You are currently viewing Inventarisasi di Situs Pura Agung Kentel Gumi (Bagian 3)

Inventarisasi di Situs Pura Agung Kentel Gumi (Bagian 3)


POKJA REGISTRASI DAN DOKUMENTASI

BALAI PELESTARIAN CAGAR BUDAYA BALI


Secara administratif Dengan Pura Kentel Gumi kurang lebih 43 Km dari kota Denpasar, 6 km dari kota Semarapura, 1 km dari kota Kecamatan Banjarangkan. Tepatnya di Banjar Tusan Kawan, Desa Pakraman Tusan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung. Secara astronomi Pura Kentel Gumi ini terletak pada kordinat 50 L 0324283, 9056147 UTM, dengan batas-batas:

  • Utara : Pemukiman Penduduk
  • Timur : Pemukiman Penduduk
  • Selatan : Pemukiman dan Sekolah Dasar
  • Barat : Jalan raya Menuju Kota Klungkung

Benda Cagar Budaya di Pura Agung Kentel Gumi

Lanjutan……

 

  • Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/51

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 49 cm
    • Lebar : 15 cm
    • Tebal : 11 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : utuh
  • Justifikasi : arca berdiri samabangga diatas lapik, dengan sandaran polos. Memakai mahkota, hiasan telinga (simping), anting (kundala). Bentuk muka persegi, alis tebal, mata tertutup. Memakai kalung (hara) motif tumpal suluran, sikap tangan dhyanamudra didepan perut, mengenakan kain dari bawah dada sampai ke kaki dengan motif garis geometris, dengan uncal, selendang (sampur) teruntai di sebelah kanan kiri pinggang arca sampai kaki, dan memakai hiasan urudama teruntai di depan paha dengan motif hias suluran dan tumpal segitiga terbalik.

 

  • Fragmen Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/52

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 39 cm
    • Lebar : 17 cm
    • Tebal : 11 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : tidah utuh dan aus
  • Justifikasi : sikap arca berdiri stegak samabanggha dengan sandaran polos (lapik dan kaki patah). memakai mahkota dan muka aus, bentuk muka lonjong, terlihat hiasan telinga (simping) tetapi aus, bagian dada aus, terlihat memakai ikat perut (udarabandha), pergelangan tangan patah, terlihat sikap tangan berada didepan perut.

 

  • Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/53

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 57 cm
    • Lebar : 12 cm
    • Tebal : 12 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : aus
  • Justifikasi : sikap arca berdiri tegak samabanggha dengan sandaran polos (lapik dan kaki patah). memakai mahkota, muka aus, bentuk muka lonjong, terlihat hiasan telinga (simping), bagian dada menonjol memakai kalung (hara) motif simbar segitiga terbalik, terlihat memakai ikat perut (udarabandha), sikap tangan berada di sebelah pinggang terlihat seperti mengepal sesuatu. memakai kain lapis dua polos dengan uncal yang polos pula, pergelangan kaki kanan patah.

 

  • Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/54

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi             : 44 cm
    • Lebar             : 13 cm
    • Tebal             : 14 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : utuh
  • Justifikasi : arca berdiri samabangga diatas lapik, dengan sandaran polos. Memakai mahkota, hiasan telinga (simping), anting (kundala). Bentuk muka persegi, alis tebal, mata tertutup. Memakai hiasan leher (hara) motif simbar tumpal segitiga terbalik, ikat perut (udarabandha), sikap tangan didepan perut dan kesepuluh jari disatukan seperti membentuk kencup, ujung-ujung jari mengarah ke atas (dada tengah), mengenakan kain dari bawah dada sampai ke kaki, kain terlihat polos dan tipis dengan uncal, dan selendang (sampur) teruntai di sebelah kanan kiri pinggang arca sampai kaki, dan memakai hiasan urudama teruntai di depan paha.

 

  • Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/55

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 49 cm
    • Lebar : 14 cm
    • Tebal : 14 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : utuh
  • Justifikasi : arca berdiri samabangga diatas lapik, dengan sandaran polos. Memakai mahkota, hiasan telinga (simping), anting (kundala). Bentuk muka persegi, alis tebal, mata tertutup. Memakai hiasan leher (hara) motif simbar tumpal segitiga terbalik, ikat perut (udarabandha), sikap tangan dhyanamudra didepan perut, mengenakan kain dari bawah dada sampai ke kaki, kain terlihat polos dan tipis, dengan uncal, dan selendang (sampur) teruntai di kanan kiri pinggang arca sampai ke kaki, dan memakai hiasan urudama teruntai di depan paha.

 

  • Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/56

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 48 cm
    • Lebar : 17 cm
    • Tebal : 14 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : aus
  • Justifikasi : sikap arca berdiri samabangga di atas lapik setengah lingkaran dengan sandaran (stela), memakai mahkota, muka aus, memakai hiasan telinga (simping) menempel sampai sandaran, memakai anting (kundala), memakai kalung (hara) tumpal segitiga terbalik dengan motif simbar, buah dada agak menonjol, memakai ikat perut (udarabandha). Sikap tangan di depan perut kurang jelas karena bagian ke dua pergelangan patah, memakai gelang lengan (keyura) polos. Memakai kain berlapis tiga sampai di pergelangan kaki, uncal segi empat panjang dan selendang (sampur) di sebelah kanan dan kiri pinggang arca.

