Nyanyian RB. Ali: Tembang Tanpa Suara

0
912

Ketokohan, entah tokoh politik atau bidang lain yang berpengaruh kerap menjadi obyek dalam ekspresi senirupa. Setidaknya itulah yang menjadi fokus perhatian RB. Ali dalam pameran tunggalnya kali ini bertajuk “Tembang Sunyi”, yang akan digelar pada 3-20 Juni 2016, di Galeri Nasional Indonesia.

Ia memvisualisasikan Basuki Tjahaja Purnama/Ahok (Gubernur DKI Jakarta) dan Tri Rismaharini (Walikota Surabaya). Bagi RB Ali, ini saat yang tepat untuk menampilkan karya potret tokoh publik tersebut ke tengah masyarakat. Ia mempercayai ada semacam pola waktu atau siklus “muncul-tenar-redup” yang menimpa semua orang. Karena itu di samping soal “seni”, ia juga merasakan kebutuhan untuk merekam dan mencatat gejala sosial budaya yang tertangkap pengamatannya.

Selain Ahok dan Risma, RB. Ali juga melukiskan potret Munir (pejuang HAM), serta beberapa tokoh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yaitu Abraham Samad, Bambang Widjajanto, Antasari Azhar, dan Novel Baswedan. Menurut RB. Ali, membaca nama-nama tersebut akan memantik ingatan atas berbagai peristiwa yang terkait dengan mereka, dan semuanya adalah tentang “kebenaran”.

Karya potret tokoh politik tersebut meski diprediksi akan menyita perhatian, namun RB. Ali justru menempatkan “arus utama penciptaannya” pada karya-karya figur perempuan yang terkesan sensual, yang digarap sebagai bagian integral dari penggarapan bidang warna dan garis-garis yang cenderung geometrik, dekoratif, serta kubistik. Ada juga karikatur ekstra besar berukuran 275 x 580 cm berjudul “Bisu”, sebagai gambaran kehidupan masyarakat saat ini yang saling tidak mendengar. Gagasan inilah yang lekat dalam tajuk “Tembang Sunyi”, sebuah tembang tanpa suara. RB. Ali berusaha memancing berbagai pertanyaan lewat nyanyian “Tembang Sunyi”-nya yang disuguhkan dalam pameran tunggalnya yang keenam ini.

*dsy/GNI