Laporan Studi Teknis Arkeologi Di Pura Puseh Sembira, Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali

0
2130

Desa Sembiran merupakan salah satu desa kuna yang terletak di bagian timur pesisir utara Pulau Bali, selain desa-desa kuna lainnya, yang antara lain Desa Tejakula, Bondalem, Les, Penuktukan dan lainnya. Desa-desa kuna tersebut merupakan desa yang memiliki adat-istiadat yang unik, terutama pada sistem pemujaan, organisasi sosial dan aturan-aturan yang mengatur perilakukehidupan masyarakatnya. Disamping itu juga ditemukan sejumlah tinggalan purbakala, yang berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya dan yang lainnya. Diantara cagar-cagar budaya tersebut sebagaian besar masih terpelihara dengan baik dan ada yang diletakkan begitu saja oleh penduduk         (I Wayan Ardika, 1999 : 1).

Diantara sekian banyak cagar budaya yang terdapat di desa-desa tersebut di atas adalah berupa bangunan cagar budaya yang terdapat di Pura Bunder Desa Sembiran. Adapun bangunan cagara budaya yang terdapat di Pura Bunder Desa Sembiran adalah berupa Bale Panjang, Bale Petandingan dan Bale Gong. Keseluruhan dari bangunan cagar budaya yang terdapat di Pura Bunder Desa Sembiran merupakan kekayaan budaya bangsa yang memiliki nilai penting bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan, sehingga perlu dilindungi dan dilestarikan demi pemupukan kesadaran jati diri bangsa dan kepentingan nasional. Untuk menjaga kelestarian seluruh bangunan cagar budaya di Pura Bunder Desa Sembiran diperlukan upaya perlindungan dan pemeliharaan yang antara lain dilakukan dengan cara penyelamatan, pengamanan, perawatan dan pemugaran. Menindaklanjuti upaya untuk pelestarian dan pemeliharaan bangunan cagar budaya  yang terdapat di Pura Bunder Desa Sembiran, Balai Pelestarian Cagar Budaya Gianyar  menugaskan sebuah tim untuk melakukan kegiatan studi teknis arkeologi terhadap seluruh bangunan cagar budaya di Pura tersebut.

Studi teknis  merupakan  salah satu tahapan penanganan pelestarian bangunan cagar budaya sebelum dilakukan pemugaran.  Kegiatan studi teknis arkeologi adalah  upaya  melakukan analisis  masalah yang  berkaitan dengan pelestarian  suatu bangunan cagar budaya, guna menyusun rencana/program yang berkaitan dengan penanganan pemugarannya. Studi teknis arkeologi  bersifat diagnsotik dan mencakup analisis faktor-faktor penyebab dan proses  terjadinya     kerusakan-kerusakan suatu bangunan cagar budaya, yang meliputi aspek struktur, konstruksi, arsitektur dan bahan bangunannya.

Dari Hasil observasi di lapangan dapat diketahui bahwa bangunan  cagar budaya yang terdapat di Pura Puseh Desa Sembiran telah mengalami gejala kerusakan dan pelapukan. Oleh karena itu bangunan cagar budaya tersebut perlu mendapatkan penanganan pemugaran supaya tidak  terjadi kerusakan lebih lanjut atau berat, yang nantinya dapat menyebabkan hilangnya peninggalan yang memiliki nilai sejarah dan budaya yang tidak ternilai ini .

Kegiatan Studi Teknis Arkeologis bangunan Bale Panjang di Pura Puseh Desa Sembiran dilaksanakan selama 7 hari dimulai dari tanggal 25 Mei  sampai dengan  31 Mei 2013. Dengan susunan tim sebagai berikut :