 

  • Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/57

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 52 cm
    • Lebar : 14 cm
    • Tebal : 11 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : tidak utuh
  • Justifikasi : arca berdiri samabangga diatas lapik, dengan sandaran polos. Memakai mahkota, hiasan telinga (simping), anting (kundala). Bentuk muka persegi, alis tebal, mata tertutup. Memakai hiasan leher (hara) motif simbar tumpal segitiga terbalik, ikat perut (udarabandha), sikap tangan didepan perut dan kesepuluh jari disatukan seperti membentuk kencup, ujung-ujung jari mengarah ke atas (dada tengah), lengan sebelah kiri patah, terlihat adanya patahan di bagian leher dan dada (pernah patah) tapi sekarang sudah disambung. mengenakan kain dari bawah dada sampai ke kaki, kain terlihat polos dan tipis, dengan uncal, dan selendang (sampur) teruntai di sebelah kanan kiri pinggang arca sampai kaki, dan memakai hiasan urudama teruntai di depan paha.

 

  • Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/58

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 41 cm
    • Lebar : 16 cm
    • Tebal : 11 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : aus
  • Justifikasi : arca berdiri samabanggha di atas lapik stengah lingkaran dengan sandaran (stela) polos. Bentuk muka bulat memakai mahkota, mata sipit, hidung aus, bibir aus, leher bergurat. Memakai hiasan telinga (simping), anting (kundala), memakai kalung (hara) motif suluran, ikat perut (udarabandha). Sikap tangan dhyanamudra membawa padma di depan perut, memakai gelang lengan (keyura) motif suluran, gelang tangan (kankana) polos. Memakai kain dengan motif garis vertikal, selendang terlihat terurai di sebelah kanan dan kiri arca.

 

  • Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/59

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 51 cm
    • Lebar : 16 cm
    • Tebal : 11 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : utuh
  • Justifikasi : arca berdiri samabangga diatas lapik, dengan sandaran polos. Memakai mahkota, hiasan telinga (simping), anting (kundala). Bentuk muka persegi, alis tebal, mata tertutup. Memakai hiasan leher (hara) motif simbar tumpal segitiga terbalik, ikat perut (udarabandha), sikap tangan didepan perut dan kesepuluh jari disatukan seperti membentuk kencup, ujung-ujung jari mengarah ke atas (dada tengah), mengenakan kain dari bawah dada sampai ke kaki, kain terlihat polos dan tipis dengan uncal, dan selendang (sampur) di sebelah kanan kiri pinggang arca sampai kaki, dan memakai hiasan urudama yang teruntai di depan paha motif suluran dan tumpal segitiga terbalik, memakai gelang kaki (padavalaya).

 

  • Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/60

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 56 cm
    • Lebar : 16 cm
    • Tebal : 15 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : utuh
  • Justifikasi : arca berdiri samabangga diatas lapik, dengan sandaran polos. Memakai mahkota, hiasan telinga (simping), anting (kundala). Bentuk muka persegi, alis tebal, mata tertutup. Memakai hiasan leher (hara) motif simbar tumpal segitiga terbalik, ikat perut (udarabandha), sikap tangan saling mengepal didepan perut, mengenakan kain dari bawah dada sampai ke kaki, kain terlihat polos dan tipis dengan uncal, dan selendang (sampur) teruntai di sebelah kanan kiri pinggang arca sampai ke kaki, memakai hiasan urudama di depan paha motif hias bunga, memakai gelang kaki (padavalaya) polos.

 

  • Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/61

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 41 cm
    • Lebar : 16 cm
    • Tebal : 15 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : utuh
  • Justifikasi : arca berdiri samabangga diatas lapik, dengan sandaran polos. Memakai mahkota, hiasan telinga (simping), anting (kundala). Bentuk muka persegi, alis tebal, mata tertutup. Memakai hiasan leher (hara) motif simbar tumpal segitiga terbalik, ikat perut (udarabandha), sikap tangan didepan perut dan kesepuluh jari disatukan seperti membentuk kencup, ujung-ujung jari mengarah ke atas (dada tengah), mengenakan kain dari bawah dada sampai lutut, kain terlihat polos dan tipis dengan uncal, selendang (sampur) di sebelah kanan kiri pinggang arca sampai mkaki, dan memakai hiasan urudama yang teruntai di depan paha motif hias suluran dan tumpal segitiga terbalik, memakai gelang kaki (padavalaya).

 

  • Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/62

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 32 cm
    • Lebar : 12 cm
    • Tebal : 15 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : sangat aus
  • Justifikasi : arca berdiri tegak samabanggha, diatas lapik dengan sandaran (stela). terlihat sikap tangan berada didepan perut kemungkinan sikap yang digunakan adalah dhyanamudra.

