Srihadi Soedarsono, Saksi Sejarah Perkembangan Seni Rupa Indonesia Sejak Era Perjuangan hingga Kini

0
812
Srihadi Soedarsono
Foto: Dok. GNI

Prof. Kanjeng Raden Haryo Tumenggung H. Srihadi Soedarsono Adhikoesoemo yang dikenal dengan Srihadi Soedarsono, merupakan maestro seni rupa Indonesia yang namanya telah dikenal luas. Pria kelahiran Solo, 4 Desember 1931 ini telah meraih sejumlah penghargaan, di antaranya Tanda-Jasa “Bintang Gerilya RI” (1958); Satyalantjana Peristiwa Perang Kemerdekaan I dan II (1958); Piagam dan Medali “Satyalancana Kebudayaan RI” (2004); Piagam dan Medali “Anugerah Sewaka Winayaroha”; Penghargaan Pengabdian Pendidikan Tinggi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional (2008); serta penghargaan dari internasional yakni The American Biographical Institute 2005 Commemorative Medal “Man of The Year” (2005). Sebanyak sepuluh karya lukisannya juga telah menjadi koleksi Galeri Nasional Indonesia/koleksi negara.

Baru-baru ini tepatnya pada 21 November 2021, Guru Besar purnabakti Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB) tersebut menerima Sang Hyang Kamahayanikan Award sebagai penghargaan tertinggi Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) 2021. Penghargaan itu diterima Srihadi sebagai perupa yang terus-menerus melukis Borobudur sejak tahun 1970-an; serta karena nama Srihadi dibahas cukup banyak dalam buku Claire Holt: Art in Indonesia, Continuities and Change, yang menjadi pegangan dalam mengusung tema BWCF 2021.

Bakat melukis Srihadi memang telah tampak sejak kecil. Sejak usia dini ia suka menggambar. Saat menjadi pelajar, ia pernah bergabung dalam Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) bagian Pertahanan pada tahun 1945 dengan tugas membuat poster, grafiti, menulis slogan yang mengobarkan semangat juang di dinding-dinding besar dalam kota dan gerbong-gerbong kereta api. Srihadi juga sempat menjadi staf Penerangan Badan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dan Penerangan Tentara Divisi IV TNI di Solo. Srihadi membuat brosur militer dan menggambar sketsa peristiwa penting untuk dokumentasi, karena saat itu kamera belum marak tersedia seperti saat ini.

Pada 1946, Srihadi bergabung dengan Seniman Indonesia Muda (SIM) di Solo dan belajar kepada pelukis-pelukis perintis seni lukis Indonesia, seperti Sudjojono dan Affandi. Sewaktu bergabung dengan Kementerian Urusan Pemuda Republik Indonesia yang berlokasi di Sekolah Taman Siswa Yogyakarta, Srihadi juga berada di sana bersama Sudjojono untuk menegakkan perjuangan Indonesia melalui seni rupa.

Belanda ditarik dari Indonesia pada Desember 1949. Alih-alih meneruskan bekerja di ketentaraan, Srihadi memilih meneruskan sekolah yang sebelumnya pernah terhenti, dan menerima beasiswa. Ia bersekolah di SMAN 1 Margoyudan, tamat 1952. Selepas SMA, Srihadi melanjutkan kuliah di Balai Pendidikan Universiter Guru Seni Rupa Fakultas Teknik UI yang untuk sementara berkedudukan di Fakultet Teknik Bandung (belum jadi ITB). Pada tahun 1959, Srihadi Soedarsono merancang logo untuk ITB yang digunakan hingga saat ini.

Srihadi tidak memilih kuliah di ASRI Yogyakarta karena sudah mengenal para tenaga pengajarnya saat dulu remaja aktif di sanggar di Yogya dan Solo. Di SIM, Srihadi mengalami Mazhab Yogya malah dari tangan pertama, Sudjojono dan Affandi. Alasan lain, ia ingin belajar hal baru di Bandung.

Ketertarikan Srihadi pada pendekatan landscape lebih jelas dideskripsikan antara tahun 1954-1959 ketika beberapa kali berkunjung ke Bali. Kunjungan yang paling penting adalah pada 1954. Ia tinggal di pantai Sindhu, Sanur, Bali yang saat itu masih sepi, selain ada perahu-perahu, upacara, dan perempuan Bali di pantai. Masa tersebut adalah masa Srihadi memikirkan apa yang dia cari dari seni lukis.

Dari momen-momen kontemplasi di Bali inilah Srihadi memahami arah karya-karyanya. Dan saat mengamati pantai, Srihadi menemukan fenomena alam bahwa antara langit dan laut selalu ada garis penghubung yang lurus, bersih, dan indah. Garis horizon. Semacam titik nol yang siap untuk dikembangkan.

Karya Srihadi Soedarsono Koleksi Galeri Nasional Indonesia

Srihadi kemudian memilih untuk pensiun sebagai pegawai negeri sipil pada 1997 dan terus berkreasi menekuni lukisan hingga akhir hayatnya. Sepanjang karier keseniannya, Srihadi yang pernah menjadi dosen di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan menjabat sebagai Ketua Akademi Seni Rupa Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) pada 1974 ini telah banyak berpameran. Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, Srihadi telah menggelar pameran tunggal retrospektif di Art: 1 Museum (2012) dan menerbitkan buku “Srihadi dan Seni Rupa Indonesia” yang ditulis Jim Supangkat; pameran tunggal restrospektif karya-karya kertas srihadi soedarsono “70 Tahun Rentang Kembara Roso” di Galeri Nasional Indonesia (2016) dan peluncuran buku “70 Years Journey of Roso” yang ditulis oleh Farida Srihadi dan A. Rikrik Kusmara; Pameran Tunggal dan Peluncuran Buku “SRIHADI SOEDARSONO–– Man x Universe” yang ditulis Farida Srihadi bersama Jean Couteau, di Galeri Nasional Indonesia (2020).

Karya Srihadi juga sempat dipamerkan dalam Pameran Lukisan Koleksi Istana Kepresidenan Republik Indonesia “17|71: Goresan Juang Kemerdekaan” di Galeri Nasional Indonesia (2016). Yang juga spesial dalam pameran ini, Srihadi didaulat sebagai salah seorang seniman senior yang mendampingi Presiden ketujuh Republik Indonesia Joko Widodo dalam peresmian pembukaan pameran. Goresan kuas Presiden Joko Widodo pada kanvas saat peresmian pameran tersebut, kemudian direspons oleh Srihadi. Karya Srihadi itu mendapat apresiasi khusus dari Presiden Joko Widodo dan disumbangkan sebagai koleksi negara.

Srihadi adalah sosok pejuang kemerdekaan, seorang maestro seni rupa, sekaligus profesor di bidang seni rupa. Ia merupakan bagian yang terkait langsung dalam lingkar pelaku sejarah seni rupa modern Indonesia. Srihadi adalah salah satu tokoh yang menjadi saksi sejarah seni rupa Indonesia sejak era perjuangan hingga era masa kini (2022). Sabtu, 26 Februari 2022, pukul 05.20 WIB, Srihadi dikabarkan berpulang dalam usia 91 tahun.