PATANJALA VOL. 1, 2, 3 TAHUN 2009

0
1291

Patanjala Volume 1, No. 1 Maret 2009

  1. Konflik, Kekerasan, dan Mediasi Sosial di Pedesaan Lampung 1988-2001
    (Iim Imadudin S.S)
  2. Arsitektur Tradisional Rumah Betawi
    (Drs. Suwardi Alamsyah P.)
  3. Kesenian Topeng Masyarakat Kasepuhan Guradog Lebak Banten
    (Drs. Yuzar Purnama)
  4. Pola Interaksi Masyarakat Arab – Sunda di Kabupaten Purwakarta
    (Dra. Nina Merlina)
  5. Puisi Pupujan dalam Bahasa Sunda (Drs. Aam Masduki)
  6. Sistem Religi pada Masyarakat Kasepuhan Cicarucub Provinsi Banten
    (Dra. Ria Andayani S.)
  7. Penyebaran Agama Islam di Jakarta Abad XVII – XIX
    (Dra. Lasmiyati)
  8. Fungsi Upacara Pertanian pada masyarakat Guradog Kabupaten Lebak
    (Dra. Ria Intani T.)
  9. Fungsi Karinding bagi Masyarakat Cikalongkulon Kabupaten Cianjur
    (Dra. Lina Herlinawati)

Patanjala Volume 1, No. 2 Juni 2009

  1. Wayang Golek dari Seni Pertunjukan ke Seni Kriya (Studi tentang Perkembangan Fungsi Wayang Golek di Kota Bogor)
    (Drs. Rosyadi)
  2. Lintasan Sejarah Pemerintahan Kabupaten Serang Abad XVI – XX
    (Dra. Euis Thresnawaty)
  3. Sistem Pelapisan Sosial dan Dampaknya pada Masyarakat Kasepuhan Cicarucub Kabupaten Lebak-Banten
    (Drs. Yudi Putu Satriadi)
  4. Peranan Pemimpin Informal pada Masyarakat Guradog
    (Dra. Ani Rostiyati)
  5. Persepsi Transmigran Jawa tentang Kepemimpinan Ideal Kepala Desa di Kecamatan Baradatu, Lampung Utara
    (Drs. T. Dibyo Harsono)
  6. Arsitektur Rumah Tradisional Kampung Naga
    (Drs. Nandang Rusnandar)
  7. Kerajaan Tradisional Cirebon Abad XV – XIX
    (Drs. Adeng)
  8. Mitos Nyi Roro Kidul dalam Kehidupan Masyarakat Cianjur Selatan
    (Irvan Setiawan S.Sos)

