Dolalak (1)

0
7633

Dolalak merupakan kesenian khas kabupaten Purworejo. Tarian ini muncul karena pengaruh Belanda yang diprakarsai oleh tiga orang pemuda dari Sejiwan, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, yaitu, Rejotaruno, Duliyat, dan Ronodimejo yang didukung oleh masyarakat sekitarnya. Penamaan Dolalak berasal dari not “Do” dam “La”, karena tarian ini diiringi dengan musik dua nada tersebut. Musik yang mengiringi kesenian Dolalak merupakan musik yang sederhana yang merupakan lantuanan syair-syair dan pantun-pantun Jawa. Adapun alat musik yang digunakan untuk mengiringi tari dolalak antara lain yaitu, Jidhur, terbang, kendang, dan nyanyian atau syair dari vokal, serta seiring dengan perkembangan zaman banyak pula yang menambahkan alat keyboard atau organ tunggal di dalam pentas. Teknik memainkan instrument tersebut adalah dengan cara sederhana, hanya mengiringi secara ritmis sesuai dengan gerakan yang dibawakan oleh penarinya. Musik utama dalam kesenian Dolalak adalah syair dan Jidur dimana keduanya sangat mengikat erat dengan gerak tari yang ditarikan. Sajian Dolalak menampilkan beberapa jenis tarian yang tiap jenis dibedakan dengan perbedaan syair lagu yang dinyanyikan dengan jumlah 20 sampai 60 lagu dan tiap pergantian lagu berhenti sesaat sehingga ada jeda tiap ragam geraknya.  

Pada awalnya Dolalak dimainkan oleh laki-laki dengan mengenakan seragam warna hitam dan bercelana pendek. Seragam ini tentu saja meniru seragam tentara Belanda pada zaman dulu. Adapun rangkaian busana tersebut  antara lain kemeja lengan panjang hitam dipadu dengan celana pendek berwarna hitam, dilengkapi atribut mirip tentara Belanda, topipet, sampur, kaos kaki panjang, dan kacamata. Seiring perkembangan jaman munculah penari putrid dan modifikasi seragam yang berhias emas dan atau warna lain

Gerak tarinya merupakan wujud akulturasi budaya barat (Belanda) dengan budaya daerah setempat, hal ini dapat dilihat dari gerak tarinya yang mengadopsi gerak dansa dan pencak silat jawa. Sajian kesenian Dolalak dikemas dengan menarik dan lebih sering tampil diatas panggung bukan dihalaman atau dilapangan. Wujud pementasanya yaitu kelompok penari bersandingan dengan kelompok pemusik dengan posisi saling berhadapan. Adapun gambaran singkat pementasan tari dolalak adalah diawali dengan pembukaan dimana iringan mulai berbunyi dan semua penari duduk bersila diarea pertunjukan. Adegan berikutnya dilakukan dengan menari secara bersama-sama lalu dilanjutkan berpasangan, trio, dan kwartet. Pada puncak sajian tarian dilakukan secara tunggal dan penari tersebut akan trance atau keseurupan, masyarakat mengenalnya dengan sebutan ndadi. Berdasarkan koreografinya tari dolalak dapat dibedakan menjadi beberapa penampilan yaitu tari tunggal, tari berpasangan, dan tari berkelompok. Berbedaan tarian tersebut biasanya tersaji berdasarkan lagu yang dimainkan kecuali pada saat tarian tunggal yaitu pada saat trance/ ndadi. Disamping itu penampilan tari Dolalak secara berkelompok biasanya ditarikan oleh 10 – 20 orang penari, dan untuk acara tertentu juga ditampilan tari Dolalak secara masal.

Fungsi tari Dolalak dilingkungan Kabupaten Purworejo antara lain sebagai berikut :

a. Sebagai tari hiburan di kalangan masyarakat biasanya ditanggap (Jawa) 

b. Sebagai tari penyambutan di lingkungan pemerintahan Kabupaten Purworejo.

c. Sebagai media belajar berkesenian dan berbudaya untuk remaja dan masyarakat.

d. Tari Dolalak sering digunakan sebagai untuk memeriahkan hari besar nasional.

e. Sebagai apresiasi wisata budaya di Kabupaten Purworejo

Nilai yang bisa diambil dari kesenian Dolalak adalah dari gerakan menunduk (manggut manggut) merupakan ajaran akhlak terhadap orang lain berupa penghormatan (menunduk) kepada orang lain. Sopan santun kepada orang yang lebih tua. Hal ini juga tercermin melalui sikap dan tingkah laaku sehari-hari penduduk setempat. Dengan adanya kesenian Dolalak ini sebagai sarana komunikasi dengan generasi selanjutnya dan sebagai media penanaman nilai kepada masyarakat sebagai petuah yang ada di dalamnya. Dengan kata lain bahwa budaya akan terus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi penerus.

