tim Peneliti Arsitektur Bali yang menyebutkan pembagian halaman pura yang terdiri dari dua bagian merupakan lambang dari alam bawah (pertiwi) dan alam atas (akasa). Pembagian halaman  pura yang terdiri dari dua halaman maupun satu halaman  dapat pula karena pengaruh lingkungan geografis. Dalam hal ini diperkirakan karena luas areal tanah pura tidak memungkinkan untuk dibangunnya pura dengan tiga halaman, atau mungkin karena potensi penduduk yang menyungsung sedikit sehingga tidak memungkinkan untuk mengelola pura yang terlalu besar. Dengan demikian apabila halaman pura hanya terdiri dari dua atau satu halaman maka bangunan di halaman pertama dan kedua biasanya digabungkan menjadi satu (Mantra, 1961 : 3).   Pura yang memiliki tiga halaman  biasanya antara jaba sisi (nista mandala) dan jaba tengah  (madya mandala) dihubungkan dengan candi bentar, sedangkan antara  jaba tengah (madya mandala) dengan jeroan (utama mandala)dihubungkan dengan sebuah bangunan kori agung. Demikianlah sedikit gambaran secara umum tentang pembagian struktur pura secara umum.

Jeroan (Utama Mandala) Pura Batur Kalembang

Berpijak dari uraiaan tentang struktur pura seperti disebutkan di atas, maka berikut ini  akan diuraikan sedikit tentang struktur Pura Batur Kelembang.  Secara struktur Pura  Batur Kelembang terbagi menjadi dua  halaman  yaitu  jaba tengah (madya mandala) dan jeroan (utama mandala). Dilihat dari bentuknya,  denah struktur Pura Batur Kelembang  ini berbentuk persegi empat panjang, dengan orientasi arah barat-timur. Untuk mencapai areal jaba tengah   (madya mandala) Pura Batur Kelembang ini kita dapat melewati sebuah candi bentar. Pada areal  jaba tengah   (madya mandala) Pura Batur Kelembang ini, terdapat beberapa buah bagunan yang antara lain : pewaregan,  balai gong dan  sebuah bangunan bale kulkul. Dari areal jaba tengah   (madya mandala) ini untuk dapat mencapai areal jeroan (utama mandala) kita dapat melalui sebuah candi bentar.Pada areal jeroan (utama mandala) ini terdapat banyak pelinggih (tahta batu)  yang antara lain adalah :

  • Pelinggih Ulun Suwi
  • Pelinggih Bhatara Dalem
  • Pelinggih Batur
  • Pelinggih Pesimpangan Bhatara Batukaru
  • Pelinggih Pesimpangan Bhatara Tamba Waras
  • Pelinggih Pesimpangan Bhatar Puseh
  • Pelinggih Pesimpangan Bhatar Panca Sakti
  • Pelinggih Jero Wayan dan Jero Nyoman
  • Balai Pemayasan
  • Balai Pesamuan
  • Balai Pawedan

Keseluruhan dari areal Pura Batur Kelembang  ini dikelilingi oleh tembok keliling (penyengker) yang terbuat dari bata dan juga masing-masing halaman, antara    jabatengah (madya mandala)danjeroan (utama mandala) dibatasi dengan tembok pembatas yang juga terbuat dari struktur bata.

Data Sejarah

Kapan berdiri dan siapa yang membangun Pura Batur Kelembang  hingga kini belum diperoleh data secara pasti. Pasalnya, sampai saat ini sumber-sumber tertulis yang mengungkap keberadaan pura yang terletak di Banjar Kelembang, Desa Rejasa, Kecamatan Penebel, Tabanan ini sangat minim.

Berdasarkan keterangan dari penglingsir yang merupakan keturunan langsung dari Kubayan yang telah menjadi penyungsung utama pura diperoleh keterangan berupa cerita atau bisa kita sebut sebagai oral story, bahwa Pura Batur Kelembang ini masih sejaman dengan Pura Batukaru. Menurut kronologinya keberadaan Pura Batukaru sendiri berdiri pada abad ke-11 sejaman dengan berdirinya Pura Besakih, Pura Lempuyang, Pura Goa Lawah, Pura Luhur Uluwatu dan Pura Pusering Jagat. Keseluruhan pura-pura tersebut merupakan bagian dari Sad Kahyangan di Bali yang pendiriannya diprakarsai oleh Mpu Kuturan.

Berkenaan dengan hal tesebut di atas  untuk memperkirakan kapan didirikannya pura ini harus juga berdasarkan sumber-sumber atau bukti tak tertulis, karena sumber data yang berupa cerita tidak dapat kita pertanggungjawabkan secara ilmiah. Beberapa sumber tak tertulis seperti peninggalan purbakala yang diperkirakan berasal dari masa tradisi megalitik yang  terdapat di dalam Pura Batur Kelembang kiranya dapat dijadikan acuan untuk memperkirakan waktu pendirian pura ini. Adapun cagar budaya yang terdapat di Pura Batur Kalembang ini adalah berupa tahta batu yang berjumlah delapan buah, dengan posisi tiga buah berjejer di sisi timur dan lima buah di sisi utara jeroan pura. Saat ini keseluruhan tahta batu ini difungsikan sebagai pelinggih untuk kepentingan ritual pemujaan/keagamaan oleh masyarakat yang menyungsung Pura Batur Kelembang.

Kilas balik kebelakang, dari hasil penelitian terdahulu yang telah pernah dilakukan oleh para ahli di Bali menunjukkan hasil bahwa persebaran tahta batu tidak ditemukan di seluruh wilayah Bali. Tahta batu ini hanya ditemukan di wilayah Kabupaten Karangasem, Klungkung, Gianyar, Badung dan Tabanan saja. Wilayah-wilayah lainnya di Bali sampai saat ini belum ada keterangan tentang penemuan tahta batu, kemungkinan hal ini penelitian yang dilakukan sampai saat ini belum menyentuh seluruh wilayah Bali dan juga karena belum adanya masyarakat yang memberitakan atau melaporkan tentang keberadaan tahta batu di wilayahnya. Berdasarkan data yang telah berhasil dikumpulkan selama ini, persebaran tahta batu di Pulau Bali pada umumnya terdapat di pura-pura umum (milik desa), pura milik golongan tertentu, tegalan-tegalan maupun di areal persawahan. Keberadaan tahta batu ditempat-tempat yang telah disebutkan di atas kemungkinan dipengaruhi oleh pandangan hidup masyrakat Bali pada masa itu bahwa arah kaja (utara/gunung) dan kangin (timur) ataupun kaja-kangin (timur laut) adalah arah yang bersifat uranis (sakral/suci), berlawanan dengan arah kelod (selatan) dan kauh (barat) bersifat khotonis atau tidak suci.