 

  • Fragmen Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/63

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 27 cm
    • Lebar : 15 cm
    • Tebal : 13 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : tidak utuh
  • Justifikasi : sikap arca berdiri tegak samabanggha diatas lapik segi empat dengan sandaran polos. bagian kepala patah, bagian dada menonjol memakai kalung (hara) motif simbar segitiga terbalik, terlihat memakai ikat perut (udarabandha), sikap tangan berada di sebelah pinggang pergelangan tangan patah. memakai kain lapis dua polos dengan uncal yang polos pula.

 

  • Fragmen Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/64

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 54 cm
    • Lebar : 16 cm
    • Tebal : 13 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : tidak utuh
  • Justifikasi : sikap arca berdiri samabanggha, bagian kepala patah, memakai gelang lengan (keyura), bagian dada aus, terlihat memakai ikat perut (udarabandha), sikap tangan di depan perut (aus), memakai kain lapis tiga dan uncal (aus). bagian kaki patah, lapik patah dan sandaran patah.

 

  • Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/65

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 54 cm
    • Lebar : 15 cm
    • Tebal : 15 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : utuh
  • Justifikasi : arca berdiri samabangga diatas lapik, dengan sandaran polos. Memakai mahkota, hiasan telinga (simping), anting (kundala). Bentuk muka persegi, alis tebal, mata tertutup. Memakai hiasan leher (hara) motif simbar tumpal segitiga terbalik, ikat perut (udarabandha), sikap tangan tidah terlihat karena pergelangan ke dua tangan patah, mengenakan kain dari bawah dada sampai ke kaki, kain terlihat polos dan tipis dengan uncal, selendang (sampur) di sebelah kanan kiri pinggang arca sampai mkaki, dan memakai hiasan urudama yang teruntai di depan paha motif hias suluran dan tumpal segitiga terbalik, memakai gelang kaki (padavalaya).

 

  • Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/66

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 45 cm
    • Lebar : 14 cm
    • Tebal : 13 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : utuh
  • Justifikasi : arca berdiri samabangga diatas lapik, dengan sandaran polos. Memakai mahkota, hiasan telinga (simping), anting (kundala). Bentuk muka persegi, alis tebal, mata tertutup. Memakai hiasan leher (hara) motif simbar tumpal segitiga terbalik, ikat perut (udarabandha), sikap tangan didepan perut dan kesepuluh jari disatukan seperti membentuk kencup, ujung-ujung jari mengarah ke atas (dada tengah), lengan sebelah kiri patah, terlihat adanya patahan di bagian leher dan dada (pernah patah) tapi sekarang sudah disambung. mengenakan kain dari bawah dada sampai ke kaki, kain terlihat polos dan tipis, dengan uncal, selendang (sampur) di sebelah kanan kiri pinggang arca sampai mkaki, dan memakai hiasan urudama yang teruntai di depan paha motif hias suluran dan tumpal segitiga terbalik, memakai gelang kaki (padavalaya).

 

  • Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/67

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 48cm
    • Lebar : 15 cm
    • Tebal : 12 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : aus dan patah
  • Justifikasi : sikap arca berdiri tegak samabangga diatas lapik dengan sandaran (stela) polos, memakai mahkota, hiasan telinga (simping) menempel di sandaran, memakai anting (kundala), kalung (hara) motif sulur tumpal segitiga terbalik, terlihat leher bergurat, memkai ikat perut (udarabandha). Sikap tangan berada di depan perut (bagian tangan aus), memakai gelang lengan (keyura). Memakai kain bersusun tiga (kondisi aus), uncal (kancut) segi empat.

 

  • Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/68

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 48 cm
    • Lebar : 15 cm
    • Tebal : 12 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : sangat aus
  • Justifikasi : sikap arca berdiri tegak samabangga diatas lapik dengan sandaran (stela), terlihat memakai mahkota (aus), hiasan telinga (simping), anting (kundala) menyentuh bahu, bagian badan sangat aus dan patah. Sikap tangan di depan perut kondisi aus, terlihat memakai kain bersusun tiga dengan kondisi aus, kaki aus.

 

  • Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/69

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 47 cm
    • Lebar : 16 cm
    • Tebal : 9 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : aus
  • Justifikasi : sikap arca berdiri tegak samabangga diatas lapik dengan sandaran (stela), terlihat memakai mahkota, hiasan telinga (simping), anting (kundala) menyentuh bahu, leher bergurat, memakai kalung (hara) motif tumpal segitiga terbalik, memkai ikat perut (udarabanda). Sikap tangan di depan perut kondisi aus, memakai gelang lengan (keyura), gelang tangan (kankana), terlihat memakai kain bersusun tiga dengan uncal (kancut) segi empat menyentuh lapik.

