Goenawan Mangoenkoesoemo

0
12801

Goenawan Mangoenkoesoemo

 

Tokoh yang satu ini sangat dekat dengan Soetomo. Itulah sebabnya, dalam tulisannya ten tang Goenawan, Soetomo menguraikan panjang lebar berbagai kesan dan kenangannya, sebagai berikut:”Tuan ini adalah salah seorang dari sekretaris saya. Mas Goenawan Mangoenkoesoemo, seperti hampir semua dari keluarganya mempunyai pekerti dan rasa akan bahasa Belanda, ditambah dengan temperamennya (tangkasnya), maka tulisan- tulisannya dapat menggembirakan kawan, membuat panas hati dan merah telinga lawan-Iawannya. Sebagai keturunan Tjitrosoemo, sudah selayaknya Mas Goenawan ini adalah seorang pahlawan kita yang gemar pada keadilan dan kemerdekaan. Perasaan persamaan, semboyan dari kaum demokrasi, sungguh-sungguh hidup di dalam hati sanubarinya. Mengingati tabiatnya ini, tidak mengherankan kalau waktu berumur kira-kira 15 tahun dia sudah bertukar pikiran dengan orang-orang yang senang melihat perubahan keadaan adat-istiadat dan cara di dalam masyarakat kita. Polemik ini berturut-turut dilakukan di dalam suratkabar harian Java Bode. Mas Goenawan menyatakan sama sekali tidak setuju terhadap peraturan benuman bupati yang berdasarkan kekolotan, ketidakadilan, dan seterusnya.

Sejak kelahiran Boedi Oetomo (1908) sampai wafat tahun 1929, Goenawan makin lama makin erat hubungan dengan saya, sampai-sampai tuan Tjipto Mangoenkoesoemo mengatakan, “Soetomo sekarang telah kehilangan dalangnya.” Pemyataan itu ada benamya, karena dr GoenawanMangoenkoesoemo yang senantiasa surat-menyurat dengan kakaknya itu selalu melukiskan perasaan dan pikirannya yang hampir tidak pemah berselisih dengan perasaan saya yang sayabentangkan di muka umum. Perasaan yang sama antara saya dan dia, terbukti dengan beberapa surat yang saya kirimkan kepadanya dan yang saya terima darinya. Siapakah gerangan yang menyuruh kita, maka berdua melukiskan perasaan dan kemauan yang tidak berbeda ini? Jawabkita yang mengherankan, karena persamaannya ialah bahwa de Lucht is zwanger van deze gedachten en ideen: Karena, udara penuh dengan pemikiran dan ide ini.

Goenawan selalu diberi tugas untuk mengubah pikiran orang-orang terhadap pergerakan kita melalui tulisan-tulisannya. Dengan gembira, dia menjalankan kewajiban itu, dengan gembira mengorbankan tenaga dan pikirannya. Pemah sebagai ketua perkumpulan, saya akan dikeluarkan dari sekolah dokter, karena sebagian guru menuduh saya hendak melawan pemerintah. Seketika itu juga dengan anjuran dr Goenawan, kawan-kawan kita juga minta dilepas dari sekolah bila saya benar-benar dikeluarkan. Untung bagi saya, direktur dari sekolah itu adalah dr HF Roll memiliki pandanga dan pikiran yang luas. Di dalam rapat guru-guru, direktur itu bertanya kepadateman sekerjanya, “Apakah di antara tuan-tuan yang hadir di sini tidak ada yang lebih marah dari Soetomo waktu tuan-tuan berumur 18 tahun?” Pengaruh pertanyaan itu memberi manfaat pada diri saya. Teman-teman saya yang sepaham menyatakan, “Soetomo sebagai ketua wajib menyatakan di depan umum perasaan dan kemauan yang dikandung dalam hati sanubari kita; kalau ia dikeluarkan, maka haruslah kita yang sama keyakinan dan perasaan pun dikeluarkan. ” Solidaritas semacam ini jarang saya temui lagi di dalam hidup saya. Sampai pada Boedi Oetomo diserahkan kepada orang- orang dewasa yang mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang sepadan dengan kewajiban terhadap perkumpulan ini, maka kita kaum muda, anak-anak sekolah, dokter, anggota- anggota dari Boedi Oetomo menyatakan persatuan yang sampai kini hampir tidak ada bandingnya.

