Diskusi Rd. Tohny Joesoef “The Artist Family” Diwarnai Penghibahan Karya

0
1055

Foto Berita Diskusi & Hibah Karya

Jakarta – Pameran Retrospektif Rd. Tohny Joesoef dan ‘The Artist Family’ bertajuk “PADA CERMIN I ON MIRЯOR” yang digelar pada 2–12 Mei 2015 di Gedung B dan C Galeri Nasional Indonesia, menjadi pameran spesial bagi Galeri Nasional Indonesia dan Sanggar Ligar Sari ’64 Bandung, sebagai penyelenggara pameran. Betapa tidak, pada event ini, salah seorang perupa yang memamerkan karyanya pada pameran tersebut yaitu Rd. Hassan Pratama menghibahkan karyanya kepada Galeri Nasional Indonesia yang diterima langsung oleh Kepala Galeri Nasional Indonesia Tubagus ‘Andre’ Sukmana.

Karya hibah itu berupa lukisan berjudul Landcape, media cat akrilik di kanvas berukuran 120×120 cm. Lukisan ini dibuat on the spot hanya selama dua jam, bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional pada Sabtu, 2 Mei 2015 di Galeri Nasional Indonesia. Penghibahan lukisan tersebut dilakukan di sela-sela acara Diskusi Rd. Tohny Joesoef “The Artist Family yang dilaksanakan pada hari terakhir penyelenggaraan pameran yaitu Selasa, 12 Mei 2015, pukul 15.00 WIB di Ruang Seminar Galeri Nasional Indonesia.

Diskusi Rd. Tohny Joesoef “The Artist Family” menghadirkan dua orang pembicara yang juga merupakan perupa dalam pameran tersebut, yaitu Rd. Hassan Pratama dan Rd. Syarief Hidayat. Sedangkan sebagai moderator adalah Rizki A. Zaelani, Kurator Galeri Nasional Indonesia sekaligus kurator Pameran PADA CERMIN I ON MIRЯOR.

Dalam diskusi santai tersebut, kedua pembicara yang merupakan anak kandung dari Rd. Tohny Joesoef (alm.), mengangkat kembali kenangan-kenangan bersama almarhum, terutama tentang cara almarhum mendidik anak-anaknya agar bisa melukis dengan baik. Hassan sempat bercerita tentang masa kecilnya saat belajar melukis. “Awal belajar melukis saya berumur 4 tahun, almarhum bapak adalah seorang guru, pendidik, pelukis yang semuanya sudah melekat pada diri kami. Jika ada pameran, bapak selalu mengajak saya,” ingatnya.

Selain itu, Hassan juga bercerita tentang didikan keras dari sang bapak. “Saya dididik dengan keras oleh almarhum. Saya diwajibkan untuk melukis sebelum melakukan kegiatan sehari-hari. Mau jelek, mau bagus, harus melukis,” tegas Hassan menirukan perkataan almarhum. Namun didikan keras itu diakui Hassan bermanfaat sangat besar dalam perjalanan hidupnya hingga saat ini.

Senada dengan Hassan, Syarief juga merasakan didikan keras almarhum. Syarief menceritakan perhatian almarhum yang implisit sehingga sempat dianggap Syarief sebagai sikap dingin. Lukisan Syarief tidak pernah dikomentari meskipun ia bertanya pada almarhum. Namun terkadang almarhum berkomentar sambil lalu. “30 persen lagi, begitu kata Papap (panggilan sayang Syarief pada almarhum –Red) sambil berlalu. Dari sini saya berpikir, ternyata Papap memperhatikan saya melukis, namun tidak menunjukkan perhatiannya secara eksplisit. Begitulah didikan keras Papap pada saya,” papar Syarief.

Kisah-kisah tentang Rd. Tohny Joesoef (alm.) yang diceritakan Hassan dan Syarief tersebut merupakan narasi lain dari retrospeksi seorang Rd. Tohny Joesoef sebagai perupa dengan semangat tinggi, berdedikasi, disiplin, berjiwa pekerja keras, dan memiliki sifat terbuka, yang semuanya itu diteladani oleh anak-anaknya. Baik Hassan maupun Syarief berharap, cerita tentang kisah perjalanan Rd. Tohny Joesoef (alm.) dalam acara Diskusi tersebut bisa menginspirasi banyak orang untuk terus semangat dan bekerja keras dalam menghasilkan karya yang apik.

*mrk/dsy/GNI