Film Sebagai Alat Pedagogis dan Diseminasi

Penayangan Film Dokumenter dan Diskusi Nilai Budaya, Selasa (3/7/2018) di Taman Krida Budaya, Kota Malang, Jawa Timur

0
869
Suasana penayangan film dokumenter dan diskusi nilai budaya. (Foto: Titok Nurwidadi)

Malang, BPNB DIY – Film sebagai media audio visual dapat dimanfaatkan sebagai alat pedagogis dan media diseminasi. Dengan media film siswa akan mendapat gambaran visual yang mudah diingat sehingga mampu menganalisis topik yang sedang dibahas.

Dra. Zaimul Azzah, M.Hum. selaku kepala BPNB D.I. Yogyakarta sedang memberikan sambutan. (Foto: Titok Nurwidadi)

Berdasar salah satu alasan tersebut Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) D.I. Yogyakarta memanfaatkan film sebagai media pembelajaran yang dikemas dalam Penayangan Film Dokumenter dan Diskusi Nilai Budaya yang diselenggarakan di Taman Krida Budaya, Kota Malang, Jawa Timur. Program tahunan tersebut merupakan bagian dari platform kebudayaan yang digagas Kemeterian Pendidikan dan Kebudayaan bertajuk Indonesiana. Acara pemutaran film dan diskusi juga bersamaan dengan Festival Panji 2018 yang dilaksanakan di kota yang sama. Penayangan film bertema "Nilai-nilai Cerita Panji Dalam Topeng Malang untuk Memperkokoh Jatidiri Bangsa" berlangsung Selasa (3/7/2018) yang dihadiri 250 peserta siswa-siswi dari SMA/SMK/MA dan sederajat dari wilayah Kota Malang dan sekitarnya. Adapun judul film yang diputar adalah Kariono: Penari Topeng Malang Versi Jabung dan Topeng Malangan Jawa Timur produksi BPNB D.I. Yogyakarta tahun 2017.

Penampilan Topeng Malangan dari Sanggar Asmoro Bangun pada acara pembukaan. (Foto: Titok Nurwidadi)

Selain pemutaran film, acara juga diisi dengan diskusi dan workshop. Diskusi menghadirkan Dr. Roby Hidajat, M.Sn selaku akademisi dan Tri Handoyo dari Sanggar Asmoro Bangun sebagai salah satu pelestari Topeng Malangan. Diskusi selama 60 menit tersebut dimoderatori oleh Drs. Mudjijono, M.Hum dan Drs. Nurdiyanto dari BPNB D.I. Yogyakarta berlangsung cukup interaktif dan mendapatkan respon cukup baik dari para peserta.

Tri Handoyo dari Sanggar Asmoro Bangun sedang menyampaikan paparannya. (Foto: Titok Nurwidadi)

Setelah penayangan film dan diskusi para peserta diajak untuk mengikuti workshop tari topeng yang dipandu langsung oleh Tri Handoyo dari Sanggar Asmoro Bangun yang merupakan cucu dari maestro tari Topeng Malangan Alm. Mbah Karimun. Sebagai bahan evaluasi dan pengukuran keberhasilan penyelenggaraan, para peserta diharuskan untuk mengisi pre test dan post test sebelum dan sesudah acara berlangsung.

Seorang siswi peserta mengajukan pertanyaan kepada narasumber. (Foto: Titok Nurwidadi)

Kontibutor teks dan foto: Titok Nurwidadi