Patanjala Volume 1, No. 3 September 2009

  1. Hari Jadi Kota Jakarta
    (Drs. Heru Erwantoro)
    Sejak tahun 1956, tanggal 22 Juni ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Jakarta. Ironisnya, sejak itu pula, penetapan itu menjadi polemik di antara para ahli sejarah dan pengamat sejarah. Pada konteks inilah, penelitian sejarah dapat mencarikan solusi untuk mengakhiri kontroversi yang berkepanjangan.
    Melalui penelitian sejarah ini, dilakukan beberapa langkah yang meliputi: (1) penelusuran literatur untuk mendapatkan data baru yang dapat dijadikan fakta baru, (2) Mengkaji kembali pendapat para ahli agar dapat diketahui akar permasalahan dari kontroversi yang selama ini terjadi, (3) dilakukan intrerpretasi baru. Dari penelitian sejarah ini, akhirnya, dapat ditemukan akar permasalahan yang sebenarnya dan dapat dicarikan solusi untuk mengakhiri kontroversi yang berkepanjangan.
  2. Perkembangan Kesenian Gondang di Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya
    (Dra. Enden Irma R.)
    Jawa Barat, salah satu provinsi di Indonesia yang cukup kaya dengan kesenian tradisional dengan berbagai bentuk dan jenisnya. Salah satu kesenian tersebut adalah Seni Tradisional Gondang yang tetap terpelihara keberadaannya di wilayah Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat.
    Secara historis, Seni Gondang dikembangkan di daerah Jawa Barat oleh para le-luhur pesyiar agama Islam. Salah satu contoh dari tokoh tersebut adalah Kangjeng Syeh Syarif Hidayatullah atau yang dikenal dengan Sunan Gunung Jati. Bentuk seni ini digunakan sebagai alat untuk menyebarkan agama Isam di daerah Jawa Barat.
    Pola pertunjukan Kesenian Gondang dari dahulu sampai sekarang sudah banyak mengalami perubahan. Pada mulanya pertunjukan Kesenian Gondang hanya menggunakan lisung dan halu serta pakaian yang dikenakan oleh para pemainnya pun sangat sederhana dan tidak disertai dengan gerak tari lainnya. Adapun pada saat ini Kesenian Gondang itu selain ada penambahan waditra (alat), juga pakaian para pemainnya pun dikemas lebih menarik disertai dengan gerak tari yang indah.
  3. Budaya Spiritual Syekh Aulia Abdul Gopur
    (Drs. Hermana)
    Keberadaan makam keramat Syekh Aulia Abdul Gopur sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat sekitarnya dari segi sosial maupun ekonomi. Dari segi sosial kemasyarakatan, mereka mengenal adat istiadat para peziarah, sehingga dapat belajar dan memaknai kehidupan masyarakat pada umumnya. Para peziarah menginginkan perubahan taraf hidup, ketenangan jiwa, dan ini kebanyakan berhasil. Dengan motivasi seperti itu mereka mendatangi tempat keramat tersebut.
  4. Cilegon Kota Administratif sampai Kota (1986 – 2006)
    (Drs. Herry Wiryono)
    Kota Cilegon yang terletak di ujung barat Pulau Jawa memiliki kawasan pesisir yang sangat berpotensi untuk dikembangkan. Pengembangan investasi yang dinilai layak, antara lain sektor industri, pariwisata, pelabuhan, pergudangan, instalasi, dan kawasan komersial. Dengan segala potensi yang ada diharapkan masyarakat, terutama pihak swasta dan para investor dapat mengambil bagian dalam pembangunan Kota Cilegon ke depan.
  5. Budaya Spiritual: Persepsi Peziarah pada Makam Keramat Leluhur Sumedang
    (Drs. Tjetjep Rosmana)
    Sikap keramat dalam anggapan suatu masyarakat adalah tempat yang dikeramatkan karena tempat bersemayamnya arwah leluhur yang memiliki kekuatan gaib. Pada suatu waktu di tempat keramat dijadikan pusat kegiatan religius, yakni upacara persembahan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam situs religius ini, setiap tingkah laku manusia dikeramatkan yang diiringi suasana hati dan motivasi yang ditimbulkan oleh simbol-simbol sakral (keramat) dalam diri manusia.
    Situasi demikian itu terbentuk dalam kesadaran spiritual sebuah masyarakat. Sesungguhnya setiap individu memiliki persepsi yang berbeda terhadap tempat yang dikeramatkan. Hal ini sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing. Demikian pula terhadap makam keramat leluhur Sumedang yang kerap dikunjungi oleh banyak peziarah. Salah satunya makam keramat Pangeran Santri, Ratu Pucuk Umum, Pangeran Kornel, dan sebagainya.
  6. Sejarah Lampung Utara (Periode Pembangunan Masa Orde Baru)
    (Drs. M. Halwi Dahlan)
    Perkembangan suatu daerah bisa dikaji dari hasil yang nampak dari proses pembangunan yang telah dan sedang dilaksanakan. Perkembangan tersebut diperoleh dari pemanfaatan potensi-potensi yang ada. Lampung Utara yang secara geopolitik menjadi batas pulau Sumatera di bagian Utara dan secara geografis memiliki potensi alam yang kaya, dapat diolah menjadi sumber pendapatan asli daerah. Secara demografis, penduduk Lampung Utara adalah sumber daya manusia yang signifikan untuk melaksanakan pembangunan serta menjadi kekuatan untuk mewujudkan tujuan jangka panjang tersebut karena kerukunan mereka yang multietnik.
  7. Pola Pengasuhan Anak pada Masyarakat Arab Sunda di Kabupaten Purwakarta
    (Dra. Yanti Nisfiyanti)
    Keluarga merupakan kesatuan sosial terkecil tempat pertama kali seorang manusia menerima pengasuhan dan pendidikan dari orang tua. Dalam pola penga-suhan dan pendidikan anak, terdapat proses sosialisasi nilai-nilai yang disampaikan orang tua kepada anak. Pola pengasuhan anak pada setiap keluarga membentuk per-kembangan dan karakter anak.
    Pada pembentukan karakter anak lebih ditentukan oleh budaya orang tua. Dalam pola pengasuhan anak pada keluarga keturunan Arab Sunda proses sosialisasi nilai-nilai ditentukan oleh budaya akulturasi Arab dan Sunda.