Mie Lethek

0
712

Mie lethek merupakan kuliner khas dari Bantul. Mie lethek secara harifiah berarti mie ‘kotor’. Penamaan ini merujuk pada penampilan mie yang tidak secerah mie kering lain. Mie lethek berwarna kecoklatan karena dibuat dari tepung tapioka dan gaplek (singkong kering). Mienya pun diolah secara tradisional, bahkan untuk proses penggilingannya juga masih menggunakan sapi sebagai tenaga penggerak gilingannya. Mie Lethek tidak memiliki makna khusus dan mendalam, disebut Mie Lethek karena warnanya yang bersifat keabu-abuan dan dalam terminology orang Jawa diartikan Lethek atau Kotor. Penyebutan ini dikarenakan mie dipahami biasanya berwarna kuning atau putih namun semburat warna yang dihasilkan Mie Lethek bersifat keruh dan tidak cerah.

Produksi atau sentra Mie Lethek di Daerah Istimewa Yogyakarta adalah wilayah Kabupaten Bantul, yaitu di Desa Trimurti Kecamatan Srandakan. Menurut data profil Desa Trimurti tahun 2017, ada dua perusahaan/pabrik atau industri Mie Lethek yaitu di Dusun Nengahan merk atau cap Busur Panah dan Dusun Bendo Garuda. Selain kedua pabrik atau pembuat mie tersebut, di Dusun Gunturgeni merk atau cap Dokar, Desa Poncowati, Kecamatan Srandakan.

Menurut keterangan Feri (Informan) perusahaan atau pabrik yang berlokasi di Dusun Bendo berdiri tahun 1940-an didirikan oleh kakek atau simbah yang bernama Umar asli dari Yahman Timur Tengah. Simbah saya merantau ke Indonesia tahun 1920 an. Pada saat sholat di Masjid Kauman, ada orang kauman yang melihat atau ketemu seseorang tidak bisa berbahasa Indonesia lancar. Orang tersebut kemudian memanggil KH. Bakir Saleh yang bisa berbahasa Arab, akhirnya menjadi akrab dan menjadi sahabat yang lebih dari saudara.

Kemudian Mbah Umar ingin ke daerah yang belum mengerti tentang Agama Islam. Oleh Mbah Bakir ditunjukkan daerah namanya Wedi Kengser (sungai yang sudah mengering). Setelah sampai di daerah ini mempelajari bahwa orang disini tidak butuh uang, tetapi butuhnya makan. Melihat kondisi seperti itu simbah berfikir harus mempunyai pabrik dan pabrik itu bahan pangan. Setelah tinggal di daerah ini, kemudian membuat seperti rumah dengan tiang-tiang dari kayu jati seperti membuat pendopo. Bangunan ini kemudian menjadi tempat tinggal dan pabrik.

Usaha yang dilakukan Simbah diperoleh dari turun-temurun. Kemudian simbah menciptakan peralatan seperti selinder, pres dan penggerak dari sapi. Orang-orang sekitar bertanya akan dibuat apa, ternyata akan membuat mie. Pada waktu itu yang membuat mie adalah orang-orang keturunan Tiongkok. Akan tetapi karena cara mengolah bahan singkong dan tapioka pada waktu orang-orang tidak memiliki pengetahuan cara mengolah singkong menjadi tepung. Pengolahan tepung masih menggunakan batu dengan cara digerus, batunya cukup besar sebesar roda mobil dengan tenaga manusia, batunya berdiameter 1,5 meter, tebal 5 cm. Bahan gaplek pada waktu itu lebih mudah karena singkong seperti makanan dan dulu orang berkebun dan bertani.

