Moehammad Soelaiman

0
13418

“Juga kamu, Saudara Moh Soelaiman harus diketahui oleh umum sebagai seorang kawan yang mencukupi akan perintah kita meskipun hampir selamanya hanya kamulah yang menerima kesalahannya. Maka apakah sebabnya hampir semuanya kamu saja yang menderita kena getahnya sedang kita merasaka nangkanya ” (van derVeur, 1984). Kurun waktu sampai tahun 1985, keluarga besamya hampir tidak memiliki riwayat hidup Soelaiman, apalagi mengetahui keterlibatannya dalam pendirian Boedi Oetomo. Soelaiman yang kemudian dikenal sebagai dr Moh Soelaiman, pada masa lalu nampaknya memilih menyembunyikan rapat- rapat kisah pergerakannya kepada putra dan putrinya.

Hal ini kemungkinan besar merupakan strategi Soelaiman pada era pemerintahan kolonial agar anak-anaknya dapat tumbuh berkembang dan mengenyam pendidikan dengan baik tanpaterpengaruh bayang-bayang sepak terjang pergerakan yang pemah dilakoninya. Penelusuran sejarah, baru dimulai ketika keluarga besar / dr Moh Soelaiman terhenyak setelah membaca tulisan di harian Kompas, edisi 19 Mei 1985, yang memuat tulisan tentang Boedi Oetomo.

Dalam tulisan itu disebutkan dengan jelas nama Soelaiman termasuk salah satu pendiri organisasi kebangsaan pertama di Indonesia itu. Karena rentang perbedaan generasi dan usia, putra-putri Soelaiman pun kesulitan mengenali sosok foto ayahnya pada tahun 1908 yang terpampang di harian tersebut. Beruntunglah, salah seorang putrinya secara samar-samar dapat menunjukkan sosok ayahnya. Putra-putri dr Moh Soelaiman pun yakin bahwa nama-nama lain yang disebut pada harian tersebut adalah teman-teman ayahnya yang mereka kenal sejak kecil. Teman- teman ayahnya yaitu dr Soetomo, dr Angka, dr Soeradji dan dr Goembrek, yang terus menjalin hubungan satu sama lain hingga akhir hayatnya.

Tulisan pada harian Kompas tersebut memang tidak secara spesifik menulis ten tang Moh soelaiman, apalagi secara lengkap dan panjang lebar. Tokoh yang satu ini mempunyai ciri khas tersendiri. Soelaiman sering bergerak di belakang layar. Sifatnya agak pendiam, namun sebenamya ia seorang idealis. Apakah karena itu ia terpilih sebagai wakil ketua Boedi Oetomo saat pertama berdiri? Akira Nagazumi memang menyebut Soelaiman sebagai wakil ketua Boedi Oetomo. Bagaimanapunaktivitas Soelaiman pada masa awal Boedi Oetomo amat kuat. Mengenai Moh Soelaiman, Soetomo pemah menulis: “Karena di antara kita tidak ada yang berani melarikan diri dari sekolah karena tidakantara kita yang begitu mal as akan mendengarkan guru kita, sebagai saudara tuan dokter Soelaiman itu. Kemalasan akan mendengarkan pembicaraan guru di dalam kelas dipergunakan untuk melayani keperluan perkumpulan kita. Saudara Soelaiman meskipun terkenal di dalam kelas sebagai salah satu di antara kita yang cair sekali otaknya, tetapi karena malasnya maka tiadalah begitu tampak kepandaiannya, sebab kerap kali benar tiada dapat menjawab akan pertanyaan guru yang diceritakan padanya. Betul ia mengetahui apa yang tersebut dalam buku-buku, tetapi apa yang dibicarakan oleh guru, pengalaman di dalam praktik daripadanya, acap kali tiada diketahui olehnya, karena tempo untuk belajar antara lain dipergunakan olehnya buat keperluan perkumpulan kita. ”

