Candi Banyunibo (Foto: Dok. BPCB DIY 2022)
Candi Banyunibo (Foto: Dok. BPCB DIY 2022)

De vlakte van Soro Gedoeg breidt zich in den vorm van een halven cirkel uit, waarvan de Opak de middellijn, het gebergte den omtrek vormt. Hier en daar liggen enkele steenachtige heuvels verspreid, van welker toppen zich vriendelijke vergezichten voor het oog ontrollen.

Dikutip dari J.W. Ijzerman  dalam Beschrijving der Oudheden nabij de grens der residenties Soerakarta en Djogdjakarta (1891)

     Dataran Soro Gedoeg memanjang berbentuk setengah lingkaran, di mana Opak membentuk garis tengah, pegunungan melingkari. Tersebar di sana-sini beberapa bukit berbatu, dari puncaknya pemandangan ramah terbentang di depan mata. Begitulah terjemahan bebas dari tulisan di atas.

     Catatan masa Hindia Belanda yang ditulis J.F.G Brumund, J.W. Ijzerman dan N.J Krom dengan jelas menyebutkan banyaknya temuan tinggalan arkeologi di wilayah ini. Ijzerman dan Krom bahkan membahas dalam satu subbab tersendiri yaitu Vlaakte van Soro Gedoug. Kutipan di atas adalah kalimat pembuka pada subbab  yang ditulis oleh J. W. Ijzerman.

Peta dan tinggalan arkeologi di Dataran Sorogedug diolah dari Atlas Beschrijving der Oudheden nabij de grens der residenties Soerakarta en Djogdjakarta (1891) karya J.W Ijzerman (Foto: Dok. BPCB DIY 2022)

     Ada sejumlah sumber dari masa Hindia Belanda yang membahas tentang Dataran Sorogedug. Sumber tersebut berasal dari tahun yang berbeda. Sumber pertama adalah Indiana. Verzameling van stukken van onderscheiden aard, over Landen, Volken, Oudheden en Geschiedenis van den Indischen Archipel II (1854) yang ditulis oleh J.F.G. Brumund. Sumber kedua adalah tulisan J.W. Ijzerman, Beschrijving der Oudheden nabij de grens der residenties Soerakarta en Djogdjakarta (1891). Sementara, sumber ketiga adalah tulisan dari Nicolaas Johannes Krom, Inleiding Tot De Hindoe-Javaansche Kunst (1920). Tulisan dari Ijzerman dan Krom, menggunakan tulisan dari Brumund sebagai rujukan dan menambahkan kondisi saat mereka berkunjung.

Vlaakte van Soro Gedoug (Dataran Sorogedug)

     Dataran Sorogedug merupakan nama dataran yang ada di sebelah selatan Kawasan Candi Prambanan. Daerah ini secara administratif saat ini   sebenarnya masuk dalam Kapanewon Prambanan. Penyebutan Dataran Sorogedug telah dimulai sejak masa kekuasaan Belanda.

     Berdasarkan penelitian geologi, disebutkan bahwa stratigrafi tanah dataran Sorogedug terisi oleh endapan lempung dan endapan pasir yang bertumpu pada batuan klastika gunung api. Stratigrafi ini termasuk dalam Formasi Semilir. Penjelasan ini dituliskan Bernadeta Subandini Astuti dalam artikel Genesis Endapan Lempung Daerah Sorogedug dan Sekitarnya, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

     Proses pengendapan ini diperkirakan terjadi sebelum abad ke-8 Masehi. Pengendapan ini kemudian membentuk dataran kering. Awal pembentukan endapan lempung terjadi pada Kala Pleistosen Tengah.

     J.F.G. Brumund menyebut bahwa dataran ini merupakan kota kuil. Penyebutan ini menunjukkan bahwa pada pertengahan abad ke-19, kondisi daerah ini masih banyak dijumpai candi. Candi inilah yang diidentifikasi sebagai kuil oleh Brumund.

     Ijzerman menyebutkan jika di sejumlah desa yang ada di dataran ini banyak ditemukan sisa bangunan yang indah. Sayangnya sisa bangunan tersebut tidak cukup untuk menggambarkan bentuk bangunan yang sesungguhnya. Sisa bangunan hanya berupa tumpukan reruntuhan yang menyedihkan.

     Sebagian dari peninggalan purbakala tersebut masih berdiri pada tahun 1850-an. Namun, pada akhir abad ke-19, saat Ijzerman berkunjung, bangunan sudah runtuh. Reruntuhan tersebut meninggalkan lubang-lubang yang menandai bahwa bangunan suci itu pernah berdiri di sana.

Candi Abang (Foto: Dok. BPCB DIY 2018)

     N.J Krom menegaskan hal yang sama. Bahwa peninggalan purbakala di dataran ini masih ada pada 70 tahun sebelum bukunya yang berjudul Inleiding Tot De Hindoe-Javaansche Kunst terbit tahun 1920 atau sekitar tahun 1850-an. Pada tahun 1909 sisa-sisa bangunan terakhir dikorbankan untuk pembangunan bendungan.

     Krom juga memiliki interpretasi bahwa banyaknya bangunan suci menunjukkan karakteristik dari daerah ini. Daerah ini memiliki karakteristik sebagai kota permukiman. Karakteristik ini lebih kuat daripada daerah lainnya. Hal ini dikarenakan  banyaknya sisa bebatuan yang tersebar di daerah ini.

     Interpretasi Krom ini kemudian dibuktikan oleh arkeolog Indonesia, Mundardjito melalui disertasinya yang berjudul  Pertimbangan Ekologis Penempatan Situs Masa Hindu-Buda di Daerah Yogyakarta. Tulisan tersebut menyebutkan jika situs-situs yang berada di Dataran Sorogedug ini berada di atas jenis tanah kambisol. Penempatan ini ternyata lazim dilakukan pada masa lalu.

     Jenis tanah kambisol dan regosol, lebih banyak digunakan untuk menempatkan pusat kegiatan komunitas masa lalu dibanding jenis lainnya. Hal ini dikarenakan tanah kambisol maupun regosol memiliki kesuburan yang tinggi dan sesuai untuk lahan pertanian.

Situs Watugudig (Foto: Dok. BPCB DIY 2018)

     Sejumlah peninggalan arkeologis di kawasan ini yang disebutkan Ijzerman maupun N.J. Krom antara lain Candi Ngaglik, Batoe Goedik (penamaan Situs Watugudig dalam laporan masa Belanda), dan 3 Candi Joboan (Candi Keblak, Candi Bubrah, dan Candi Singo). Tinggalan lainnya adalah Candi Abang, Gua Sentono, Candi Tindjon, Sawoe, Krapyak, Nogosari, Grimbyangan, Polengan, Semarangan Utara, Polangan dan Banyunibo.

Epilog

     Nama Dataran Sorogedug sekarang memang tidak lagi dikenal oleh masyarakat luas. Nama Sorogedug saat ini masih dijumpai sebagai nama dua padukuhan yang ada di desa Madurejo, Kapanewon Prambanan. Nama padukuhan tersebut adalah Sorogedug Lor dan Kidul.

     Sementara, tinggalan arkeologi yang diuraikan di atas tersebar di berbagai desa yang ada di Kapanewon Prambanan. Bahkan, ada juga tinggalan yang masuk di Kapanewon Berbah, yaitu Candi Abang dan Gua Sentono. Jumlah tinggalan arkeologi yang cukup banyak ini menunjukkan nilai penting dari daerah ini.

     Semua tinggalan arkeologi tersebut telah masuk dalam laporan Herinventarisasi yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta secara rutin. Tulisan ini menjadi bagian dari upaya mendokumentasikan nilai penting dari daerah (yang dahulu disebut) Dataran Sorogedug. 

Goa Sentono (Foto: Dok. BPCB DIY 2014)

Ditulis oleh Shinta Dwi Prasasti, S.Hum., M.A.

Pengelola Data Cagar Budaya dan Koleksi Museum

di Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta