Festival Sastra Jawa (FSJ) 2020

0
1136
Festival Sastra Jawa

BPNB DIY, Oktober 2020 – Sastra Jawa adalah hasil karya sastra yang dituangkan dengan menggunakan bahasa Jawa, yang meliputi karya sastra Jawa klasik maupun karya sastra Jawa modern. Dalam kegiatan “Festival Sastra Jawa” (FSJ), khususnya dalam tema  “Seni Pertunjukan Berbasis Sastra Jawa” ini, karya sastra Jawa akan ditampilkan sebagai bentuk seni pertunjukan. Hal ini dimaksudkan guna mengangkat sekaligus menyosialisasikan hasil karya sastra Jawa dalam wahana seni pertunjukan secara virtual, agar karya sastra Jawa yang ada bisa lebih membahana sebagai bentuk seni pertunjukan yang menarik sehingga kandungan isinya bisa ditangkap dan dicerna oleh pemirsa.

Kegiatan FSJ ini dilaksanankan oleh BPNB D.I. Yogyakarta sebagai bentuk pelaksanaan tugas dan fungsi sebuah Unit Pelaksana Teknis (UPT) dari Ditjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang mengampu bidang budaya intangible untuk etnis Budaya Jawa, yang persebarannya meliputi wilayah D.I. Yogyakarta, Provinsi Jawa Tengah, dan Provinsi Jawa Timur. Kegiatan yang akan digelar berbentuk pertunjukan yang berupa: Sandiwara Basa Jawa;  Macapat;  Geguritan;  Monolog;  Fragmen Teater; Vokal grup (acapella);  Pantomim;  Dolanan Anak; Wayang ringkes; dan Musik berbahasa Jawa. Masing-masing bentuk pertunjukan dipentaskan oleh 10 pelaku seni baik perseorangan maupun dari grup kesenian/sanggar. Semua peserta berada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Setiap penampilan pertunjukan jumlah anggota peserta  paling banyak 10 orang untuk setiap grup kesenian.

FSJ diselenggarakan untuk beberapa tujuan yaitu untuk menguatkan nilai-nilai yang terkandung dalam sastra Jawa sebagai warisan nenek moyang Nusantara; memperkenalkan seni pertunjukan dengan  materi dari Sastra Jawa; dan sebuah bentuk aplikatif pelestarian Sastra Jawa yang telah berkembang di masyarakat. Selain itu, kegiatan ini juga merupakan pelaksanaan dari Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan, di mana salah satu dari sepuluh objek Pemajuan Kebudayaan adalah bahasa / sastra. Kegiatan ini pun juga sebuah wujud nyata dari diseminasi pengetahuan, khususnya Sastra Jawa, dengan metode alih media, dan disiarkan dengan penggunaan teknologi yang umum digunakan saat ini yaitu melalui platform Youtube.

Kuratorial Festival Sastra Jawa

Dalam perjalanan sejarahnya kesustraan Jawa selalu terkait erat dengan seni pertunjukan sebagai media presentasinya. Pementasan dipandang sebagai cara paling baik dan tepat untuk menyampaikan kekayaan isi kandungan kesusastraan Jawa yang tersurat di dalam teks-teks di dalam manuskrip.  Ketika naskah-naskah kuna dibawa ke wilayah pementasan wayang kulit dan sandiwara tradisional ketoprak contohnya, masyarakat yang sebelumnya berjarak dengan isi naskah sastra Jawa karena keterbatasan kemampuan membaca (buta aksara Jawa) mampu menyerap kekayaan isi naskah sastra Jawa yang terdiri dari ajaran sejarah, piwulang, tuntunan, agama, dan lainnya.