Busana pada tari dolalak di bagi menjadi 3 bagian:

1. Penutup Kepala 

Pada bagian penutup kepala, penari dolalak biasanya menggunakan topi khas serdadu. Topi berwarna hitam dan dilingkari oleh kain batik. Batik tersebut bergambar relief-relief sederhana yang cukup menarik untuk menghiasi topi. Seperti ciri khas busana dolalak, topi berwarna hitam dilingkari oleh batik berwarna kuning keemasan. Warna tersebut merupakan ciri khas busana yang cukup dominan pada busana bagian yang lain. Selain itu, di beberapa dolalak ada jugayang  menggunakan aksesoris berupa bros pada topi tersebut. 

2. Penutup badan

Penutup badan berupa baju dan celana. Pada beberapa bagian baju terdapat variasi

variasi yang menarik dan mempercantik busana. Misalnya pada bagian lengan,

terdapaat motif berwarna kuning keemasan ataupun warna merah yang melingkar. Di

bagian depan baju juga terdapat motif yang sama. Bagian celana juga tidak jauh berbeda dengan baju, berwarna hitam dan terdapat beberapa motif di salah satu bagian. 

Biasanya celana pada dolalak panjangnya di atas lutut, namun tak jarang juga yang

menggunakan celana di bawah lutut. Aksesoris Pelengkap Selain kedua bagian tadi, bagian yang tidak kalah penting yaitu aksesoris pelengkap

busana. Aksesoris berfungsi untuk menambah keindahan busana dan supaya

lebih terlihat lagi ciri khas busana tersebut.

3. Untuk aksesoris biasanya memakai selendang semacam sampur, kebanyakan

dolalak memakai sampur berwarna kuning cerah, namun ada juga dolalak yang

memakai sampur berwarna merah. Selain sampur, aksesoris lainnya yaitu seperti

kaos kaki juga di pakai pada busana tari dolalak

 

 Prosesi Pentas Dolalak.

1. Membakar kemenyan dan memasang sesaji, sebelum dimulai pertunjukan

Bentuk sesaji ada dua :

a. Sesaji lengkap :

– Tumpeng

– Sayuran yang dimasak di daerah itu

– Ingkung panggang ( ayam jantan panggang)

– Jenang abang putih (Merah putih)

– Bonang-baneng ( air putih di dalam mangkok diberi daun dadap serep).

– Minuman Kopi dengan gula Jawa

– Teh tubruk ( pait ).

– Rokok putih (rokok filter)

– Beras putih dan ayam kampung dalam tempat dari daun (takir).

– Beras kuning.

– Garam.

– Mrica 

– Pisang raja yang paling atas

– Lawe wenang ( benang lawe).

– Badheg (nira kelapa)

– Kembang arum (kembang tiga macam : Mawar, Kanthil, Kenanga diberi minyak wangi)

– Kembang dan kemenyan untuk ritual ( yang untuk dibakar) bunganya dua macam yaitu kembang telon(tiga macam) dan mawar berwarna jambon(merah jambu)

– Kinang (suruh, njet, gambir, tembakau) njet = gamping yang sudah dimatikan.

– Degan kambil ijo (kelapa muda hijau), pada saat memetik tidak boleh dijatuhkan.

– Piring dan gelas. Piring dan gelas yang digunakan sebagai tempat sesaji tidak boleh ada tambahan cat selain dari pabrik, lebih bagus yang polos.

Semua benda yang masuk dalam sesaji berfungsi sebagai saran keselamatan bagi penari yang dimasuki roh. Juga berfungsi melindungi lokasi pentas dari roh yang tidak dipanggil. Jika terjadi roh dari luar yang masuk, maka benda sesaji tersebut digubakan sebagai saran pengusir.

b. Sesaji sederhana :

– Kembang menyan dan degan, ini dilakukan jika pentas di arena pertunjukan singkat atau kedinasan.

 

2. Pertunjukan disajikan terian urut sesuai urutan tradisinya.

a. Bismilah iku

b. Jalan-jalan alus 

c. Jalan-jalan ganda

d. Emak-emak alus

e. Ikan cucut

f. Pake nanti

g. Baju hitam

Ini urutan tradisi Dolalak Kaligesingan

Ada urutan lain tradisi Logungan

a. Pambuka

b. Krisnawati, atau Ashola, atau

c. Burung gelatik

d. Encik-encik / 

e. Saya cari

f. Trance 

g. Kondisonal ( sesuai kondisi dan para penyaji )