  1. Dra. Ida Ayu Agung Indrayani. M   :  Ketua Tim
  2. I Made Susun                                                :  Pengumpul Data Teknis
  3. Dewa Made Suastika                        :  Pengumpul Data Keterawatan
  4. A.A Gde Warmadewa                      :  Pengumpul Data Sejarah dan  Arkeologi
  5. Giri Prayoga                                      :  Pengumpul Data Lingkungan
  6. I Gusti Putu Karang Putra                 :  Juru Gambar
  7. I Nyoman Suka Adnyana                  :  Juru Gambar
  8. I Made Subrata                                  :  Juru Gambar
  9. I Wayan Budi Suartama                    :  Juru Gambar
  10. I Wayan Kadir                                   :  Pembantu Juru Gamabr
  11. I Gusti Ketut Arjana                         :  Pembantu Juru Gambar
  12. I Gusti Made Anom                          :  Pembantu Juru Gambar
  13. I Made Buda                                     :  Pembantu Juru Gambar

Pura Puseh Desa Sembiran secara administrasi terletak di wilayah Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Secara astronomis berada pada koordinat  311201 meter (E) dan  9101650 meter(S), dengan basis koordinat UTM zone 50. Wilayah ini merupakan daerah dataran tinggi  yang memiliki perbedaan ketinggian dengan muka laut mencapai 357 meter. Pura Puseh Sembiran secara umum terletak di wilayah pegunungan yang membentang dari barat ke timur di bagian tengah Pulau Bali. Pura Puseh Sembiran terletak cukup jauh dari pusat Kota Singaraja dengan jarak mencapai 30 km. Lokasi Desa Sembiran  berada di berarah Tenggara dari Kota Singaraja. Pencapaian dari Kota Denpasar dapat memilih jalur Kota Singaraja, kemudian mengarah ke timur menuju Tejakula dan masuk ke arah selatan menuju Desa Sembiran. Jalur lain yang juga bisa dilewati adalah, Denpasar – Gianyar – Bangli (Kintamani) – Sembiran. Kedua jalur ini memiliki kondisi jalan  yang cukup baik.

Luas wilayah Desa Sembiran meliputi 1.793.785 m2, terbagi menjadi luas wilayah permukiman mencapai 13.220 m2, wilayah perkebunan mencapai 1.723.710 m2 dan sisanya merupakan pemanfaatan lahan  untuk kegaiatan lainnya. Tidak seperti wilayah Bali bagian selatan yang terdapat lahan pertanian, sedangkan  wilayah Desa Sembiran sebagian besar merupakan wilayah perkebunan. Desa Sembiran memiliki batas-batas wilayah yang meliputi :

  • Bagian utara berbatasan dengan Laut Jawa
    • Bagian selatan berbatasan dengan Desa Satra
    • Bagian timur berbatasan dengan Julah, dan Madenan (Tejakula)
    • Bagian barat berbatasan dengan Desa Tajun (Kubu Tambahan).

 

Kondisi geomorfologi wilayah Desa Sembiran sebagian besar merupakan wilayah perbukitan dengan rata-rata kemiringan  mencapai 300 – 450. Kemiringan lahan yang cukup curam ini menyebabkan  persebaran permukiman di wilayah ini berada pada daerah lereng-lereng bukit dengan kepadatan yang cukup tinggi. Dengan kondisi morfologi yang merupakan perbukitan, maka proses erosi lebih mendominasi. Batuan dasar di wilayah ini merupakan hasil aktivitas piroklastik Gunung Buyan, Beratan dan Batur, yang terdiri dari lapisan lahar, breksi tuff dan tuff. Selain itu sedikit terdapat batuan hasil kegiatan batuan gunungapi kelompok  Buyan-Beratan Purba. Tanah di wilayah ini sebagian besar berwarna coklat kemerahan, yang merupakan indikasi pelapukan dari batuan gunungapi.

Iklim di wilayah Desa Sembiran termasuk iklim wilayah pegunungan dengan curah hujan mencapai 1799 mm/tahun. Jumlah bulan hujan 4 bulan, dengan kelembaban rata-rata mencapai 29, suhu rata-rata harian berkisar antara 280 derajat celcius sampai dengan 320 celcius.

Jarak Desa Sembiran menuju ibu kota Kecamatan Tejakula berjarak 9 Km dengan waktu tempuh 0,25 Jam, sedangkan menuju Ibu Kota Kabupaten 30 Km dengan waktu tempuh 1 Jam. Dan  jarak  dengan Ibu Kota Propinsi mencapai 118 Km dengan waktu tempuh 2 Jam.

