Gunde, Tari tradisional yang berasal dari Kepulauan Sangihe

0
5147

Tari Gunde adalah tari tradisional yang berasaldari Kabupaten Kepulauan Sangihe (Talaud dan Siau Tagulandang dan Biaro) Provinsi Sulawesi Utara.Gunde atau Unde berarti gerak yang halus, sehalus pekerti wanita.Oleh karena itu tari Gunde hanya ditarikan oleh kaum perempuan saja sehingga sering juga disebut Salaing Bawine (Salaiang bahasa Sangihe berarti tar/gerak, Bawine bahasa Sangihe berarti Wanita/Perempuan).

Tari Gunde pada mulanya adalah tari dalam upacara Mesundeng (upacara penolakan bala) yang biasanya berlangsung 7 hari, pada hari kelima ditarikanlah tari Gunde sebagai bentuk pemujaan kepada I Ghenggona Langi, Duata Sululuang (Tuhan Pencipta Langit dan alam semesta). Dahulu zaman agama suku di Sangihe, mereka meyakini ada sebuah kekuatan yang lebih besar dan hebat, melebihi kekuatan manusia. Sehingga kekuatan itu harus disembah, itulah yang mereka sebut I Ghenggona Langi. Selain itu Tari Gunde ditarikan pada acara Tulude, baik sebagai bagian dari barisan adat untuk menerima tamu atau mengantar Tamo (Kueadat) dan juga ditarikan secara utuh sebagai pelengkap dari upacara ini. Pada zaman pemerintahan Raja-raja, tari Gunde diangkat sebagai tari istana untuk keperluan di lingkungan istana (termasuk pada acara penobatan raja). Kemudian tari Gunde dipakai di luar istana sebagai tari penjemputan tamu, hiburan dan seni pertunjukan bahkan digunakan juga dilingkungan gereja.

Gunde ditarikan oleh 13 orang (12 penari biasa dan 1 pemimpin yang disebut pengataseng) dengan urutan : gerak (salaing) Mamidura (hormat) pembuka kemudian salaing Bawine, yaitu gerak yang menggambarkan kehalusan dan keagungan serta kehalusan budi pekerti wanita, kemudian Salaing Sasahola (sahola) yang menggambarkan kegembiraan atau sukacita; kemudian Salaing Sondayang menggambarkan ketangguhan; kemudian salaing Balang yang menggambarkan perjuangan serta tanggungjawab kaum wanita karena akanmenjadi ibu rumah tangga; kemudian salaing Duruhang yang menggambarkan mencari kebahagian; dan terakhir Mamidura (hormat) penutup.

Musik pengiring tari Gunde adalah music eksternal (menggunakan music pengiring di luar penari) berupa Tagonggong (alat music  etnik suku Sangihe, Talaud dan Sitaro) dan Sasambo (nyanyian etnik suku Sangihe, Talaud dan Sitaro). Struktur musik (irama Tanggonggong dan Sasambo) sama dengan nama gerak yaitu gerak salaing Bawine, disebut lagung Bawine harus dipukul dengan pola ritme dan SasamboBawine. Begitu juga dengan Sasahola, Sonda, Balang dan Duruhang. Sedangkan Mamidura  (pembuka dan penutup) pukulan biasa atau hanya rall.

Kostum tari Gunde berupa pakaian tradisional Laku Tepu (Blus sepangjang setengah betis dan rok sampai mata kaki) dan menggunakan selendang (Bawandang).

Make-up sesuai kebutuhan dan kewajaran;  tatarias; di kepala dibuat konde adat yang disebut botopusige diletakkan mahkota (papili) dan ditelinga memakai anting-anting.

 

*———–

Tari Gunde berasal dari kata munde artinya sesuatu yang menghidupkan atau yang membahagiakan. Gerakan tari lemah gemulai melambangkan kehalusan dan keagungan wanita. penarinya berjumlah 13 orang, pemimpinnya disebut pangataseng. Pakaian yang digunakan penari adalah laku tepu(pakaian panjang) terdiri atas 2 bagian: laku yakni pakaian lengan panjang, panjang baju sampai betis, bagian lher berbentuk segi tiga; kawihw yakni sejenis kain yang diikat pada pinggang terurai terurai sampai menutupi mata kaki. Pakaian tersebut dilengkapi dengan perhiasan antara lain sanggul, papil, rantai biji-bijian, anting-anting, kalung, cincin. Alat musik yang digunakan adalah tagonggong. Jumlah penabuh tagonggong 3 orang. Tarian diiringi lagu sasambo.

Keterangan

Tahun :2019

Nomor Registrasi :201901062

Nama Karya Budaya :Gunde

Provinsi :Sulawesi Utara

Domain :Seni Pertunjukan

Sumber: Website Warisan Budaya Takbenda