Andong Yogyakarta

0
698

Keberadaan andong di Yogyakarta menurut beberapa sumber disebutkan bahwa pada awalnya andong hanya boleh digunakan oleh para bangsawan terutama raja dan keluarganya. Andong pada dasarnya mirip dengan kereta-kereta kuda yang dipakai para bangsawan ataupun keluarga kerajaan, seperti yang dapat dilihat di Museum Kereta yang terdapat di Jalan Rotowijayan Yogyakarta. Kereta kuda di keraton memiliki beberapa jenis atau model seperti kereta terbuka beroda dua atau beroda empat dan juga kereta tertutup beroda empat dengan ornamen yang menjadi ciri khas kendaraan keraton. Di awal abad XIX hingga XX, andong menjadi salah satu penanda status sosial para kerabat keraton. Hal ini dimulai ketika Mataram dipimpin oleh Sultan Hamengku Buwono VII, sekitar awal abad ke-19. Ketika itu rakyat jelata tidak boleh menggunakan andong Rakyat hanya boleh menggunakan gerobak sapi. Pada pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VIII andong berangsur mulai digunakan masyarakat umum walaupun masih terbatas bagi kalangan pengusaha dan pedagang saja (Pratama, R., 2016: 4-5).

Sumber lain menyebutkan bahwa seorang pemilik andong biasanya merupakan seorang yang cukup kaya di masa sekitar tahun 1940an. Untuk dapat memiliki andong dibutuhkan modal yang cukup banyak. Harga sebuah andong di kisaran waktu tahun 1940 sebesar f. 65,00, dan harga seekor kuda adalah sebesar f. 5,00. Andong pada waktu itu dapat dibeli pada tukang atau bengkel andong yang sebagian besar onderdilnya masih dibeli dari luar negeri. Andong pada waktu itu digunakan untuk mengangkut barang dan penumpang misalnya para pedagang batik beserta dagangannya dari Kotagede ke pasar Beringharjo. Selain itu, andong juga digunakan untuk angkutan barang dan penumpang dari daerah Bantul, Prambanan/Kalasan menuju ke kota

v

Seluruh Kabupaten di Daerah istimewa Yogyakarta

atau ke pasar Beringharjo. Di daerah Yogyakarta tersedia tempat perhentian andong yang diberi nama komboran, antara lain terdapat di Pojok Beteng Wetan, Pojok Beteng Kulon, Gading, Lempuyangan, sebelah selatan pasar Beringjarjo, dan sebelah selatan stasiun Tugu (Astuti, S.R., 2000: 127-128.

Andong memiliki perbedaan dengan moda transpotasi berbasis kuda lainnya. Jika dokar, bendi, sado memiliki dua roa, andong memiliki empat roda dengan diameter kecil di depan dan dua roda berdiameter besar di bagian bekalang. Sedangkan moda transportasi berbasis tenaga kuda lainnya memiliki jumlah roda sebanyak dua saja dan diameter roda lebih lebar dibanding andong. Andong ditarik dengan dua kuda dan alat trasnportasi lain biasanya hanya ditarik dengan satu kuda saja. Kapasitas penumpang pun berbeda, jika pada Andong bisa memuat sekitar 8 orang penumpang, moda transportasi kuda lainnya hanya mampu mengangkut sekitar 4-5 orang saja. Dari sisi busana, kusir Andong akan menggunakan pranakan jawa gaya Yogyakarta sedangkan kusir dari dokar, bendi, dan seterusnya biasanya menggunakan pakaian jawa yang berbentuk celana dan atau jenis pakaian lainnya.

Sesuai dengan prototype andong Yogyakarta yang mengadopsi bentuk kereta-kereta kuda para bangsawan atau keluarga Kraton Yogyakarta, bagian-bagian andong secara garis besar meliputi : Payonan, cagak, senderan, buntutan, kenekan (boncengan belakang), per, roda (belakang), Bangkon (tempat duduk), pancatan, slebor, roda (depan), onderstel, dan lampu. Secara khusus untuk andong gaya Yogyakarta mengalami evolusi, dari semula di sekitar tahun 1940-an, bangkon atau tempat duduk hanya terdiri atas 2 baris, baris pengemudi dengan satu penumpang disebelahnya dan baris kedua untuk penumpang dengan arah menghadap ke depan semua. Selanjutnya di sekitar tahun 1950 – 1960 an mendapat pengaruh dari gaya andong Klaten-Solo, yang menambah satu baris bangku di belakang pengemudi, menghadap ke belakang, sehingga saling berhadapan dengan bangku di depannya. Perubahan ini sangat dimaklumi berdasarkan kepentingan fragmatis untuk lebih banyak mendapatkan jumlah penumpang. Dan selanjutnya bentuk inilah yang banyak berkembang di Yogyakarta.

Komponen-komponen andong tersebut, pembuatan dan pemakaiannya merupakan pengetahuan dan ketrampilan turun temurun lebih dari 3 generasi dan merupakan usaha keluarga, salah satunya “Bengkel Andong Pendawa Lima” yang melayani pembuatan baru dan renovasi andong. Bengkel andong ini merupakan bengkel kepercayaan Kraton Yogyakarta untuk mereparasi beberapa kereta milik Kraton Yogyakarta.

Moda transportasi tradisional yang terkenal di Yogyakarta dengan sebutan andong ini dapat dikatakan mampu mengikuti perkembangan jaman. Meskipun demikian, keberadaannya saat ini tidak lagi dimanfaatkan sebagai alat transportasi utama termasuk mengangkut barang, namun lebih ditujukan untuk sarana wisata. Meskipun fungsinya telah berubah namun eksistensi andong di tengah modernisasi merupakan hal yang menarik. Eksistensi andong saat ini menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berkeliling mengenal sebagian Kota Yogyakarta.

Kontribusi andong bagi masyarakat lokal adalah terbukanya lapangan pekerjaan sebagai kusir andong dan/atau perajin andong. Kontribusi yang membawa dampak secara lebih luas terkait dengan pariwisata. Kota Yogyakarta merupakan salah satu kota yang masih mempertahankan keberadaan transportasi umum tidak bermotor seperti becak dan andong di tengah perkembangan kota Yogyakarta menjadi kota metropolitan. Hal ini terkait dengan adanya aktivitas pariwisata yang ada di Kota Yogyakarta di mana keberadaan andong sebagai suatu ikon transportasi perjalanan wisata yang juga berfungsi sebagai daya tarik bagi wisatawan yang datang ke kota Yogyakarta.

Keterangan

Tahun :2019

Nomor Registrasi :201900950

Nama Karya Budaya :Andong Yogyakarta

Provinsi :DI Yogyakarta

Domain :Keterampilan dan Kemahiran Kerajinan Tradisional

Sumber: Website Warisan Budaya Takbenda

TINGGALKAN KOMENTAR