Adalah suatu kenyataan yang menarik bahwa persebaran tahta batu di wilayah Bali tidak hanya dijumpai di desa-desa pegunungan saja seperti di Desa Tenganan Pegeringsingan, Basangalas, Kelembang, Pegubugan dan Bengkel Anyar, tetapi juga dijumpai juga di daerah Bali dataran seperti di Desa Ubud, Gianayar dan di desa-desa pesisir pantai seperti di Desa Gelgel, Tojan, Kamasan, Sampalan, Klungkung, Lebih dan Sanur. Persebaran tahta batu dengan kepadatan temuan yang jumlahnya tida sama, dan mempunyai bentuk yang beragam juga merupakan suatu hal yang perlu mendapatkan perhatian. Seperti yang tampak pada penemuan tahta batu di Desa Kelembang yang mempunyai kepadatan yang tinggi dibandingkan dengan desa-desa dataran. Dengan demikian Desa Kelembang dapat dianggap merupakan daerah konsentrasi tahta batu yang penting.

Kenyataan bahwa kepadatan persebaran tahta batu di wilayah Bali menimbulkan berbagai spekulasi tentang kemungkinan yang telah terjadi di masa lampau. Adapun kemungkinan itu, ialah situs tahta batu seperti di Desa Kelembang yang mempunyai kepadatan tinggi, mungkin mencerminkan kepadatan penduduk yang dahulu bermukim di wilayah itu. Sebaliknya situs tahta batu yang kepadatan temuannya rendah, mungkin sekali penduduknya tidak banyak. Di samping itu juga timbul dugaan bahwa persebaran tahta batu seperti tersebut di atas memberikan suatu gambaran tentang persebaran penduduk atau suatu mobilitas manusia yang telah terjadi dengan menyebarkan konsepsi-konsepsi megalitik. Gambaran seperti itu juga dapat diperoleh berdasarkan padatnya jumlah bentuk-bentuk megalitik lain seperti sarkofagus, menhir dan yang lainnya.

Dalam perkembangan kebudayaan Bali tradisi megalitik menduduki tempat yang penting, karena telah membentuk landasan kehidupan social budaya yang kokoh bagi perkembangan selanjutnya, terutama menjelang datangnya pengaruh Agama Hindu-Buddha. Hal ini terbukti dari banyaknya  bentuk-bentuk megalitik yang hingga dewasa ini masih berfungsi sacral, dan memegang peranan yang penting dalam hidup keagamaan masyarakat Bali. Salah satu peninggalan megalitik yang masih dilestarikan dan masih difungsikan sebagai sarana pemujaan adalah yang terdapat di Pura Batur Kelembang. Hal ini sesuai dengan pendapat seorang ahli, yaitu van der Hoop yang mengatakan bahwa bentuk pura yang ada di Bali bukan merupakan tiruan dari bentuk kuil yang ada di India, melainkan perkembangan dari bentuk-bentuk pemujaan dari masa megalitik. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa keberadaan dari Pura Batur Kelembang ini merupakan kelanjutan dari tradisi megalitik yang berkembang di wilayah Penebel (Tabanan), yang hingga saat ini masih mendapatkan dukungan dari masyrakat yang ada di wilayah tersebut. Sehingga pura ini sampai saat ini masi difungsikan sebagai tempat pemujaan.

Akhirnya sebagai suatu gambaran umum tentang tradisi megalitik di Bali dan juga tradisi megalitik yang terdapat di Pura Batur Kelembang dapat dikemukakan bahwa tradisi megalitik masih bertahan sampai saat ini dengan fungsinya yang sacral, dan menjamin memainkan peranan untuk menjamin kesejahteraan masyarakat. Berbagai unsur local berbeperan aktif dalam menghasilkan bentuk-bentuk megalitik yang khas Bali berdasarkan cita-cita keagamaan yang berpegang kepada sistem religi yang dianut umum pada waktu itu. Dilain pihak tradisi megalitik yang berlanjut dapat dianggap sebagai bukti terjadinya kesinambungan kehidupan sosial budaya masyarakat Bali sejak jaman prasejarah. Sepanjang riwayatnya memang telah terjadi perubahan atau penyesuaian, baik dalam bentuk dan fungsi, maupun dalam peranan dan konsepsi alam pikiran yang melatarbelakanginya (Sutaba, 2001: 109).

Data Arkeologi

Data arkeologi adalah data tentang nilai penting bangunan cagar budaya terhadap sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan serta kebudayaan dan memiliki  tingkat keaslian yang meliputi bahan, bentuk, tata letak dan tehnik pengerjaan, untuk menetapkan layak dan tidaknya bangunan dipugar berdasarkan data yang ada.

Data arkeologi yang terdapat di Pura Batur Kelembang Desa Rejasa, Penebel, Tabanan adalah berupa delapan buah tahta batu yang terdapat di jeroan pura. Tahta-tahta batu ini merupakan peninggalan dari masa megalitik yang  berfungsi sebagai sarana pemujaan. Tahta batu ini terletak di sisi sebelah utara (5 buah) dan di sisi sebelah timur (3 buah) jeroan Pura batur Kelembang dengan kondsi yang masih utuh dan terawat.

Lebih jelasnya mengenai data arkeologi yang terdapat di Pura Batur Kelembang akan diuraikan sebagai berikut :

  • Tahta Batu di Sisi Timur

Pelinggih Ulun Suwi

Pelinggih Ulun Suwi

Tahta batu yang dibuat dari batu kali dan papan-papan batu besar, terdiri atas dua tingkat, semakin ke atas semakin mengecil. Sebuah batu kali dengan sebuah penyangga menjadi sandaran, sebuah kali yang berukuran besar dengan permukaan yang rata menjadi tempat duduk, yang dilengkapi dengan masing-masing sebuah batu kali sebagai sandaran tangan kanan dan kiri, sehingga menjadi sebuah ruang. Tingkat pertama diberi alas dari dua buah batu kali yang permukaannya rata, dimana yang satu lebih besar daripada yang lainnya. Tahta batu ini berukuran panjang 180 cm, lebar  140 cm dan tinggi 134 cm. Disamping (kiri) Pelinggih Ulun Suwi  ini terdapat sebuah menhir.

Pelinggih Bhatara Dalem

Palinggih Bhatara Dalem

Tahta batu yang merupakan pelinggih Bhatara Dalem terdiri dari dua tingkatan, dibuat dari batu kali dan papan-papan batu besar yang rata. Sandarannya adalah sebuah batu kali dengan dua buah batu penyangga, alas tempat duduknya dari sebuah papan batu besar yang rata serta sandaran tangan kanan dan kiri masing-masing dibuat dari sebuah batu kali, sehingga membentuk sebuah ruang. Tingkat pertama diberi alas dari sebuah papan batu besar yang rata, dan dikedua sisi sampingnya (sebelah kanan dan kiri) masing-masing terdapat sebuah menhir. Tahta batu ini berukuran panjang 150 cm, lebar 97 cm dan tinggi 97 cm.

