Sri Khesari Warmadewa: Dari Blanjong Sanur Hingga Pukuh Bangli

0
1228

Gde Yadnya Tenaya

I    Pendahuluan

Di dalam penyusunan sejarah Indonesia kuno sumber data yang digunakan  berasal dari berbagai sumber data yang relevan. Salah satu data yang dipandang relevan bagi penyusunan sejarah Indonesia kuno adalah berasal dari tinggalan arkeologi. Data arkeogi sebagai salah satu sumber data dapat berupa antara lain data ikonografi, arsitektur, dan data prasasti (epigrafi), sedangkan sumber lainnya dapat juga berasal dari filologi.

Data tertulis  berupa prasasti memiliki peran sangat sentral dan vital. Prasasti sebagai data primer, di dalam sebuah prasasti selain menyebut angka tahun dan nama raja yang memerintah, juga terkait berbagai peristiwa penting lainnya yang terjadi  seperti masalah sosial, ekonomi, perpajakan, perdagangan, pertanian, dan peristiwa-peristiwa penting lainnya yang menyangkut keberlangsungan  pemerintahan suatu kerajaan pada masa itu. Peristiwa-peristiwa penting tersebut tercatat dalam bentuk kalimat singkat dan padat.  Data lainnya seperti data ikonografi, arsitektur, data filologi, dan data lainnya yang relevan  digunakan sebagai data skunder.

Prasasti merupakan piagam resmi dikeluarkan oleh seorang raja atau penguasa kepada satu desa/wilayah (karaman) tertentu sehubungan dengan telah terjadinya suatu  peristiwa penting pada masa itu. Keputusan raja tersebut diabadikan pada beberapa media antara lain rontal (ripta prasasti), batu (utpala prasasti), dan tembaga (tamra prasasti) (Nastiti, 2008:624). Definisi yang lebih sederhana tetapi jangkauan pengertiannya sangat luas seperti dikemukakan oleh Boechari (2018: 4), bahwa prasasti adalah sumber-sumber sejarah dari masa lampau yang tertulis di atas batu atau logam.  Berdasarkan isi pokok yang terkandung di dalamnya,  prasasti dikenal dengan beberapa sebutan atau istilah antara lain jayapattra atau  jayasong, suddhapatra, jayacihna atau jayastambha, dan kerttasudhi. Jaya pattra/jaya song adalah prasasti dengan isi pokoknya berkenaan dengan keputusan hukum. Prasasti sudhapatra adalah prasasti dengan isi pokoknya masalah utang-piutang atau gadai. Prasasti jayacihna atau jaya stambha adalah prasasti yang isi pokoknya berkenaan dengan kemenangan atau penaklukan terhadap daerah tertentu (Nastiti, 2008:624-625). Prasasti kerttasuddhi adalah prasasti dengan isi pokok tentang sahnya suatu transaksi jual-beli lahan/barang (Warda, 1989).  Prasasti sebagai piagam resmi suatu pemerintah kerajaan dituliskan  menggunakan beberapa huruf dan bahasa antara lain huruf dan bahasa Bali Kuno,  Jawa Kuno, Sanskerta, dan kombinasi huruf dan bahasa Jawa Kuno-Sansekerta atau Prenagari- Jawa Kuno dan dirumuskan menurut kaidah-kaidah tertentu (Boechari, 1977:1-2).

Terkait dengan prasasti sebagai sumber data primer bagi penyusunan sejarah kuno, pada berbagai wilayah di Bali cukup banyak ditemukan prasasti sebagai bukti sejarah bahwa pada kurun waktu ratusan tahun lalu (zaman Bali Kuno abad X -XIV Masehi) pulau Bali merupakan daerah kerajaan dipimpin oleh seorang raja. Sebagai gambaran, berdasarkan atas prasasti-prasasti yang telah ditemukan dapat diketahui bahwa selama kurun waktu empat abad telah terjadi pergantian 21 kali  tampuk pimpinan dengan nama raja yang berbeda. Adapun ke- 21 raja tersebut antara lain Sri Kesari Warmadewa (Saka 835), Sri Ugrasena ( Saka 837),  Tabanendra dan Subadrika Dharmadewi ( Saka 877-889), Jayasingha Warmadewa (Saka 882), Janasadhu Warmdewa (Saka 987), Wijaya Mahadewi (Saka 905), Gunapriyadharmapatni dan Dharma Udayana Warmadewa (Saka 911-933),  Sri Sang Ajñadewi (Saka 938),  Marakata (Saka 944-948), Anak Wungsu (971-999), Sri Walaprabhu (Saka 1001-1010),  Sri Sakalindukirana (Saka 1010-1023), Sri Suradhipa (Saka1037-1041), Sri Jayasakti (Saka 1055-1072), Sri Ragajaya (Saka 1077), Sri Maharaja Haji Jayapangus (Saka 1099-1103), Sri Maharaja Haji Ekajayalañcana dan Sri Arjaya Dengjaya (Saka 1122), Bhatara Guru I: Sri Adhikunti Ketana (Saka 1126), Bhatara Parameswara Sri Hyang Ning Hyang Adidewa Lañcana (Saka 1182), Bhatara Guru II: Bhatara Sri Maha Guru (Saka 1246-1250), dan Bhatara Sri Astasura Ratna Bumi Banten (Saka 1259) (Ardika, 1983).

Berdasarkan atas prasasti-prasasti diterbitkan oleh masing-masing raja dari 21 raja Bali Kuno tersebut di atas, prasasti-prasasti yang diterbitkan oleh raja Sri Khesari Warmadewa yang memerintah Bali pada tahun Saka 835 (903 Masehi) menggunakan media batu padas (tuff stone).  Sampai saat ini belum ada ditemukan prasasti raja Sri Khesari Warmadewa menggunakan media logam. Pada masa-masa berikutnya setelah pemerintahan raja Sri Khesari Warmadewa, sejak Sri Ugrasena sampai dengan Astasura Ratna Bumi Banten  mulai digunakan logam sebagai media dalam mendokumenkan perintah sang raja.

Terlepas dari permasalahan material yang digunakan dalam menuliskan titah-titah kerajaan, jumlah prasasti yang terbit atas nama raja inipun tergolong sedikit. Sampai saat ini prasasti-prasasti yang terbit atas nama raja Sri Khesari Warmadewa berjumlah 4 buah prasasti antara lain prasasti Blanjong Sanur; Malet Gede (Malet Tengah) Desa Tiga, Bangli; Panempahan Manukaya; dan  Pukuh, Desa Tiga, Kecamatan Susut Bangli. Di antara keempat prasasti tersebut, prasasti yang terdapat di Pura Puseh Desa Adat Pukuh, Desa Tiga, Kecamatan Susut Bangli merupakan prasasti temuan terkini atas nama Sri Khesari Warmadewa yang akan dikemukakan dalam tulisan ini. Secara umum tulisan ini dimaksudkan  untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat luas bahwa perjalanan sejarah Bali Kuno tidak stagnan tetapi bersifat dinamis dan akan berkembang terus apabila ditemukan data baru yang memiliki validitas tinggi dan relevan. Secara khusus, tulisan ini bertujuan untuk menggugah para ilmuwan/peneliti/ahli arkeologi untuk melakukan penelitian lebih lanjut terkait dengan tokoh Raja Bali Kuno Sri Khesari Warmadewa yang dianggap sebagai pendiri dinasti warmadewa, dan aspek-aspek lain dalam pemerintahannya.  Tujuan lain yang tak kalah pentingnya adalah bertujuan untuk dapat mengupayakan langkah-langkah teknis pelestaiannya.

