ALU KATENTONG, WARISAN BUDAYA NAGARI PADANG LAWEH

0
319

Noveri

Pamong Budaya Ahli Madya

Pertunjukan Alu Katentong (Koleksi Foto BPNB Provinsi Sumatera Barat)

Kesenian Alu Katentong, warisan budaya Matrilinial Minangkabau dari Nagari Padang Laweh Kabupaten Tanah Datar. Genre kesenian tradisional ini lahir dan bertahan terutama sebagai bagian dari perhelatan upacara adat. Pemertahanannya kemudian penting dilakukan, terutama dalam upaya mentransformasi nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi muda. Melalui Kesenian Alu Katentong diajarkan empati dan kekompakan, kerendahan hati serta kesungguhan berguru pada alam sekitar, sekaligus tentang keserasian ekspresif dalam irama nada yang indah.

Konon Kesenian Alu Katentong sudah ada semenjak zaman batu, terlihat dari penggunaan peralatan berupa kayu, ranting  dan batu, serta bukan besi, logam dan sejenisnya. Pada mulanya hanya menggunakan alu penumbuk padi di lesung batu, namun bunyi yang dihasilkan bernada sumbang. Ekpresi seni budaya itu pun mengalamai kemasan kreatif serta pada akhirnya bertahan sebagai bagian dari identitas matrilinial para bundo kanduang di Nagari Padang Laweh. Dari sekedar hiburan bagi anak nagari Alu Katentong kemudian menjadi bagian tidak terpisahkan dengan perhelatan upacara adat. Demikian cuplikan sejarahnya, dan berdasarkan bunyi dengan nadaten tong ten tong warisan budaya masyarakat luhak nan tuo itu pun bernama Kesenian Alu Katentong.

Peralatan digunakan dalam penampilan kesenian Alu Katentong. Pertama, Alu, yaitu sejenis galah kayu yang secara umum digunakan masyarakat Minang Sumatera Barat dalam menumbuk padi. Alu yang digunakan berukuran panjang 4-5 meter serta berdiameter 7-10 cm. Semakin panjang Alu yang digunakan semakin bagus pula bunyi nada yang dihasilkan. Jenis kayu yang digunakan untuk membuat Alu mesti bermateri padat serta tidak berserbuk, sehingga relatif tahan apabila dipukulkan pada batu. Pemilihan bahan kayu ini juga bertujuan agar bunyi yang  dihasilkan lebih keras serta nyaring. Biasanya jenis kayu yang digunakan untuk dimuat menjadi Alu adalah kayu surian dan kayu bayua.

Kedua, batu pipih, yaitu batu alam tipis dengan permukaan datar dan licin. Warga Padang Laweh menyebutnya dengan batu nan alah mati. Batu seperti ini bermateri sangat padat dan kuat serta akan mengeluarkan suara yang keras dan nyaring apabila dipukul. Ukuran ketebalan batu pipih antara 3-7 cm, lebar 20-30 cm, serta tinggi 15-25 cm.

Ketiga, lasuang (lesung), yaitu batu berbentuk lingkaran serta berlobang pada bagian tengahnya. Lasuang terbentuk secara alami, memiliki ukuran sekira 100-130 cm dan biasanya tinggal diambil serta diangkut warga Padang Laweh dari sungai. Lasuang akan ditanam ke dalam tanah lebih kurang sedalam 10 cm. Bagian lasuang yang tinggal dipermukaan lebih kurang 10-15 cm. Pada bagian lasuang yang tetap tinggal di atas permukaan tanah inilah batu pipih biasanya disandarkan.Semakin besar ukuran lasuang akan semakin banyak pula penampil Kesenian Alu Katentong. Pada praktiknya lobang lasuang akan diisi dengan padi sekitar 2-3 genggam orang dewasa. Pada penampilannya di perhelatan perkawinan sesungguhnya terdapat pesan nilai budaya pada bagian ini, yaitu harapan kolektif agar perempuan yang baru menikah cepat mendapatkan keturunan. Khalayak yang menyaksikan pun mendapatkan bagiannya, yaitu bersikaplah seperti padi yang semakin berisi akan semakin runduk.

Keempat, Lantak, yaitu ranting pohon yang ditancapkan atau ditanam ke dalam tanah.Lantak mesti terbuat dan berasal dari ranting pohon yang kuat, biasanya ranting pohon kopi atau jambu biji. Lantak memiliki ukuran sekitar 15-20 cm dan berdiameter 3-4 cm, sekira ukuran jempol jari orang dewasa. Penggunaan lantak juga menyiratkan nilai kearifan, yaitu supaya tercipta keluarga sekinah, mawaddah, wa rahmah.

Para bundo kanduang pemain kesenian Alu Katentong rata-rata sudah berumah tangga. Mereka batikuluak, babaju kuruangsulam ameh, basalempang serta basaruang kodek. Tentunya mengundang decak kagum,  para bundo kanduang tersebut terlihat fokus dan berkonsentrasi dalam memukulkan Alu pada batu pipih. Suara dan nada yangdihasilkan pun berirama indah.

Juga terdapat beberapa ketentuan untuk penampilan kesenian Alu Katentong, yaitu : (1) Jumlah penampil mesti dalam bilangan ganjil (5, 7, 9, 11, dan 13 orang); (2) Jumlah penampil menentukan besar kecilnya ukuran lasuang; (3) Kepada setiap penampil sudah ditentukan jenis tokok (pukulan) yang akan dimainkan.

Lalu, beberapa nama lagu senantiasa didendangkan dalam kesenian Alu Katentong. Lagu-lagu tersebut di antaranya, lagu Bingkaruang Mudiak Banda, lagu Talipuak Layua, lagu Alang Babega, dan lagu Balalu. Semua lagu tersebut diambil berdasarkan fenomena alam, mengikut falsafah alam takambang jadi guru.Tentunya konsentrasi dan fokus penting dalam penampilan kesenian ini, baik dalam memukulkan Alu maupun dalam berdendang. Jika salah seorang penampil saja bermain tidak fokus dan konsentrasi maka akan mengganggu irama penampilan secara keseluruhan.

Durasi penampilan Kesenian Alu Katentong bersifat menyesuaikan dengan kemampuan para penampilnya, sebab diperlukan energi yang tidak sedikit untuk mampu memukulkan Alu berdiameter 7-10 cm tersebut dalam waktu yang lama. Karenanya, durasi penampilan biasanya hanya memakan waktu antara 10-15 menit.

Kesenian Alu Katentong, di samping sebagai hiburan pada upacara perhelatan perkawinan, juga ditampilkan pada upacara batagak panghulu, mendirikan atau mambukak (membongkar) rumah gadang, atau pada acara resmi resmi yang digelar oleh pemerintah. Kebertahanannya di masa sekarang sekaligus meneguhkan identitas kolektif masyarakat Nagari Padang Laweh. Sebutlah misalnya, jika anak gadis diberi bajunjungan maka sebelum dilaksanakan akad nikah para bundo kanduang Nagari Padang Laweh akan datang menampilkan Kesenian Alu Katentong. Semarak syahdu kesenian tradisional pun digelar, tampilnya jalin bakulindan sebagai ekspresi artistik yang syarat dengan kearifan budaya matrilinial Minangkabau.


Artikel ini telah diterbitkan di Harian Padang Ekspress hari Minggu tanggal 13 Februari 2022