Ada sebuah petunjuk yang mengarah ke masa hidup Soelaiman, yaitu ditemukannya sebuah surat otentik yang ditulis Prof dr Sardjito pada tahun 1967. Dalam surat itu dikatakan bahwa dr Moh Soelaiman adalah ayah dari dr Suliantoro Sulaiman, dokter di Yogyakarta. Dari sinilah dimulainya babak penelusuran riwayat hidup Soelaiman oleh keluarganya. Tennasuk ditelusuri pula kepergiannya ke Leiden, Belanda, untuk menempuh gelar doktor. Hingga tahun 1988 melalui jalur diplomatik Kedutaan Besar Belanda, berhasil ditemukan kebenaran fakta bahwa dr Moh Soelaiman berhasil menyelesaikan pendidikan doktomya ./ di Leiden dengan disertasinya tentang penyakit kolera. Riwayat hidup Soelaiman akhimya diteliti secara ilmiah oleh peneliti dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Ariani Ratna Budiati, SS, dengan hasil penelitiannya diberi judul: “Dari Purworejo hingga Leiden: Sebuah Biografi Mas Mohammad Soelaiman.” Hasil penelitian ini telah diseminarkan secara terbuka 15 Juni 2005 di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, dihadiri ahli-ahli sejarah dan pengamat budaya nasional. Berikut rangkuman riwayat dr Moh Soelaiman yang disarikan dari hasil penelitian tersebut.

Masa Kecil Soelaiman

Moehammad Soelaiman dilahirkan di Grabag, Kemutihan, Purworejo, Jawa Tengah, tahun 1886. Memiliki nama kecil Sleman. Ayahnya, Sonto Wirok (Sonto Suwondo), seorang ketib, pemuka agama yang sering berdakwah ke desa- desa, hingga wilayah Banyumas dan keturunan Haji Baelawi,penghulu Masjid Besar Poerworejo atau hoofdpengulu (hakim penghulu). Ayahnya wafat ketika Soelaiman masih kecil, dan selanjutnya Soelaiman hidup bersama kedua adiknya di bawah asuhan ibunya. Wawasan hidup sederhana terpatri erat dalam sanubari Soelaiman, menghormati orang lain, hormat kepada yang lebih tua maupun sesama, membuat Soelaiman bisa dekat dengan semua kalangan. Sejak 1891 pemerintah kolonial membuka peluang bagi para pemuda untuk menempuh pendidikan gratis di Eurepesche Lagere School (ELS) dan dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah dokter Jawa, dengan persyaratan priayi, cerdas, bisa berbahasa Belanda, dan belum berusia tujuh tahun. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Soelaiman. Meski belum genap tujuh tahun, Soelaiman kecil yang tumbuh di lingkungan keluarga priayi masa itu, tentunya cukup mengerti berbahasa Belanda. Masa pendidikannya di Eurepesche Lagere School (ELS) di Purworejo dimulai sekitar tahun 1893/1894. Meski rumahnya cukup jauh, setiap hari Soelaiman berjalan kaki berangkat dan pulang sekolah bersama teman-temannya atau menumpang gerobak warga jika kebetulan sejalan.

Masa di STOVIA

Usia 16 tahun, Soelaiman lulus dari Eurepesche Lagere School (ELS). Soelaiman remaja menyadari, kungkungan masyarakat kolonial hanya dapat ditembus dengan peningkatan kualitas manusia Jawa waktu itu melalui pendidikan, membuatnya mantap memasuki gerbang School Tot Opleiding van Indlansche Artsen (sekolah dokter) atau STOVIA di Jakarta, 1 Maret 1903. Meninggalkan Purworejo dan memasuki Weltreveden, Batavia, membuat pengetahuan dan wawasannya bertambah luas. Soelaiman dikenal sangat cerdas, seperti en lopende woordenboek (sebuah kamus berjalan), jika teman-temannya belajar bersama, Soelaiman tiduran saja, tetapi kalau ujian lulus dengan nilai yangtinggi, demikian dikisahkan oleh Prof dr Sardjito kepada salah satu anak Soelaiman, saat menceritakan masa lalu di STOVIA pada sebuah pertemuan di Yogyakarta. Dengan teman-temannya itu, Soelaiman pun sering terlibat diskusi tentang kebangsaan dan gejolak pergerakan, / hingga sejarah pun mencatat keterlibatanya pada pendirian Boedi Oetomo tahun 1908 sebagai wakil ketua. Pada kongres Pertama Boedi Oetomo, 3-5 Oktober 1908, di Yogyakarta, Soelaiman ikut hadir.

Tahun 1911, terjadi wabah penyakit pes di pulau Jawa. Atas permintaan pemerintah Hindia Belanda, STOVIA diminta mengirirnkan sembilan siswa terbaiknya dari bagian kedokteran tingkat tertinggi untuk menangani wabah pes tersebut. Soelaiman salah satu yang terpilih, bersama dengan Raden Mas Goembrek Raden Soetomo, Mas Gunawan Mangoenkoesoemo, Ma~ Ramelan Tirtohoesodo, Mas Mohammad Saleh, JA Latumeten, AB Andu, dan Mas Slamet. Siswa-siswa STOVIA ini langsung dilantik menjadi inlandsh arts, dokter pribumi dan diberi ijazah tanpa ujian pada 11 April 1911.

Pencinta Seni Budaya

Tanggal 22 Agustus 1911, dr. Moehammad Soelaiman ditugaskan pertama kali sebagai dokter di Madiun. Di kota ini ia bertemu dengan RA Oemi Salamah, gadis muda belia, putrijaksayang kemudian dinikahi pada tahun 1915. Pekerjaan sebagai dokter sering berpindah-pindah, me-liputi daerah Ponorogo (1915-1916), Karangasem Bali, Lombok (1917-1919), Nganjuk (1919-1923) hingga Jember (1923-1927). la dikaruniai enam anak dengan kota kelahiran yang berlainan pula. Sulendro, putra pertama lahir di Ponorogo (1915). Sulianti, lahir di Karangasem Bali (1917). Suliana, lahir di Nganjuk (1919). Sulianto lahir di Nganjuk (1921). Suliantoro lahir di Madiun (1922), dan Suliantono lahir di Jember ( 1924). Tugasnya sebagai dokter pribumi yang harus berpindah dari satu daerah ke daerah lain telah mendekatkannya pada rakyat kecil, dekat dengan pelajaran hidup dan kemanusiaan. Soelaiman, yang walau sangat maju pikirannya tetap seorang Jawa tulen yang men genal dan menghayati kebudayaannya,seorang yang serius dan bersahaja, tekun dan pekerja keras, dermawan dan merakyat, pendiam, tapi penuh strategi dan selalu berupaya memberikan pendidikan yang lebih baik bagilingkungan di sekitamya, dengan cara memberikan tempat tinggal dan menyekolahkan anak yang tak mampu sebagai anak asuh di mana pun kalau bertugas. Ketika berkeinginan melanjutkan belajar untuk meraih gelar doktor ke negeri Belanda, ia mempersiapkan diri sangat baik dengan menabung sehingga akhimya dapat berangkat atas biaya sendiri. Walaupun sebenamya termasuk salah satu dokter yang mendapat beasiswa dari Pemerintah Belanda, karena rasa harga diri kebangsaan yang tinggi membuatnya menolak tawaran beasiswa terse but dan memutuskan membiayai sendiri untuk pergi ke Belanda.

Pada tahun 1927, ia berangkat ke Belanda dengan kapal api yang memakan waktu lama. Isterinya, RA Oemi Salamah, dan tiga anaknya pun dibawa serta. Sedangkan tiga anaknya yangmasih kecil dititipkan di rumah orangtua istrinya di Madiun. Se1ama tiga tahun di Negeri Belanda, tiga anaknya sekolah pula, dan istrinya diberi kesempatan belajar ke Konservatorium~ Amsterdam jurusan piano, mengikuti pendidikan desain, modelling, coupeuce dan corsage. Kelak, RA. Oemi Salamah sepanjang hayatnya di Yogyakarta mengembangkan seni musikdan tata busana, memprakarsai pendirian sekolah musik pertama di Yogyakarta, serta mendukung berdirinya Pehimpunan Ahli Perancang Mode Indonesia. Saat jauh di negeri orang, perjuangan untuk mengangkat harkat bangsa selalu dilakukan. Dr Moh Soelaiman juga aktif di organisasi mahasiswa Indonesia, salah satunya lewat Roekoen Peladjar Indonesia (ROEPI). Para anggotanya sering melakukan penggalangan dana untuk Tanah Air, pemah menyelenggarakan pertunjukan amal untuk menggalang dana bagi korban bencana Gunung Merapi yang meletus dahsyat, dengan menggelar kesenian Jawa, wayang orang, dengan lakon “Mustokoweni.” Dr Moh Soelaiman lulus dari Universitas Leiden dan diwisuda sebagai doktor pada 31 Mei 1929, dengan disertasi doktor spesialis penyakit kolera. Dokter Moh Soelaiman memilih mendalami penyakit kolera yang membahayakan rakyat Indonesia saat itu, kondisi yang sama seperti dulu ketika terjun di daerah wabah pes di Malang. Sekembalinya ke tanah air, ia ditugaskan di Jepara sejak tanggal 29 Juli 1929, tetapi pekerjaan yang ditugaskan di tengah masyarakat sesudah mendapat gelar doktor, di Jepara itu hanya beberapa tahun. Kemudian dipindahkan ke Semarang, 17 Maret 1934 bertugas di rumah sakit Semarang (sekarang RS. Dr. Kariadi) dan menjadi dokter bedah mayat, yang tampaknya merupakan taktik isolasi pemerintah kolonial, agar tidak sering berhubungan dengan masyarakat banyak. Dan ditugaskan pula J/ sebagai dokter di penjara wanita Bulu. Pada tanggal 1 Januari 1938, secara resmi Dr Moh. Soelaiman bersama Dr Mohamad Rasyid sebagai Gouvernements Ins eh Artsen (dokter pemerintah Hindia) di Semarang. Ketika bertugas di kota ini, semangat dan tujuan mulia gerakan Boedi Oetomo terus dijalankan. Terutama membuka kesempatan yang sama bagi semua pihak baik kaya, miskin, priayi ataupun rakyat biasa. la meyakini bahwa pendidikan dan peningkatan kualitas anak bangsalah yang bakal memajukan negara. Saat di Semarang juga tetap berjuang untuk nasib rakyat kecil, dengan memiliki banyak anak asuh yang disekolahkan karena kesulitan biaya. Di Semarang, juga membuka prakter dokter di Jalan Karenweegh No 8 (sekarang Jl Dr Cipto Mangunkusumo), sekaligus sebagai rumah yang ditinggali keluarganya dan rumah sebelahnya digunakan pula untuk para pemuda sebagai anak asuh. Selain bergerak di bidang kedokteran dan pendidikan anak-anak asuh, rasa kebangsaannya ditunjukkan dengan menaruh perhatian di bidang budaya lingkungan Jawa, mengembangkan kesenian karawitan Jawa di Semarang dan gemar melihat pertunjukan wayang kulit. Selain itu ia juga mengembangkan Siaran Radio Pribumi, yang ada siaran kesenian Jawa yang disukai oleh rakyat pribumi. Di saat-saat Perang Dunia II pecah, pemerintah kolonial konon melepaskan politik etis dan kembali bersikap keras menanggapi perubahan dalam gerakan tokoh-tokoh pribumi. Moh Soelaiman wafat 13 Maret 1941, mendadak menderita sakit setelah melihat pertunjukan wayang kulit di Kudus atas undangan sahabat dan kolega Dr Ramelan, yang pada waktu itu menjabat sebagai kepala rumah sakit Kudus.