II   Identifikasi    

  • Riwayat Penemuan

Berkat informasi dari salah seorang staf Balai Arkeologi Denpasar I Nyoman Sunarya, diperoleh informasi bahwa di Desa Pukuh telah ditemukan sebuah tugu prasasti yang diduga berasal dari raja Bali Kuno Sri Kesari Warmadewa. Menelusuri informasi tersebut, tim inventarisasi dan pendokumentasian objek yang diduga cagar budaya dengan sasaran kegiatan di wilayah Kecamatan Susut yang dilaksanakan pada tanggal 7 sampai dengan 14 Pebruari 2020, berkesempatan melakukan peninjauan sekaligus melakukan pendataan dan pendokumentasian terhadap temuan tugu prasasti tersebut pada tanggal 12 Pebruari 2020. Prasasti Pukuh ditemukan di Desa Pukuh, Desa Tiga, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli pada koordinat  50 L. 317142; UTM. 9081891; ketinggian 1.117 m dpl (lihat peta di bawah). Berdasarkan penuturan dari bendesa adat Pukuh I Putu Wisnem (65 tahun), prasasti ini ditemukan secara tidak sengaja dengan titik lokasi di sebelah barat Pura Puseh tidak jauh dari Pura Puseh Desa Adat Pukuh. Ketika itu masyarakat dan pemuda desa pekraman Pukuh sedang melakukan kegiatan gotong-royong untuk mengadakan sarana olahraga yakni membuat lapangan bola volley, dan sekaligus pengambilan tanah urug untuk keperluan membangun bale gong. Saat aktivitas sedang berlangsung, secara tidak sengaja salah seorang warga dengan cangkulnya membentur benda keras. Setelah diamati, ternyata sebuah material batu padas berbentuk silindris berisi tulisan pada bidang sisi samping. Berselang waktu tidak lama setelah penemuan tersebut, Balai arkeologi Bali  melakukan peninjauan pada lokasi temuan. Putu Wisnem menuturkan bahwa tim Balai Arkeologi belum dapat memberikan hasil pembacaan, dengan alasan huruf-hurufnya tidak jelas.

  • Kondisi Temuan

Setelah kejadian penemuan prasasti tersebut, selanjutnya berdasarkan hasil musyawarah bersama masyarakat setempat disepakati benda prasasti tersebut untuk dilakukan penyelamatan dengan penempatkan pada sebuah bengunan pelinggih kecil di Pura Puseh (lihat foto disamping).

Terkait dengan kondisi temuan, berdasarkan hasil pengamatan dapat dikemukakan: prasasti dibuat dengan material batu padas (tuff stone) berbentuk silindris; tinggi 110 cm; dan diamater  silinder 43 cm. Pahatan aksara terletak pada bidang samping; jumlah baris tulisan 4 baris. Jenis aksara/huruf dan bahasa  yang digunakan Bali Kuno. Kondisi permukaan material bidang silinder berlumut, di dalam kondisi seperti itu sehingga tatahan huruf-hurufnya menjadi tertutup oleh lumut, dan beberapa hurufnya hilang karena terkena cangkul saat ditemukan. Kondisi seperti ini merupakan salah satu kendala untuk dapat melakukan pembacaan dan melakukan alih aksaranya.  

  • Alih Aksara dan Terjemahan

Alih Aksara:

  1. i śaka 835 wulan phalguṇa1)  kṛsna2) pakṣa3 )pu
  2. tha(-)raska4) parhajyan śri khesari laḥ me la – – – 5)
  3. hli musuḥ ka ingkaḥ  sda – – – 6) cihnan – – –7)
  4. wudpakadya kadya maka tka di tunggalan.
Foto: Tugu Prasasti Banjar Pukuh, tampak dari depan.

Terjemahan:

  1. Pada tahun Saka 835 bulan phalguna,  paro gelap  
  2. Sri Khesari (Warmadewa) telah  (mengalahkan) 
  3. musuh-musuh beliau semuanya8)
  4. hingga di wilayah utara9)  (sehingga) dapat dipersatukan10).

Beberapa prasasti lainnya yang telah ditemukan terlebih dahulu yang diterbitkan oleh raja Sri Khesariwarmadewa yang digunakan sebagai data pembanding antara lain yang disimpan di Pura Penataran Malet Tengah, di Pura Puseh Panempahan, dan yang berada di Desa Blanjong Sanur. Prasasti-prasasti tersebut telah diterbitkan oleh beberapa peneliti terdahulu antara lain prasasti Malet Gede oleh  M. M. Sukarto K. Atmodjo (1992:150-156) ditemukan  pada tanggal 27 Pebruari 1965, dan telah diterbitkan di dalam tulisannya dengan judul “A Newly Discovered Pillar Inscription Of Sri Kesariwarmadewa di Malet Gede”  Prasasti Panempahan Desa Manukaya telah diteliti oleh Damais dalam BEFEO 1959 (Damais, 1959:694). Satu buah lagi prasasti atas nama raja ini adalah tugu prasasti yang ada di Desa Blanjong Sanur. Prasasti ini telah dialih aksarakan oleh Stutterheim di dalam Acta Orientalia volume XII (halaman 126-142). Selanjutnya dikoreksi oleh Damais dengan membuat beberapa catatan atas salinan dari Stutterheim.