Goenawan Mangoenkoesoemo tidak dapat hidup dengan senang dan puas di dalam masyarakat seperti dalam tumpah darah kita ini. Di mana beliau ditempatkan, di situ tampaklah oleh beliau keadaan-keadaan yang ganjil yang menyakitkan dan menyedihkan sebab itulah beliau tidak suka bekerja di tanah Jawa, meskipun barangkali karena cinta kasih dan sayangnya pada bangsanya. Goenawan bersemboyan Indonesia bersatu, tetapi karena ketika kecil hidup di tanah Jawa, maka keadaan di tanah inilah yang mudah sekali menggerakkan perasaan dan pikirannya. Agar perasaannya tidak terganggu, maka dia lebih senang tinggal di luar tanah Jawa. Sebagai seorang ind arts, seorang ambtenaar, saudara kita ini tidak dapat berhubungan erat dengan ambtenaren dari golongan lain. Hanya beberapa priayi dari golongan onderwijs saja yang seakan-akan dapat mengimbangi perasaannya, sedangkan ambtenaar pada umurnnya adalah asing baginya. Di Sumatera, dia pemah melarang seorang controleur masuk ke dalam rumahnya. Untuk memadarnkan perasaannya, dia masuk ke dalam kalangan onderwijs, sebagai assistant leeraar di sekolah dokter. Maka, berangkatlah dia dengan istrinya ke negeri Belanda meneruskan pendidikan, dan di sana dia merasakan kesenangan hidup, karena hidup dengan kemerdekaan dan dengan leluasa membentangkan cita-cita terhadap keperluan nusa dan bangsanya.

Di Belanda, Goenawan menjadi ketua Indische Vereniging yang kemudian berubah menjadi Perhimpunan Indonesia bersama dengan RM Soewardi Soerjaningrat, pemuka dari perguruan Taman Siswa. Dengan semangat baru, perhimpunan itu melancarkan perjuangan politik. Di bulan November tahun 1918, Perhimpunan Indonesia berupaya sekuat- kuatnya mencapai Indonesia merdeka. Ketika itu terjalin hubungan dan pertukaran pikiran antara para siswa bangsa kita dan kaum terpelajar bangsa Belanda yang baik budi pekertinya. Komunikasi dilakukan berturut-turut, namun tidak membuahkan hasil yang lezat rasanya, karena pikiran yang ada pada kaum terpelajar Belanda tiada dapat mengimbangi perasaan nasional yang sedang hidup dan berkobar-kobar di dalam hati sanubari kaum terpelajar kita. Meskipun perdamaian tidak tercapai, bahkan sebaliknya pertengkaran bertambah hebat, kedua pihak tetap saling menghormati. Pulang dari Eropa, setelah mengisap kemerdekaan yang lebih di sana, terasa berat bagi dr Goenawan berdiam di tanah Jawa. Dia senang ketika mendapat tempat di Palembang. Dari jauh dia mengamati kecerdasan pergerakan di tanah Jawa dengan hati dan pikiran yang tenang. Tidak sedikit buah pikirannya dimuat di beberapa majalah Belanda. Goenawan mengutarakan tentang kecerdasan pergerakan dan membela posisi kita sebagai suatu bangsa.

