Tradisi Masyarakat Gegesik di Kabupaten Cirebon

0
449

Tradisi Masyarakat Gegesik di Kabupaten Cirebon
Oleh:
Ria Andayani Somantri
(Balai Arkeologi Provinsi Jawa Barat)

Ngerawun
Ngerawun merupakan salah satu mitigasi bencana dalam bidang pertanian, yakni mengusir hama dengan cara membakar daun-daun dari tanaman yang dipercaya memiliki kekuatan magis, yakni daun sukun, daun kelor, dan daun bambu. Daun-daun tersebut dibakar di tempat-tempat yang sesuai dengan keinginan pemilik sawah, misalnya di sudut-sudut sawah.
Nikus
Nikus juga merupakan mitigasi bencana secara tradisional lainnya di bidang pertanian, yakni untuk mengatasi hama tikus yang menyerang padi di sawah. Nikus dilakukan jika terjadi serangan hama tikus yang dianggap mengancam keberadaan padi di sawah atau bahkan bisa menyebabkan gagal panen. Para petani biasanya cukup kewalahan untuk mengatasi serangan hama tikus, karena termasuk sulit juga untuk menangkap tikus. Salah satu yang biasa dilakukan adalah dengan nikus.
Personil yang terlibat dalam kegiatan nikus adalah para petani yang sawahnya diserang hama tikus dan ada tim khusus yang memang ahlinya memberantas hama tikus. Dalam hal ini, petani hanya bertindak sebagai pelengkap atau pelaku pendukung karena pemain nikus yang utamanya adalah tim khusus yang disebutkan tadi. Tim tersebut terdiri atas satu orang yang biasanya adalah tukang atau kuli cangkul, dan 4 (empat) ekor anjing. Satu paket tim khusus itu biasanya dibayar sekitar Rp 250.000,00 untuk saat ini. Untuk melaksanakan kegiatan nikus, sejumlah petani biasanya bersepakat mengenai waktu dan biaya. Kesepakatan waktu diperlukan agar para petani dapat menyisihkan waktu untuk kegiatan tersebut, sekaligus juga berkoordinasi dengan tim khusus tadi. Selain itu, mereka juga harus bersepakat mengenai iuran dana yang harus dikeluarkan oleh masing-masing petani untuk mengupah tim khusus tadi.
Pada hari yang sudah disepakati, para petani dan tim khusus biasanya sudah berkumpul di lokasi kegiatan nikus sejak pukul 07.00 WIB. Para petani melengkapi dirinya dengan sebilah bambu yang akan digunakan untuk menyambit atau memukul tikus. Sementara itu, personil dari tim khusus tadi membawa cangkul dan lebih dari tiga ekor anjing yang sudah terlatih mencium keberadaan tikus di suatu tempat. Anjing-anjing tersebut biasanya akan mengendus-endus, mengais, dan menggonggong di sekitar lubang yang diperkirakan merupakan sarang tikus. Petunjuk itu ditindak lanjuti oleh tukang cangkul dengan mencangkul dan menggali lubang tersebut lebih dalam lagi agar tikus keluar dari sarangnya. Sementara itu para petani dan anjing bersiap untuk memburu tikus yang akan keluar dari sarangnya. Ketika tikus keluar dari sarangnya dengan meloncat dan berlari, termasuk jarang ada petani yang berhasil memukul mati tikus tersebut. Yang terjadi, malah mereka kaget dan panik melihat tikus yang loncat dan lari. Pada akhirnya, anjing-anjing itulah yang akan memburu dan menangkap tikus tadi hingga ke semak-semak. Tidak kurang dari tiga ekor tikus keluar dari sarangnya. Tikus-tikus yang mati akan dikubur di lubang yang tadi dicangkul dan digali. Kegiatan nikus biasanya berakhir menjelang dzuhur.
Mayoran
Mayoran merupakan salah satu jenis tradisi gotong royong dalam bidang pertanian di Desa Gegesik Kulon, yakni tradisi membersihkan saluran air yang mengairi sawah-sawah milik para petani. Tujuan dari mayoran adalah membersihkan saluran air dari beragam kotoran yang meliputi sampah, rumput, dan tanah timbul agar laju air di saluran tersebut mengalir dengan baik ke sawah para petani. Hal itu dipandang penting oleh para petani untuk dilakukan karena pasokan air yang cukup sangat diperlukan dalam mengolah sawah. Tradisi mayoran biasanya dilaksanakan sekali dalam setiap musim, yakni pada musim rendeng ‘musim hujan’ dan pada musim sada ‘kemarau’.
Cukup banyak orang yang mengikuti tradisi mayoran, sekitar 15-60 orang. Mereka adalah para petani yang sawah garapannya mendapat pasokan air dari saluran air tersebut. Adapun yang memimpin tradisi mayoran adalah perangkat Desa Gegesik Kulon dan raksa bumi. Berbekal alat kerja berupa cangkul, golok, pedang, dan gancu, mereka bergerak bersama-sama menyusuri saluran air dan membersihkannya jika menemukan material yang mengganggu aliran air. Kegiatan tersebut berlangsung dari pukul 07.00 WIB sampai dengan pukul 12.00 WIB atau menjelang waktu shalat dzuhur. Kegiatan tradisi mayoran biasanya diakhiri dengan acara makan bersama-sama.
– Ziarah kubur
Ziarah kubur adalah kegiatan keluarga mengunjungi makam orang tua atau leluhur mereka yang dilakukan secara rutin tiap Kamis sore. Oleh karena itu, pada sore hari tersebut, pemakaman tampak ramai oleh keluarga-keluaraga yang melakukan ziarah kubur. Inti dari kegiatan tersebut adalah untuk mengirim doa kepada anggota keluarga yang sudah meninggal. Ziarah kubur ini bersifat mingguan dalam pelaksanaannya.
Unjungan
Unjungan yang sering disebut juga Hari Raya Buyut, merupakan ritual ziarah kubur ke makam buyut atau makam leluhur yang dilaksanakan satu tahun sekali. Tujuan melaksanakan ritual unjungan adalah sebagai wujud syukur kepada Tuhan dan penghormatan atas jasa para leluhur di wilayah mereka. Pelaksanaan kegiatan tersebut bersifat tahunan karena dilaksanakan satu tahun sekali dan dihadiri oleh keturunan dari buyut tersebut. Tidak hanya keturunan yang tinggal di wilayah Gegesik tapi juga keturunan yang tinggal di luar Gegesik. Oleh karena itu, jumlah orang yang hadir dalam ritual unjungan biasanya banyak.
Inti dari acara unjungan adalah mengirim doa sebanyak mungkin melalui acara bertahlil. Akan tetapi, area makam buyut tersebutnya umumnya sangat terbatas. Padahal, keturunan buyut yang akan bertahlil cukup banyak jumlahnya. Oleh karena itulah, acara bertahlil dilaksanakan secara bergantian agar semuanya mendapat giliran. Bahkan acara tersebut bisa berlangsung 4-5 shift. Acara lainnya dalam kegiatan unjungan adalah membersihkan area makam dan mengganti material sekitar makam yang sudah rusak; dan makan-makan bersama sambil menikmati hiburan berupa tampilan kesenian daerah, seperti wayang kulit atau gemyung untuk teman melekan.