Prasasti Malet Gede (foto di samping) dengan alih aksara sebagai berikut:

  1. // Ṡaka 835 wulan phalguna kṛsṇa – pakṣa
  2. kittan parhajyan śṛi ke – – – – – – – – – – – –
  3. – – – – ta musuh ro – (ngi) – tas bhagu – – – – –
  4. – – — – -kadya kadya maksa – – – – – – – – – – – –

Artinya:

  1. Pada tahun Saka 835 (913 Masehi) , bulan Phalguna
  2. (bulan ke delapan), paro gelap
  3.  – – – – – – raja Sri Kesariwarma(dewa) – – – – – – – –
  4.  – – – – – – musuh musuh – – – – – – – – – – – – –
  5.  – – – – – -selamanya dan  pernah – – – – – – – – – – – – –

Prasasti Panempahan (foto di samping) dengan alih aksara sebagai berikut:

  1. // – – – – w(ulan) phalguna kṛ(sṇapakṣa)
  2. (kittan pa)rhaj(yan) śri kaisari uli – – – – –
  3.  – – – -(m)usuh hangkas da wa-(tya) ri wuci – – –
  4.  – – – – – kadya maka tka di tunggala.

Artinya:

  1.  – – – – pada bulan Phalguna, paro gelap  – – – –
  2. – – – – -raja sri kaisari  – – – – – – – – – – – – – – – –
  3. – – – – – – – musuh musuh – – – – – – – – – – – – – – –
  4.  – – – – selamanya dan pernah dipersatukan – – – -.

Prasasti Blanjong Sanur (foto di samping) dengan alih aksara sebagai berikut:

Sisi A.

  1. Saka bde cara-wahni-murti ganite mase tatha phalgune (sara) – – – – –
  2.  – – – -(ra) – – – -(taki) naswa (ksa) – – – – radhay aji – hitwarowinihatyawairini – –  h- – – ng (s) – – – – –
  3.  – – -(hi) – – (ja)wampurang singhadwala pure- (nike) – – – i – – -ya – -ta – – – t – – –
  4. – – – – // (saka 835) wulan phalguna – – – -śri kesari – – – –
  5. – – – – rah di gurun di suwal da humalahang musuḥdo – – – -ngka  – – – -(rana) – – – -(tah) di kutara – – – –
  6. nnata – – – -(tabhaja) – – – – – – kabudhi kabudhi//.

Secara ringkas dapat diterjemahkan: pada tahun Saka 835 (913 Masehi), bulan Phalguna, Sri Kesari (Warmadewa), di Gurun dan di Suwal beliau telah mengalahkan musuhnya.

III  Tinjauan Prasasti

Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa seluruh prasasti yang dikeluarkan atas nama Sri Kesari Warmadewa  sampai saat ini berjumlah menjadi 4 buah prasasti.  Dengan ditemukan 1 buah prasasti di Desa Pukuh,  berarti bertambah  pula data sejarah tertulis  masa Bali Kuno. Keempat buah prasasti yang dikeluarkan oleh raja ini seluruhnya menggunakan material batu padas yang diubah bentuknya. Prasasti dengan teknis dan proses pengerjaan seperti itu dikenal dengan istilah utpala prasasti (Tim Penyusun Prodi Arkeologi, 2019: 19).

Prasasti Desa Pukuh (selanjutnya dengan sebutan Prasasti Pukuh) dipahatkan pada sebuah material dengan batu padas berbentuk silinderis dengan ukuran tinggi  cm, dan diameter  ….cm. Bentuknya yang silinderis, hal itu adalah memberikan gambaran bahwa di dalam penempatannya  dengan cara ditanam bagian kakinya. Bentuk dan model prasasti semacam ini memiliki kesamaan dengan bentuk dan model prasasti Balnjong Sanur dan prasasti Malet Gede. Kecuali prasasti panempahan, dipahatkan pada material batu padas yang tidak berbentuk patok berbentuk tidak silindris, tetapi agak persegi pada sisi samping kiri dan kanannya.