Pelinggih Batur

Pelinggih Batur

Tahta batu ini terdiri dari dua tingkatan, dibuat dari batu kali dan papan-papan batu besar. Sandaranya dibuat dari sebuah papan batu besar, dengan alas duduk terbuat dari papan batu besar yang rata dan masing-masing sebuah batu sebagai sandarac tangan kanan dan kiri, sehingga menjadi sebuah ruang. Tingkat pertama diberi alas dua buah papan batu yang tidak sama besarnya. Tahta batu ini berukuran 170 cm, lebar 99 cm dan tinggi 142 cm. Tahta batu ini tidak diapit oleh menhir, tetapi telah diganti dengan dua buah arca pendeta buatan baru.

  • Tahta Batu di Sisi Utara

Pelinggih Pesimpangan Bhatara Batukaru

Pelinggih Pesimpangan Bhatara Batukaru

Tahta batu Pelinggih Pesimpangan Batukaru ini dibuat dari batu kali dan papan  batu bertingkat dua. Sandarannya dibuat dari sebuah papan batu besar yang permukaanya rata, alas tempat duduknya terbuat dari sebuah papan batu besar yang rata, dan sandaran tangan kanan-kiri masing-masing dibuat dari sebuah batu. Tahta batu ini bentuknya semakin ke atas semakin mengecil dan mempunyai sebuah ruang. Tingkat pertama diberi alas sebuah papan batu besar yang rata. Di sebelah kanan tahta batu ini terdapat sebuah arca pendeta buatan baru. Ukuran tahta batu ini adalah panjang 122 cm, lebar 89 cm dan tinggi 132 cm.

Pelinggih Pesimpangan Bhatara Tamba Waras

Pelinggih Pesimpangan Bhatara Tamba Waras

Tahta batu Pesimpangan Bhatara Tamba Waras dibangun dari batu kali dan papan-papan batu besar yang terbagi menjadi dua tingkatan, yang semakin ke atas semakin mengecil. Sebuah papan batu menjadi alas tempat duduk dan sebuah batu besar masing-masing menjadi sandaran tangan kanan dan kiri sehingga menjadi sebuah ruang. Tingkatan pertama tahta batu ini juga mempunyai alas dari sebuah papan batu besar yang rata dan di depannya terdapat dua buah menhir. Tahta batu ini memiliki ukuran panjang 126 cm, lebar 120 cm dan tinggi 136 cm.

Pelinggih Pesimpangan Bhatara Puseh

Pelinggih Pesimpangan Bhatara Puseh

Pelinggih ini terbuat dari batu kali dan papan-papan batu besar yang terdiri dari dua tingkatan, dimana semakin ke atas ukurannya semakin mengecil. Sebuah papan batu menjadi alas tempat duduk, dan sebuah batu masing-masing menjadi sandaran sandaran tangan kanan dan kiri, sehingga menjadi sebuah ruang. Tingkatan pertama dari tahta batu ini mempunyai alas sebuah papan batu yang besar dan rata serta di depannya terdapat dua buah menhir. Tahta batu ini berukuran panjang 135 cm, lebar 80 cm dan tinggi 122 cm.

Pelinggih Pesimpangan Panca Sakti

Pelinggih Pesimpangan Panca Sakti

Tahta batu ini terbuat dari batu kali serta papan-papan batu besar dan bentuknya terbagi menjadi dua tingkatan. Sebuah batu kali menjadi sandaran yang disangga dengan batu-batu kecil, sebuah papan batu besar rata menjadi alas tempat duduk, dan masing-masing sebuah batu menjadi sandaran tangan kanan dan kiri sehingga membentuk sebuah ruang. Tingkat pertama tahta batu ini berbeda dengan tahta batu lainnya, ialah diberi alas sebuah papan batu besar yang permukaannya rata serta mempunyai sandaran tangan kanan dan kiri yang masing-masing dibuat dengan sebuah batu kali. Tahta batu ini mempunyai ukuran panjang 110 cm, lebar 80 cm dan tinggi 100 cm. Terdapat dua buah menhir di depan samping kanan dan kiri tahta batu Pelinggih Pesimpangan Panca Sakti ini.

Pelinggi Jero Wayan dan Jero Nyoman

Pelinggih Jero Wayan dan Jero Nyoman

Pelinggih ini dibuat dari batu kali dan papan-papan batu dan terbagi  menjadi tingkatan, yang masing-masing mempunyai dua buah ruang. Sebuah papan batu dijadikan sandaran tempat duduk, masing-masing sebuah papan batu sebagai alas tempat duduk untuk setiap ruang, sebuah batu sebagai pembagi ruang, serta masing-masing sebuah batu sebagai sandaran tangan kanan dan kiri. Tingkatan pertama mempunyai alas tempat duduk dari sebuah papan batu untuk masing-masing ruang dengan sandaran tangan kanan dan kiri masing-masing dibuat dengan sebuah batu serta dengan sebuah dengan sebuah batu pemisah ruang. Tahta batu ini berukuran panjang 125 cm, lebar 120 cm dan tinggi 105 cm dan didepannya terdapat dua buah menhir masing-masing di sisi depan kanan dan kirinya.

Data Teknis

Data teknis adalah data tentang kondisi teknis dan tingkat kerusakan bangunan serta lingkungannya, untuk menetapkan layak dan tidaknya bangunan dipugar atas dasar pertimbangan teknis. Berkenaan dengan definisi tentang data teknis tersebut, berikut ini akan diuraikan mengenai data teknis cagar budaya yang menjadi sasaran dalam kegiatan studi kelayakan ini :

  • Tahta Batu di Sisi Timur

Pelinggih Ulun Suwi

Tahta batu yang dibuat dari batu kali dan papan-papan batu besar, terdiri atas dua tingkat, semakin ke atas semakin mengecil. Sebuah batu kali dengan sebuah penyangga menjadi sandaran, sebuah kali yang berukuran besar dengan permukaan yang rata menjadi tempat duduk, yang dilengkapi dengan masing-masing sebuah batu kali sebagai sandaran tangan kanan dan kiri, sehingga menjadi sebuah ruang. Tingkat pertama diberi alas dari dua buah batu kali yang permukaannya rata, dimana yang satu lebih besar daripada yang lainnya. Tahta batu ini berukuran panjang 180 cm, lebar 140 cm dan tinggi 134 cm. Disamping (kiri) Pelinggih Ulun Suwi  ini terdapat sebuah menhir. Secara umum kondisi tahta batu ini sudah mengalami beberapa gejala kerusakan dan pelapukan, walaupun dengan prosentase yang tidak terlalu banyak. Adapun gejala kerusakan dan pelaupkan yang nampak adalah berupa adanya beberapa komponennya yang melesak, penggaraman dan tumbuhnya jasad-jasad organik yang berupa moss, lichen dan algae pada permukaan batu penyusun tahta batu ini.

