Jurnal Jantra Volume 11, No. 2, Desember 2016

0
3485
Jantra Vol. II, No. 2, Desember 2017

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas perkenanNya Jantra Volume 11, No. 2, Desember 2016 dapat hadir kembali di hadapan pembaca. Edisi Jantra kali ini memuat 8 (delapan) artikel di bawah tema “Khasanah Batik Nusantara” dipandang penting karena Indonesia memiliki aneka budaya daerah yang di dalamnya termasuk berbagai motif batik sebagai ciri khas suatu daerah.Adapun ke delapan artikel ini masing-masing yaitu:
1). “Batik Lasem sebagai Simbol Akulturasi Nilai-nilai Budaya Cina-Jawa,” tulisan Ade Yustirandy Putra dan Sartini, menguraikan bahwa ada berbagai motif batik Lasem yang merupakan simbol hasil akulturasi budaya, di antaranya naga, phoenix, Latohan, Lokchan, Watu Pecah serta huruf Mandarin. 2). “Batik: Menjembatani Pasar dan Seni Melalui Festival,” tulisan Michael H.B. Raditya menguraikan bahwa ada dua jenis batik yaitu batik pasar dan batik seni. Ada dua hal yang ditemukan dalam tulisan ini, yakni, pertama, negosiasi kedua jenis batik dapat berjalan bersamaan, dan kedua, sebagaimana batik adalah produk budaya turut merubah pasar menjadi representasi diri akan budayanya. Di sinilah kekuatan seni muncul, di mana batik bukan hanya persoalan pasar atau seni, tetapi soal identitas. 3). “Menggali Nilai-nilai Luhur Karakter Batik Cirebon,” tulisan Endah Susilantini menguraikan bahwa batik Cirebon merupakan motif yang menunjukkan adanya perpaduan antara budaya Jawa dengan budaya Tionghoa. Nilai-nilai luhur budaya bangsa perlu dipertahankan keberadaannya, digali dan dikembangkan secara terus-menerus dan berkelanjutan untuk diwariskan kepada generasi muda sebagai pewaris budaya.
4). “Menggali Kearifan Lokal Batik Giriloyo, Wukirsari, Imogiri, Bantul,” tulisan Siti Munawaroh menguraikan bahwa batik tulis Giriloyo mendapat pengaruh kuat dari kraton, dan di tengah gencarnya motif batik modern pembatik Giriloyo tetap bertahan serta mempertahankan motif tradisional atau klasik. Pengerjaannya dengan pewarnaan alami dan sintetis. Warna alami dari tumbuhtumbuhan lokal yang berasal dari daun, akar, buah maupun kulit/batang yang sudah dikemas dalam bentuk pasta. Seperti tumbuhan indigovera, secang, juwalane, mengkudu, mahoni, nila, temu lawak, gambir, kusumba, dan tumbuhan teh.
5). “Lancor hingga Mata Keteran (Motif Batik Madura,” tulisan Mudjijono menguraikan bahwa pengklasifikasian atas dasar domain motif yang sederhana hingga rumit dilakukan agar tampak batik pada kelasnya. Batik dengan pengelompokan sederhana, menengah, dan atas merupakan akhir kajian ini. Penentuan kelompok tersebut atas dasar bahan, warna, dan tingkat kerumitan motifnya.
6). “Motif Batik Geblèg Rèntèng: Mengangkat Potensi Lokal Kabupaten Kulon Progo,” tulisan Titi Mumfangati menguraikan bahwa motif Batik Geblèg Rèntèng adalah motif batik khas Kabupaten Kulon Progo yang tercipta dari adanya makanan khas daerah Kabupaten Kulon Progo. Berkat kreativitas masyarakat makanan khas tersebut diolah dan dijadikan motif khas daerahnya. Hasil kajian menjelaskan bahwa potensi lokal dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk menciptakan motif batik yang akan menjadi ikon daerah tersebut.
7). “Batik dan Legitimasi Sosial Budaya: Studi Analisa Motif dan Pengakuan Batik Jember, Lumajang, dan Bondowoso,” tulisan Aryni Ayu W menguraikan bahwa pengembangan batik sebagai asset tradisi lokal pada realitasnya mendapat apresiasi positif dari elitis dan masyarakat. Peran para elitis sebagai stakeholder, sangat dibutuhkan untuk mengawasi dan ikut mendukung budaya lokal yang sedang dikembangkan masyarakat. Dalam tataran kedaerahan, pengakuan batik dimaksudkan pemerintah daerah agar pembuatan batik memiliki corak khas masing-masing tanpa melupakan pakem, yakni nilai-nilai adiluhung yang ada dalam penciptaan batik, sehingga dapat digunakan untuk pertahanan budaya dari isu-isu global.
8). “Perancangan Unsur Ragam Hias Batik Buton sebagai Upaya Pelestarian Budaya dan Pengembangan Ekonomi Kreatif,” tulisan Ray March Syahadat, dkk. menguraikan bahwa sejak awal kerajaan Buton terbentuk, masyarakat Buton mengenal budaya batik karena memiliki hubungan yang erat dengan kerajaan Majapahit di Jawa meskipun mereka tidak memiliki budaya membatik. Artikel ini bertujuan untuk mengusulkan rancangan unsur ragam hias batik dengan ciri khas Buton. Tahapannya terdiri atas perencanaan, penyusunan program tindakan, dan perancangan. Hasilnya tercipta dua puluh empat ragam hias dari kebudayaan memandangi lanskap dan ornamen budaya yang hampir punah.
Dewan Redaksi mengucapkan terima kasih kepada para mitra bestari yang telah bekerja keras membantu dalam penyempurnaan tulisan dari para penulis naskah sehingga Jantra edisi kali ini bisa terbit. Selamat membaca.

Redaksi

Baca Selengkapnya, Jantra vol 11 no 2 desember 2017