Tulisan Prasasti Pukuh ditatahkan pada bidang sisi silinder  bagian pertengahan ke atas. Jumlah tulisan 4 baris, aksara dan bahasanya  bali kuno dengan bentuk dan styl aksaranya berbentuk kotak sederhana. Bentuk dan styl aksara seperti ini merupakan perkembangan dari huruf pallawa  ke aksara jawa kuno yang lazim digunakan di dalam penulisan prasasti pada zamannya yakni sekitar abad IX Masehi (Holle, 1882). Bentuk dan model aksara semacam itu juga digunakan dalam menuliskan prasasti Pukuh,  misalnya: huruf w (wa), r (ra), n (na), n (ṇa),  ś (śa), c (ca), dan  k (ka). Akan tetapi, teknis penggunaan 1 buah aksara pada prasasti Pukuh nampaknya ada yang berbeda jika dibandingkan dengan prasasti-prasasti lainnya yang terbit atas namanya yakni penggunaan aksara kh didalam menuliskan kata khesari.  Pada prasasti Blanjong, Panempahan dan Malet Gede penulisan kata khesari ditulis kesari.

Seperti telah dikemukakan di atas, bahwa sejak ditemukan oleh warga masyarakat setempat sampai saat ini prasasti tersebut belum mendapatkan penanganan dalam upaya pelestariannya. Oleh sebab itu, alih aksara yang disampaikan saat ini adalah berdasarkan atas pengamatan/identifikasi apa adanya. Beberapa huruf/aksaranya belum dapat diidentifikasi secara benar sehubungan dengan kondisinya masih tertutup oleh lumut  atau  kondisi materialnya rusak. Sehingga alih aksara yang dihasilkanpun belum sempurna. Dari alih aksaranya dan terjemahannya, isi prasasti dapat diketahui bahwa prasasti Pukuh berangka tahun Saka 835 (913 Masehi), dikeluarkan pada bulan bulan ke -8 (“phalguna”), paro gelap (“kṛṣṇapakṣā”), menyebut nama kerajaan (“parhajyan”), nama tokoh raja Sri Khesari (warmadewa). Labih lanjut disebutkan,  musuh Sri Khesari telah berhasil dikalahkan (“musuh kaingkah”) tugu peringatan  ini merupakan bukti tanda (“cihnan”) kemenangannya. Di dalam istilahnya prasasti yang merupakan tanda peringatan kemenangan di kenal dengan istilah jaya stambha. Prasasti Pukuh merupakan tanda peringatan  kemenangan dari Sri Khesari atas musuhnya yang berada di wilayah bagian utara  pulau Bali  dan dipersatukan di bawah kekuasannya. Hal tersebut  sebagaimana disebutkan pada baris akhir (“wudpakadya kadya makatka di tunggalan”).

Terkait dengan penyebutan angka tahun, dari 4 buah prasasti yang dikeluarkan oleh raja Sri Khesariwarmadewa, prasasti Pukuh menyebut angka tahun yang sama dengan prasasti Blanjong Sanur dan prasasti Malet Gede. Prasasti Blanjong menyebut angka tahun dua kali yakni berupa kronogram: “śara wahni murtiganite” pada tulisan yang memakai aksara bali kuno berbahasa Sankskerta. “Ṡara” bernilai 5, “wahni”\ bernilai 3, dan “murti” dengan nilai angka 8, sebagai angka tahun menjadi 835. Pada tulisan yang memakai bahasa bali Kuno secara eksplisit menyebut angka tahun Saka 835. Pada prasasti Malet Gede  menyebutkan angka tahun Saka 835, sedangkan pada prasasti Panempahan angka tahunnya tidak dapat diidentifikasi karena kondisi materialnya rusak tepat pada tulisan angka tahunnya.  Walaupun angka tahunnya tidak terbaca, tetapi besar kemungkinan berangka tahun sama dengan prasasti Pukuh, Malet Gede, dan Blanjong Sanur berdasarkan atas penyebutan  nama bulan yang sama yakni bulan phalguna. Hal ini dapat dibandingkan dengan prasasti-prasasti yang diterbitkan oleh raja Jayapangus. Dari sekian banyak prasasti yang dikeluarkan oleh raja Jayapangus sebagian besar berangka tahun sama yakni tahun Saka 1103, kecuali Prasasti Mantring A berangka tahun Saka 1099.

