Seeng Tambaga (Dandang Tembaga) Tanjungsiang Subang

0
1049

Seeng Tambaga (Dandang Tembaga) Tanjungsiang Subang
Oleh:
Suwardi Alamsyah P.
(Balai Arkeologi Provinsi Jawa Barat)

Seeng atau dandang merupakan salah satu kerajinan logam yang terbuat dari tembaga, kuningan ataupun aluminium bahkan seng. Seeng atau dandang berfungsi sebagai alat menanak nasi yang telah digunakan dari sejak zaman dahulu. Karena itu, hampir di setiap rumah penduduk masyarakat waktu itu memiliki seeng, baik seeng yang terbuat dari tembaga, alumunium, kuningan atau pun seng, hal tersebut disesuaikan dengan kebutuhan begitu pula dengan ukurannya. Seeng ini bentuknya tinggi ramping dan tipis, pada bagian dalam berongga seperti silinder, bagian bawah membesar, bagian atas juga membesar, namun menyempit di tengah dan alasnya bundar agak cembung ke bawah.
Di dalam perkembangannya, kepemilikan dan penggunaan seeng atau dandang untuk menanak nasi ini sudah jarang sekali ditemukan terutama di masyarakat perkotaan. Seiring dengan perkembangan zaman yang lebih maju dan pengaruh teknologi yang lebih maju juga, berpengaruh pula kepada penggunaan dan pemakaian seeng. Hal tersebut bukan saja berpengaruh pada penggunaannya melainkan juga pengrajin seeng itu sendiri. Sehingga sangat mungkin seeng ini sangat sulit ditemukan di pasaran. Selain bahan pembuatan untuk seeng atau dandang tambaga yang sulit didapatkan dan harganya juga relatif mahal, penggunaan seeng itu sendiri dalam kehidupan rumah tangga untuk kegiatan memasak sudah lama ditinggalkan oleh masyarakat pendukungnya. Kemudian fungsi seeng atau dandang sebagai salah satu alat memasak nasi sudah tergantikan oleh rice cooker. Penggunaan rice cooker jauh lebih mudah dan praktis dibanding menggunakan seeng dalam hal memasak nasi.
Daerah Tanjungsiang memang sejak lama dikenal sebagai sentra pembuatan seeng. Konon banyaknya pengrajin seeng di Tanjungsiang terkait dengan peristiwa Bandung Lautan Api 23 Maret 1946. Saat itu terjadi eksodus besar-besaran warga Bandung keluar daerah termasuk ke Subang.
Warga yang mengungsi ke daerah Subang di antaranya berasal dari daerah Cileunyi (Kab. Bandung). Mereka mengungsi ke daerah Tanjungsiang. Mata pencaharian sebagian warga yang mengungsi ke daerah Tanjungsiang tersebut adalah pengrajin seeng. Usai perang kemerdekaan tak semua warga pengungsi tersebut pulang ke daerahnya, sebagian malah menetap di Tanjungsiang dan meneruskan kehidupan di daerah baru tersebut dengan mata pencaharian sebagai pembuat seeng.

Kerajinan Seeng Khas Desa Tanjungsiang.
Sumber : tanjungsiangku.blogspot.com

Seeng yang dibuat oleh warga Tanjungsiang mempunyai ciri khas yang berbeda dengan seeng lainnya. Motif batik menjadi andalan bagi para pengrajin. Kebanyakan para pengrajin membuat seeng dari bahan alumunium, hanya beberapa yang membuat seeng dari bahan tembaga. Itupun dibuat untuk acara seserahan pernikahan saja.
Seeng tambaga bagi masyarakat Tanjungsiang pada khususnya berfungsi bukan hanya sebagai salah satu alat untuk memasak nasi melainkan juga memiliki fungsi sosial. Sebagai sebuah proses sosial yang diakui bukan hanya oleh masyarakat Tanjungsiang melainkan sebagai benda warisan budaya dan produk masyarakat. Seeng atau dandang bukan hanya sekedar benda yang biasa dibuat, dipasarkan dan memberi keuntungan, akan tetapi merupakan simbol identitas masyarakat dalam interaksi sosial.
Seperti telah disebutkan di atas, seeng atau dandang merupakan salah satu jenis peralatan dapur yang digunakan untuk memasak nasi. Penggunaan seeng pada masa sekarang banyak digantikan oleh peralatan yang modern, yaitu rice cooker dengan menggunakan listrik. Fungsi seeng sendiri selain dapat digunakan sebagai alat memasak, ternyata juga merupakan salah satu barang yang harus dibawa untuk acara seserahan dalam prosesi pernikahan. Seeng yang digunakan untuk acara seserahan biasanya seeng yang terbuat dari bahan tambaga (tembaga).
Membuat seeng dari tembaga tidaklah mudah, karena menurut salah seorang pengrajin di Tanjungsiang sebuah seeng dari bahan tembaga atau kuningan bisa diselesaikan dalam waktu satu minggu sedangkan seeng dari bahan alumunium bisa diselesaikan dalam waktu dua atau tiga hari saja. Dalam budaya masyarakat Sunda terdapat ungkapan yang bertalian dengan tambaga (tembaga), seperti berikut: “Sing asak-asak nya ngejo bisi tutung tambagana, sing asak nya nenjo bisi kaduhung jagana” (Jika memasak nasi harus sampai masak jangan sampai gosong tembaganya, harus jeli dalam memilih pasangan biar tidak menyesal akhirnya). Ungkapan tersebut berlaku bagi kaum laki-laki maupun perempuan dalam hal memilih pasangan. Ungkapan dimaksud disampaikan para orang tua kepada anak-anaknya dalam memilih pasangan, karena kehidupan berumah tangga bukanlah untuk sesaat melainkan untuk selama-lamanya sampai hayat memisahkan di antara mereka.
Seeng tambaga berfungsi bukan saja untuk merebus air dan memasak nasi melainkan memiliki makna dibalik tahapan upacara pernikahan di beberapa daerah di Jawa Barat, yaitu seperti pada upacara seserahan. Seserahan merupakan simbol bahwa mempelai pria sanggup dan mampu untuk bertanggung jawab mencukupi kebutuhan hidup si calon pengantin perempuan. Selain kebutuhan dasar, disisipkan juga barang dan makanan yang menjadi simbol keseriusan mempelai pria untuk mencintai dan menyayangi calon istrinya. Salah satu barang yang harus dibawa dalam acara seserahan dimaksud adalah seeng tambaga.
Seeng yang dibawa sebagai barang seserahan pada saat prosesi pernikahan biasanya diikat menggunakan kain batik pada bagian lehernya. Di dalam seeng tersebut pun diletakkan benda-benda yang dianggap berharga oleh calon pengantin seperti uang, emas, beras dan lain-lain. Selanjutnya seeng yang sudah diikat dengan kain batik dibawa oleh perwakilan dari pihak pengantin laki-laki dengan cara digendong di punggung untuk nantinya diserahkan kepada pihak pengantin perempuan.
Di beberapa tempat seperti di Karawang dan Bogor, seeng atau dandang pada saat seserahan dimaknai sebagai kesiapan laki-laki dalam menjalani kehidupan rumah tangga, untuk bertanggungjawab terhadap istri dan anaknya. Pada tahapan ini pihak calon pengantin laki-laki harus merebut seeng tersebut dari perwakilan calon pengantin perempuan. Makna yang hampir sama berlaku pula pada masyarakat Bekasi bahkan melebur dalam tahapan seserahan yang disebut oleh masyarakat Bekasi dengan istilah “Parebut Seeng” (Saling berebut seeng). Hal tersebut dilakukan bukan hanya sekedar menyerahkan seeng, melainkan memiliki makna yang terkandung di dalamnya, baik saat membawanya begitu pula menyerahkannya. Sementara kain batik yang digunakan untuk membawanya dengan cara “diais” (digendong) memiliki makna bahwa budaya yang diwariskan secara turun temurun dari generasi sebelumnya ke generasi berikutnya masih dijunjung oleh kedua belah pihak calon pengantin.
Seeng bagi calon pengantin perempuan merupakan salah satu barang bawaan yang wajib dibawa atau diberikan pada saat seserahan dari calon pengantin laki-laki. Makna seeng sendiri diartikan sebagai simbol bahwa mempelai perempuan yang akan dinikahi adalah seorang gadis yang masih perawan dan belum pernah menikah sebelumnya.
Dari paparan di atas bisa disimpulkan bahwa seeng, terutama seeng yang terbuat dari bahan tembaga berfungsi bukan hanya sebagai salah satu alat untuk merebus air atau memasak nasi, melainkan memiliki fungsi dan makna yang terkandung di dalamnya.

Daftar Bacaan:

  • https://desatanjungsiang.wordpress.com/2018/08/12/produk-kerajinan-seeng-desa-tanjungsiang/
  • http://janarinews.blogspot.com/2016/05/melintik-pembuatan-seeng.html
  • https://tanjungsiangku.blogspot.com/2017/08/kerajinan-seeng-khas-desa-tanjungsiang.html
  • https://www.kotasubang.com/8512/antara-tugu-seeng-tanjungsiang-dan-bandung-lautan-api
  • file:///C:/Users/asus/AppData/Local/Temp/1414-File%20Utama%20Naskah-3965-1-10-20180810.pdf