Sepanjang pengetahuan saya, dr Goenawan Mangoenkoesoemo belum pemah menulis satu karangan yang dibubuhi dengan nama aslinya, sehingga orang dapat merasakan buah pikiran tanpa mengetahui jatidirinya. Sepulang dari “tanah dingin” (Belanda), saya masuk ke dalarn kancah politik, meskipun sesungguhnya kondisi saya belum mendukung, karena seperti lazirnnya orang yang baru pulang dari Belanda, pada umurnnya bebannya bertambah berat banyak utang (karena ongkos berat, tapi pendapatan tidak ada). Dokter Goenawan mengetahui keterikatan saya dalam pergerakan, maka dia pun mengatakan, “Jangan mundu- dari pergerakan karena kekurangan alat. Kerjalah terus bagi kepentingan nusa dan bangsa kita, saya sanggup dan bersedia memikul semua kewajibanmu, kewajiban kecil dan besar yang meminta pengeluaran uang. Jalanlah terus!” Dia pun dengan setia dan gembira memenuhijanjinya itu. Ketika kita akan menerbitkan majalah yang pertama yaitu Soeloeh Indonesia, maka dengan wesel telegram, dia mengirim bantuan beberapa ratus rupiah. Bukan sekadar dengan bantuan uang dan tenaga dr Goenawan menyumbang cita-cita saya, bahkan rohnya pun disiapkan bagi cita-cita saya. Karena itu, kadang terjadi pertukaran pikiran yang hebat antara dia dan kakaknya, yaitu dr Tjipto Mangoenkoesoemo. Begitu hebat pertukaran pikiran itu, sehingga kadang hubungan persaudaraan di antara keduanya pun agak terganggu. Perjuangan saya di dalam kancah politik, senantiasa dibantu oleh rohnya. Darijauh dia mengikuti semua langkah saya, sehingga orang yang mengetahui hubungan ini sering bertanya dan mempunyai keyakinan bahwa saya ini hanya wayang belaka, dr Goenawan yang menjadi daiangnya. Karena saudara saya yang. setia ini tidak merasakan kesakitan dan kesenangan di dalam medan perjuangan seperti saya, tapi rohnya saja yang mengikuti kehidupan saya, maka serangan-serangan terhadap diri saya, tidak lagi begitu mengguncangkan dan menyakitkan roh dan tubuh saya, tetapi justru memukul dirinya. Dia merasa sakit benar, merasa susah yang tiada tara waktu saya diserang dengan sehebat-hebatnya oleh sebagian pemuda-pemuda kita yang sedang belajar di Negeri Belanda yang tidak setuju dengan pendirian saya. Goenawan sangat sedih melihat ada beberapa pemuda kita hendak merobohkan pengaruh lawannya, bangsa sendiri, yang meskipun berlainan asas toh juga mengabdikan dirinya untuk nusa dan bangsa. Perhimpunan Indonesia pada waktu itu tidak segan atau malu lagi menggunakan senjata fitnahan dan kedustaan terhadap bangsanya sendiri di Indonesia yang mereka pandang sebagai musuhnya. Kesopanan dan budi bahasa seakan- akan tidak ada lagi. Hal itu merupakan pukulan berat bagi Goenawan, sehingga panaslah hatinya. Dia sangat senang ketika mendapat kesempatan mengunjungi Eropa lagi. Dengan begitu, dia dapat bertemu dengan iawan-lawannya, yaitu pemuda-pemuda yang menurut keyakinan kita tidak lagi mengetahui seluk-beluk keadaan Tanah Air. Pertemuan dengan mereka sangat mengecewakan hatinya. Sebagian besar pemuda-pemuda yang menyerang kita dengan habis-habisnya itu, menurut dia, hanya menjual bicara saja. Mereka tidak sungguh-sungguh memperjuangkan nasib bangsa. Menurut Goenawan, sebagian pemuda-pemuda kita di Negeri Beianda pada waktu itu hendak merusak pengaruh pergerakan kebangsaan di Tanah Air.

“Soetomo,” tulisan dr Goenawan dalam suratnya dari Belanda. “Janganlah kamu bantu lagi segerombolan pemuda- pemuda itu, karena agaknya budinya sudah rusak. Di antara mereka, hanya Hatta yang boleh dihormati, meskipun pendirian kita berlainan. Hatta sungguh-sungguh mempunyai sifat dan tabiat yang boleh diharapkan kelak kemudian hari akan kebaikannya. ” Tahun berganti tahun. Waktu meninggalkan ‘ ‘tanah dingin,” dengan pemuda-pemuda itu (tahun 1928), saya meninggalkan perjanjian yang berbunyi: “Di Indonesia tempat kita. Di sana tempat berjuang kita. Di sana harus dipertunjukkan keberanian, keperwiraan, dan kesatriaan kita, terutama sekali kecintaan kita pada nusa dan bangsa. Marilah kita bekerja di sana, di tanah tumpah darah kita.” Hingga kini, saya masih menunggu-nunggu kedatangan para pemuda untuk menyatakan cita-cita itu.