Data kependududukan Desa Sembiran pada Tahun 2013 menunjukan jumlah total penduduk mencapai 1.442 KK/5658 orang, dengan pembagian 2836 laki-laki dan  2828 perempuan. Mata pencaharian sebagian besar masyarakat berupa berkebun.

Pada umumnya halaman atau mandala pura-pura yang ada di Bali terbagi menjadi tiga bagian, yaitu jaba sisi (nista mandala), jaba tengah (madya mandala) dan jeroan (utama mandala). Pembagian atas tiga halaman atau mandala ini didasari atas konsep Triloka. Jaba sisi (nista mandala) dilukiskan sebagai Bhurloka yang dihubungkan dengan alamnya bhuta dan kala. Jaba tengah (madya mandala) dihubungkan dengan Bwahloka yang berkaitan dengan alam manusia dan jeroan (utama mandala) dihubungkan Swahloka yang berkaitan dengan alam para dewa beserta roh suci para leluhur (Rata, 1985:15). Intisari dari konsep ini adalah adanya perbedaan kesucian dari  masing-masing halaman atau mandala pura tersebut. Jeroan (utama mandala) lebih suci dari jaba tengah (madya mandala) dan jaba tengah (madya mandala) ini memiliki tingkat kesucian yang lebih tinggi dari jaba sisi (nista mandala). Berdasarkan anggapan tersebut maka pada umumnya jeroan (utama mandala) memiliki posisi yang lebih tinggi dari jaba tangah (madya mandala) dan jaba sisi  (nista mandala). Untuk meniggikan jaroan (utama mandala) dari halaman (mandala) yang lainnya dipergunakan undakan. Pembagian halaman (mandala) pura ini mengingatkan kita akan bangunan teras berundak yang merupakan bangunan pemujaan pada masa prasejarah. Ditambah lagi dengan adanya orientasi ke arah gunung semakin menegaskan akan hal ini. Sehingga secara umum konsepsi punden berundak adalah merupakan konsepsi dasar arsitektural dari bangunan pura-pura yang ada di Bali.

Pembagian halaman (mandala) pura yang memanjang ke belakang, dengan halaman (mandala) yang posisinya terletak paling belakang merupakan halaman (mandala) paling suci mengingatkan pada pembagian stuktur  halaman Candi Penataran yang ada di Jawa Timur. Halaman Candi Penataran juga terbagi menjadi tiga halaman, yang memanjang dari barat laut ke tenggara dan halaman terakhir dimana terletak candi induk  merupakan bangunan yang paling suci Dalam Lontar Kusumadewa disebutkan bahwa sistem pendirian pura-pura di Bali adalah serupa dengan sistem pendirian bangunan candi-candi di Majapahit. Bahkan di daerah Trowulan didapatkan relief yang serupa dengan bentuk    pura-pura maupun bentuk meru di Bali

Pembagian halaman (mandala) pura-pura yang ada di Bali selain terdiri dari tiga halaman (mandala), juga ada pura-pura yang memiliki dua halaman (mandala). Goris dalam tulisannya yang berjudul Bali Atlas Kebudayaan menyebutkan bahwa pembagian halaman (mandala) pura yang terdiri dari dua bagian ini mempunyai hubungan atau kaitan dengan dua hal yang berbeda (rwa bhineda), seperti dunia atas berlawanan dengan dunia bawah, gunung berlawan dengan laut dan yang lainnya (Goris, t.t. : 36). Pendapat mengenai pembagian halaman (mandala) pura yang menyerupai dengan pendapat Goris juga diungkapkan oleh Tim Peneliti Arsitektur Bali yang menyebutkan pembagian halaman (mandala) pura yang terdiri dari dua bagian merupakan lambang dari alam bawah (pertiwi) dan alam atas (akasa) (Team Penelitian Arsitektur Tradisional Bali, 1981 : 36). Pembagian halaman (mandala) pura yang terdiri dari dua halaman (mandala) maupun satu halaman (mandala) dapat pula karena pengaruh lingkungan geografis. Dalam hal ini diperkirakan karena luas areal tanah pura tidak memungkinkan untuk dibangunnya pura dengan tiga halaman (mandala), atau mungkin karena potensi penduduk yang menyungsung sedikit sehingga tidak memungkinkan untuk mengelola pura yang terlalu besar. Dengan demikian apabila halaman (mandala) pura hanya terdiri dari dua atau satu halaman (mandala) maka bangunan di halaman (mandala) pertama dan kedua biasanya digabungkan menjadi satu  (Ida Bagus Mantra, 1961 : 3).   Pada pura yang memiliki tiga halaman (mandala) biasanya antara jaba sisi (nista mandala) dan jaba tengah (madya mandala) dihubungkan dengan candi bentar, sedangkan antara jaba tengah (madya mandala) dengan   jeroan (utama mandala) dihubungkan dengan sebuah bangunan kori agung.