Pelinggih Bhatara Dalem

Tahta batu yang merupakan pelinggih Bhatara Dalem terdiri dari dua tingkatan, dibuat dari batu kali dan papan-papan batu besar yang rata. Sandarannya adalah sebuah batu kali dengan dua buah batu penyangga, alas tempat duduknya dari sebuah papan batu besar yang rata serta sandaran tangan kanan dan kiri masing-masing dibuat dari sebuah batu kali, sehingga membentuk sebuah ruang. Tingkat pertama diberi alas dari sebuah papan batu besar yang rata, dan dikedua sisi sampingnya (sebelah kanan dan kiri) masing-masing terdapat sebuah menhir. Tahta batu ini berukuran panjang 150 cm, lebar 97 cm dan tinggi 97 cm. Secara umum kondisi tahta batu ini sudah mengalami beberapa gejala kerusakan dan pelapukan, walaupun dengan prosentase yang tidak terlalu banyak. Adapun gejala kerusakan dan pelaupkan yang nampak adalah berupa adanya beberapa komponennya yang melesak, penggaraman dan tumbuhnya jasad-jasad organik yang berupa moss, lichen dan algae pada permukaan batu penyusun tahta batu ini.

Pelinggih Batur

Tahta batu ini terdiri dari dua tingkatan, dibuat dari batu kali dan papan-papan batu besar. Sandaranya dibuat dari sebuah papan batu besar, dengan alas duduk terbuat dari papan batu besar yang rata dan masing-masing sebuah batu sebagai sandarac tangan kanan dan kiri, sehingga menjadi sebuah ruang. Tingkat pertama diberi alas dua buah papan batu yang tidak sama besarnya. Tahta batu ini berukuran 170 cm, lebar 99 cm dan tinggi 142 cm. Tahta batu ini tidak diapit oleh menhir, tetapi telah diganti dengan dua buah arca pendeta buatan baru.

Secara umum kondisi tahta batu ini sudah mengalami beberapa gejala kerusakan dan pelapukan, walaupun dengan prosentase yang tidak terlalu banyak. Adapun gejala kerusakan dan pelaupkan yang nampak adalah berupa adanya beberapa komponennya yang melesak, penggaraman dan tumbuhnya jasad-jasad organik yang berupa moss, lichen dan algae pada permukaan batu penyusun tahta batu ini.

  • Tahta Batu di Sisi Utara

Pelinggih Pesimpangan Bhatara Batukaru

Tahta batu Pelinggih Pesimpangan Batukaru ini dibuat dari batu kali dan papan  batu bertingkat dua. Sandarannya dibuat dari sebuah papan batu besar yang permukaanya rata, alas tempat duduknya terbuat dari sebuah papan batu besar yang rata, dan sandaran tangan kanan-kiri masing-masing dibuat dari sebuah batu. Tahta batu ini bentuknya semakin ke atas semakin mengecil dan mempunyai sebuah ruang. Tingkat pertama diberi alas sebuah papan batu besar yang rata. Di sebelah kanan tahta batu ini terdapat sebuah arca pendeta buatan baru. Ukuran tahta batu ini adalah panjang 122 cm, lebar 89 cm dan tinggi 132 cm. Secara umum kondisi tahta batu ini sudah mengalami beberapa gejala kerusakan dan pelapukan, walaupun dengan prosentase yang tidak terlalu banyak. Adapun gejala kerusakan dan pelaupkan yang nampak adalah berupa adanya beberapa komponennya yang melesak, penggaraman dan tumbuhnya jasad-jasad organik yang berupa moss, lichen dan algae pada permukaan batu penyusun tahta batu ini.

Pelinggih Pesimpangan Bhatara Tamba Waras

Tahta batu Pesimpangan Bhatara Tamba Waras dibangun dari batu kali dan papan-papan batu besar yang terbagi menjadi dua tingkatan, yang semakin ke atas semakin mengecil. Sebuah papan batu menjadi alas tempat duduk dan sebuah batu besar masing-masing menjadi sandaran tangan kanan dan kiri sehingga menjadi sebuah ruang. Tingkatan pertama tahta batu ini juga mempunyai alas dari sebuah papan batu besar yang rata dan di depannya terdapat dua buah menhir. Tahta batu ini memiliki ukuran panjang 126 cm, lebar 120 cm dan tinggi 136 cm. Secara umum kondisi tahta batu ini sudah mengalami beberapa gejala kerusakan dan pelapukan, walaupun dengan prosentase yang tidak terlalu banyak. Adapun gejala kerusakan dan pelaupkan yang nampak adalah berupa adanya beberapa komponennya yang melesak, penggaraman dan tumbuhnya jasad-jasad organik yang berupa moss, lichen dan algae pada permukaan batu penyusun tahta batu ini.

Pelinggih Pesimpangan Bhatara Puseh

Pelinggih ini terbuat dari batu kali dan papan-papan batu besar yang terdiri dari dua tingkatan, dimana semakin ke atas ukurannya semakin mengecil. Sebuah papan batu menjadi alas tempat duduk, dan sebuah batu masing-masing menjadi sandaran sandaran tangan kanan dan kiri, sehingga menjadi sebuah ruang. Tingkatan pertama dari tahta batu ini mempunyai alas sebuah papan batu yang besar dan rata serta di depannya terdapat dua buah menhir. Tahta batu ini berukuran panjang 135 cm, lebar 80 cm dan tinggi 122 cm.

Secara umum kondisi tahta batu ini sudah mengalami beberapa gejala kerusakan dan pelapukan, walaupun dengan prosentase yang tidak terlalu banyak. Adapun gejala kerusakan dan pelaupkan yang nampak adalah berupa adanya beberapa komponennya yang melesak, penggaraman dan tumbuhnya jasad-jasad organik yang berupa moss, lichen dan algae pada permukaan batu penyusun tahta batu ini.

Pelinggih Pesimpangan Panca Sakti

Tahta batu ini terbuat dari batu kali serta papan-papan batu besar dan bentuknya terbagi menjadi dua tingkatan. Sebuah batu kali menjadi sandaran yang disangga dengan batu-batu kecil, sebuah papan batu besar rata menjadi alas tempat duduk, dan masing-masing sebuah batu menjadi sandaran tangan kanan dan kiri sehingga membentuk sebuah ruang. Tingkat pertama tahta batu ini berbeda dengan tahta batu lainnya, ialah diberi alas sebuah papan batu besar yang permukaannya rata serta mempunyai sandaran tangan kanan dan kiri yang masing-masing dibuat dengan sebuah batu kali. Tahta batu ini mempunyai ukuran panjang 110 cm, lebar 80 cm dan tinggi 100 cm. Terdapat dua buah menhir di depan samping kanan dan kiri tahta batu Pelinggih Pesimpangan Panca Sakti ini. Secara umum kondisi tahta batu ini sudah mengalami beberapa gejala kerusakan dan pelapukan, walaupun dengan prosentase yang tidak terlalu banyak. Adapun gejala kerusakan dan pelaupkan yang nampak adalah berupa adanya beberapa komponennya yang melesak, penggaraman dan tumbuhnya jasad-jasad organik yang berupa moss, lichen dan algae pada permukaan batu penyusun tahta batu ini.

