Datu Norbeck Banting Stir Demi Pelestarian Tradisi Tidung

0
1386

Keprihatinan Datu Norbeck akan masa depan seni budaya suku Tidung Pesisir mendorong keinginannya untuk menyejajarkan budaya pesisir dengan budaya Dayak sebagai maskot kota Kalimantan. Perpegang pada kata bijak “dengan ilmu hidup jadi mudah, dengan seni hidup jadi indah, lalu kenapa kita yang berilmu tidak berkesenian supaya hidup menjadi mudah dan indah”, ia banting stir dari sarjana hukum menjadi pelestari tradisi Tidung.

Perjuangannya dalam melestarikan tradisi Tidung telah mendorong pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, memberinya Anugerah Kebudayaan kategori Pelestari, tahun 2019. Datu Norbeck merasa sangat bersyukur bisa mendapatkan penghargaan dari pemerintah tersebut.

“Anugerah ini menjadi kebahagian tersendiri bagi saya, walaupun pada awalnya tidak ada target untuk mendapatkan penghargaan. Saya hanya ingin berbuat dan saya juga menyadari kemampuan saya terbatas. Dengan adanya penghargaan ini berarti pemerintah selaku pengelola negara memerhatikan dan memahami apa yang saya lakukan bermanfaat untuk orang banyak,” ujar Datu Norbeck.

Datu Norbeck tinggal di Gang Pagun Taka, Jalan Cenderawasih RT. 12 No 10 Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Sekitar 50 meter dari Jalan Cenderawasih berdiri rumah panggung di atas rawa dengan papan nama “Sanggar Budaya Tradisional Pagun Taka”. Di rumah itulah Datu Norbeck tinggal, sekaligus menjadi tempat kegiatan Sanggar Budaya Tradisional Pagun Taka. Rumah yang cukup sederhana untuk seorang pengabdi tradisi Tidung yang tidak pernah pemungut biaya dari anak didik di sanggar miliknya.

Datu Norbeck lahir di Tarakan, 14 Mei 1956. Ayah dari lima anak ini mulai berkiprah di dunia seni pada tahun 1985 dengan memotori sebuah kelompok yang bernama Grup Tari Pagun Taka, di bawah binaan Lembaga Kesenian dan Kebudayaan Tidung. Pada tahun 2000, Grup Tari Pagun Taka berubah nama menjadi Sanggar Budaya Tradisional Pagun Taka. Perubahan nama ini lantaran ruang lingkup kegiatan sudah meluas ke bidang seni budaya yang lain, termasuk kegiatan protokoler yang berhubungan dengan tradisi adat suku Tidung, seperti penyambutan tamu penting oleh pemerintah. Selanjutnya, pada 2010, Sanggar Budaya Tradisional Pagun Taka menyempurnakan kepengurusan dan status organisasi dengan akte notaris Nomor 68 tanggal 28 Oktober 2010.

Bermukim di lingkungan masyarakat suku Tidung Pesisir (Ulun Pagun) menjadikan budaya suku Tidung Pesisir sebagai orientasi awal talenta seninya. Namun, ia juga berupaya memahami budaya tradisi suku serumpun, yaitu penduduk asli Kalimantan Utara. Bersama Sanggar Budaya Tradisional Pagun Taka yang dipimpinnya selama lebih 32 tahun, ia tetap konsisten berolah seni. Ia menggali, mempelajari dan menata kembali seni budaya tradisional yang pernah ada dan menjadikannya referensi sumber karya yang kemudian  ditampilkan sesuai perkembangan zaman.

Di bidang seni tari, Datu Norbeck telah membuat beberapa tarian dengan melakukan penataan ragam gerakan, mendesain busana, menata musik pengiring dan menulis lirik lagu yang bersumber dari beberapa jenis kesenian tradisional. Sumber tersebut antara lain dari kesenian jepin, rudot (hadrah), joget Melayu-Tidung, del muluk, kelintangan dan kombinasi. Kreasi tari-tariannya inilah yang menjadi materi pelajaran di Sanggar Budaya Tradisional Pagun Taka.

“Trik khusus menyampaikan sesuatu dengan cara sederhana adalah memberi contoh. Contoh tidak hanya materi, tetapi juga konsep manajemen. Konsep manajemen yang paling penting adalah disiplin waktu. Jadi pelatih jangan pernah terlambat. Sekali terlambat, nilai wibawa kita sebagai pembimbing sudah berkurang” ujar Datu Norbeck.

Selain seni tari, Datu Norbeck juga melakukan penggalian, pelestarian dan penggembangan dalam bidang seni musik, seni rupa, seni arsitektur, adat perkawinan dan pesta adat Iraw Tengkayu. Setelah Tarakan diresmikan menjadi kota madia tanggal 15 Desember 1997, acara Iraw Tengkayu—secara harfiah berarti pesta laut—dilaksanakan untuk merayakan peringatan HUT Kota Tarakan yang secara rutin dilakukan dua tahun sekali. Datu Norbeck selaku inspirator dan konseptor awal acara Iraw Tengkayu berperan sebagai pengarah ritual penurunan padaw tuju dulung (perahu tujuh haluan), yaitu perahu sesaji yang berbentuk khas yang merupakan maskot acara Iraw Tengkayu.

Upaya-upaya kreatif, inovatif dan konsistensi sepanjang sejarah pelaksanaan Iraw Tengkayu tidaklah siasia. Dengan semakin meningkatnya perhatian dan minat masyarakat untuk menyaksikan acara ini, pesta adat Iraw Tengkayu kini sudah masuk dalam salah satu kalender event pariwisata Kementerian Pariwisata RI. Tahun 2016, Iraw Tengkayu bahkan mendapat predikat terbaik pertama sebagai atraksi budaya terpopuler di Indonesia dari hasil polling yang dilakukan oleh Kementerian Pariwisata. Selain predikat tersebut, Iraw Tengkayu juga masuk dalam “Top 100 Event Wisata Dunia”. Ritual penurunan padaw tuju dulung yang merupakan acara utama dalam Iraw Tengkayu juga sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada 22 Agustus 2017 oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sumber: Buku Profil Penerima Anugerah Kebudayaan 2019