 

  • Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/70

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 53 cm
    • Lebar : 15 cm
    • Tebal : 16 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : utuh
  • Justifikasi : arca berdiri samabangga diatas lapik, dengan sandaran polos. Memakai mahkota, hiasan telinga (simping), anting (kundala). Bentuk muka persegi, alis tebal, mata tertutup. Memakai hiasan leher (hara) motif simbar tumpal segitiga terbalik, ikat perut (udarabandha), sikap tangan dhyanamudra didepan perut, lengan sebelah kiri patah, terlihat adanya patahan di bagian leher dan dada (pernah patah) tapi sekarang sudah disambung. mengenakan kain dari bawah dada sampai ke kaki, kain terlihat polos dan tipis, dengan uncal, selendang (sampur) di sebelah kanan kiri pinggang arca sampai mkaki, dan memakai hiasan urudama yang teruntai di depan paha motif hias suluran dan tumpal segitiga terbalik.

 

  • Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/71

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 55 cm
    • Lebar : 19 cm
    • Tebal : 14 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi :
  • Justifikasi : arca berdiri samabangga diatas lapik, dengan sandaran polos. Memakai mahkota, hiasan telinga (simping), anting (kundala). Bentuk muka persegi, alis tebal, mata tertutup. Memakai hiasan leher (hara) motif simbar tumpal segitiga terbalik, ikat perut (udarabandha), sikap tangan didepan perut dan kesepuluh jari disatukan seperti membentuk kencup, ujung-ujung jari mengarah ke atas (dada tengah),, lengan sebelah kiri patah, terlihat adanya patahan di bagian leher dan dada (pernah patah) tapi sekarang sudah disambung. mengenakan kain dari bawah dada sampai ke kaki, kain terlihat polos dan tipis, dengan uncal, selendang (sampur) di sebelah kanan kiri pinggang arca sampai mkaki, dan memakai hiasan urudama yang teruntai di depan paha motif hias suluran dan tumpal segitiga terbalik, memakai gelang kaki (padavalaya).

 

  • Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/72

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 52 cm
    • Lebar : 14 cm
    • Tebal : 12 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi :
  • Justifikasi : arca berdiri samabangga diatas lapik, dengan sandaran polos. Memakai mahkota, hiasan telinga (simping), anting (kundala). Bentuk muka persegi, alis tebal, mata tertutup. Memakai hiasan leher (hara) motif simbar tumpal segitiga terbalik, ikat perut (udarabandha), sikap tangan didepan perut dan kesepuluh jari disatukan seperti membentuk kencup, ujung-ujung jari mengarah ke atas (dada tengah), lengan sebelah kiri patah, terlihat adanya patahan di bagian leher dan dada (pernah patah) tapi sekarang sudah disambung. mengenakan kain dari bawah dada sampai ke kaki, kain terlihat polos dan tipis, dengan uncal, selendang (sampur) di sebelah kanan kiri pinggang arca sampai mkaki, dan memakai hiasan urudama yang teruntai di depan paha motif hias suluran dan tumpal segitiga terbalik, memakai gelang kaki (padavalaya).

 

  • Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/73

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 51 cm
    • Lebar : 18 cm
    • Tebal : 13 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi :
  • Justifikasi : arca berdiri samabangga diatas lapik, dengan sandaran polos. Memakai mahkota, hiasan telinga (simping), anting (kundala). Bentuk muka persegi, alis tebal, mata tertutup. Memakai hiasan leher (hara) motif simbar tumpal segitiga terbalik, ikat perut (udarabandha), sikap tangan dhyanamudra didepan perut, lengan sebelah kiri patah, terlihat adanya patahan di bagian leher dan dada (pernah patah) tapi sekarang sudah disambung. mengenakan kain dari bawah dada sampai ke kaki, kain terlihat polos dan tipis, dengan uncal, selendang (sampur) di sebelah kanan kiri pinggang arca sampai mkaki, dan memakai hiasan urudama yang teruntai di depan paha motif hias suluran dan tumpal segitiga terbalik, memakai gelang kaki (padavalaya).

 

  • Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/74

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 53 cm
    • Lebar : 17 cm
    • Tebal : 13 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : aus
  • Justifikasi : sikap arca berdiri tegak samabangga diatas lapik dengan sandaran (stela), terlihat memakai mahkota, hiasan telinga (simping), anting (kundala) menyentuh bahu, muka aus, leher bergurat, memakai kalung (hara) motif tumpal segitiga terbalik, memakai ikat perut (udarabanda). Sikap tangan di depan perut kondisi aus, memakai gelang lengan (keyura), gelang tangan (kankana), terlihat memakai kain bersusun tiga dengan uncal (kancut) segi empat menyentuh lapik.

 

  • Arca Perwujudan
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/75

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 57 cm
    • Lebar : 16 cm
    • Tebal : 15 cm
  • Periodesasi : Bali Kuna (abad XI – XIII)
  • Kondisi : utuh
  • Justifikasi : arca berdiri samabangga diatas lapik, dengan sandaran polos. Memakai mahkota, hiasan telinga (simping), anting (kundala). Bentuk muka persegi, alis tebal, mata tertutup. Memakai hiasan leher (hara) motif simbar tumpal segitiga terbalik, ikat perut (udarabandha), sikap tangan dhyanamudra didepan perut, lengan sebelah kiri patah, terlihat adanya patahan di bagian leher dan dada (pernah patah) tapi sekarang sudah disambung. mengenakan kain dari bawah dada sampai ke kaki, kain terlihat polos dan tipis, dengan uncal, selendang (sampur) di sebelah kanan kiri pinggang arca sampai mkaki, dan memakai hiasan urudama yang teruntai di depan paha motif hias suluran dan tumpal segitiga terbalik, memakai gelang kaki (padavalaya).

