You are currently viewing Davidson Black (25 Juli 1884-15 Maret 1934)

Davidson Black (25 Juli 1884-15 Maret 1934)

Davidson Black melakukan penggalian besar pertamanya di Zhoukoudian pada 1927, lewat pembentukan “Laboratorium Riset Kenozoikum”. Dari situs yang terletak 50 kilometer sebelah barat daya Beijing itu, nantinya, dia dikenal luas karena temuan Sinanthropus pekinensis atau Manusia Peking –sekarang takson ini disebut Homo erectus pekinensis. Fosil itu kelak menghubungkannya secara tak langsung dengan G.H.R von Koenigswald: persisnya ketika von Koenigswald dan Weidenreich meneliti bersama-sama fosil temuan Black pada tahun 1939.

Saat ditugaskan untuk mengajar di Peking Union Medical College, Tiongkok, Davidson Black optimis akan melakukan penelitian manusia purba di Asia. Awalnya, ia mendapat tentangan dari institusi tempatnya bekerja. Tapi Black tak surut langkah. Tahun 1926 menjadi titik tolak penelitiannya. Ia mempelajari dua gigi hominid temuan Otto Zdansky dari situs Zhoukoudian. Black menulis hasil kajiannya, kemudian mengirimkannya ke jurnal Nature dan mengumumkan fosil gigi itu sebagai Homo pekinensis. Bersama dengan J. Gunnar Andersson, dia melakukan konferensi ilmiah tentang temuan gigi Homo pekinensis. Konferensi ini, salah satunya, bertujuan untuk mencari dana riset penggalian bagi Black. Hadir dalam konferensi antara lain Pierre Teilhard de Chardin dan Weng Wen-hao (Kepala the Geological Society of China), yang nanti akan menjadi bagian dari tim Black.

Publikasi Black di Nature dan konferensi ilmiah tersebut kemudian menarik perhatian dunia. Yayasan Rockefeller, yang menaungi institusinya, pun setuju mendanai riset Black. Tahun 1927, Birger Bohlin, ahli paleontologi Swedia, menemukan fosil gigi tunggal hominid dalam ekskavasi perdana tim Black di Zhoukoudian. Dari bukti yang terbatas itu, Black dengan berani menamai fosil itu Sinanthropus pekinensis –sebuah spesies dan genus baru, dan mempublikasikannya di Palaentologi Sinica. Langkah Black dipandang terburu-buru oleh kalangan publik ilmiah kala itu. Black diragukan karena bukti yang ia sodorkan sangat minim.

Di tengah keraguan banyak kalangan, penggalian Black terus berlangsung. Pada 1928, fragmen tengkorak pertama Manusia Peking akhirnya ditemukan. Keraguan itu terjawab. Di masa selanjutnya, pada 1929, ia kembali menemukan Skull III dan Skull II. Penemuan alat batu dan bukti-bukti penggunaan api dari Zhoukoudian pada tahun 1931 semakin melajukan langkah Black. Puncaknya adalah temuan tulang rahang yang terawat baik dari Sinanthropus pekinensis. Saat berkesempatan ke Eropa, Black menyajikan bukti-bukti baru temuannya itu di kalangan ilmuwan Eropa. Alhasil, dia memperoleh apresiasi sangat tinggi dari the Royal Society, di tahun 1932.

Sayangnya, pria yang dikenal ramah ini wafat saat sedang berada di puncak karir. Sepeninggal Black, kerja penelitian di Zhokoudian dilanjutkan oleh Franz Weidenreich. Sumber: Museum Manusia Purba Klaster Ngebung

Leave a Reply