Soelaiman dimakarnkan di kompleks pemakaman pendahulu Purworejo, Kayu Lawang Purworejo, berdampingan dengan makam ibunya. / Pendidikan untuk bersaing dengan bangsa Eropa dan memperjuangkan persamaan martabat dengan kekuatan sendiri merupakan tekad bulat Soelaiman. Pemikiran yangjarang dimiliki orang di masa itu. Sebelum wafat, ia telah mempersiapkan bekal pendidikan pada semua anaknya. Empat anaknya masuk sekolah dokter, di STOVIA dan di NIAS Surabaya; seorang masuk ke sekolah pertanian dan seorang ke sekolah guru. Putra pertama, Sulendro Sulaiman, dapat masuk ke Bond Sepakbola Belanda karena mempunyai postur tinggi badan 185 cm, merupakan kebanggaan Jakarta waktu itu karena setaraf dengan pemuda- pemuda Belanda; dan termasuk salah satu dari 100 orang Jakarta yang terkenal. Putri kedua, putra keempat dan kelimanya, mengikuti jejak sebagai dokter yaitu: ProfDr Sulianti Saroso (alm), pada 1975 menerima tanda penghormatan Bintang Maha Putra Pratama dari Presiden RI. Dan atas kesetiaan danjasa-jasanya, setelah meninggal namanya diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Khusus Penyakit Infeksi di Jakarta, yaitu: RS Prof Dr Sulianti Saroso. Putra-putranys yaitu Drs Med Sulianto Sulaiman (alm) di Jakarta dan Dr Suliantoro Sulaiman (alrn), dokter spesialis penyakit kulit dan kelamin di Yogyakarta.

Sebelum proklamasi kemerdekaan putra-putranya tersebut, Sulianto dan Suliantoro adalah penghuni asrama Prapatan-lO Jakarta, yang dikenal sebagai temp at berkumpulnya pelajar pejuang perintis kemerdekaan. Setelah proklamasi mereka bergabung dalam barisan Tentara Pelajar, dan juga bergabung pula putra bungsunya Suliantono Sulaiman di Yogyakarta. Sulianto Sulaiman dikenal sebagai laison Tentara Pelajar Republik Indonesia Brigade XVII di Yogyakarta. Rumah keluarga peninggalan RA Oemi Salamah di 11 Pakuningratan Yogyakarta dijadikan markasnya, dan sampai sekarang rumah tersebut dilestarikan dan dilindungi Undang-Undang sebagai Cagar Budaya Bersejarah “Markas Tentara Pelajar.”