Pabrik mie lethek Garuda yang mengelolanya simbah berlangsung tahun 1940-1970 an. Kemudian tahun 1970 an -1982 yang mengelola bapak dan ibu nya (Ibu Salmah). Pabrik ini pernah tidak aktif atau tidak berproduksi, yaitu tahun 1982 – 2002, karena bila bertahan 2 pabrik tidak mampu dan bapaknya Feri meninggal sehingga tidak ada yang mengelola. Apalagi pada waktu itu bersaing dengan adanya mie instan. Setelah tahun 2002 sampai sekarang masih aktif yang dikelola keturunan ketiga yaitu Yasir Feri Ismatrada (Feri). Menurut Feri pengalaman bisa mengelola dari Budenya ketika kesenangannya kumpul dengan tenaga kerja sejak tahun 1996. Dengan melihat para pekerja yang bekerja di pabrik Bude seperti cara mencampur, caranya ngepres, sehingga mempunyai sedikit ilmu. Berdasasarkan sedikit pengalaman dan pengalaman ibu menjadi satu, pada tahun 2002 pabrik ini berdiri lagi.

Pabrik yang masih berproduksi ini tetap menggunakan peralatan yang sederhana dengan tenaga manusia dan sapi atau tradisional. Proses pembuatan mie ini dari bahan yang alami tidak memakai campuran kimia, bahan pokok tepung gaplek dan tepung tapioka. Untuk mengembangkan usaha ini perlu teknologi tinggi dan penelitian lagi. Pada waktu mencampur tidak bisa dihitung campuran menjadi bagus. Caranya dipegang atau filing, bila belum baik putar lagi misalnya ditambah tepungnya. Demikian juga pada waktu mengukus pakai filing, sudah matang belum, tidak ada standar waktunya hanya kira-kira sekitar 1,5 jam. Bila terlalu masak/matang atau kurang matang jadinya mie rusak, dan mienya dembleng-dembleng (lengket) sulit diurai atau dipisah-pisah. Untuk mendapatkan hasil produksi mie yang bagus diperlukan pengetahuan dan pengalaman terutama proses pencampuran tepung gaplek dan tepung tapioka.

Mie Lethek memiliki nilai sosial budaya yang besar bagi wrga Dusun Bendo khususnya dan warga Bantul secara keseluruhan. Dari sisi sosial, Adanya Mie Lethek membuka lapangan pekerjaan bagi lansia, anak muda, ibu-ibu, bapak-bapak yang ada di Dusun Bendo. Penghasilan warga dusun Bendo bisa dikatakan ditopang oleh keberadaan Mie Lethek ini. Entah pada proses produksi Mie yang membutuhkan pekerja yang cukup banyak atau dari sisi pemasaran Mie Lethek dengan adanya warung-warung penjaja makanan Mie Lethek.

Sistem kerja yang diterapkan secara kekeluargaan juga membangun suasana kegotongroyongan dusun. Interaksi yang cukup intens dijalin pada tiap harinya di dalam lingkup pembuatan dan pemasaran Mie Lethek membangun komunikasi sosial yang intim dan personal. Tidak jarang diantara pekerja saling membantu dalam hal urusan pribadi masing-masing pekerja.

Kemampuan pembuatan Mie Lethek juga menjadi bagian dari identitas Dusun yang dapat mengangkat derajat manusia Bendo. Ketrampilan membuat Mie Lethek menjadi bagian cara hidup orang Bendo. Orang Bendo disebut orang bendo jika ia memiliki kemampuan dan ketrampilan untuk membuat Mie Lethek. Hal ini kemudian memotivasi masyarakat untuk belajar dan dari sinilah kemudian proses regenerasi dari pembuatan Mie Lethek terus berlanjut hingga sekarang. Nilai-nilai kebersamaan juga melingkupi masyarakat Bendo dengan adaya transfer pengetahuan ini.

Cara membuat Mie Lethek :

1. Gaplek yang telah digiling menjadi tepung kemudian direndam dalam suatu bak untuk menghilangkan getah dari gaplek. Tepung itu dibersihkan atau dicuci sampai bersih paling tidak empat kali ganti air. Setelah bersih tepung gaplek tersebut ditiris atau ditus sampai airnya habis.