Dari uraian tersebut di atas berikut ini akan diuraikan mengenai struktur Pura Puseh Desa Sembiran. Pura ini merupakan pura yang terdiri dari satu halaman (mandala), namun dari satu halaman (mandala) ini kemudian terbagi menjadi menjadi dua komplek pura, yaitu Pura Puseh dan Pura Desa. Komplek Pura Puseh terletak di sebelah utara dari Pura Desa, dengan dipisahkan dengan tembok keliling (penyengker) serta gelung kori sebagai pintu untuk akses   keluar-masuk areal pura.

Sebagai pura yang disusung oleh seluruh masyarakat Desa Sembiran dan sebagaimana umumnya pura-pura yang ada di Bali, maka di Pura Puseh Desa Sembiran ini juga terdapat bangunan-bangunan pelinggih sebagai tempat untuk pemujaan, yang antara lain adalah :

A. Pura Puseh

Pelinggih Mas Agung Susunan, Pelinggih Ratu Ayu Gunung Sari, Pelinggih Ratu Ngurah Gunung Lebah, Pelinggih Puseh Duhur, Pelinggih Ratu Bukit Gunung Agung, Pelinggih Ratu Gede Pucak Aru, Pelinggih Taksu, Pelinggih Taksu, Pelinggih Dalem Tajun, Pelinggih Ratu Bagus Wayan, Pelinggih Tanpa Lawang, Genah Gong Selonding, Pelinggih Ratu Ngurah Candi, Pesamuan, Piyasan.

  1. Pura Desa

Candi Kurung, Apit Lawang, Pelinggih Sanggaran Alit, Bale Pegat, Padmasana, Panggungan, Pelinggih Ratu Gede Pasek, Pelinggih Ratu Bagus Agung, Pelinggih Ratu Gede Di Kunpi, Pelinggih Ratu Gede Di Dukuh, Pelinggih Ratu Ngurah Sisi, Pelinggih Ratu Ngurah Kamasan, Ratu Naga Basuki, Pulu, Pelinggih Bhatara Pelisan, Pelinggih Bhatara Suksuk, Pelinggih Bhatara Ngudu, Pesamuan, Piyasan, Jineng, Bale Kulkul, Pelinggih Ratu Penyarikan, Sumanggen, Bale Panjang Agung, Genah Mekarya, Bale Gong Lingsir, Suci, Bale Gong Truna, Bale Truna, Bale Daha, Bale Tuak, Balai Panjang Balai Luh, Gapura, Gapura dan Pemletasan.

BAGIKAN
Artikulli paraprakPura Tirtha Empul (Bagian 1)
Artikulli tjetërPengelolaan dan Pelestarian Cagar Budaya Dalam Persfektif Agama dan Budaya
Balai Pelestarian cagar Budaya Bali Wilayah Kerja prov. Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur Jalan Raya Tampaksiring, Bedulu, Blahbatuh, Gianyar, Bali 80581 Telepon (0361) 942347, Fax (0361) 942354 e-mail: bpcbbali@kemdikbud.go.id dan bp3_bali@yahoo.com