Menghargai Noken Sebagai Unsur Budaya

0
648

Cermin menghargai noken, bukan sebagia bagian benda tetapi keterikatan sikap, rasa, hati, pikir dan tindak perajin.

Cermin menghargai noken, bukan sebagia bagian benda tetapi keterikatan sikap, rasa, hati, pikir dan tindak perajin. Itu berarti, cermin menghargai noken adalah keutuhan ikatan batin pengguna dan noken itu sendiri. Salah satu cara menghargai noken adalah membentuk komunitas noken dengan kesadaran dirinya sebagai masyarakat noken. Tentu saja menghargai kemaharin kerajinan tangan baik rajut maupun anyam kesadaran bahwa komunitas noken telah memahami pentingnya noken dari sejak memanfaatkan bahan baku alami hingga menghasilkan mata budaya noken tersebut.

Puncaknya adalah membentuk komunitas noken karena sudah mengikat dan menjadi tradisi bagi masyarakat adat Tanah Papua. Akhirnya, masyarakat noken menghargai noken sebagai atribut budaya, mata budaya dan budaya takbenda karena telah hidup dan dibentuk komunitas noken.

Kenyataanya memiliki atau tidak memiliki noken menjadi perekat identitas dirinya. Noken telah diakui dan dipandang sebagai tradisi budaya masyarakat Papua, sekalipun tidak melestarikan atribut bdaya tersebut. Ada beberapa gagasan cermin noken yang diamati penulis ketika bersama tim nominasi noken mengunjungi, mendalami dan meneliti langsung dibeberapa lokasi survey, sebagai berikut:

  1. Menghargai noken sebagai unsur budaya, berarti perajin terus mempertahankan kemahiran alami karena suday membudaya dan membentuk alam piker melalui komunitas noken sebagai masyarakat yang sedang berpikir untuk menyelamatkan noken dari kepunahan budaya bakat alami saat ini maupun waktu mendatang;
  2. Menghargai noken sebagai identitas budaya, berarti pemilik, pengguna, pemahir/penggemar atau pecinta budaya noken memiliki sikap untuk menyelamatkan dan menghargai hasil karyanya karena sudah menjiwainya apa adanya.
  3. Menghargai noken sebagai mata budaya, berarti pengguna harus memerhatikan dan menghargai noken yang sedang menjamin kelangsungan hidup manusia dengan melalui barang atau hasil isian terutama barang apa saja dalam nokennya.
  4. Menghargai noken sebagai mata budaya, berarti pemilik harus menjaga dan melindungi warisan budaya takbenda yang telah hidup bersama masyarakat dan dipertahankan dalam kehidupan generasi noken sekarang ke generasi noken masa depan.
  5. Menghargai noken sebagai perekat hidup, berarti pemilik atau pengguna noken harus menyadari budaya noken yang sudah dan akan menjamin pemenuh hidup sehari-hari karena sudah lengket pada dirinya sebagai materi yang sudah menyatu dengan dirinya
  6. Menghargai noken sebagai penyelamat hidup berarti bagu siapa pun pengguna atau pemilik noken akan merasa aman ketika barang miliknya aman dan terawatt baik dan teratur dalam noken yang kita simpan di rumah maupun membawanya saat ke mana pun pergi.

 

Titus Pekei. 2011. “Sermon Noken Papua: Perspektif Kearifan Mata Budaya Papuani”. Ecology Papua Institute (EPI).

-Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya-