Jabar Juwes (2)

0
1765

2. Pemain

Kesenian Jabarjuwes dalam setiap pertunjukan membutuhkan sejumlah pemain dan pendukung pergelaran minimal sebanyak 35 orang. Para pemain dan pendukung tersebut berperan sebagai:

 Pemain wayang

Pemain wayang kurang lebih sebanyak 20 orang, mereka berperan sebagai pelaku dalam pementasan lakon sesuai dengan cerita yang dibawakan. Pemain wayang sebanyak 20 orang ini kemungkinan bisa bertambah, hal ini tergantung dari lakon yang dipentaskan.

 Pengrawit

Pengrawit adalah orang yang menabuh gamelan. Pada pertunjukan Jabarjuwes, pengrawit berperan mengiringi pergelaran dengan alat musik gamelan selama kesenian Jabarjuwes berlangsung. Dalam pertunjukan kesenian ini kurang lebih diperlukan pengrawit sebanyak 15 orang.

 Dhalang

Dhalang pada pertunjukan kesenian Jabarjuwes berperan sebagai pengantar cerita dan pengatur laku atau sutradara. Dalang sebagai pemimpin (sutradara) selama pergelaran kesenian Jabarjuwes berlangsung. Dalang akan mengantarkan cerita pada setiap episodenya, disamping juga sebagai pengatur laku.

 Waranggana

Waranggana juga disebut sindhen atau pesindhen adalah orang yang melantunkan tembang-tembang Jawa dalam seni karawitan. Pada pergelaran kesenian Jabarjuwes, waranggana berperan melantunkan atau menyanyikan tembang-tembang bersama karawitan untuk mengiringi selama pergelaran berlangsung.

3. Iringan atau Musik Pengiring

Pada awal keberadaan kesenian Jabarjuwes sampai tahun 1980-an iringan gamelan menggunakan laras slendro. Namun, sekarang ini pergelaran kesenian Jabarjuwes diiringi musik gamelan dengan laras slendro dan pelog. Hal ini dimaksudkan untuk mengiringi gending-gending yang lebih variatif disesuaikan dengan perkembangan jaman. Penggunaan laras pelog untuk mengiringi lawakan atau guyonan atau acara bebas berupa lelagon. Gamelan tersebut dibuat dari bahan besi atau campuran besi dan kuningan. Adapun gamelan tersebut terdiri atas: saron, saron penerus (peking), demung, bonang penerus, bonang barung, gong, kempul, kendhang, keprak dan kecrek. Namun karena menyesuaikan dengan situasi dan kondisi, pada saat ini kadang-kadang pertunjukan Jabarjuwes hanya diiringi gamelan jenis slendro saja.

Meskipun iringan gamelannya tidak selengkap dahulu, namun hal ini tidak mengurangi makna, tujuan, dan semangat para pemain dalam pertunjukan Jabarjuwes tersebut.

Adapun jenis gendhing yang digunakan antara lain:

– Ladrang Kabor pelog nem untuk adegan gagahan.

– Lancaran Mayar Sewu untuk budhalan prajurit.

– Playon Gambuh dan Gangsaran untuk peperangan.

– Ladrang yao-yao untuk jejeran.

– Sampak untuk perang antar tokoh.

– Bubaran untuk gendhing penutup.

4. Urutan Penyajian

Kesenian Jabarjuwes termasuk jenis dramatari tradisional dengan mempergunakan lakon cerita Menak. Gerakan tarinya meniru atau seperti gerakan wayang thengul atau wayang golek. Urutan pertunjukan atau penyajiannya diawali dengan menyajikan gendhing-gendhing pembukaan yang maksudnya untuk memberitahu atau mengundang penonton, bahwa di tempat itu ada pertunjukan kesenian Jabarjuwes yang akan segera dimulai. Kemudian dilajutkan dengan penyajian adegan demi adegan dengan tambahan atau variasi peperangan, adegan lawakan atau dhagelan. Penyajiannya dapat dikelompokan menjadi 2 bagian yaitu:

 Bagian pertama merupakan adegan tokoh sentral di setiap lakon dalam kesenian Jabarjuwes dengan gerakan tari yang menyerupai gerakan wayang golek, yaitu gerakannya kaku dan patah-patah mengantarkan adanya pertunjukan kesenian Jabarjuwes

 Bagian kedua merupakan inti pertunjukan kesenian Jabarrjuwes mulai dari adegan pertama sampai dengan adegan terakhir, biasanya pertunjukan kesenian Jabarjuwes yang berlangsung 1 malam terdiri atas 4 adegan. Diantara adegan-adegan pokok tersebut ditampilkan adegan lawakan atau dhagelan yang diperankan oleh tokoh lawak Jeber dan Juwes. Diakhir pertunjukan dilantunkan gendhing bubaran.

Beberapa adegan yang ditampilkan dalam pertunjukan kesenian Jabarjuwes antara lain:

 Adegan jejer, menggambarkan suasana di sebuah pertemuan agung atau pasewakan agung. Adegan jejer biasanya dilakukan di sebuah kerajaan atau pertapaan yang digambarkan bahwa adegan jejer ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting di kerajaan tersebut. Para tokoh dalam adegan ini akan saling berdialog sesuai dengan lakon cerita yang dipergelarkan.

 Adegan gandrungan, merupakan adegan yang menggambarkan percintaan dari tokohnya, percintaan tokoh putra dan tokoh putri. Para tokohnya saling jatuh cinta, sehingga dalam adegan ini didominasi penggambaran suasana romantis.

 Adegan lawakan, juga disebut dhagelan merupakan adegan yang suasananya penuh kegembiraan dan lucu karena penampilan lawak yang menyegarkan. Adegan lawakan dalam pergelaran kesenian Jabarjuwes biasanya dimunculkan di tengah-tengah waktu dari durasi pergelaran yaitu pada waktu tengah malam. Sepanjang penampilan lawakan

ini penonton dibuat untuk bergembira dan tertawa karena hampir semua tingkah laku dan dialognya dari tokoh tersebut sangat lucu. Penampilan lawak dalam kesenian Jabarjuwes diperankan oleh 2 orang pelawak yang bernama Jeber dan Juwes dengan menggunakan busana atau kostum yang lucu.

 Adegan peperangan pada pertunjukan kesenian Jabarjuwes terjadi apabila ada konflik antara sesama tokoh atau antar kerajaan untuk mencari kemenangan. Adegan peperangan merupakan penyelesaian suatu kasus peristiwa, dengan adanya pihak yang kalah maka akan selesailah konflik yang terjadi. Peperangan biasanya terjadi karena konflik 2 kerajaan yang ingin saling mengusai. Peperangan terjadi karena konflik perebutan tahta kedudukan di suatu kerajaan. Selain itu peperangan terjadi karena konflik yang disebabkan faktor percintaan yang ingin memperebutkan seorang putri kerajaan.

 Adegan penutup merupakan penyelesaian dari seluruh konflik dalam seluruh cerita. Dalam adegan penutup ini menjadi ajang ekspresi kebahagiaan karena sudah dapat menyelesaikan masalah ataupun konflik yang terjadi. Adegan penutup ini juga merupakan bentuk ungkapan rasa syukur dan juga merupakan pesan dari seluruh rangkaian cerita.

Pengantar cerita dan pengatur laku setiap adegan selama pertunjukan Jabarjuwes berlangsung dilakukan oleh dalang yang sekaligus berperan sebagai sutradara. Pada waktu dahulu durasi pertunjukan sekitar 6 – 8 jam, namun pada saat ini durasi pertunjukan menyesuaikan dengan kondisi atau kebutuhan.