TAS KEPEK DARI KANEKES

0
152

TAS KEPEK DARI KANEKES
Oleh :
Risa Nopianti
(BPNB Prov. Jabar)

Tas kepek merupakan sebuah kerajinan tradisional Orang Kanekes. Berbeda dari tas koja yang lebih umum dikenal masyarakat, tas kepek memang masih jarang ditemukan keberadaannya di Baduy. Hal ini disebabkan proses produksi tas kepek tidak semasif tas koja, karena faktor bahan dasar yang langka serta waktu pembuatan yang lebih lama dari tas koja. Hal lainnya dikarenakan fungsi tas kepek yang lebih eksklusif dibandingkan tas koja. Apabila tas koja dapat digunakan dalam berbagai kegiatan Orang Kanekes, maka tas kepek fungsinya hanya sebagai tas hantaran mas kawin dalam pernikahan adat Orang Kanekes.
Sekalipun memiliki fungsi ritus dalam adat pernikahan Orang Kanekes, namun tas kepek juga dapat digunakan untuk kegiatan lainnya, seperti bepergian, atau menjajakan hasil bumi dan kerajinan Orang Kanekes/Baduy di luar dari desanya. Sebagai hantaran pernikahan, tas kepek biasanya digunakan untuk membawa perbekalan dan pakaian, atau benda lainnya yang dianggap berharga seperti uang atau perhiasan. Sedangkan untuk kepentingan lainnya, tas kepek yang digunakan biasanya berukuran lebih kecil dari pada tas kepek hantaran mas kawin.
Menurut bentuknya, tas kepek merupakan sebuah tas berbentuk persegi panjang yang terbuat dari anyaman bambu yang dilapisi oleh kulit pohon saray. Tas ini terdiri dari dua bagian yaitu bagian bawah untuk tempat penyimpanan barang, dan bagian atas sebagai tutupnya dengan ukuran yang lebih kecil.

Bahan dasar pembuatan tas kepek adalah kulit pohon saray. Pohon saray merupakan jenis pohon yang berkerabat dekat dengan pohon aren, dia memiliki satu rangkaian daun dari satu cabang pohonnya. Hanya saja jenis pohon saray ini ukurannya lebih kecil dari pohon aren dan umumnya tumbuh sendiri atau endemik di wilayah pedalaman Kanekes. Pohon aren umumnya ditemukan di wilayah hutan Orang Baduy Luar. Pohon ini biasanya ditanam sebagai tanaman produksi penghasil nira yang kemudian diolah menjadi gula aren. Itu sebabnya hanya orang Baduy Dalam saja yang dapat memanfaatkannya, salah satunya digunakan untuk bahan baku pembuatan tas kepek ini.
Oleh karena bahan baku tas kepek hanya ada di wilayah Baduy dalam, maka tas ini juga hanya di produksi oleh Orang Baduy Dalam. Keberadaanya dapat ditemukan di beberapa kampung di wilayah Kenekes dalam, salah satunya adalah Kampung Cibeo. Sekalipun tas ini sering digunakan dan hanya di produksi oleh Orang Baduy Dalam, namun beberapa masih dapat di temukan di lapak-lapak jualan yang ada di wilayah Kanekes Luar (Ciboleger). Umumnya para penjual di Ciboleger memesan tas kepek kepada Orang Baduy Dalam, untuk dijajakan dan di jual kepada para pengunjung yang berkunjung ke Ciboleger. Meskipun tidak ada jumlah pasti berapa rata-rata produksi tas kepek yang dihasilkan, namun menurut Sarmin (pembuat tas kepek) mereka rutin membuat tas kepek apabila ada pesanan dari para pedagang dari Ciboleger atau pengunjung yang datang ke Baduy.
Menurut penuturan Amir (narasumber), tas ini dinamakan kepek karena dianalogikan berdasarkan pada ciri fisik tas tersebut yang berbentuk kotak sedikit memanjang namun tidak terlalu lebar atau gepeng. Selaras dengan perkataan Amir bahwa “tas kepek teh bentukna siga bumi ngepek” (tas kepek itu bentuknya seperti bola dunia yang gepeng).

Proses Pembuatan Tas Kepek
Untuk membuat sebuah tas kepek setidaknya diperlukan waktu 2-3 hari. Selain karena prosesnya yang rumit, juga karena langkanya bahan baku serta pemrosesan bahan baku yang cukup memakan waktu.
Batang pohon saray yang telah diambil dari pohonnya kemudian dijemur hingga kering. Sementara itu untuk bagian dalamnya bambu disamak tipis-tipis hingga dapat dibentuk anyaman. Pengerjaan dimulai dari menganyam bagian dalam tas kepek yang berasal dari bambu. Anyaman di buat menjadi dua buah, yang ditujukan untuk bagian bawah dan atas sebagai tutup. Ukuran anyaman bambu disesuaikan menurut jenis ukuran yang diinginkan dan kegunaannya baik itu untuk tas harian ataupun untuk tas hantaran pernikahan.
Anyaman bambu yang telah selesai dibentuk menjadi bagian dalam tas dilapisi dengan kulit pohon saray yang telah kering dijemur. Untuk mengikat atau menguatkan lapisan antar bagian (dalam dan luar) digunakan sulaman-sulaman yang terbuat dari irisan kulit bambu yang telah dibentuk hingga menyerupai tali. Adapun untuk memisahkan bagian bawah dan tutup tas dibatasi dengan bambu yang telah diiris tipis hingga dapat dibentuk dan dikuatkan dengan tali bambu pada setiap bagiannya.
Pilinan tali yang dibuat dari bahan dasar pohon teureup, disematkan pada bagian pinggir tas, supaya tas bisa diselempangkan. Adapun ukuran panjang tali disesuaikan biasanya 60-100 cm tergantung besar kecilnya tas kepek yang dibuat. Sedangkan untuk jenis tas kepek berukuran besar yang dipakai untuk hantaran pernikahan, jinjingan tas dibuat dari bambu. Tali bambu digunakan supaya lebih kuat dan kokoh menopang beban dari tas kepek yang cukup berat membawa barang-barang hantaran.

Menyingkap Nilai Pada Tas Kepek
Bagi masyarakat Kanekes tas kepek memiliki nilai sakral yang tidak dapat digantikan dengan barang atau perlengkapan lainnya, dalam proses siklus hidup mereka khususnya pada prosesi adat perkawinan. Ketika sebuah keluarga memiliki anak laki-laki yang usianya sudah mencapai 15 tahun dan sudah siap mengarungi bahtera rumah tangga, maka orang tua sudah harus memikirkan untuk membuat tas kepek sebagai perlengkapan penting untuk mengantarkan anaknya menikah kelak. Tas kepek dapat berfungsi juga sebagai alat untuk membawa mas kawin yang diberikan oleh pengantin laki-laki kepada pengantin perempuan pada prosesi adat pernikahan di Kanekes.
Apabila umat muslim mengenal mas kawin dalam bentuk perhiasan berharga atau uang, maka Orang kanekes menganggap kain, baju, sarung, iket, dan selimut sebagai barang hantaran pernikahan yang istimewa sehingga harus disimpan di dalam tas kepek, yang harus diberikan pengantin laki-laki kepada pengantin perempuan. Tas Kepek untuk keperluan menyimpan mas kawin umumnya berukuran besar dengan panjang 30 cm, 50 cm, bahkan ada yang mencapai 1 meter tergantung banyak sedikitnya kain yang akan diberikan.
Perabot dapur merupakan jenis hantaran lain yang harus ada selain kain atau baju, dalam prosesi seserenan Orang Kanekes. Berbagai jenis perabot dapur seperti piring, gelas, wajan, panci, dandang, dan sebagainya dibawa pengantin laki-laki sebagai bekal untuk memulai kehidupan rumah tangga barunya,. Dalam prosesi seserenan. Tas Kepek dan aneka perabotan dapur tersebut dibawa oleh pihak pengantin laki-laki kepada pihak pengantin perempuan dengan cara ditanggung (dipikul) menggunakan rancatan (bilah bambu untuk memikul).
Keberadaan tas kepek hingga saat ini tidak dapat dilepaskan dari kehidupan Orang Kanekes yang masih ajeg memegang tradisi karuhun (leluhur) mereka. Oleh karenanya, mereka menganggap bahwa Tas kepek sangat penting dan berharga bagi kehidupan mereka, karena tanpa memiliki Tas kepek, seorang Baduy muda tidak dapat menikah begitu saja.