Terkait dengan ketokohannya, Sri Khesariwarmadewa merupakan pendiri (vamsakara) dinasti warmadewa di Bali.   Diantara ke-21 daftar raja-raja Bali Kuno yang menggunakan gelar warmadewa antara lain raja Sri Kesari, Udayana, Candrabhayasingha, Janasadhu sampai Bhatara Guru.  Berdasarkan atas prasasti-prasasti yang telah diterbitkan, dimasa pemerintahan Sri Khesariwarmadewa  lebih menekankan aspek konsolidasi kekuasan melalui invasi ke daerah pedalaman maupun ke luar wilayah Bali daripada memperhatikan aspek-aspek lainnya seperti masalah sosial, budaya, ekonomi, pertanian, dan lain-lainnya sebagaimana yang dilakukan oleh raja-raja Bali Kuno berikutnya. Tetapi sangat disayangkan, diantara 4 buah prasasti yang diterbitkan tidak disebutkan raja siapa yang ditaklukan karena hanya menyebut nama tempat/wilayah atau daerah  yang berhasil taklukan. Sebagaimana berita yang disebutkan di dalam prasasti Blanjong Sanur, wilayah yang berhasil dikuasai adalah gurun  dan suwal. Para ahli menduga bahwa gurun adalah Lombok, dan suwal adalah Sumbawa.  Secara pasti identifikasi kedua nama tempat itupun belum sepenuhnya benar oleh karena sangat minimnya data pendukung lainnya yang valid ditemukan. Demikian juga halnya dengan musuh yang berhasil ditaklukan sebagaimana disebutkan pada prasasti Pukuh, Malet Gede, dan Panempahan, raja/tokoh siapa yang ditaklukan  dan dimanakah lokasinya  belum dapat diketahui sampai kini. Ketiga prasasti tersebut hanya menyebutkan bahwa musuh-musuh Sri Khesari yang berhasil ditaklukan adalah musuh-musuhnya yang berada di wilayah utara untuk dipersatukan ke dalam wilayah kekuasaannya sebagaimana disebutkan pada baris ke-4 ( “kadya kadya makatka di tunggalan”). Kalimat yang mengandung pengertian yang sama seperti itu juga disebutkan di dalam prasasti Panempahan baris ke-4 : “kadya makatka di tunggala”. Di dalam bahasa Bali sekarang dikenal kata kaja berarti utara yang identik dengan wilayah dataran tinggi di daerah Bali bagian tengah. Wilayah utara dimaksud  besar kemungkinannya  tempat-tempat/lokasi yang berada di wilayah Pulau Bali bagian tengah. Siapakah raja yang ditaklukan, hal ini juga masih menjadi pertanyaan  yang sangat sulit untuk dapat dijawab. Terkait dengan hal ini ada anggapan bahwa dalam periode itu belum ada kerajaan-kerajaan lainnya, tetapi yang ada hanya semacam kepala suku-kepala suku. Berdasarkan prasasti-prasasti yang terbit sebelumnya (prasasti tipe yumupakathu),  tokoh pemimpin yang sering disebutkan adalah  tokoh suatu desa dengan istilah:”tuha banwa”. Yang menjadi pertanyaan, apakah tuha bnwa itukah ada yang tidak  tunduk kepada kekuasaan Sri Khesari Warmadewa waktu itu, sehingga raja Sri Khesari di dalam merangkaulnya kembali dengan mengambil jalan menaklukan.

Penyebutan kata musuh  yang berhasil ditaklukan berada di wilayah utara, hal tersebut memberikan indikasi bahwa pusat kerajaan Sri Khesari yang bernama Singhadwala sebagaimana disebutkan dalam prasasti Blanjong Sanur  berada di wilayah bagian selatan Pulau Bali. Tetapi yang menjadi pertanyaan, dimanakah lokasi singhadwala?.  Hal serupa juga terjadi pada masa Bali Kuno sebelumnya. Berdasarkan atas 7 buah prasasti berbahasa Bali Kuno   yang bertipe “yumupakatahu”, tanpa menyebut nama raja, tetapi menyebut angka tahun dan nama kerajaannya bernama singhamandawa. Terkait dengan pusat lokasi kerajaan Bali Kuno (singhamandawa), Weda Mahendra (1987: 28-36) menafsirkan bahwa lokasi pusat kerajaan pada zaman Bali Kuno adalah berpindah-pindah yakni di sekitar Desa Penulisan Kintamani dengan yang dibuktikan dengan adanya Pura Dalem Balingkang, kemudian  berpindah ke selatan di sekitar Desa Pejeng agak ke barat laut yakni di areal persawahan dengan luar sekitar 14 hektar bernama Jero Agung. Terakhir pusat kerajaan pindah ke Bedahulu di Jero Agung.  Penafsiran tersebut didasarkan banyaknya sebaran tinggalan arkeologi ditemukan pada tempat-tempat tersebut. 

Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa Sri Khesari adalah pendiri dinasti Warmadewa (vamśakara) di Bali. Sebagai seorang tokoh penting, Sri Khesari adalah seorang pemimpin bersifat dwifungsi yakni sebagai seorang raja dalam fungsinya sebagai pemimpin jalannya roda pemerintahan, dan fungsi yang kedua sebagai pemimpin perang saat melakukan espansi kekuasaan yakni sebagai patih utama (adipatih). Penyebutan namanya sebagai patih atau senapati (adipatih) dalam fungsinya sebagai pemimpin perang disebutkan di dalam Prasasti Blanjong Sanur  pada bagian sisi tulisan yang memakai Bahasa Sanskerta  beraksara Bali Kuno pada baris ke-13 seperti kutipan berikut: “ (13)   “ – – – – –ptih sāmastādipatiḥ śri kesariwarma(dewa) – – – -“  (Goris, 1954a:65).  Artinya: Adipatih Sri Kesari Warmadewa. Pada prasasti Malet Gede, Panempahan, dan Pukuh gelar adipatih sebagaimana disebutkan di dalam prasasti Blanjong tidak digunakan lagi.

Untuk mengungkapkan aspek pemerintahan Sri Khesari Warmadewa secara tuntas dan konprehensif hanya berdasarkan atas prasasti Desa Pukuh dan 3 prasasti yang sejaman lainnya adalah sangat sulit. Karena berbagai permasalahan yang dihadapi menjadi faktor kendala. Faktor-faktor tersebut antara lain kondisi materialnya yang sudah rusak karena termakan oleh usia yang telah mencapai ratusan tahun;  faktor teknis, karena saat ditemukan secara tidak disengaja terkena benda keras sehingga aksara/hurufnya tidak dapat diidentifikasi, dan tidak mendapatkan penanganan teknis pelestarian secara benar sehingga kerusakan akibat pengaruh lingkungan alam tidak dapat dihindari; faktor pengetahuan: bahasa dan aksara yang digunakan adalah bahasa dan aksara yang telah mati (bahasa yang berlaku pada masanya). Permasalahan-permasalahan yang dihadap di lapangan seperti dikemukakan di atas adalah sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Boechari (2018: 5-6) terkait dengan kesulitan-kesulitan yang dijumpai oleh seorang epigraf di dalam menunaikan tugasnya di lapangan. Kesulitan kesulitan tersebut adalah:  pertama, karena banyak prasasti terutama prasasti batu yang sudah sedemikian using sehingga amat sulit untuk membacanya. Bagian-bagian yang using harus dibaca berkali-kali sampai mendapatkan pembacaan yang memuaskan. Dengan berbekal pengetahuan tentang huruf-huruf kuno dengan segala lekak likunya, dan dengan membanding-bandingkan huruf yang telah usang itu dengan huruf yang masih jelas,  maka seorang ahli epigrafi berusaha memperoleh pembacaan yang selengkap-lengkapnya. Kesulitan yang keduayang dihadapi adalah saat melakukan terjemahan. Pengetahuan tentang bahasa kuno yang digunakan di dalam prasasti masi belum cukup untuk dapat memahami sepenuhnya makna-makna yang terkandung  di dalam naskah-naskah itu.

Terkait dengan  kendala dan permasalahan tersebut maka dipandang penting intervensi para ahli epigrafi lainnya untuk melakukan studi/penelitian yang lebih cermat dengan ketelitian yang tinggi. Di dalam hal ini, satu hal yang dibutuhkan adalah ketekunan, kesabaran, dan keuletan adalah sangat menuntukan keberhasilannya.  