 

  • Arca Penjaga
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/76

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 93 cm
    • Lebar : 44 cm
    • Tebal : 31 cm
  • Periodesasi : abad XIV – XIX masehi
  • Kondisi : utuh
  • Justifikasi : sikap arca berdiri mengangkang di atas lapik dengan hiasan api, muka menyeramkan, mata melotot, mulut terbuka bertaring, memakai hiasan telinga (simping), badan gemuk perut buncit, tangan kanan membawa gada, tangan kiri menyentuh lutut kiri. Memakai kain sebatas perut dengan uncal (kancut) lebar memanjang sapai lapik.

 

  • Arca Penjaga
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/77

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 96 cm
    • Lebar : 34 cm
    • Tebal : 47 cm
  • Periodesasi : abad XIV – XIX masehi
  • Kondisi : utuh
  • Justifikasi : sikap arca berdiri mengangkang di atas lapik dengan hiasan api, muka menyeramkan, mata melotot, mulut terbuka bertaring, memakai hiasan telinga (simping), badan gemuk perut buncit, tangan kanan membawa gada, tangan kiri menyentuh lutut kiri. Memakai kain sebatas perut dengan uncal (kancut) lebar memanjang sapai lapik.

 

  • Arca Penjaga
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/78

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 78 cm
    • Lebar : 46 cm
    • Tebal : 33 cm
  • Periodesasi : abad XIV – XIX masehi
  • Kondisi : aus
  • Justifikasi : arca berdiri mengangkang diatas lapik, rambut terurai, muka aus,  sikap kedua tangan arca memegang perut. Kondisi arca sangat aus.

 

  • Arca Penjaga
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/79

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 79 cm
    • Lebar : 36 cm
    • Tebal : 42 cm
  • Periodesasi : abad XIV – XIX masehi
  • Kondisi : aus
  • Justifikasi : sikap arca duduk bersila, dengan sikap tangan kanan menyentuh lutut kanan. Rambut terurai (bergelombang), muka aus, memakai gelang lengan (keyura) motif tumpal segitiga dengan suluran, memakai gelang tangan (kankana) motif bunga, dan tangan kiri patah. Memakai kalung, ikat perut, dan kain sepaha.

 

  • Arca Penjaga
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/80

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 81 cm
    • Lebar : 60 cm
    • Tebal : 54 cm
  • Periodesasi : abad XIV – XIX masehi
  • Kondisi : utuh
  • Justifikasi : sikap arca bersimpuh diatas lapik, tanpa menggunakan mahkota, muka aus, sikap tangan ditekukkan agak kebelakang seperti sikap siap menyerang, tangann kanan membawa senjata, memakai ikat perut, kain sampai lutut dengan motif garis, uncal / kancut sampai ke lapik. Jika diperhatikan seksama muka arca berbentk seperti muka binatang (babi) terlihat sedikit goresan bentuk hidung dan taring yang panjang.

 

  • Arca Penjaga
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/81

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 90 cm
    • Lebar : 45 cm
    • Tebal : 40 cm
  • Periodesasi : abad XIV – XIX masehi
  • Kondisi : utuh
  • Justifikasi : sikap arca berdiri mengangkang di atas lapik dengan hiasan api, muka menyeramkan, mata melotot, mulut terbuka bertaring, memakai hiasan telingan (simping), badan gemuk perut buncit, tangan kanan membawa senjata, tangan kiri menyentuh lutut kiri. Memakai kain sebatas perut dengan uncal (kancut) lebar memanjang sapai lapik.

 

  • Arca Penjaga
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/82

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi             : 100 cm
    • Lebar              : 45 cm
    • Tebal              : 45 cm
  • Periodesasi : abad XIV – XIX masehi
  • Kondisi : utuh
  • Justifikasi : sikap arca berdiri mengangkang di atas lapik dengan hiasan bunga dan suluran, muka menyeramkan, mata melotot, mulut terbuka bertaring, memakai hiasan telinga (simping), badan gemuk perut buncit, tangan kanan membawa senjata (gada), tangan kiri menyentuh lutut kiri. Memakai kain sebatas perut dengan uncal (kancut) lebar memanjang sapai lapik.

 

  • Arca Penjaga
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/83

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 160 cm
    • Lebar : 65 cm
    • Tebal : 65 cm
  • Periodesasi : abad XIV – XIX masehi
  • Kondisi : utuh
  • Justifikasi : sikap arca berdiri mengangkang di atas lapik dengan hiasan api, muka menyeramkan, mata melotot, mulut terbuka bertaring, memakai hiasan telinga (simping), badan gemuk perut buncit, tangan kanan membawa senjata (gada), tangan kiri menyentuh lutut kiri. Memakai kain sebatas perut dengan uncal (kancut) lebar memanjang sapai lapik.