Pelinggi Jero Wayan dan Jero Nyoman

Pelinggih ini dibuat dari batu kali dan papan-papan batu dan terbagi  menjadi tingkatan, yang masing-masing mempunyai dua buah ruang. Sebuah papan batu dijadikan sandaran tempat duduk, masing-masing sebuah papan batu sebagai alas tempat duduk untuk setiap ruang, sebuah batu sebagai pembagi ruang, serta masing-masing sebuah batu sebagai sandaran tangan kanan dan kiri. Tingkatan pertama mempunyai alas tempat duduk dari sebuah papan batu untuk masing-masing ruang dengan sandaran tangan kanan dan kiri masing-masing dibuat dengan sebuah batu serta dengan sebuah dengan sebuah batu pemisah ruang. Tahta batu ini berukuran panjang 125 cm, lebar 120 cm dan tinggi 105 cm dan didepannya terdapat dua buah menhir masing-masing di sisi depan kanan dan kirinya. Secara umum kondisi tahta batu ini sudah mengalami beberapa gejala kerusakan dan pelapukan, walaupun dengan prosentase yang tidak terlalu banyak. Adapun gejala kerusakan dan pelaupkan yang nampak adalah berupa adanya beberapa komponennya yang melesak, penggaraman dan tumbuhnya jasad-jasad organik yang berupa moss, lichen dan algae pada permukaan batu penyusun tahta batu ini.

Data Keterawatan

Tahta-tahta batu yang terdapat di Pura Batur Kelembang Desa Rejasa, Penebel, Tabanan secara umum belum pernah mendapat upaya pelestarian, baik itu usaha pelestarian secara tradisional maupun modern. Dilihat dari bahannya keseluruhan struktur tahta-tahta batu ini terbuat dari bahan batu kali, dibentuk dengan susun tumpuk antar komponen-komponennya dan dengan isian berupa tanah.

Hasil pengamatan di lapangan, dapat diketahui bahwa tahta-tahta batu ini telah mengalami gejala kerusakan dan pelapukan disebabkan oleh faktor internal dan external, antara lain disebabkan oleh getaran gempa, debu, vegetasi yang ada di sekitar tahta batu.

  • Kondisi Fisik dan Data Kerusakan
  • Kondisi Fisik:
  • Kerusakan Struktural

Suatu kondisi yang tidak utuh , tidak sempurna yang terjadi pada unsur-unsur struktural suatu bangunan cagar budaya. Unsur-unsur yang berkaitan dengan aspek struktural suatu bangunan seperti : stabilitas tanah dasar/pondasi, sistem sambungan yang digunakan, jenis atap yang digunakan, kuat tekan, kuat geser dan lain-lain. Pengertian kerusakan struktural bangunan cagar budaya ini berlaku untuk semua jenis bangunan, baik bangunan cagar budaya yang berbahan batu, kayu maupun bata.  Data-data kerusakan struktural sangat berguna untuk menentukan metode dan penyelesaian yang berkaitan dengan perbaikan terhadap kerusakan yang terjadi dengan memperhatikan faktor penyebab dan proses terjadinya kerusakan tersebut. Berdasarkan pengertian kerusakan struktural dan juga berdasarkan pengamatan di lapangan, dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan tahta batu di Pura Batur Kelembang telah mengalami gejala kerusakan secara struktural, dimana kondisi real dari kerusakan struktural ini adalah berupa adanya penurunan (amblas) pada beberapa bagian dari tahta-tahta batu tersebut.

  • Kerusakan Arsitektural

Suatu kondisi yang tidak utuh, tidak sempurna yang terjadi pada  unsur-unsur arsitektural suatu bangunan cagar budaya. Unsur-unsur yang berkaitan dengan aspek arsitektural suatu bangunan adalah meliputi  unsur-unsur dekoratif, relief, umpak dan lain-lain. Data-data kerusakan arsitektural ditinjau dari kelengkapan unsur atau komponen bangunan yang masih asli, yang telah diganti/diubah, dan bagian dari bangunan yang hilang berdasarkan pendekatan keaslian bentuk arsitekturnya. Data identifikasi kerusakan arsitektural digunakan untuk menentukan langkah-langkah pemulihan aspek arsitektur suatu bangunan berdasar pada prinsip-prinsip dan kaidah pemugaran. Secara umum gejala kerusakan arsitektural yang terjadi pada tahta batu di Pura Batur Kelembang adalah berupa adanya komponen-komponen yang lepas.

  • Data Kerusakan

Berdasarkan sifat-sifatnya, faktor yang memicu proses degradasi bahan pada benda cagar budaya dapat dibedakan menjadi dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi faktor perencanaan  (teknologi pembuatan) dan faktor menurunnya rasio kwalitas bahan. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor lingkungan seperti iklim, air, biologis (mikroorganisme), bencana alam dan vandalisme (manusia).

Dari segi bentuknya, bentuk degradasi yang terjadi pada bangunan cagar budaya dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu kerusakan dan pelapukan. Kerusakan dan pelapukan mempunyai pengertian yang hampir sama, tetapi secara teknis istilah tersebut dapat dibedakan. Dimana yang dimaksud dengan kerusakan adalah perubahan yang terjadi pada bangunan cagar budaya yang tidak disertai dengan perubahan sifat-sifat fisik dan kimiawi, sedangkan pelapukan adalah perubahan yang terjadi pada bangunan cagar budaya yang disertai dengan adanya perubahan sifat-sifat fisik dan kimiawinya. Pengamatan/observasi yang dilakukan terhadap tahta-tahta batu yang terdapat di Pura Batur Kelembang,  maka teridentifikasi proses kerusakan dan pelapukan yang terjadi pada tahta-tahta batu Pura Batur Kelembang adalah sebagai berikut :

  • Kerusakan Mekanis

Merupakan kerusakan yang dapat dilihat secara visual berupa retak, pecah, melesak, amblas pada dasar dan patah. Kerusakan ini juga terkait dengan kondisi lingkungan bangunan cagar budaya terutama fluktuasi suhu udara, disamping tidak terlepas  dari gaya statis maupun gaya dinamis yang diterima oleh sebuah bangunan. Yang dimaksud dengan gaya statis adalah adanya tekanan beban dari atas terhadap lapisan batu di bawahnya, sedangkan yang dimaksud dengan gaya dinamis adalah suatu gaya yang dipengaruhi oleh faktor luar  (eksternal), seperti getaran gempa bumi (faktor alam). Kerusakan mekanis pada tahta-tahta batu Pura Batur Kelembang visualisasinya berupa adanya komponen-komponen tahta batu yang melesak dan penurunan (amblas) pada beberapa bagiannya. Prosentase gejala kerusakan mekanis  ini tidak terlalu besar dan tidak terlalu berpengaruh terhadap keberadaan tahta-tahta batu ini.

  • Pelapukan Chemis

Pelapukan yang terjadi pada bangunan cagar budaya sebagai akibat dari proses atau reaksi kimiawi. Dalam proses ini faktor yang berperan adalah air, penguapan dan suhu. Air hujan dapat melapukan benda melalui proses oksidasi, karbonatisasi, sulfatasi dan hidrolisa. Gejala-gejala yang nampak pada pelapukan ini adalah berupa penggaraman. Prosentase gejala pelapukan chemis yang terjadi pada tahta-tahta batu Pura Batur Kelembang prosentasenya relative kecil  dari keseluruhan permukaan bidangnya.