IV  Penutup

Menutup tulisan ini,  beberapa hal  penting yang perlu dikemukakan adalah sebagai berikut:

  1. Prasasti Desa Pukuh merupakan data sejarah baru di dalam perbendaharaan sumber tertulis sejarah Bali Kuno,  sebagai tanda kemenangan (jayasthamba)  Sri Khesari Warmadewa atas musuh-musuhnya di wilayah Bali bagian tengah Pulau Bali pada tahun Saka 835 (913 Masehi).
  2. Prasasti Pukuh sebagai data tertulis yang tergolong baru, langka, dan tidak dapat diperbaharui,  dipandang relevan dan  penting untuk dilindungi dan dilestarikan keberadaannya melalui upaya teknis pelestariannya dengan megupayakan langkah-langkah kebijakan teknis antara lain   membuat bangunan bale pelindung yang representative, konservasi secara tradisional dan modern, dan upaya-upaya teknis pelindungan lain yang dipandang relevan bagi kelestariannya.  
  3. Intervensi para ahli/peneliti yang menekuni bidang ilmu epigrafi dalam bentuk sumbang saran dan pemikirannya  untuk dapat mengungkapkan apa yang tersurat dan makna yang tersirat di dalam prasasti Desa Pukuh.

Catatan:

  1. Aksara (pha)  telah aus dan tertutup oleh lumut berwarna hijau.
  2. Aksara tengenan () di bawah aksara (k) rusak kemungkinan akibat terkena benda keras.
  3. Aksara (ka) rusak bekas kena benda keras.
  4. Aksara tertutup oleh kerak/lumut, kurang jelas.
  5. Diperkirakan sekitar  2 karekter aksaranya yang hilang karena kena cangkul.
  6. Aksara yang rusak sekitar 3 karakter.
  7. Aksara yang rusak sekitar 3-4 karakter.
  8. Aksara (la) bagian atas kiri rusak bekas terkena benda keras. Kata lah, di dalam Bahasa Bali telah= habis.
  9. Kata kadya kadya ditafsirkan berarti utara. Di dalam Bahasa Bali kaje =utara.  Karto Atmodjo menafirkan kata kadya =seperti, contoh.
  10. Kata ditunggalan, berasal dari kata dasar tunggal= satu, mendapat awalan di dan akhiran an.

KEPUSTAKAAN

Boechari, 2018. Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti, Tracing Ancient Indonesia History Trough Inscription, Hasil Kerjasama Universitas Indonesia Fakultas Pengetahuan Budaya Departemen Arkeologi dengan Ecolefrancaise d’Extreme – Orient, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta.

Damais, L.C. 1959. Ouvrages d’etudes Indonesiannes, BEFEO. XLVII, Saigon.

Goris, R. 1954a.Prasasti Bali I, N.V. Masa Baru Bandung

Holle, 1882. Oud – En Nieuw – Indische Alphabeten. Bijragen Tot De Palaeographie van Nederlandsch – Indie, Uitgegeven door het Bataviasch Genootschap van Kusten en Wetenschappen, Batavia W. BRUINING & Co , ‘s Hage M. NIJHOFF.  

K. Atmodjo,  M. M. Sukarto 1992. A Newly Discovered Pillar-Inscription – Of Sri Kesariwarma- (dewa) at Malat – Gede,  dalam 50 Tahun Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional,

Mahendra, Ida Bagus Weda, 1987. Penafsiran Lokasi Keraton Zaman Bali Kuno, dalam Majalah Widya Pustaka, Tahun IV Nomor 4, Juli 1987, Fakultas sastra Universitas Udayana, Denpasar.

Nastiti, Titi Surti, 2008. Epigrafi sebagai Ilmu, dalam “Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Arkeologi XI, Solo, 13-16 Juni 2008, Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, Jakarta.

Tim Penyusun Prodi Arkeologi, 2019.  Buku Ajar, Pengantar Epigrafi Hindu Budha, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana, Denpasar.

Warda, I Wayan, 1989. “Kerthasudi”, Bukti Sahnya Jual Beli, dalam Majalah Widya Pustaka, Fakultas Sastra Universitas Udayana, Denpasar.

TINGGALKAN KOMENTAR