Ilabulo, Tidak lengkap jika belum mencicipi kuliner khas Gorontalo

0
549

Berkunjung ke Gorontalo tidaklah lengkap jika belum mencicipi kuliner khas Gorontalo yang disebut ilabulo. Menurut maestro budaya Gorontalo Bapak Abdul Wahab Lihu yang juga Baate lo Limutu, tidaklah sah suatu upacara adat jika tidak dilengkapi oleh dua kuliner khas Gorontalo yaitu Tili’aya dan Ilabulo. Karena makanan ini sejak abad ke-15 sudah menjadi makanan favorit raja-raja dan pembesar negeri. Ilabulo memiliki pengertian dalam bahasa Gorontalo berarti totombowata atau bersatu padu. Para raja dulu menyimbolkan ilabulo sebagai lambing persatuan (totombowata) sebagai perpaduan dari berbagai unsur yang melahirkan perdamaian karena pada ilabulo terdapat berbagai perbedaan yang dipersatukan yang menciptakan rasa yang nikmat. Perbedaan itu pada ilabulo terletak pada sagu, lemak daging ayam, hati, ampela, dan aneka rempah-rempahyang dicampur jadi satu perpaduan yang menyajikan ilabulo dengan rasa yang sempurna.

Ilabulo merupakan salah satu produk makanan khas yang ada di daerah Gorontalo dibuat melalui proses pemasakan adonannya. Adonan terdiri, jeroan (hati dan ampela), dan kulit ayam.  Namun kadang  juga ditambahkan  telur  puyuh,  dan  lemak sapi.  Bumbu pedas dan daun pisang yang digunakan untuk membungkus adonan menghasilkan ilabulo dengan aroma yang khas  dan rasa yang  gurih. Ilabulo umumnya menggunakan tepung sagu  sehingga  berwarna  cokelat  agak  kehitaman  setelah  proses  pemasakan.  Proses pemasakan dapat dilakukan dengan cara dikukus atau dibakar dengan arang tempurung kelapa.Jika dilihat sekilas dari bentuk makanan yang satu ini, pasti sebagian orang akan mengira bahwa makanan ini adalah pepes. Bentuknya yang panjang serta teksturnya yang agak padat memang sekilas menyerupai pepes.Dan satu lagi yang membuat makanan ini sangat serupa dengan pepes, adalah bungkus dari makanan tersebut yang menggunakan daun pisang. Serupa tapi tak sama, walaupun nampak sama dari penampilan luar, namun sangat berbeda jika kita telah mengetahui isinya. Ilabulo jelas sangat berbeda dengan pepes-pepes lainnya yang biasa dijumpai di Jawa Barat.

Ilabulo terbuat dari campuran sagu yang telah diberi bumbu-bumbu istimewa serta tambahan jeroan daging dan telur ayam sebagai isi dari makanan yang satu ini. Teksturnya sedikit kenyal, dengan sedikit rasa pedas yang menambah sedap rasa Ilabulo. Beberapa masyarakat di Indonesia, terutama di wilayah Indonesia bagian tengah dan timur memang menjadi kan sagu sebagai salah satu pilihan panganan utama mereka.

Ilabulo hadir dengan memberikanwarna lain dari kuliner yang berbahan dasar sagu. Balutan daun pisang yang digunakan untuk membungkus adonan Ilabulo bukan hanya sekedar pembungkus, melainkan penambah aroma pada camilan satu ini.

Terdapat dua proses penyajian berbeda yang biasa ditemukan, yakni bisa dikukus dan juga dibakar. Tak usah meragukan rasa dari keduanya, dijamin keduanya masih memiliki rasa yang istimewa walaupun diproses dengan cara yang berbeda.

Bila ingin menikmati Ilabulo, anda dapat menemukan pedagang yang menjual penganan khas ini di sekitar Jalan Diponegoro, Kota Gorontalo. Anda tidak perlu khawatir dengan urusan basi jika membeli Ilabulo untuk dijadikan oleh-oleh, panganan ini dapat bertahan selama dua hingga tiga hari tanpa dimasukan kedalam lemari pendingin. Saat bulan tertentu, seperti bulan Ramadhan, Ilabulo akan semakin dicari-cari oleh para penikmatnya untuk dijadikan teman saat berbuka puasa. Aroma sedap Ilabulo yang baru diangkat dari tempat pembakaran akan langsung terngiang ketika membahas kuliner yang satu ini.

Bahan Baku danAlternatif Bahan Baku

Tepung sagu, hati dan ampela ayam atau sapi, dan kulit ayam merupakan bahan baku utama ilabulo. Bumbu–bumbu yang  ditambahkan pada produk ilabulo berupa garam, bawang putih,  bawang merah,  lada,  cabe rawit,  gula,  dan santan.  Dalam pembuatan ilabulo dapat juga menggunakan alternatif bahan baku  yang  lain  seperti ikan untuk menggantikan jeroan ayam sehingga baik untuk kesehatan. Tepung jagung, tepung biji nangka dapat juga disubstitusi dengan tepung sagu untuk mendapatkan tekstur ila bulo yang lebih kompak dan padat.

