Kedudukan Perempuan dalam Karya Nindityo Adipurnomo

0
690
Nindityo - Der Verehrungstisch #2
Nindityo Adipurnomo (1961); “Der Verehrungstisch #2”; 2012; dimensi bervariasi, aluminium, kayu, benda temuan, lukisan, proyeksi video.

Galeri Nasional Indonesia memiliki Pameran Tetap Koleksi Galeri Nasional Indonesia yang menyajikan sejumlah karya seni rupa koleksi negara. Karya tersebut memiliki peran penting dalam sejarah perkembangan seni rupa Indonesia, khususnya seni rupa modern dan kontemporer. Ditata berdasarkan periodisasi perkembangan sejarah seni rupa modern dan kontemporer Indonesia, mulai era 1800-an hingga sekarang, karya-karya tersebut mengusung nilai historis, budaya, sosial, ekonomi, hingga politik.

Seperti pada karya Nindityo Adipurnomo berjudul “Der Verehrungstisch # 2”. Karya instalasi yang dibuat pada 2012 ini bertolak dari kajian historis sejarawan Ong Hok Ham mengenai sejarah sosial dan politik orang-orang Tionghoa Peranakan di Jawa dan Madura, seperti yang terurai dalam bukunya “Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa”. Nindityo terinspirasi oleh temuan-temuan Ong Hok Ham terutama pada aspek “kebiasaan Jawa” dan “kebiasaan Barat” (Belanda) pada saat itu (masa kolonial). Temuan tersebut di antaranya meja kongpo yang memuat since-sinci pihak perempuan, berakhirnya kebiasaan mengikat kaki perempuan Tionghoa untuk mencapai bentuk kaki yang kecil, termasuk temuan tentang testamen Tionghoa Peranakan yang menyebutkan bahwa seluruh warisan jatuh kepada istrinya, bukan pada anak laki-lakinya.

Karya ini dihasratkan oleh Nindityo untuk menyusun ulang refleksi-refleksi sejarah sekaligus menangkap tanda-tanda masa depan kedudukan perempuan, melalui ungkapan meja persembahan kepada leluhur (kongpo) yang disebut Nindityo sebagai “The Admiration Table”. Karya ini digubah dengan Teknik dan ketelitian yang prima. Meja kongpo yang rapi, bentuk-bentuk sanggul yang digubah dari batu hitam, kemudian lukisan teknik cat air (akuarel) tentang sosok perempuan Tionghoa yang digubah dengan cermat, serta proyeksi video art tentang “kebiasaan-kebiasaan Jawa dan Barat” yang ditembakkan ke bagian wajah lukisan potret.