 

  • Arca Penjaga
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/84

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 93 cm
    • Lebar : 44 cm
    • Tebal : 41 cm
  • Periodesasi : abad XIV – XIX masehi
  • Kondisi : utuh
  • Justifikasi : sikap arca berdiri mengangkang di atas lapik dengan hiasan sulur daun-daunnan, muka menyeramkan, dengan mata satu melotot ditengah-tengah, mulut terbuka bertaring, memakai hiasan telinga (simping), badan gemuk perut buncit, sikap tangan kiri arca di depan perut bergerak mengangkat kain sehingga kemaluan dari raksasa terlihat jelas, tangan kanan berada di pinggang kanan lebar memanjang sapai lapik.

 

  • Arca Penjaga
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/85

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 86 cm
    • Lebar : 53 cm
    • Tebal : 40 cm
  • Periodesasi : abad XIV – XIX masehi
  • Kondisi : utuh
  • Justifikasi : arca berdiri mengangkang diatas lapik, rambut terurai, muka menyeramkan, mata melotot, mulut terbuka dengan taring terlihat, sikap kedua tangan arca memegang perut.

 

  • Menhir
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/86

  • Bahan : Batu Alam (andesit)
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi             : 84 cm
    • Lebar              : 19 cm
    • Tebal              : 24 cm
  • Periodesasi : tradisi megalitik
  • Kondisi : utuh
  • Justifikasi : Menhir pelinggih Ratu panji ini berdiri diatas sebuah pelinggih segi empat, bentuk batu monolit tinggi dan ramping, berdiri sendiri. Ada kemungkinan ini merupakan tradisi megalitik yang berlanjut sampai ke masa klasik Hindu di kalangan masyarakat Bali. Menhir ini terletak di bagian jeroan atau mandala utama Pura Kentel Gumi di depan meru.

 

  • Menhir
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/87

  • Bahan : Batu Alam (andesit)
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 70 cm
    • Lebar : 39 cm
    • Tebal : 22 cm
  • Periodesasi : tradisi megalitik
  • Kondisi : utuh
  • Justifikasi : Menhir ini berdiri diatas sebuah pelinggih segi empat, bentuk batu monolit tinggi dan ramping, berdiri sendiri, didampingi dua arca hewan sebagai penjaga. Ada kemungkinan ini merupakan tradisi megalitik yang berlanjut sampai ke masa klasik Hindu di kalangan masyarakat Bali. Menhir ini terletak di Pura masceti kentel gumi.

 

  • Arca Binatang (Tikus)
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/88

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 39 cm
    • Lebar : 34 cm
    • Tebal : 36 cm
  • Periodesasi : –
  • Kondisi : utuh
  • Justifikasi : arca ini merupakan arca binatang (tikus) yang difungsikan sebagai arca penjaga. Arca tikus ini berada di atas sebuah pelinggih segi empat bersama-sama dengan sebuah menhir yang terletak di Pura masceti Kentel Gumi. Sikap arca jongkok, kedua kaki depan berada di bagian kepala, kaki kanan memegang pipi dan kaki kiri memegang bagian moncong (mulut depan).

 

  • Arca Binatang (Tikus)
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/89

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 38 cm
    • Lebar : 29 cm
    • Tebal : 35 cm
  • Periodesasi : –
  • Kondisi : utuh
  • Justifikasi : arca ini merupakan arca binatang (tikus) yang difungsikan sebagai arca penjaga. Arca tikus ini berada di atas sebuah pelinggih segi empat bersama-sama dengan sebuah menhir yang terletak di Pura masceti Kentel Gumi. Sikap arca jongkok, kedua kaki depan berada di bagian kepala, kaki kanan memegang pipi dan kaki kiri memegang bagian moncong (mulut depan).

 

  • Arca Perwujudan Raksasi
  • No Inventaris : 1/14-05/BB/90

  • Bahan : Batu Padas
  • Warna : abu-abu
  • Ukuran
    • Tinggi : 100 cm
    • Lebar  : 31 cm
    • Tebal : 28 cm
  • Periodesasi : abad XIV – XIX masehi
  • Kondisi : utuh, ditumbuhi licen
  • Justifikasi : sikap arca berdiri, kaki agak ditekuk, atribut polos, hanya memakai kain pada bagian badan dan kain pada bagian kaki. Sikap tangan arca seperti memikul sesuatu. Kemungkinan arca ini berfungsi sebagai arca yang membawa tempayan yang berisi air. Tapi saat ini arca memikul sebuah batu, arca ini terletak di Pura maospahit Kentel Gumi.