2. Tepung gaplek yang sudah ditiris, kemudian diolah atau dicampur dengan tepung tapioka diselinder dengan penggeraknya tenaga sapi.

3. Setelah dibentuk kotak-kotak tahap berikutnya adalah pengukusan atau pemasakan. Pengukusan dengan dimasukkan seperti tungku yang dipanasi dengan kayu bakar dan membutuhkan waktu 1-2 jam.

4. Tahap berikutnya, setelah dikukus diselinder lagi dengan tenaga sapi, karena waktu dikukus atau dimasak yang matang hanya bagian luarnya, sedangkan bagian dalam masih mentah.

5. Proses selanjutnya, setelah diselinder dimasukkan ke mesin pres dan akan keluar dari mesin menjadi mie panjang-panjang sebagai bahan utama produksi Mie Lethek.

*

Mie lethek adalah sejenis bihun. Sesuai dengan namanya disebut mie lethek karena warna mie tidak pada umumnya berwarna putih atau kuning, akan tetapi terlihat kusam karena dalam pembuatannya tidak menggunakan bahan pemutih, pewarna maupun pengawet. Mie lethek terbuat dari bahan dasar tepung tapioka atau tepung singkong. Mie lethek diproduksi oleh pabrik yang dikelola oleh Yassir Ferry yang sekaligus menjadi pemiliknya. Yassir merupakan generasi ke-3 pemilik pabrik mie lethek yang ia kelola. Pada awalnya pembuatan mie lethek yang ada di Bantul dirintis oleh oleh kakeknya yang bernama Umar Bisyir pada tahun 1940. Umar Bisyir adalah orang dari Arab yang mempunyai tujuan awal datang ke Indonesia mempunyai misi berdakwah. Setelah bertemu dengan salah seorang temannya yang bernama KH. Bakir yang tinggal di Kauman Yogyakarta dan setelah bertukar pikiran maka Umar Yassir mendirikan pabrik mie lethek yang bertempat di Dusun Bendo. Sehingga pabrik mie tersebut didirikan tidak semata-mata untuk tujuan bisnis akan tetapi lebih bersifat sosial. Alat-alat yang digunakan dalam membuat mie lethek semuanya menggunakan alat tradisional, seperti alat penggiling tepung berupa batu silinder seberat 1 ton yang ditarik dengan menggunakan tenaga sapi, dan oven dengan bahan bakar kayu. Hanya alat pencetak mie yang saat ini sudah diganti menggunakan mesin yang dioperasikan oleh tiga orang pekerja. Awalnya alat pencetak atau pres mie menggunakan ?tarikan? yang harus dioperasikan secara manual oleh delapan pekerja. Selain itu juga banyak alat-alat lain yang dipakai dalam proses pembuatan mie lethek. Adapun proses pembuatan Mie Lethek ada beberapa tahap yaitu setelah bahan baku diaduk, kemudian dimasukkan ke tungku kukusan, lalu diaduk lagi untuk mengatur kadar airnya. Pada proses pengadukan inilah sangat unik dan menarik, karena pada proses pengadukan ini dilakukan dengan tenaga sapi. Proses selanjutnya adonan tersebut dipres dan dikukus lagi selama kurang lebih dua jam. Proses terakhir adalah pencetakan dan penjemuran di bawah sinar matahari hingga kering. Pasca pengeringan selama 8 jam mie di packing dengan diberi merek Mie Garuda. Selanjutnya Mie lethek siap untuk dipasarkan. Pemasaran Mie lethek Garuda hingga saat ini hanya dipasarkan di pasar tradisional di daerah Yogyakarta dan sekitanya.

 

 

Keterangan

Tahun :2019

Nomor Registrasi :201900951

Nama Karya Budaya :Mie Lethek

Provinsi :DI Yogyakarta

Domain :Keterampilan dan Kemahiran Kerajinan Tradisional

Sumber: Website Warisan Budaya Takbenda

TINGGALKAN KOMENTAR