  • Pelapukan Biologis

Pelapukan pada material bangunan cagar budaya yang disebabkan oleh adanya kegiatan mikroorganisme, seperti pertumbuhan jasad-jasad organik berupa lichen, moss, algae dan pertumbuhan perdu. Gejala yang nampak pada kerusakan ini adalah berupa diskomposisi struktur material, pelarutan unsur dan mineral, adanya noda pada permukaan material dan sebagainya. Pelapukan biologis pada tahta-tahta batu Pura Batur Kelembang sebagian besar berupa tumbuhnya lichen pada permukaan bidangnya.  Prosentase pelapukan biologis yang   nampak prosentasenya relative besar dari keseluruhan permukaan bidangnya.

  • Faktor Penyebab Kerusakan dan Pelapukan
  • Faktor Internal

Faktor internal meliputi faktor perencanaan  (teknologi pembuatan), faktor menurunnya rasio kwalitas bahan  serta letak atau posisi bangunan. Bangunan yang dibuat dengan perencanaan atau teknologi yang baik akan memiliki daya tahan yang baik serta dapat mengurangi kerusakan yang diakibatkan oleh faktor mekanis dan fisik. Bangunan yang dibuat dengan bahan yang kwalitasnya jelek akan cepat mengalami kerusakan sedangkan bangunan yang dibuat dengan bahan yang bagus akan bertahan lebih lama dari berbagai macam kerusakan dan pelapukan serta tanah tempat suatu bangunan cagar budaya berdiri juga mempengaruhi kelestarian material bangunan. Tanah yang memiliki sifat rentan terhadap faktor air, daya tahannya akan mudah menurun sehingga menyebabkan kondisi bangunan tidak stabil.

  • Faktor External

Faktor eksternal adalah faktor lingkungan yang meliputi faktor fisis (suhu, kelembaban, hujan), faktor biologis, faktor kimiawi, bencana alam serta faktor manusia (vandalisme). Pengaruh suhu dan kelembaban yang yang tinggi dan berubah-ubah akan mengakibatkan suatu bangunan cagar budaya kondisinya tidak stabil, yang pada akhirnya akan menyebabkan kerusakan dan pelapukan. Air hujan juga akan menyebabkan kelembaban pada bangunan cagar budaya akan meningkat yang pada akhirnya akan merangsang tumbuhnya jasad–jasad organik pada permukaan material cagar budaya yang pada akhirnya juga akan menimbulkan kerusakan dan pelapukan. Faktor eksternal penyebab kerusakan dan pelapukan pada bangunan cagar budaya sangat sulit untuk dihindari, apalagi terhadap bangunan cagar budaya yang terdapat di alam terbuka.

HASIL KEGIATAN STUDI KELAYAKAN PURA BATUR  KELEMBANG

Pembahasan

Istilah studi kelayakan merupakan salinan dari kata asing feasibility study yang berkenaan dengan perencanaan proyek pembangunan fisik. Istilah studi kelayakan arkeologi  pertama kali diterima sebagai salah satu jenis kegiatan yang resmi dalam arkeologi Indonesia pada tahun 1970-an. Kemungkinan besar studi kelayakan arkeologi mulai diselenggarakan oleh Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala (Ditlinbinjarah) pada 1979 atas permintaan yang cukup mendesak dari Bappenas. Pada awalnya studi kelayakan arkeologi diselenggarakan dalam hubungannya dengan rencana pemugaran bangunan cagar/situs budaya dan situs cagar budaya.

Kegiatan studi kelayakan arkeologi ini dilaksanakan dengan melakukan pengamatan dan pengumpulan data di lapangan terhadap obyek yang menjadi sasaran kegiatan, adapun data yang dikumpulkan meliputi data sejarah, arkeologi, teknis dan keterawatan. Hasil dari pengolahan data yang telah berhasil dikumpulkan akan menjadi suatu rekomendasi tentang layak tidak suatu bangunan/struktur dan situs cagar budaya mendapatkan upaya pelestarian berupa kegiatan pemugaran. Berkenaan dengan hal tersebut maka dilaksankanlah suatu kegiatan studi kelayakan terhadap tinggalan-tinggalan megalitik yang terdapat di Pura Batur Kelembang, lebih jelasnya mengenai hasil dari kegiatan studi kelayakan ini akan diuraikan sebagai berikut :

Perkembangan tradisi megalitik di Bali, tidak dapat dipisahkan dari perkembangan yang terjadi di tempat lain di Indonesia, dan mempunyai hubungan yang erat dengan wilayah lain di Asia Tenggara dan Pasifik. Pada umumnya terdapat persamaan-persamaan atau kesejajaran yang menarik dalam bentuk dan fungsi tinggalan megalitik di Indonesia, Asia Tenggara dan Pasifik. Persamaan yang terpenting ialah kultus nenek moyang sebagai gejala sosial yang bersifat universal, yang menjadi inti utama tradisi megalitik. Dengan demikian kultus nenek moyang dapat dipandang sebagai ciri yang paling menonjol dalam tradisi megalitik. Memang pada umumnya ada perbedaan-perbedaan atau variasi-variasi setempat, tetapi tidak mencolok, yang mungkin disebabkan oleh pengaruh-pengaruh setempat atau karena terjadi perkembangan lokal sesuai dengan kepentingan penduduk pendukungnya (Sutaba, 1989).

Tradisi megalitik yang bertahan dari waktu ke waktu dan berlanjut hingga sekarang di daerah Bali, membuktikan betapa besarnya pengaruh tradisi megalitik dengan kultus nenek moyang sebagai inti yang utama. Hal yang sangat menarik perhatian adalah peranan unsur-unsur lokal dan kemampuan lokal, sehingga masyarakat Bali pada masa lampau mampu menciptakan bentuk-bentuk megalitik yang khas Bali, yang tidak ditemukan di daerah lain. Sebagai contoh tinggalan megalitik penting yang dapat dikemukan di sini adalah tahta batu bertingkat-tingkat yang terbentuk dari beberapa lapis batu dan papan-papan batu serta memiliki nama-nama yang khas Bali.

Tahta batu yang merupakan salah satu tinggalan megalitik yang ditemukan di Bali meliputi jumlah yang cukup banyak dengan bentuk yang beranekaragam. Tahta-tahta batu ini ada yang masih mempunyai fungsi sakral dan merupakan medium pemujaan terhadap arwah leluhur atau tokoh-tokoh yang dipandang berjasa dalam suatu komunitas (masyarakat). Tahta batu yang termasuk dalam kelompok ini mempunyai peranan penting untuk ketentraman masyarakat, sedangkan tahta batu yang sudah tidak berfungsi lagi dengan sendirinya tidak lagi berperan bagi penduduk sekitarnya (Sutaba,1990).