 

Pembahasan

Dari hasil kegiatan pendataan, Inventarisasi dan pendokumentasian Cagar Budaya di Situs Pura Ketel Gumi dapat diketahui bahwa Pura ini memiliki empat Mandala (halaman), mandala luar, mandala tengah, dan mandala utama yang terdiri dari mandala utama dan mandala utama ning utama (mandala paling utama). Pada mandala luar terdapat beberapa toko (warung) milik dari masyarakat setempat. Pola pertamanan di mandala luar terlihat tersusun atau di kelola dengan baik, karena terdapat taman, tumbuh-tumbuhan yang hijau, dan pohon beringin yang melengkapi keasrian pura. Pada mandala madya terdapat bangunan berupa wantilan yang biasanya dipergunakan untuk kegiatan Dharma wacana, dan pesamuan (pertemuan) bagi para pengempon Pura Kentel Gumi. Pada mandala yang terdiri dari dua halaman yaitu, halaman semanggen dengan 5 bangunan utma, dan halaman penyucian dengan 6 bangunan utama. Pada mandala utama ning terbagi menjadi tiga halaman yaitu halaman Pura Maospahit dengan 8 bangunan, halaman Pura Agung Kentel Gumi 24 bangunan, dan halaman Pura Masceti 13 bangunan.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa dalam kegiatan Inventarisasi, dokumentasi, dan penetapan yang dilakukan di Pura Kentel Gumi, Desa Pakraman Tusan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, ditemukan arca-arca perwujudan, arca ganesha, arca Caturmukha, menhir, fragmen bangunan, dan Lingga.

Arca ganesha yang terdapat di Pura Kentel Gumi ini kondisinya tidak terlalu utuh, karakteristik arca menunjukan kesamaan abad sekitar abad XI – XV masehi. sikap arca duduk bersila  di atas lapik setengah lingkaran. Memakai mahkota (kiritamakuta) dengan sinar kedewataan (prabha). Bertangan empat, dua tangan belakang membawa laksana seperti tangan kiri belakang membawa genitri (tasbih), tangan belakang kanan membawa kapak (parasu), ke dua tangan depan patah. Terlihat memakai kain dari pinggang sampai mata kaki bersusun dua  dengan lipatan (wiru). Ganesa atau Ganapati digambarkan berbadan manusia dan berkepala gajah, hal ini dapat diketahui dari kakawin Semaradahana. Dalam agama Hindu terdapat kepercayaan bahwa Ganesa adalah Dewa ilmu pengetahuan dan penyingkir segala rintangan serta marabahaya, untuk perkembangan selanjutnya Ganesa dianggap sebagai Dewa kebijaksanaan.

Arca Caturmukha yang terdapat di Pura Kentel Gumi merupakan arca perwujudan dari Dewa Brahma, salah satu Dewa Trimurti. Dewa Brahma biasanya digambarkan bermuka empat (caturmukha), dan bertangan empat (caturbhuja). Wahananya (kendaraan) adalah angsa atau kereta (ratha) yang ditarik oleh tujuh ekor angsa. Selain itu dikatakan juga mempunyai wahana yang berbentuk bunga padma. Sikap tangan (mudra) yang dimiliki Dewa Brahma adalah abhayamudra (menentramkan), anjali-mudra (memuja), dan varamudra (memberi anugrah), sedangkan atribut atau laksana yang biasa dibawa oleh Dewa Brahma adalah aksamala (tasbih,genitri), bhiksapatra (piring sedekah), atau kapala (mangkuk sedekah), jatamakuta, kamandalu (kendi), lekhani (pena merah), majabhajana (tempat tirta), padma, pustaka (veda). Selain itu Dewa Brahma juga memakai atribut angkusa (angkus), cakra, danda (pemukul), anting-anting permata, dan lain-lain. Ada beberapa nama lain dari Dewa Brahma antara lain Astakarna (bertelinga delapan), Caturmukha (empat muka), Hansavahana (berkendaraan angsa), (Liebert,1976; Gupte,1972: 26-27).    Gambaran Dewa Brahma memiliki empat kepala yang menghadap empat penjuru (arah), menyatakan empat veda, empat yoga (siklus waktu). Biasanya wajahnya memiliki janggut dan mata tertutup (sikap meditasi), dengan ke empat tangannya memegang benda-benda serta dalam sikap yang berbeda pula.

Arca Caturmukha di Pura Kentel Gumi ini berdiri diatas lapik padmaganda, sikap ke dua tanga depan dhyanamudra membawa kuncup padma, tangan kanan belakang membawa agni, tangan kiri belakang membawa camara. Terlihat memakai kain dari pinggang sampai mata kaki bersusun dua  dengan lipatan (wiru). Kalau diperhatikan Arca Caturmukha ini agak sedikit menyimpang dari ciri-ciri ikonografi Dewa Brahma, terlihat dari sikap ke dua  tangan depannya dhyanamudra di depan perut dan membawa padma (sebagai lambang pelepasan jiwa). Dari hal ini dapat dikatakan bahwa arca Caturmukha ini adalah arca perwujudan dari Dewa Brahma, hanya saja yang menjadi permasalahan disini adalah tokoh atau raja siapa yang diwujudkan sebagai Caturmukha. Karakter arca Caturmukha ini hampir sama dengan karakter arca Caturmukha yang terdapat di Pura Batas  Getakan, Maduang Banjarangkan, Pura Subak Taulan dan Pura Penataran Sasih yang berasal dari abad XI – XV Masehi.