Naskah-naskah sastra Jawa dengan kandungan makna implisit, penuh sanepan, pasemon, dan memiliki kompleksitas bentuk seperti puisi kakawin, kidung, macapat, karya para pujangga acap kali dijembatani oleh para seniman seni pertunjukan untuk menuju ke masyarakat. Sehingga konten-konten dan bentuk yang seolah berat di dalam sastra Jawa menjadi tontonan ringan dan menghibur tanpa mereduksi makna dan pesan dalam naskah sastra Jawa.

Proses alih media ini kiranya jadi upaya untuk membawa sastra Jawa keluar dari museum dan perpustakaan, agar sampai ke objek sasarannya, yaitu masyarakat. Pentas seni dianggap mampu menunjukkan keterbacaan sastra Jawa dalam masyarakat dan mengikis stigma keangkeran sastra Jawa yang suram dan berdebu. Tiada jalan lain untuk melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai yang terkandung dalam sastra Jawa kecuali membawanya beradaptasi mengikuti arus jaman yang selalu menuntut kebaruan. Kebaruan dan terobosan mutlak diperlukan. Seni pertunjukan dengan pendekatan dan kemasan modern mestinya mampu membawa Sastra Jawa melintasi generasi ke generasi.

Dalam Festival Sastra Jawa 2020 perdana ini, peralihan media sastra–seni menjadi misi mempresentasikan kandungan dalam naskah-naskah sastra Jawa. Seniman-seniman yang telah akrab bergaul dengan sastra dan bahasa Jawa di Yogyakarta terpilih dan dibebaskan untuk melakukan intepretasi dan berekspresi dengan naskah-naskah sastra Jawa dalam menampilkannya karyanya.

Kita menyimak bagaimana mantra-mantra Jawa ditampilkan oleh Whani Darmawan. Kisah kehancuran Yogyakarta dalam Babad Sepoy yang selalu memantik perdebatan akan dibacakan oleh seniman kawakan Landung Simatupang, yang memang sudah malang melintang di dunia sandiwara berbahasa Jawa. Lirik-lirik tembang macapat dalam Centhini disajikan dalam tampilan kontemporer melalui suara khas Silirwangi. Tentang bahasa Jawa sebagai media dalam pertunjukan, kita cermati konsistensi Kelompok Sedhut Senut yang berhasil mengobrak-abrik bahasa Jawa di dalam panggung sandiwara dan mendekatkannya ke telinga penonton, tanpa embel-embel romantisasi kenangan akan bahasa Jawa. Dan yang menjadi catatan paling menarik adalah bagaimana rombongan anak-anak SD yang tergabung dalam Taman Kesenian, Tamansiswa mementaskan piwulang-piwulang dengan montessori khas Ki Hadjar Dewantara melalui Dolanan Anak.

Total 10 penampil dengan kesegaran-kesegaran gagasan merespon alih media sastra-seni ditampilkan secara daring dalam Festival Sastra Jawa 2020. Sungguh upaya pelestarian yang dilakukan dengan cara yang ringan dan menyenangkan. Penyemaian tanpa jadi beban karena dilakukan melalui jalan kesenian. Agar tetap tumbuh berkembang, sesuai jaman. Untuk menghijaukan hutan Sastra Jawa, FSJ memilih merawat tunas-tunas baru, alih-alih menangisi hutan gundul yang menua.

Penampil:

  1. Landung Simatupang;
  2. Catur Benyek (Wayang Hiphop);
  3. Silirwangi & Asita Kaladewa;
  4. Ong Etnik;
  5. Andy Eswe;
  6. Jemek Supardi;
  7. Pardiman Joyonegoro (Acapella Mataraman);
  8. Klub Sariswara (Tamansiswa);
  9. Whani Dharmawan;
  10. Kelompok Sedhut Senut.

Jangan lupa Kanca Budaya sedaya, untuk saksikan pergelarannya hanya di kanal Youtube BPNB D.I. Yogyakarta, mulai dari tanggal 19 s.d 23 Oktober 2020, pukul 19.30 WIB.
Lestari Budayaku Lestari Negeriku, Salam Budaya.