 

Proses Produksi

Proses produksi ilabulo sangat sederhana dan dilakukan oleh usaha kecil menengah atau industri rumahtangga. Proses pengolahan ilabulo adalah sebagaiberikut:

1. Hati dan ampela ayam dicuci bersih untuk menghilangkan kotoran  yang

melengket

2. Kemudian dibuat adonan dari tepung sagu dengan menambahkan air secukupnya, bumbu–bumbu dimasukkan dan dicampurkan sambil diaduk hingga menyatu dan rata. Masyarakat Gorontalo adalah penyuka terhadap sensasi pedas, sehingga

cabe yang digunakan adalah cabe rawit.

3. Hati dan ampela yang sudah bersih dimasukkan kedalam adonan,  lalu diaduk lagi .

4. Dibungkus dengan daun pisang berbentuk persegi panjang kemudian dikukus atau dibakar.

 

Cara Konsumsi

Ilabulo umumnya dikonsumsi dengan nasi sebagai pengganti lauk–pauk atau sebagai pelengkap menu. Dapat pula dikonsumsi sebagai cemilan disore atau malam hari. Ilabulo juga biasanya disajikan untuk menyambut tamu yang datang dari luar daerah. Masyarakat lebih menyukai ilabulo yang dibakar dibandingkan dengan ilabulo yang dikukus.

Komposisi Gizi

Ilabulo mempunyai kadar  air  73,96%,  kadar abu  0,22%,  kadar karbohidrat  21,49%. Komposisi gizi tersebut diperoleh dari data  penelitian laboratorium untuk pembuatan ilabulo dari jeroan ayam dan menggunakan tepung sagu. Data  untuk kadar lemak dan kadar protein belum dianalisis karena keterbatasan  peralatan yang dimiliki.

 

 

*—————–

Ilabulo merupakan adonan dari beberapa bahan daging dan rempah yang dimasak dengan cara direbus atau dipanggang. Bahan dasar dari Ilabulo ini dapat disesuaikan dengan selera seperti: daging, hati ayam, daging ayam, telur ayam, ikan cakalang, dan lain-lain. Ilabulo merupakan makanan yang sudah akrab di telinga masyarakat Gorontalo. Makanan khas ini memiliki daya tarik tersendiri ketika citarasa yang ditawarkan mampu memuaskan yang menyantap makanan tersebut. Makanan ini sudah ada di Gorontalo sejak dahulu kala dan murni menjadi makanan khas Gorontalo. Tak ada sejarah yang diturunkan baik tertulis maupun lisan menjelaskan kalau makanan ini diadopsi dari daerah lain. Menariknya, makanan ini sering dicari oleh anak rantau ketika kembali ke Gorontalo. Ada juga yang menjadikan ole-ole buat kerabat ketika hendak akan pergi ke daerah lain. Suatu cerita yang berkembang di kalangan penggemar Ilabulo yakni dahulu kala makanan ini menjadi kegemaran para raja-raja. Hanya saja belum ada data lengkap saat sedang apa raja-raja menggemari Ilabulo. Cara membuat Ilabulo yakni: Bahan dasar, o 300gr daging hati, ampela, jantung ayam, daging ayam, daging ikan segar dan telur sesuai selera. o 100gr sagu o 1 ruas jahe o Jeruk nipis o Bawang putih dan bawang merah o Cabe rawit hijau (kalau mau pedas, dapat ditambahkan) o Lada dan garam secukupnya o 250 liter santan o Air kaldu Cara membuat, Hati dan ampela direbus, kalau suka bisa ditambahkan jantung ayam, sebelum diolah di cuci bersih dan diberikan jeruk nipis dan garam kemudian diamkan sebentar. Cuci lagi dan siap dimasak. Sisihkan air kaldu. Hati, ampela dan jantung ayam tadi dipotong-potong sesuai dengan selera ukurannya. Haluskan bawang putih, bawang merah, cabe rawit dan jahe digerus tambahkan garam dan lada lalu campur dengan hati ayam kemudian aduk rata. Tambahkan sagu dua sendok makan dan sedikit kaldu dari sisa rebusan hati ayam tadi, jerangkan diatas kuali semaua bahan dan tambahkan sisa kaldu dan santan aduk rata masak dengan api kecil dan adonan berubah seperti bubur. Setelah itu siapkan daun pisang, letakkan satu atau dua sendok adonan tadi kalau suka tambahkan telur rebus dan bungkus. Siapkan dandang kukusan masukkan semua didalamnya, masak kira-kira 20 menit. Hidangan Ilabulo siap disajikan dan disantap.

Keterangan

Tahun :2019

Nomor Registrasi :201901075

Nama Karya Budaya :ilabulo

Provinsi :Gorontalo

Domain :Keterampilan dan Kemahiran kerajinan Tradisional

Sumber: Website Warisan Budaya Takbenda

TINGGALKAN KOMENTAR