Penelitian terhadap tradisi megalitik di daerah Bali sampai sekarang masih berlanjut dalam rangka melengkapi gambaran tentang aspek-aspek kehidupan masyarakat Bali dan masyarakat Indonesia pada umumnya, ketika jaman prasejarah akan berakhir dan ketika menjelang datangnya pengaruh Agama Hindu-Buddha. Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah dicapai hingga sekarang ternyata masyarakat Bali dewasa ini sebenarnya masih hidup dalam situasi masyarakat megalitik yang telah lebur dan bersatu dengan konsepsi-konsepsi Agama Hindu-Buddha. Pengaruh Agama Hindu memang tampak sangat dominan, tetapi sebenarnya tidaklah demikian karena sesungguhnya inti yang kokoh adalah konsepsi-konsepsi megalitik, terutama kepercayaan kepada arwah leluhur. Hingga sekarang tradisi megalitik dipandang telah membentuk landasan sosial budaya yang kuat dalam kehidupan masyarakat Bali, bahkan telah membentuk kebudayaan yang bercorak asli Indonesia (Soejono, 1977 : 24-29).

Seperti telah dikemukakan di atas, daya, cipta dan kemampuan masyarakat Bali telah menghasilkan sesuatu yang benar-benar khas Bali, yang berbeda dengan masyarakat lainnya di Indonesia. Walaupun demikian masyarakat Bali tidak melepaskan diri dari landasan yang utama, yaitu kepercayaan kepada arwah leluhur yang dapat menentukan nasib masyarakat yang masih hidup. Hal ini berarti ada kebebasan dalam menciptakan bentuk-bentuk megalitik, tetapi dengan tetap dikendalikan oleh sistem religi yang dianut oleh masyarakat (Soejono, 1989 : 221-231).

Hasil penelitian terhadap tradisi megalitik telah berhasil menemukan bukti-bukti tentang peranan masyarakat Bali dalam perkembangan tradisi megalitik, seperti tampak dalam bentuk tahta-tahta batu yang terdapat di Pura Batur Kelembang, Penebel, Tabanan. Corak yang khas Bali, kecuali dalam bentuk-bentuk megalitik yang telah diketahui sampai sekarang, juga sangat menonjol dalam pemberian nama terhadap tahta-tahta batu yang terdapat di Pura Batur Kelembang ini. Tahta-tahta batu ini yang oleh masyrakat pendukungnya sekarang disebut dengan pelinggih diberi nama yang sangat khas Bali, seperti Pelinggih Jero Wayan dan Jero Nyoman untuk pemujaan kepada leluhur, Pelinggih Ulun Suwi dan Dugul untuk pemujaan kepada kekuatan kesuburan dan Pelinggih Pesimpangan Batukaru untuk pemujaan kepada Dewa Gunung Batukaru.  Selain itu untuk tahta-tahta batu lainnya yang terdapat di Pura Batur Kelembang ini  juga diberikan penamaan-penamaan yang memang sangat khas akan nama-nama Bali.

Pengamatan terhadap kondisi terkini dari tinggalan megalitik yang berupa tahta batu di Pura Batur Kelembang mengahasilkan suatu gambaran yang cukup baik, dimana kondisi tahta-tahta batu ini masih baik dan dalam posisi yang stabil. Pengglisir yang menjadi pengemong pura ini menyebutkan bahwa terjadinya beberapa kali gempa bumi yang melanda Pulau Bali tidak membuat tahta-tahta batu ini runtuh, dan masih tegak berdiri sampai sekarang.

Gejala kerusakan dan pelapukan yang dapat diamati pada tahta-tahta batu yang terdapat di Pura Batur Kelembang adalah berupa terjadi penurunan pada bagian dasar, hal ini kemungkinan disebabkan oleh faktor amblasnya tanah tempat berdirinya tahta-tahta batu ini. Penurunan yang terjadi pada bagian kaki tahta-tahta batu Pura Batur Kelembang sejauh ini tidak begitu berpengaruh terhadap kestabilannya secara keseluruhan. Faktor lain yang menyebabkan hal ini terjadi adalah dengan adanya tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di sekitar tahta-tahta batu tersebut, dimana diperkirakan akarnya telah masuk ke bagian dasar dari tahta-tahta batu ini. Selain itu gejala yang nampak pada tahta-tahta batu ini adalah berupa gejala pelapukan, yang meliputi pelapukan secara chemis dan biologis. Hal ini disebabkan oleh air dan fluktuasi suhu yang ekstrim, dimana menyebabkan terjadinya penggaraman pada komponen-komponen penyusun struktur tinggalan megalitik ini. Juga menyebabkan tumbuhnya jasad-jasad organik pada permukaan tahta-tahta batu ini, terutama yang berupa moss, algae dan lichen.

Sesuai dengan maksud dan tujuan dari kegiatan studi kelayakan ini dimana adalah mengumpulkan dan mengolah  data cagar budaya dalam rangka menetapkan kelayakan pemugaran melalui penilaian atas data arkeologis, historis, keterawatan dan teknis, yang kemudian akan dilanjutkan dengan pelaksanaan studi teknis arkeologi yang merupakan kegiatan perencanaan pelaksanaan pemugaran.  Namun dari kegiatan studi kelayakan ini tim yang bertugas di Pura Batur Kelembang menyimpulkan bahwa struktur cagar budaya yang berupa tahta batu ini layak untuk dilaksanakan pelestarian berupa kegiata pemugaran. Akan tetapi hal ini bertentangan dengan keinginan masyrakat penyungsung Pura Batur Kelembang, dimana masyarakat tidak ingin dilaksanakan pemugaran terhadap tahta-tahta batu tersebut. Hal ini berhubungan dengan  kepercayaan religius yang masih teguh dipegang oleh masyarakat penyungsung pura. Dengan demikian maka tim studi kelayakan ini berkesimpulan dan berkeinginan untuk menghormati dan menghargai segala keputusan yang telah diambil oleh seluruh penyungsung Pura Batur Kelembang untuk tidak melaksanakan kegiatan pelestarin berupa pemugaran terhadap tahta-tahta batu tersebut. Gambaran umum tentang tradisi megalitik di daerah Bali khususnya dapat dikemukan bahwa Bali mempunyai tradisi megalitik yang sampai saat ini masih bertahan dengan fungsinya yang sakral dan memiliki peranan untuk menjamin kesejahteraan masyarakat. Berbagai unsur lokal berperan aktif dalam menghasilkan bentuk-bentuk megalitik yang khas Bali berdasarkan cita-cita keagamaan yang berpegang teguh kepada sistem religi yang dianut umum pada waktu itu. Tradisi megalitik yang berlanjut dapat dianggap sebagai bukti terjadinya kesinambungan kehidupan sosial budaya masyarakat Bali sejak masa prasejarah. Sepanjang riwayatnya memang telah terjadi perubahan atau penyesuaian, baik dalam bentuk dan fungsi maupun dalam peranan konsepsi alam pikiran yang melatarbelakanginya. Masyarakat Bali yang telah mengalami berbagai kontak budaya selalu bersifat adaptif dan juga bersikap selektif sesuai dengan kepentingan masyarakat sendiri.