Ditemukan dua lingga di Pura Kentel Gumi, lingga ini merupakan lambang dari Dewa Siwa. Lingga ini terbuat dari batu padas, hanya saja salah satu linnga ini mengalami proses yang disebut Bajralepa, sebuah proses penghalusan dan pembekuan sehingga lingga terlihat sangat licin seperti berbahan logam. Lingga Bajralepa ini memiliki hiasan mata ketiga dari Dewa Siwa, lingga ini lengkap terdiri dari tiga bagian yaitu bagian bawah (dasar) segi empat Brahmabhaga, bagian tengah segi delapan Wisnubhaga, dan bagian atas (bulatan) Siwabhaga. Kata Lingga berasal dari bahasa Sansekerta, disamping arti yang lainnya lingga berarti “phallus, kemaluan laki-laki”. Dikatakan bahwa ltara lain berarti simbol atau lambang jenis kelamin laki-laki. Lingga juga berarti sebagai perwujudan Dewa Siwa, sebagai phallus, dan biasanya palllus (lingga) ditempatkan di atas vulva (yoni), yoni berarti simbol alat kelamin wanita atau vulva sebagai simbul unsur wanita.

Diketahui bahwa pemujaan terhadap Siwa dalam bentuk lingga dapat diketahui dari prasasti Dinoyo yang berangka tahun 760 M, pada jaman pemerintahan raja Gajayana dari kerajaan Kanjuruhan di Jawa Timur. Kemudian di Bali banyak juga ditemukan yang memberikan petunjuk bahwa pada masa lampau di Bali rupanya pernah berkembang suatu sekte yaitu sekte Pasupata, namaun saat ini sekte ini sudah tidak berkembang lagi di Bali. Disebutkan bahwa pengikut Siwa adalah Kusika, Gorgya, Mitra, kaurasya, dan Patanjali. Pemujaaan terhadap lingga atau phallus dalam bentuk yang lebih alamiah sebagai lambang Siwa merupakan ciri atau tanda khas Pasupata yang lebih kuna (Goris, 1974:14-15). Khususnya di Bali Lingga terbuat dari bahan batu yang disebut dengan Linggapala.

Arca perwujudan adalah arca yang paling banyak ditemukan di Pura Kentel Gumi dibandingkan dengan arca-arca lainnya. Arca perwujudan ini dengan tanda-tanda yaitu memegang bulatan (kuncup bunga atau bunga mekar) yang melambangkan pembebasan jiwa atau roh. Menurut Moens, bunga mekar atau kuncup (lotus rozet atau lotus knop) yang ada di tangan arca-arca perwujudan itu melambangkan pelepasan jiwa atau roh orang yang meninggal dari hal-hal yang mengikatnya dengan dunia fana (Moens, 1917:489-499). Arca perwujudan ini biasanya dibuat setelah seseorang melalui proses upacara tertentu yang disebut upacara Sradha (ngasti). Namun yang menjadi pertanyaan disini adalah siapakah tokoh-tokoh yang diwujudkan sebagai arca perwujudan, kiranya perlu diadakan penelitian yang lebih mendalam dengan menggunakan berbagai suber, antara lain prasasti. Namun ada beberapa arca yang memiliki sikap tangan yang berbeda tanpa membawa kuncup bunga atau bunga mekar seperti arca No: 21,38,43,54,57,59,61,66,71,72, sikap tangan arca-arca ini didepan perut dan kesepuluh jari disatukan seperti membentuk kencup, ujung-ujung jari mengarah ke atas dada (dada tengah), sikap tangan seperti ini dapat dilihat juga di Situs Pura Besakih Kramas Gianyar, hanya saja arca-arca yang terdapat di Pura Besakih Kramas adalah arca-arca tipe Polinesia dari jaman prasejarah tradisi Megalitik. Ada kemungkinan maksud dan tujuan dari sikap tangan ini adalah sebuah simbol pelepasan jiwa atau roh dari yang telah meninggal. Selain itu atribut dari arca-arca yang terdapat di Pura Kentel Gumi ini memiliki kesamaan yang mungkin berasal dari periode yang sama. Ada suatu kesimpulan bahwa arca-arca yang terdapat di Pura Kentel Gumi ini berasal dari periode yang berbeda namun berkelanjutan berkisar abad XI sampai dengan XV masehi. Ada juga sikap tangan yang terlihat seperti mengepal di depan perut seperti arca No: 60. Selain arca-arca perwujudan terdapat juga arca penjaga, yang kalau dilihat dari karakteristik arcanya berkisar dari abad belakangan sekitar abab XIV – XIX masehi masehi.

artanegara

Balai Pelestarian cagar Budaya Bali Wilayah Kerja prov. Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur Jalan Raya Tampaksiring, Bedulu, Blahbatuh, Gianyar, Bali 80581 Telepon (0361) 942347, Fax (0361) 942354 e-mail: bpcbbali@kemdikbud.go.id dan bp3_bali@yahoo.com

Leave a Reply