Rekomendasi

Sesuai dengan permintaan dan harapan dari masyarakat pengemong dan penyungsung dari Pura Batur Kelembang yang tidak menginginkan peninggalan yang menjadi sungsungannya mendapatkan upaya pelestarian dalam bentuk pemugaran, maka tim yang melaksanakan kegiatan ini membuat suatu keputusan bahwa akan mendukung apa yang menjadi keingginan masyarakat tersebut. Namun demikian tim studi kelayakan ini juga tetap membuat rekomendasi yang berkenaan dengan upaya pelestarian terhadap cagar budaya dan situs cagar budaya Pura Batur Kelembang. Adapun rekomendasi tersebut meliputi :

  • Upaya Pelestarian Situs

Untuk kepentingan perlindungan benda, bangunan dan struktur cagar budaya serta situs cagar budaya perlu diatur batas-batas situs dan lingkungannya sesuai dengan kebutuhan. Penentuan batas-batas situs cagar budaya ditentukan berdasarkan : batas asli situs, keadaan geotofografis lingkungan situs, seperti misalnya lereng, sungai, lembah dan sebagainya serta kelayakan pandang untuk mengapresiasikan bentuk atau nilai cagar budaya. Berhubungan dengan hal tersebut di atas, maka rekomendasi terhadap perlindungan situs dan benda/struktur cagar budaya di Pura Batur Kelembang tim studi kelayakan yang bertugas di pura ini membuatkan suatu perencanaan tembok keliling dan candi bentar (gapura) sebagai akses keluar-masuk menuju ke jeroan Pura Batur Kelembang. Perencanaan pembuatan tembok keliling ini meliputi seluruh areal pura, dari halaman jaba tengah sampai dengan jeroan. Tembok keliling ini direncanakan memiliki bentuk yang berbeda dengan tembok keliling yang ada sekarang. Perbedaan itu meliputi bentuk dan ornamen, yaitu bentuk dan ornament yang sesuai dengan tembok keliling pada umumnya pura di Bali. Sedangkan untuk pembuatan candi bentar direncanakan memiliki bentuk seperti candi bentar yang umum terdapat di suatu pura, dengan penambahan ornamen-ornamen angklok, karena dari keterangan para penglingsir (kubayan) Pura Batur Kelembang diperoleh keterangan yang mengatakan pada masa lalu candi bentar yang terdapat di pura ini memiliki ornamen-ornamen yang berupa angklok-angklok pada setiap sudutnya. Sedangkan bentuk dari candi bentar yang ada sekarang tidak memiliki ornament tersebut. Hal lain yang mendasari dari pembuatan perencanaan tembok keliling dan candi bentar ini adalah kondisi dari tembok keliling dan candi bentar yang ada sekarang sudah mengalami gejala kerusakan dan pelapukan yang cukup parah.

  • Upaya Pelestarian Struktur Cagar Budaya

Cagar budaya yang terdapat di Pura Batur Kelembang, Penebel, Tabanan adalah struktur cagar budaya yang berupa delapan buah tahta batu. Tahta batu ini terdapat di areal jeroan pura, yaitu pada sisi timur dan sisi utara. Tahta batu tersebut sekarang difungsikan sebagai pelinggih-pelinggih untuk kepentingan ritual keagamaan dan telah diberi nama sesuai dengan dewa-dewa yang dipuja pada masing-masing pelinggih tersebut. Adapun penamaan dari tahta batu tersebut adalah sebagai beikut : tahta batu di sisi timur masing-masing (selatan-utara) disebut sebagai Pelinggih Ulun Suwi, Pelinggih Bhatara Dalem dan Pelinggih Batur/Gede, sedangkan tahta batu yang terletak di sisi utara (timur-barat) disebut sebagai Pelinggih Pesimpangan Batukaru, Pelinggih Pesimpanagan Tamba Waras, Pelinggih Pelinggih Bhatara Puseh, Pelinggih Pesimpangan Panca Sakti serta Pelinggih Jero Wayan dan Jero Nyoman. Secara umum kondisi keseluruhan tahta batu yang terdapat di Pura Batur Kelembang telah mengalami gejala kerusakan dan pelapukan. Visualisasi dari gejala kerusakan dan pelapukan yang nampak pada tahta-tahta batu Pura Batur Kelembang ini adalah berupa komponen-komponen penyusunnya yang mengalami kemelesakan, penggaraman dan juga tumbuhnya jasad-jasad organik pada permukaan batu yang berupa moss, lichen dan algae. Mengingat bahwa tinggalan ini tidak diperbolehkan untuk mendapatkan upaya pelestarian berupa pemugaran oleh masyarakat pendukungnya, maka upaya pelestarian yang dapat dilakukan hanya berupa tindakan prenventif atau pencegahan gejala kerusakan dan pelapukan yang lebih parah. Usaha-usaha preventif atau pencegahan yang dapat dilkukan adalah berupa perawatan berkesinambungan oleh juru pelihara dan juga oleh masyarakat yang menyungsung pura ini. Bentuk perawatan yang dapat dilkukan disini adalah berupa kegiatan pembersihan secara mekanis kering dengan mempergunakan alat-alat tradisional. Upaya-upaya pelesatarian tersebut di atas diharapkan akan mampu menjaga kelestarian peninggalan-peninggalan masa megalitik ini, sehingga nantinya dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Kesimpulan

  1. Tahta-tahta batu yang terdapat di Pura Batur Kelembang  ini merupakan peninggalan dari masa megalitik  yang memiliki nilai budaya dan sejarah yang penting.
  2. Tahta-tahta batu yang merupakan peninggalan masa megalitik ini dapat dijadikan sebagai suatu bahan kajian bagi penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan  dalam bidang sejarah, arkeologi, budaya dan arsitektur.
  3. Untuk mengantisipasi gejala kerusakan yang terjadi pada tahta-tahta ini perlu kiranya mendapatkan penanganan pelestarian secara berkesinambungan secara tradisional  dan juga penanganan konservasi sehingga kelestariannya tetap terjaga.
  4. Pelaksanaan pelestarian cagar budaya ini harusnya selalu berpatokan  dengan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2010 Tentang Cagar Budaya.
  5. Penanganan keadaan lingkungan perlu mendapatkan perhatian, karena dengan keberadaan lingkungan yang asri akan dapat mewujudkan keindahan dan keserasian lingkungan Pura Batur Kelembang  secara keseluruhan.

Saran

  1. Keberadaan cagar budaya tahta batu yang merupakan peninggalan dari masa megalitik ini  perlu kiranya diperkenalkan kehadapan khalayak umum, karena ini merupakan hal yang sangat penting bagi kita semua dan merupakan pencerminan jati diri bangsa secara keseluruhan.
  2. Sebagai langkah preventif terhadap kelestarian cagar budaya ini, hendaknya seluruh masyarakat Kelembang dan Bali secara keseluruhan   senantiasa menjaga warisan budaya yang tak ternilai ini, agar nantinya dapat diwariskan kepada    generasi-generasi berikutnya.

TINGGALKAN KOMENTAR